Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang Masa Lalu & Pandangan yang berubah
Setelah semalaman meluapkan tangis dan rasa sesak di hatinya, pagi ini Rania mencoba bangkit dan menata kembali perasaannya. Beban berat akibat pertemuan tak terduga dengan Bara kemarin terasa sedikit terangkat, meski jejak perasaan itu belum sepenuhnya hilang begitu saja.
Mengingat tubuhnya masih terasa lelah dan pegal setelah perjalanan jauh menempuh jalan dari Yogyakarta sehari sebelumnya, Rania memutuskan untuk membiarkan warung makannya tetap tutup hari ini.
Ia butuh waktu sejenak untuk beristirahat dan memulihkan tenaga, baik secara fisik maupun batin, agar bisa kembali semangat menemani kedua anaknya.
Seperti rutinitas pagi yang biasa dilakukan, Rania dan Mbak Siti duduk santai di teras rumah sambil menunggu tukang sayur keliling lewat.
Di sela waktu menunggu, mereka berbincang santai mengenang keseruan liburan kecil mereka kemarin, tertawa mengingat tingkah laku Naya yang sangat antusias saat bermain air dan pasir. Sebenarnya, Mbak Siti sudah menyadari ada yang berbeda dari wajah Rania pagi itu—terlihat jelas kelopak matanya sedikit bengkak dan agak sembab, tanda bahwa wanita itu pasti menangis cukup lama semalaman.
Namun, sebagai orang yang sudah lama mengerti sifat dan batasan Rania, Mbak Siti memilih untuk tidak bertanya atau membahas hal tersebut.
Ia tahu Rania pasti memiliki alasan tersendiri, dan jika wanita itu ingin bercerita, ia pasti akan menyampaikannya kapan saja dirinya sudah siap.
Tak lama kemudian, suara teriakan khas tukang sayur terdengar mendekat dari ujung gang. Begitu gerobak sayur berhenti tepat di depan rumah, puluhan ibu-ibu tetangga langsung berdatangan mengerumuninya.
Mereka sibuk memilih, memegang, dan memeriksa kesegaran sayuran, ikan, serta berbagai bumbu dapur yang tersedia sambil sesekali saling bercanda dan bertukar kabar.
Rania pun ikut berbelanja dengan teliti. Ia memilih ikan yang masih segar dan berkilau sisiknya, berbagai jenis sayuran hijau yang renyah, dan tak lupa mengambil tahu serta tempe—makanan kesukaan Dika dan Naya yang hampir selalu mereka minta setiap hari.
Di tengah kesibukannya memilih barang, beberapa ibu tetangga mulai mendekat dan menggoda sambil memuji penampilan Rania.
"Wah, Rania! Kok makin lama makin memukau saja ya? Makin cantik dan bersinar, padahal sudah punya dua anak besar," goda salah seorang ibu sambil tersenyum lebar.
Rania hanya membalas dengan senyum tipis dan sedikit merasa malu. "Ah, Ibu-ibu ini bisa saja bercanda. Saya cuma berusaha menjaga diri dan berpakaian rapi saja setiap hari," jawabnya dengan nada sopan.
Setelah selesai memilih dan membayar belanjaannya, Rania berpamitan kepada semua tetangga untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Begitu Rania pergi dan gerobak sayur pun mulai bergerak meninggalkan tempat itu, para ibu itu tetap berkumpul sebentar dan mulai berbicara dari hati ke hati, membicarakan nasib dan perjuangan Rania selama ini.
"Saya yakin suatu hari nanti kalau Bara kembali menampakkan diri, dia pasti akan sangat menyesal telah meninggalkan Rania dan kedua anaknya," ujar seorang ibu dengan nada tegas dan penuh keyakinan.
"Iya benar sekali. Lihat saja sekarang, Rania bisa bangkit berdiri sendiri tanpa menengadahkan tangan pada siapa pun.
Dia mampu menghidupi Dika dan Naya dengan kerja kerasnya, membuka warung, dan mendidik anak-anaknya dengan baik.
