NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07. 5 Antek-antek & kelas seni (1)

Laura terbangun dari tidur nyenyaknya. Tubuhnya terasa lebih segar dari hari-hari biasanya. Perasaannya pun terasa lebih baik, tidak ada kecemasan apapun, seakan-akan hal baik sedang menanti dirinya.

Udara pagi itu terasa berbeda di kulit Laura—lebih sejuk, namun membawa kehangatan yang menenangkan. Dari balkon lantai dua, ia memandangi deretan pohon yang pucuknya masih basah oleh embun.

Ia mengingat tentang kejadian tadi malam, jika di pikirkan kembali, ia cukup berani melawan Gaharu si suami galak dan arogan itu.

“Kenapa juga harus takut? Sama-sama manusia, sama-sama makan nasi, 'kan? Kalo dia kanibal baru aku takut,” gumamnya.

Laura menyunggingkan senyum tipis, Ia membayangkan wajah Gaharu yang memerah padam saat dirinya menyinggung pembahasan pria itu dalam acara konferensi pers dadakan kemarin malam. Terlihat lucu dan menghibur untuk Laura.

Laura kembali terkekeh pelan, membayangkan urat leher Gaharu yang menegang saat ia melontarkan kalimat sindiran halus kemarin. Benar-benar pemandangan langka melihat 'Sang Tuan Sempurna' itu kehilangan kata-kata dan terpaksa menelan amarahnya bulat-bulat demi menjaga citra di depan calon para pengawal baru.

Omong-omong soal pengawal, apakah mereka semua di terima? Laura harap mereka di terima.

Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Laura. Dengan tergesa Laura membuka pintu kamarnya, pelayan Kim berdiri di balik pintu dengan troli makanan yang penuh dengan berbagai macam hidangan pagi.

“Selamat pagi, Nyonya, maaf menganggu pagi Anda.”

Laura menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis. “Tidak kok, kebetulan aku sudah bangun dari tadi.”

Pelayan Kim mengangguk sopan, lalu mulai mendorong troli masuk ke dalam kamar yang luas itu. Aroma hidangan pagi ini sungguh menggugah selera, tidak sadar jika perut Laura berbunyi pelan, berharap pelayan Kim tidak mendengarnya.

“Tuan muda berpesan agar Anda menghabiskan sarapan pagi ini. Beliau khawatir Anda akan sakit karena tidak makan dengan benar tadi malam.”

Laura menghentikan aktivasi melihat-lihat menu makanan pagi ini saat kata 'khawatir' keluar dari bibir pelayan Kim.

'Dia? Pria itu? Khawatir? Yang benar saja? Apa otaknya tersangkut? Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba sekali.'

“Khawatir?” Laura bertanya dengan hati-hati, memastikan jika dia tidak salah dengar.

“Ya, beliau berkata dengan tegas, memerintahkan saya untuk mengawasi Anda sampai sarapan Anda selesai.”

“Mengawasi?” Laura sedikit menaikkan nada bicaranya, membuat pria tua di depan sana sedikit memundurkan tubuhnya.

“Ya, memastikan semua sarapan yang tersaji Anda habiskan.”

“SEMUA?” Lagi dan lagi Laura menaikan nada bicaranya, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

'Gila! Yang benar saja. Dia pikir lambungku lambung sapi?'

***

Setelah perdebatan panjang tentang sarapan pagi yang katanya harus dihabiskan semua, akhirnya Laura dapat bernegosiasi. Dengan berbagai bujukan, pelayan Kim memilih mengalah. Tentu, ia tidak menghabiskan semua, mana muat perut mungilnya menampung semua menu sarapan pagi tadi, bisa-bisa meledak lambungnya. Di tambah ia ada kelas pagi hari ini, bisa-bisa ia mengantuk di dalam kelas.

Rumor mengatakan jika dosen pengganti kelasnya sangat garang, kesalahan sekecil apapun pasti di cari-cari oleh dosen tersebut. Jadi, Laura yang awal hidupnya santai-santai saja tanpa masalah apapun, tidak ingin terlibat kembali dalam masalah. Cukup kemarin ia viral di media sosial, hari ini jangan lagi.

“Gabriel, umurmu berapa tahun?” Laura memecah keheningan di dalam mobil.

“27 tahun, Nyonya,” sahut Gabriel dengan sopan. Laura tampak manggut-manggut tanda mengerti, ia beralih menolehkan kepalanya pada Hans, si supir pribadi.

“Kalo Hans berapa tahun?”

“Saya 31 tahun, Nyonya,”

Laura mengangguk mengerti, namun seperkian detik Laura berteriak. Mengejutkan dua orang pria yang duduk di depan sana. Hans yang terkejut sontak menginjak rem secara mendadak.

“Hans!” Gabriel berseru keras, menatap kaget lalu beralih menatap Laura di belakang sana. “Anda baik-baik saja, Nyonya? Anda tidak terluka?” Terlihat jelas jika Gabriel khawatir.

Tentu saja, mereka membawa nyawa istri dari keluarga konglomerat, jika lecet sedikit saja bukan hanya pekerjaan yang melayang, nyawa pun bisa-bisa ikut melayang. Hans merutuki kebohongannya, ia terlalu terkejut dengan teriakan tiba-tiba Nyonya mudanya. Ia pikir ada hal buruk yang terjadi.

