Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Setelah Vair minum sedikit, wajahnya mulai terlihat lebih baik. Mafia menatap Vair dengan ekspresi yang sulit di baca. "Kamu pingsan. Kamu harus istirahat,"
"Apa pedulimu? Aku nggak butuh belas kasihmu..."
"Tuan, pihak medis datang," Haru datang dengan satu medis di belakangnya.
Mafia mendesis, jengah dengan sifat keras kepala Vair. "Kasim! Bawa saksi ke sini sekarang, cepat!"
"Baik tuan," Kasim pun pergi menjalankan tugas. Sedangkan Mafia mulai beranjak dari tempat tidur dan mendekati medis yang di bawa oleh Haru, memberi kode padanya untuk segera memeriksanya.
Beberapa menit.
Vair sudah selesai di periksa dan petugas medis juga sudah pergi, Mafia menatap Vair dengan datar, membuat Vair jengah dan memilih membuang muka, berbaring membelakangi Mafia.
Liga masih berdiri di sudut ruangan, menatap Vair dengan rasa penasaran. Mafia melihatnya dan memberikan sinyal untuk mendekat, bertepatan dengan Kasim yang membawa saksi tahanan tadi, Aan.
Melihat tahanan yang datang Liga merasakan dadanya berdebar, tapi Liga yakin tahanan itu tidak mungkin berani mengatakan kebenaran, Liga yakin sekali itu.
"Vair, semuanya sudah berkumpul dan ceritakan semuanya sekarang juga. Ini perintah bukan permintaan. Jadi tolong jangan keras kepala, cepat katakan!" tegas dan tidak menerima penolakan.
"Dia yang melecehkan aku dulu, jadi nggak ada salahnya dong kalau aku membela diri..." menatap Liga kesal.
Liga menggeleng cepat. "Nggak! Itu bohong. Aku nggak ngelakuin apa-apa. Aku hanya ing---"
"Kamu jangan ngelak tuan Liga. Di sini sudah ada saksinya. Hey, saksi! Ayo ngomong, jangan cuma diem aja..." ~ Vair
Mafia memijat kening kemudian menatap Aan yang memang dijadikan saksi. "Kamu pasti tahu sesuatu. Jangan sembunyikan apa pun dariku."
Aan memilin jemarinya menutupi rasa gugup yang memang sudah terasa sejak masuk kedalam ruangan ini. "S-saya me-melihat kalau tuan Liga yang mele---"
"Stop...!" Liga mendekati Aan mendorong bahunya cukup kasar hingga Aan mundur kebelakang. "Kamu jangan coba coba me---"
"STOP...!!"
Semua orang yang ada di sana menunduk takut mendengar suara bentakan dari Mafia.
"Lanjutkan..." pinta Mafia pada Aan. Dengan ketakutan yang semakin menyelimuti dirinya Aan mengangguk.
"Tuan Liga melecehkan nona Vair, dan saya melihatnya secara langsung, bukan hanya saya saja, tapi teman teman tahanan yang lainnya juga melihatnya tuan..."
Liga menggeleng, jantungnya berdebar hebat, dia tidak terima Aan mengatakan itu semua pada Mafia. Seharusnya Aan takut, kenapa justru dengan lantang dan gamblang menceritakannya. Ini benar benar tidak adil...!
"Kamu pembohong!" Liga mendorong dada Aan dengan kencang, sampai Aan jatuh terjengkang ke belakang. Untungnya, Haru dan Kasim sigap menahannya, sehingga bokong Aan tidak benar benar jatuh membentur lantai.
"Mafia, kamu jangan percaya sama dia...! Dia ini pembohong...! Dia ini sengaja ingin mem---"
"Ingin apa? Ingin membuat namamu buruk di depan sahabat mu, begitu?" Vair menyela, menatap sinis ke arah Liga. "Tadi di sel kamu bersikap berani, lalu? Sekarang di depan sahabatmu nyali mu menciut dadakan. Cuih, dasar nggak berguna..!"
"Hei...! Wanita sialan, kamu jangan coba coba memprovokasi Mafia ya! Kamu in---"
"STOP...!"
"STOP...!"
