Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
008~ Tantangan Minum
"Nona mau pesan minuman apa?" tanya Bartender dengan ramah.
"Inang, disebelahmu ada buku menu." ujar Bao.
Mata Lin Xia Mei terus menatap menu didepannya, ia tersenyum kecil saat melihat ada menu yang ramah untuknya.
"Sepertinya minum soda satu kali saja tidak akan membuatku gemuk dalam semalam, hihi."
"Aku pesan Mocktail saja, pakai es batu sedikit."
"Baik, silahkan tunggu sebentar." sahut Bartender, tangan cekatannya langsung memproses pesanan Lin Xia Mei.
Setelah beberapa menit menunggu, bartender menyuguhkan pesanan Lin Xia Mei, spontan Lin Xia Mei melirik minuman pria disebelahnya. Bentuk minumannya sama persis.
"Oh, ternyata dia tidak sedang mabuk." batin Lin Xia Mei.
"Nona," panggil pria disebelah Lin Xia Mei.
Lin Xia Mei menoleh tanpa menjawab.
"Aku melihatmu gugup saat duduk disini."
"Ini pengalaman pertamaku," jawab Lin Xia Mei dengan nada bosan.
"Sepertinya nona memiliki masalah sampai harus ke tempat ini. Apakah Nona ingin berbagi cerita denganku?"
Lin Xia Mei mengernyitkan dahi.
"Shen Liu Jin, salam kenal."
Lin Xia Mei merinding. Ia tidak merespon dan langsung mencoba minumannya.
"Bao, apakah orang ini adalah toko sampingan yang memiliki pengaruh?" tanya Lin Xia Mei.
"Tidak, Inang. Setelah inang masuk ke dunia novel ini, beberapa alur jadi berubah, tidak heran jika inang bertemu dengan tokoh lain yang tidak disebutkan dalam novel sebelumnya."
"Hahhh, berbicara tentang tokoh karakter di novel ini aku jadi ingat tokoh lain, si Bai Luo. Dia teman masa kecil Lin Xia Mei, seharusnya di episode aku masuk ke sini, tokoh itu masih hidup kan?"
"Iya. Dia bertunangan dan karena tokoh utama wanita terus dikurung dalam rumah, ia tidak datang ke acara temannya itu. Inang masuk kesini sebelum tokoh sampingan itu bertunangan."
"Hmmm.. Kapan-kapan aku akan mengunjungi kampung halaman Lin Xia Mei, setidaknya disana ada beberapa temannya yang lain."
"Bisa. Sekarang tingkat rasa suka tokoh utama pria sudah 85%, potensi inang mendapat izin berpergian jauh cukup besar."
Lin Xia Mei tersenyum girang.
Shen Liu Jin merasa heran karena raut wajah Lin Xia Mei terus berubah seolah sedang ada lawan bicara padahal dia hanya diam bahkan tidak membalas perkenalan dirinya.
"Sepertinya dia sudah sangat stress." batin Shen Liu Jin.
Lin Xia Mei meneguk minumannya sampai habis.
"Aahh nikmatnya!!!!" seru Lin Xia Mei.
"Minumanmu sangat enak. Rasanya unik!" puji Lin Xia Mei pada Bartender.
"Terima kasih Nona."
"Inang! Bao mendeteksi tokoh utama pria sedang menuju kesini."
Lin Xia Mei terbelalak, ia harus menciptakan image buruk.
"Aku pesan whisky yang alkoholnya paling tinggi!" serunya dengan panik dan buru-buru.
"Eh?!" Shen Liu Jin terkejut. Baru tadi ia mengira Lin Xia Mei benar-benar pemula, rupanya peminum senior.
"Nona, anda yakin?" tanya bartender ragu.
"Tentu. Satu gelas saja."
Bartender mengangguk, meski ragu ia tetap menuangkan Whisky dengan kadar alkohol tertinggi ke dalam gelas kecil lalu menyodorkannya pada Lin Xia Mei.
"Nona... Rupanya anda sudah ahli dalam minum-minum." puji Shen Liu Jin.
Wei Zhu Chen berdiri di belakang Lin Xia Mei lalu memegang pundaknya dari belakang.
"Ku pikir kau masuk kesini hanya sekedar gertakan," kata Wei Zhu Chen.
Jantung Lin Xia Mei berpacu cepat, bukan takut ketahuan selingkuh atau semacamnya, ia tidak ingin Wei Zhu Chen tahu bahwa ia baru saja memesan minuman yang sama sekali tidak beralkohol.
" Zhu Chen, aku menyuruhmu menunggu di luar." balas Lin Xia Mei.
Shen Liu Jin menatap tajam Wei Zhu Chen.
"Biar ku lihat, apakah Istriku ini peminum hebat atau hanya kedok untuk menghindariku?"
Shen Liu Jin terbelalak saat mendengar Wei Zhu Chen menyebut Nona manis yang baru dilihatnya sebagai istrinya.
"Tuan, apakah bisa anda meminjamkan sebentar kursimu?" tanya Wei Zhu Chen pada Shen Liu Jin dengan tatapan mata yang tajam. Darahnya sudah mendidih sedari tadi saat melihat Shen Liu Jin, pria asing yang mencoba mengobrol dengan Istrinya.