“Maafkan saya, Nyonya. Apa Anda terluka?”

Laura mengedipkan kedua matanya bingung. Ia tidak apa-apa, hanya terkejut karena umur Hans yang katanya sudah masuk kepala tiga namun terlihat masih umur dua puluhan.

“Hahaha...” Laura tertawa garing, memecah ketegangan di dalam mobil karena ulahnya. “Aku baik-baik saja, tidak apa-apa sungguh. Aku hanya terkejut dengan umur Hans, sudah masuk kepala tiga namun masih terlihat muda, hehe.” Laura tertawa tanpa dosa.

Gabriel dan Hans menghela nafas pelan. Mobil kembali melaju pelan membelah jalanan kota yang mulai ramai.

“Hans benar-benar 31 tahun?” Laura memulai kembali percakapan. Jujur saja, ia penasaran. Barang kali pria itu salah menghitung.

“Benar, Nyonya.”

“Hans tidak salah menghitung?”

“Tidak, Nyonya.”

“Tapi bagaimana mungkin Hans terlihat masih muda?”

“Eh.. itu saya tidak tahu, Nyonya.” Hans membalas dengan kikuk.

“Hans pasti perawatan, jadi wajah Hans terlihat lebih muda.”

“Saya tidak terlalu faham mengenai itu, Nyonya. Saya hanya tahu menjaga pola makan dan menerapkan hidup sehat.”

Laura manggut-manggut tanda mengerti. Hidup sehat ya?

“Hans terlihat tampan, sudah memiliki pasangan?” tanya Laura, namun seperkian detik Laura kembali berseru. “Eh! Apa aku banyak bertanya? Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa, Nyonya, Anda tidak seharusnya meminta maaf.”

“Tetap saja, aku benar-benar tidak sopan karena bertanya soal kehidupan pribadi kamu, Hans.”

Hans tersenyum tipis, memakluminya. “Tidak masalah, Nyonya. Saya tidak merasa keberatan. Dan untuk pertanyaan Anda tadi... sejauh ini belum ada. Fokus saya masih sepenuhnya pada pekerjaan dan tanggung jawab saya di sini.”

Laura mengerjapkan mata, sedikit terkejut. “Belum ada? Benarkah? Dengan gaya hidup sehat dan wajah tampan, aku yakin banyak yang mengantri. Saat tiba di kampus nanti kamus pasti di kerumuni oleh para mahasiswi.”

Laura terkikik pelan saat membayangkan jika Hans benar-benar di kerumuni oleh para mahasiswi. Kira-kira sepanjang apa antrian nantinya? Sudah mirip seperti idol supir pribadinya ini.

“Gabriel juga tampan, pasti banyak yang ngantri, 'kan?”

Gabriel yang awalnya merasa aman karena ia tidak di berikan banyak pertanyaan, kini harus menghela nafas karena ikut terbawa-bawa.

Hah.. sudahlah.

***

Di dalam kelas seni yang biasanya riuh oleh suara para mahasiswa/i, kini berganti dengan keheningan yang mencekam. Orang-orang di dalam ruangan ini saling memfokuskan diri pada kanvas dan kuas di tangannya. Suara nafas pun tidak terdengar sedikitpun. Seakan-akan nafas mereka adalah kesalahan.

Pak Baskoro adalah definisi manusia perfeksionis. Si legendaris yang katanya garang, dan suka sekali mencari kesalahan sekecil apapun. Matanya yang tajam seakan-akan mampu menembus serat-serat kanvas. Mencari satu titik cacat yang luput dari pandangan manusia biasanya.

Satu-satunya melodi yang terdengar di dalam ruang kelas ini hanya ketukan sepatu pantofel si dosen itu sendiri. Tidakkah sadar jika hal itu membuat para penghuni kelas ketar-ketir. Suara ketukan sepatunya mampu menghantarkan ketegangan bagi semua orang.

Di tempatnya Laura memperhatikan Rahel yang duduk tepat di samping tubuhnya. Gerakan tangannya terlihat kaku dan bergetar. Ia memperhatikan sekitar, takut-takut Pak Baskoro memperhatikan.

“Rahel, tangan kamu gemetaran.” Laura berbisik sepelan mungkin.

“Gue gugup, Lau.”

“Santai aja, jangan kaku. Nanti tarikan garisnya jadi putus-putus.”

“Nggak bisa, Lau! gue serasa balik di ospek anjir!”

“Harus tenang, kalo hasil akhirnya nggak sesuai sama yang di bilang Pak Baskoro, kamu bisa-bisa revisi sampe nanti malem, emang mau?”

“Nggak lah! Gila aja sampe malem.”

“Perhatiin lagi shading-nya, Hel.”

“Lagi gue usahain.”

Percakapan mereka terhenti saat mereka sadar suara pantofel si dosen berhenti tidak jauh dari mereka. Lalu, sebuah bayangan tubuh terhenti di antara mereka berdua. Tangan Pak Baskoro terjulur dan mengambil kanvas milik Rahel.

Sedangkan si empu, sudah memasang wajah melas sambil menatap sahabatnya.

Matilah kita.

.

.

Halo, jangan lupa berikan dukungan berupa vote dan juga komentar.

Terimakasih.

Sabtu, 04 April 2026

Published : Sabtu, 04 April 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!