Mafia menatap marah pada Liga dan Vair. "Aku nggak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi, ak----"
"Mafia, aku nggak bohong! Liga yang duluan meremas pan_tat ku. Makanya aku mencekiknya karena bentuk pembelaan diri! Lagi pula wanita mana yang akan diam saja jika ada lelaki yang melecehkannya?!" Vair menatap sinis Mafia dan Liga bergantian. "Tapi percuma saja aku ngomong jujur begini. Pasti kamu akan percaya dan membela teman kamu itu..." Vair membuang muka.
Mafia mendengus menatap Vair yang selalu membuang muka jika berbicara dengannya. Menatap Liga Aan Haru dan Kasim yang menunduk tidak berani berkata apa apa.
"Kali ini aku menegaskan pada kalian semua. Orang terdekat aku sekalipun asalkan dia membuat kesalahan tentu akan aku hukum sesuai perbuatannya begitu juga sebaliknya. Jadi katakan dengan jujur. Aan, sekali lagi aku bertanya padamu. Apa benar Vair di lecehkan oleh Liga, sahabat terbaikku?"
Aan mengangguk mantap. "Benar tuan, saya rela di habisi jika saya berbohong..."
Liga meneguk ludah mulutnya terbuka ingin mengeluarkan kalimat pembelaan namun tangan Mafia yang terangkat membuatnya kembali menutup mulutnya rapat rapat. Sekujur tubuh Liga gemetar jantungnya berdebar.
Kurang ajar kamu Aan, awas saja, aku pasti akan membunuh mu!
Mafia terdiam, wajahnya datar tapi tetap terlihat tegas seperti biasanya. Menatap Vair yang langsung membuang muka ketika bersitatap dengannya. Mafia menggeleng jengah dengan kelakuan Vair yang satu ini.
Sebenci itukah Vair sama aku? Dasar awas saja nanti
"Vair...hukuman apa yang pantas untuk seorang pembohong?"
"Mati..."
"TIDAK...!"
Semua orang menatap pada Liga yang tiba tiba berteriak ketakutan. "Aku tidak mau mati! Mafia, tolong ampuni aku. Ku mohon. Aku mengaku aku bersalah. Iya, aku yang melecehkan Vair duluan karena aku tertarik sama body tubuhnya..."
Semua orang terkejut dengan pengakuan Liga barusan, sampai Mafia pun terkejut dengan pengakuan yang gamblang itu.
Tertarik?
Body tubuhnya?
Mafia menatap Vair yang sekarang duduk bersandar di bed ranjang tanpa tertutup selimut. Mafia meneguk ludah karena memang benar yang di akui Liga. Vair sebenarnya menarik.
Mafia menggeleng. "Bawa Liga ke kamarnya dan pasung dia di sana."
"Baik tuan.." Kasim dan Haru berseru bersamaan, membuat Liga berseru histeris dan berontak ketika akan di bawa oleh Haru dan Kasim.
"Mafia... Kamu tega sama aku! Aku ini sahabat kamu dari kecil. Mafia! Mafia...!"
"Diam.." Haru menyentak Liga yang terus berteriak membuat Liga terdiam dan menatap Haru murka.
Setelah Liga berhasil di bawa oleh Haru dan Kasim, Mafia mendekati Vair yang menatap sinis ke arahnya.
"Apa? Kam---"
"Jadi cewek jangan centil.."
Vair mengerut kening, bingung dengan apa yang di katakan Mafia. "Aku nggak centil. Temen kamu yang mesum!"
Satu alis Mafia terangkat, menatap Vair remeh. "Oh ya? Lalu apa apaan dengan ini.."
"Aw, Mafia..!" Vair mendelik saat pinggangnya di sentuh oleh jemari kekar Mafia. Vair baru menyadari jika jubah bagian pinggangnya robek dan mengekspos kulit pinggangnya. "Kamu juga mesum! Minggir!"
Mafia menatap Vair, tersenyum sinis. "Pantas saja Liga tertarik sama kamu. Orang kamunya juga mancing mancing."
"Ish, siapa juga yang mancing mancing? aku nggak mancing mancing ya! Pergi kamu!" Vair menendang kaki Mafia, tapi tidak kena, membuat Mafia reflek tertawa dan tawa Mafia membuat Vair tertegun.
"Nah, gitu dong. Kalo ketawa kan jadi keliatan ganteng nggak kaku kaya es batu!"
Tawa Mafia pudar, ucapan Vair membuat jantungnya tiba tiba berdebar.