NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Jarum jam dinding telah melewati angka dua belas malam. Suasana di luar rumah sewa terasa begitu sunyi dan dingin, namun di dalam ruang tamu, pikiran Ananda justru berkecamuk hebat. Ia duduk termenung di atas kursi kayu, menatap kosong ke arah lantai. Bayangan wajah Tristan dan kilasan masa lalu yang kelam terus berputar di benaknya, mengusir paksa rasa kantuknya. Pria yang telah menghancurkan hidupnya itu kini kembali hadir, ironisnya sebagai atasan tempatnya bekerja dan dia adalah ayah kandung dari Elvano.

Bu Mila yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat lampu ruang tamu masih menyala. Langkah rentanya terhenti saat mendapati putri semata wayangnya masih duduk menyendiri di sana.

"Nduk, kamu kenapa belum tidur?" tanya Bu Mila lembut sembari berjalan perlahan dan duduk di samping putrinya.

Ananda sedikit tersentak, lalu menoleh lemah. "Belum ngantuk, Bu...!"

"Tumben sekali. Oh iya, bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini? Apakah orang-orang di kantor baik padamu? Terus... atasanmu bagaimana?" tanya Bu Mila bertubi-tubi, menyuarakan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran seorang ibu.

Mendengar pertanyaan itu, Ananda menghela napas kasar. Dadanya terasa begitu sesak. "Itulah yang membuat aku tidak bisa tidur sampai sekarang, Bu!"

Bu Mila tercekat. Perasaannya mendadak tidak enak. "Apa ada masalah, Nduk? Apakah atasanmu itu tidak baik padamu?"

"Bukan tidak baik, Bu, tapi...." Lidah Ananda seolah mendadak kelu. Tenggorokannya tercekat, terasa sangat berat untuk mengucapkan nama yang menjadi sumber traumanya.

Melihat perubahan raut wajah putrinya, Bu Mila merangkul jemari Ananda yang terasa dingin. "Ceritakan semuanya sama ibumu ini, Nduk. Siapa tahu beban di hatimu bisa sedikit berkurang."

Ananda memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Bu... tadi di kantor... aku bertemu lagi dengan dia. Pria yang telah memperkosaku enam tahun yang lalu!"

"Apa?!" Bu Mila terperanjat, matanya membelalak tak percaya. Tubuhnya menegang seketika. "Maksud kamu... Nak Tristan, Nduk?"

"Iya, Bu. Tristan Bratadikara. Dia adalah CEO di perusahaan tempat aku bekerja sekarang," ucap Ananda dengan suara bergetar menahan amarah.

"Lantas... apakah dia mengenalimu, Nduk?" tanya Bu Mila dengan suara yang mulai panik.

Ananda menggelengkan kepalanya pelan. Sebuah senyuman pahit terukir di bibirnya. "Tidak, Bu. Dia sama sekali tidak mengenaliku. Penampilanku yang sekarang sudah banyak berubah. Aku bukan lagi si 'itik buruk rupa' yang bisa dia tindas semena-mena!" Ucapnya hingga seluruh tubuhnya gemetar hebat akibat luapan emosi.

Bu Mila langsung merangkul bahu putrinya yang berguncang, menarik Ananda ke dalam pelukannya. Air mata yang sejak tadi ditahan Ananda akhirnya tumpah sejadinya di dada sang ibu.

"Kamu yang sabar ya, Nduk. Ini mungkin sudah menjadi suratan takdir dari Yang Maha Kuasa. Kamu akhirnya dipertemukan lagi dengan pria itu... ayahnya Elvano," ucap Bu Mila lirih, ikut menangis. "Meskipun... sebenarnya Ibu sering merasa tidak tega karena kita terus berbohong kepada El, mengatakan kalau ayahnya sudah pergi selamanya."