"Tentu." Shen Liu Jin berdiri.
"Aku akan membayar minumanmu,"
Shen Liu Jin tersenyum singkat.
"Oke, terima kasih."
Shen Liu Jin segera berjalan menjauh, Wei Zhu Chen duduk disamping Lin Xia Mei.
"Sepertinya Istriku sudah meneguk minuman."
Lin Xia Mei tersenyum angkuh.
"Tentu, kau pikir hanya laki-laki yang bisa bersantai di tempat seperti ini?!"
Wei Zhu Chen mengambil gelas kosong milik Lin Xia Mei namun secepat kilat Lin Xia Mei merebutnya kembali.
"Lancang! Siapa yang mengizinkanmu mengambil gelasku?!"
"Hoo? Kenapa kau takut sekali? Apakah sebenarnya yang kau minum itu hanya jus buah?"
Lin Xia Mei memicingkan mata.
"Jangan asal berbicara,"
Wei Zhu Chen mencekal pergelangan tangan Lin Xia Mei dengan keras.
"Kau berani main api dibelakangku, Lin Xia Mei." ucapnya penuh penekanan disetiap katanya.
"Apakah kau sudah bosan hidup?!"
"Gila! Sudah turun jadi 85% tapi masih bisa mengancamku seperti ini." batin Lin Xia Mei.
Bartender menyadari ketegangan diantara Wei Zhu Chen dan Lin Xia Mei.
"Tuan, pesan minum apa?" tanya Bartender.
"Minuman yang sama dengan nona ini." jawab Wei Zhu Chen tanpa menoleh ke arah bartender.
"Baik,"
Bartender menyodorkan satu gelas whisky yang sama dengan Lin Xia Mei.
"Apakah kau bisa membuktikan bahwa kau kesini murni untuk menghilangkan stress? Bukan menghindar dan menumbuhkan kebencianku padamu?" tantang Wei Zhu Chen.
"Tamatlah sudah, huhu." rengek Bao.
"Inang, saat kau meminumnya, letakkan lenganmu menutupi gelas. Lengan pakaianmu sedikit menjuntai bisa menutupinya, tumpahkan minuman itu." ujar Bao.
"Berani?" tanya Wei Zhu Chen sekali lagi.
"Tentu. Masalah menghindar, kau sudah tahu jelas. Aku tidak bahagia bersamamu. Tapi aku tahu, kau tidak akan melepaskanku dengan mudah."
Hati Wei Zhu Chen tersayat mendengar penuturan Lin Xia Mei, suatu kalimat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan bisa keluar dari mulut perempuan yang sangat dicintainya itu.
Lin Xia Mei mengambil gelas dan mengangkat lengan sesuai arahan Bao, Wei Zhu Chen juga mengangkat gelas dan meneguk habis minuman itu dalam satu tegukan.
"Giliranmu."
Lin Xia Mei melakukan gerakan persis seperti gerakan minum, ia menumpahkan 80% whisky ke lengan bajunya, 20% nya benar-benar ia teguk.
Rasa pahit dan panas membakar di tenggorokan membuat Lin Xia Mei memejamkan mata, Wei Zhu Chen menyunggingkan bibir melihat gerakan mata Lin Xia Mei.
"Inang! Kenapa kau meminumnya? Tubuhmu tidak pernah menerima efek alkohol." tegur Bao.
"Aku minum sebagian kecilnya, Bao. Jika tidak ku lakukan, dia akan curiga karena napasku tidak ada aroma alkoholnya."
Lin Xia Mei meletakkan gelas itu di meja lalu menatap Wei Zhu Chen dengan senyum angkuh. Ekspresinya sedikit berubah saat merasakan lambungnya menolak keras minuman tersebut, ia merasa mual dan pusing.
"Kenapa? Apakah kau merasa tenggorokanmu terbakar?" tanya Wei Zhu Chen.
"Sok tahu."
"Kalau begitu, minum sekali lagi." tantang Wei Zhu Chen.
"Aku sudah minum dua gelas. Apa kau berniat membuatku mabuk dan mengambil keuntungan saat aku tidak sadarkan diri?"
"Kau adalah istriku, mengambil keuntungan itu adalah kata yang kurang ramah. Kau adalah milikku, raga maupun jiwa." balas Wei Zhu Chen sambil tersenyum.
"Cih, kau tidak layak berkata seperti itu, Wei Zhu Chen. Tubuh dan jiwa ini milikku,"
"Lin Xia Mei, semakin hari mulutmu semakin lihat merendahkanku. Sepertinya aku terlalu memanjakanmu selama ini."
"Benar, kau terlalu memanjakanku. Kedepannya, aku bisa sangat jahat padamu, sebaiknya kau mengurangi cintamu padaku, Wei Zhu Chen. Kau bukan lagi seleraku."
Wei Zhu Chen terdiam mematung, sementara Lin Xia Mei berdiri dengan susah payah agar tetap terlihat tidak terpengaruh alkohol.
"Sekalian kau bayar saja, anggap ini ganti rugi karena kau telah merusak kesenanganku malam ini."
Lin Xia Mei melenggang meninggalkan Wei Zhu Chen.