Sungguh tidak pantas seorang suami pergi begitu saja tanpa kabar dan rasa tanggung jawab sedikit pun," timpal ibu lainnya dengan nada menghujat sikap Bara.
Mereka pun sepakat bahwa tindakan Bara selama ini sangat tidak terpuji—sebagai kepala keluarga, ia seharusnya hadir dan melindungi istri serta anak-anaknya, bukan malah hilang ditelan bumi tanpa memberikan kepastian apapun.
Sementara itu, di dalam rumah, Rania dengan dibantu Mbak Siti mulai sibuk di dapur.
Berbagai masakan lezat mulai terhidang dengan aroma yang menggugah selera, mulai dari sayur bening bayam, ikan goreng renyah, hingga tahu tempe bumbu kecap manis yang sangat disukai anak-anaknya.
Tak lama setelah semua masakan siap di meja, Dika yang berusia delapan tahun dan Naya yang baru menginjak usia tiga tahun pun terbangun dari tidurnya. Segera mereka mandi dan berpakaian rapi, lalu berkumpul di ruang tengah.
Seperti kebiasaan mereka setiap hari, mereka memilih untuk sarapan bersama dengan duduk bersila di atas tikar di depan televisi.
Suasana hangat dan sederhana itu membuat hati Rania kembali merasa tenang dan damai.
Ia merasa, apapun yang terjadi di masa lalu dan luka apa pun yang masih tersisa, kebahagiaan serta senyum anak-anaknya adalah hal yang paling utama dan harus ia jaga sekuat tenaga.
Berbeda dengan Rania yang perlahan bisa kembali menenangkan diri dan menjalani hari seperti biasa, hal yang sama tidak dirasakan oleh Bara.
Sejak berpisah di Malioboro kemarin , pria itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya semalaman. Bayangan wajah Rania, Dika, dan Naya terus berputar berulang kali di dalam pikirannya.
Ia sama sekali tidak menyangka takdir akan mempertemukan mereka kembali, apalagi di tempat yang sama di mana dulu mereka pernah merajut mimpi awal pernikahan.
Namun, yang paling membuat Bara terkejut dan terus terbayang hingga membuatnya sulit berkonsentrasi adalah sosok Rania yang dilihatnya hari ini.
Dalam ingatan samarnya, Rania adalah wanita yang lembut, namun sering kali terlihat lelah, kusam, dan penuh kekhawatiran saat ia tinggalkan dulu. Namun, wanita yang ditemuinya sekarang tampak sangat berbeda.
Penampilannya jauh lebih terawat, kulitnya bersinar sehat, matanya memancarkan semangat hidup yang kuat, dan tidak ada lagi jejak kesedihan mendalam yang selama ini ia bayangkan masih melekat pada diri wanita itu.
Bara terus bertanya dalam hatinya dengan perasaan bingung dan sedikit menyesal:
Bagaimana bisa ia berubah sedrastis ini?
Selama setahun lebih ia ditinggalkan tanpa kabar sedikit pun, harus berjuang sendirian membesarkan dua anak dalam keterbatasan, tapi mengapa justru ia terlihat lebih kuat, mandiri, dan bersinar sekarang?
Apakah ia sudah benar-benar melupakan aku sepenuhnya?
Atau justru kepergianku yang membuatnya menjadi wanita yang jauh lebih hebat dan tangguh dari yang aku kenal dulu?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiran
Bara sepanjang pagi, membuatnya merasa gelisah dan mulai menyadari bahwa mungkin selama ini ia telah salah menilai situasi, dan pertemuan singkat itu justru membuka matanya pada sebuah kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa bayangan anak-anakku susah dilupakan, apa mereka juga melupakan aku sebagai ayah mereka??"
Bara masih termenung dan berfikir, sehingga tidak bisa berkonsentrasi untuk melakukan kegiatan apapun. Untung masih hari libur jadi dia bisa sejenak mengalihkan pikirannya. Tapi harus diakui pertemuan kemarin sedikit banyak membuat dia memikirkan hal lain.