Ananda mendongak, menyeka air matanya dengan cepat. "Meskipun mendiang Mas Radit telah tiada, tapi dia telah banyak berjasa untuk kita, Bu. Dia mau menikahiku di saat usia kandunganku sudah menginjak tujuh bulan. Mas Radit, yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, rela dikucilkan bahkan sampai dihina oleh keluarganya sendiri demi bisa melindungiku dan memberikan identitas untuk putraku."

"Tapi sayangnya Nak Radit tidak berumur panjang, Nduk," sahut Bu Mila dengan nada penyesalan yang mendalam. "Kalau saja peristiwa kecelakaan maut itu tidak terjadi, mungkin sampai saat ini dia akan selalu setia mendampingi mu dan menjaga El."

"Tapi Nanda tidak pernah mencintainya, Bu. Nanda hanya mengagumi kebaikan hatinya dan menganggap Mas Radit sebagai kakak kandung sendiri," ucap Ananda jujur.

Bu Mila menatap lekat-lekat mata putrinya, lalu menghela napas panjang. "Ibu tahu, Nduk. Karena jauh di dalam lubuk hatimu yang paling dalam... kamu sebenarnya masih menyimpan rasa untuk pria itu, ayah kandungnya El."

Deg!

Seketika Ananda langsung terdiam. Jantungnya berdegup kencang, tersentak oleh ucapan ibunya sendiri. Rasa untuk Tristan? Ananda mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Jika pun rasa cinta itu pernah ada di masa lalu, kini segalanya telah mati. Rasa itu telah terkubur dalam-dalam, digantikan oleh rasa benci yang mendarah daging. Menatap Tristan di kantor tadi tidak memicu kerinduan, melainkan menyalakan api dendam yang membara. Ia bertekad, kali ini ia tidak akan lari lagi, ia ingin membuat Tristan membayar setiap tetes air mata dan penderitaan yang pernah ia lalui.

*

*

Keesokan harinya, setelah menumpahkan seluruh beban di dada kepada sang ibu, Ananda merasa energinya pulih sepenuhnya. Rasa takut itu telah menguap, digantikan oleh rasa percaya diri yang membakar semangatnya. Pagi-pagi sekali, ia sudah disibukkan dengan berbagai persiapan agenda rapat bulanan Bratadikara Group. Dengan cekatan, ia menyortir berkas dan memastikan setiap divisi menyerahkan laporan terbaik mereka. Kevin, sang asisten pribadi, turut membantu di sisinya demi kelancaran acara besar tersebut.

Sementara itu, di apartemen mewahnya, Tristan baru saja selesai bersiap. Ia merapikan kerah kemejanya di depan cermin, menampilkan setelan jas yang teramat rapi, stylish, dan memancarkan wibawa yang mutlak. Penampilannya kini benar-benar jauh dari sosoknya yang dulu, yang berantakan, ugal-ugalan, dan arogan. Tristan telah menjelma menjadi pria dewasa yang matang, namun dengan benteng pertahanan berupa sikap dingin dan kaku, terutama terhadap lawan jenis.

Setibanya mobil Tristan di lobi kantor, para karyawan langsung menunduk memberikan salam hormat. Kevin yang sudah menunggu sejak tadi segera melangkah maju menyambut sang atasan.

"Bagaimana persiapan rapat hari ini, Kevin?" tanya Tristan langsung, langkah kakinya tidak melambat sedikit pun menuju lift VIP.

"Anda tenang saja, Tuan. Tadi saya dan Sekretaris Ananda sudah menyelesaikan dan menyinkronkan semuanya. Anda tinggal duduk manis di ruang rapat," jawab Kevin dengan wajah ceria dan penuh percaya diri.

Mendengar jawaban dari Kevin, seulas senyum tipis hampir tak kentara terukir di bibir Tristan. Ia merasa puas, terutama karena sekretaris barunya itu mulai menunjukkan etos kerja dan kemampuan yang nyata, membuktikan bahwa gertakan beraninya kemarin bukan sekadar omong kosong.

