Perempuan bernama Angel yang tengah kecelakaan kini meninggalkan jasadnya dan menjadi hantu, dia diberi kesempatan untuk mengumpulkan 3 tetes airmata orang yang tulus mencintainya selain keluarga kandungnya.
"Itu gampang, aku akan mendapatkan nya dengan muda" Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Bagus jika seperti itu, dapatkanlah".
Angel dengan semangat untuk mendatangi orang-orang yang dia cintai namun dia lah yang mendapat kan kejutan tak terduga.
Akankah Angel bisa hidup kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Nafas Erwin dan Mentari memburu begitu mereka kelaur dari ruangan Angel, tangan mereka mengepal dan wajah merah padam.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? , kita harus memberikan perempuan sialan itu pelajaran". Ucap Erwin dengan emosi.
Mentari menggelengkan kepalanya, dia tidak mau Erwin melakukan hal itu karena kedua orangtua Angel tidak pernah bermain-main dengan perkataan mereka.
"Biarkan dia Kak, kita diam saja dulu, kalau kakak melakukannya dan ketahuan kedua orangtua Angel itu bisa gawat".
Dia sengaja memperingati Erwin agar tidak melakukan hal yang akan merugikan mereka sendiri kedepannya.
"Aku tidak bisa tinggal diam saja Tari, dia sudah keterlaluan, hampir saja kita ketahuan oleh orangtua sialan itu karena mulut kotornya". Umpat Erwin dengan sangat kesal.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam berusaha mengisi paru-paru nya dengan udara karena dadanya terasa panas.
"Tapi kita harus bersabar Kak, kakak tahu sendiri, kita belum mendapatkan apa yang kita rencanakan, kakak mau semua usaha kita selama bertahun-tahun itu sia-sia? ".
Erwin menoleh kearahnya sambil mendengus pelan, dia sangat kesal setengah mati karena mereka belum bisa mendapatkan harta kelaurga Angel selama bertahun-tahun lamanya.
"Kenapa dia harus kecelakan sih, padahal tinggal sedikit lagi pernikahan itu terlaksana dan tua bangka itu menyerahkan perusahaan padaku sesuai janjinya menyebalkan sekali". Umpatnya dengan sangat kesal.
Renata yang hendak keluar dari ruangan Angel itu menutup mulutnya mendengar percakapan keterlaluan itu, matanya membesar dan menggeleng tidak percaya.
Sahabat mereka dan kekasih dari Angel ternyata bersekongkol untuk merebut harta warisan dan perusahaan Angel.
"Ya ampun biadab sekali mereka, padahal Angel sangat baik kepada keduanya". Ucapnya dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
"Aku harus melakukan sesuatu agar harta Angel tidak jatuh pada mereka, aku pastikan itu".
Dia kembali masuk kedalam, niatnya keluar dari ruangan Angel ingin menyapa Mentari yang merupakan sahabatnya bersama Angel, mereka sudah lama berteman sejak masih sangat belia dan sekarang semuanya terasa menyesakkan mendengarnya.
"Loh kamu sudah berbicara dengan keduanya? ". Tanya Amelia penasaran.
Tadi sebelum Renata keluar, dia sempat bertanya apa maksud perkataan ayah Angel itu kepada keduanya, itu sebabnya dia berpamitan untuk berbicara dengan keduanya sebentar tapi malah dia mendapatkan kejutan
"Om, tante, kenapa kalian berbicara seperti itu pada Erwin dsn Mentari, aku sunggu penasaran". Tanyanya kembali mengulang pertanyaannya tadi.
Keduanya diam membisu tak ingin memberitahu apalagi mereka sebagai ingat pesan dari Senja kemarin untuk tidak percaya pada siapapun.
"Tidak apa nak, kami hanya menjaga gadis itu karena tadi ada sedikit masalah, kami takutnya Erwin dan Mentari tidak suka lalu menindasnya, dia bukan dari golongan kita jadi apa salahnya om melindunginya".
Renata memiringkan kepalanya berusaha mencerna perkataan ayah dari Angel itu, masalah?,
"Jadi tadi sempat ada keributan sebelum aku datang om? ". Tanyanya penasaran.
Kedua orang tua Angel itu hanya menghela nafasnya, mereka sangat tahu watak Renata yang seorang pengacara yang pasti sangat ingin tahu segala hal.