Begitu pintu lift terbuka di lantai sepuluh, Tristan melangkah keluar dan langsung berpapasan dengan Ananda. Wanita itu sedang berdiri di dekat meja kubikelnya, begitu fokus merapikan tumpukan dokumen penting yang sudah selesai ia cross-check. Tristan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ananda.

Ananda mendongak dan sempat tersentak kecil. Ia tidak bisa memungkiri, ketampanan dan aura wibawa yang memancar dari tubuh Tristan saat berdiri tegap di depannya saat ini benar-benar kuat. Namun, ia dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin.

"Bagaimana dengan dokumennya? Apa sudah kau kroscek semua dari seluruh divisi di perusahaan ini?" tanya Tristan dengan suara baritonnya yang tegas.

Ananda menegakkan tubuhnya, menatap lurus mata Tristan. "Sudah, Tuan. Semua laporan sudah bersih dari kekeliruan. Nanti Anda bisa mengecek ulang hasilnya di ruang meeting."

"Bagus. Baiklah, ikut dengan saya sekarang ke ruang meeting!" perintah Tristan telak, lalu berbalik memimpin jalan.

Ananda segera mengekori langkah lebar Tristan sambil membawa tumpukan dokumen penting yang cukup tebal di satu tangan, sementara tangan lainnya mendekap laptop kerjanya. Melihat sekretaris cantik itu tampak sedikit kerepotan, Kevin yang berjalan di samping Ananda berinisiatif mengulurkan tangan.

"Sini, Na, biar beberapa dokumennya gue yang bawa..."

"Kevin! Kau tidak usah membantunya, itu sudah menjadi pekerjaannya!" bentak Tristan tiba-tiba tanpa menghentikan langkahnya, namun kepalanya menoleh sejenak, melemparkan tatapan dingin yang menusuk ke arah Kevin dan Ananda.

Mendengar bentakan tidak beralasan itu, Ananda menghembuskan napasnya secara kasar melalui hidung. Rasa jengkelnya langsung tersulut. Ia menarik kembali dokumen yang hampir diambil oleh Kevin.

"Tidak usah dibantu, Pak Kevin. Terima kasih. Saya bisa melakukan semua ini sendiri," ucap Ananda dengan suara yang sengaja dikeraskan, lalu melirik ketus ke arah punggung Tristan. "Saya bukan wanita lemah yang gampang mengeluh hanya karena membawa beban segini."

Kalimat itu jelas-jelas ditujukan sebagai sindiran tajam untuk menyentil sikap arogan sang CEO. Tristan yang mendengar perkataan ketus sekretarisnya seketika memperlambat langkahnya. Rahangnya mengeras dan gurat kekesalan tampak jelas di wajah tampannya. Sungguh, wanita ini selalu punya cara untuk memancing emosinya dan meruntuhkan kecongakannya. Rapat bulanan ini baru akan dimulai, namun gesekan di antara keduanya sudah terasa begitu panas.

Bersambung...

1
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
Nar Sih
ayoo dree sgra kaaih tau kebnran nya pada tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
Ilfa Yarni
waah Tristan sekarang udah terang2an bilang sayang sama Nanda eits hati2 Tristan jgn sampe keceplosan dikantor bilang sayang ya nanti kebongkar hubungan kalian sebelum wkt yg tepat selesaikan dulu urusan perusahaanmu yg kacau dan km jg hrs cari tau gmn kehidupan bella dan tingkah lakunya diluar sana agar nanti km menolaknya ada bukti klo bella itu ga pantas buat km tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip Bunda
total 1 replies
Aghitsna Agis
aih padahal tristan pura2 duterima pertunana itu nah nanti bongkar semua kebusukan bella dan mungkin bella sydah sering gunti ganti pasang nanti pasang lsyar tancap disana dsn thor harus langsung up juga dirunggu mks
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nanti ada saatnya si Bella di balas oleh Tristan ya kak 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!