"Senja tadi mendapati keduanya berpegangan tangan sangat erat tanpa memperdulikan kehadiran kami tapi itu disadari oleh Senja dan dia mengeluarkan kata-kata cukup tajam untuk keduanya". Jawabnya pelan berusaha mencari kata-kata yang tepat.
" Senja bilang, tidak pantas perempuan dan laki-laki berpegangan tangan layaknya pasangan karena mereka adalah sahabat dan kekasih Angel apalagi mereka melakukan itu dihadapan kami dan diruangan Angel".
"Serius om? ". Tanyanya dengan tidak percaya, dia bahan nyaris berteriak.
"Benar nak, tapi mereka mengelak, mereka mengatakan keduanya hanya sahabat sejak kecil jadi sangat dekat, memang sih sebelum Senja datang tadi Erwin menangis tersedu-sedu kemudian memeluk Mentari, kami tidak berprasangka tetapi begitu Senja mengatakan hal itu barulah kami sadar jika laki-laki dan perempuan harus ada batasan sekalipun mereka sahabat dari kecil.
Renata mengangguk mengiyakan perkataan ayah Angel itu, tidak ada murni persahabatan perempuan dan laki-laki kecuali mereka bukan satu tipe tapi melihat kedekatan Erwin dan juga Mentari dia baru sadar jika mereka melanggar batas dan apa yang dikatakan Senja itu benar.
"Itu benar om, aku setuju yang dikatakan Senja apalagi ini diruangan Angel beruntung dia tidak melihat nya, kita saja yang lihat pasti tidak suka apalagi dia, siapa coba suka lihat tunangannya berpelukan dan pegangan dengan perempuan lain walau sahabatnya sendiri".
Keduanya mengangguk membenarkan perkataan Renata barusan, untung anaknya tak melihat itu.
"Oh iya om aku ingin tanya sesuatu". Tanyanya dengan wajah ragu tapi sangat serius.
Dia berusaha mencari kata yang tepat untuk kedua orangtua Angel, agar dia tidak curiga, dia tidak mungkin menuduh Erwin dan Mentari tanpa bukti, sebagai seorang pengacara dia tahu betul konsekuensinya.
"Ada apa nak? , seperti nya kamu serius sekali". Tatapannya menyelidik seakan menilai.
"Apa benar Om akan memberikan perusahaan paman kepada Erwin setelah mereka menikah? ". Tanyanya dengan hati-hati.
Hutama menarik nafasnya, dia masih mengingat jelas apa yang dikatakan Senja kemarin, bagaimana mungkin dia bisa memberikan perushaan yang dia miliki pada orang yang tidak bisa dipercaya.
"Om sebenarnya berat nak, tapi itu untuk kebahagiaan Angel makanya paman akan melakukannya tapi nanti saja kita lihat kelanjutannya".
Renata menatap lurus ayah Angel itu dengan tatapan serius, mengunci manik itu, dia melakukannya sebagai seorang yang paham dengan hukum seperti ini karena dia menangani banyak kasus dimana menantu mengusir mertua dan istrinya karena sudah berhasil mendapatkan harta mereka.
"Maaf sebelumnya om, jika boleh aku berpendapat, lebih baik jangan lakukan itu, biarkan perusahaan itu diberikan kepada Angel bukan pada Erwin, bukan apa-apa, Angel adalah anak kandung om sedangkan Erwin adalah orang lain, tak ada yang tahu apa tujuannya setelah mendapatkan segala milik kelaurga kalian".
Dia tidak akan membiarkan harta sahabatnya diambil oleh keduanya, Angel adalah sahabat terbaik yang dia miliki dan dia akan berusaha melindunginya sampai akhir.
Keduanya tersentak, perkataan itu sejurus dengan perkataan Senja kemarin yang mengatakan untuk tidak mempercayai siapapun,
"Apa Renata tahu sesuatu?". Pikir mereka.
" Kenapa kamu bicara seperti itu nak? ". Tanya Amelia dengan pelan.
Dia berusaha mencari kebohongan kedalam mata gadis itu dan hanya kejujuran yang ada disana.
"Maafkan aku sebelumnya om dan tante, aku bukan bermaksud memprovokasi om dan tante tentang hal ini, tapi sebagai pengacara yang sering menangani kasus seperti ini, inilah yang bisa saya sarankan agar kalian tidak dalam masalah kedepannya, jika kalian memberikan perusahaan pada Erwin, bisa saja setelah mendapat semua yang dia mau, dia akan menendang kalian semua tanpa kalian bisa melawan".
"Kamu yakin nak? ".