NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

BAB 31: Bara di Balik Kabut Senja

Aroma tanah basah dan embun yang mengembun di sela-sela daun pinus menandakan senja mulai turun di kawasan agrowisata Bogor. Udara sejuk pegunungan yang tadinya menyegarkan perlahan berubah menjadi sapuan angin dingin yang menusuk tulang.

Di area perkemahan utama yang terletak di sebuah lembah landai, puluhan tenda dome berwarna biru-jingga sudah berdiri rapi. Beberapa murid tampak sibuk mengumpulkan ranting kayu kering untuk persiapan api unggun malam nanti, sementara yang lain memilih beristirahat di dalam tenda masing-masing setelah seharian melakukan penjelajahan vegetasi.

Elva Ileana duduk di atas sebuah batang pohon pinus yang tumbang di dekat batas luar area perkemahan kelas IPS-1. Rambut hitam panjangnya yang tadinya dikuncir kuda kini sengaja dia gerai bebas untuk sedikit menghalau rasa dingin yang mulai menyerang tengkuknya. Jemari tangan kecilnya bergerak naik, menggenggam erat liontin perak berinisial 'Z' dan 'E' di dadanya.

Sejak kejadian di tanjakan hutan pinus siang tadi—di mana dia hampir terjatuh dan ditangkap oleh Christian Narendra—pikiran Elva tidak bisa tenang. Dia tahu betul bahwa sifat posesif cowoknya tidak akan membiarkan kejadian itu lewat begitu saja tanpa adanya perhitungan.

"Nih, minum dulu. Muka lo udah pucat kayak manekin kena es batu," sebuah suara berat yang kasual memecah lamunan Elva.

Kevin berdiri di sampingnya, menyodorkan sebuah gelas kertas berisi teh manis hangat yang masih mengepulkan uap gurih. Di belakang Kevin, Arkan tampak berjaga dengan pandangan mata yang menyapu sekeliling, memastikan tidak ada murid laki-laki lain—terutama si anak baru dari London—yang mencoba memanfaatkan situasi untuk mendekati Elva.

"Terima kasih, Kak Kevin," ucap Elva tulus, menerima gelas tersebut dengan kedua tangan kecilnya yang mulai mendingin. Kehangatan dari dinding gelas kertas itu sedikit meredakan getaran di telapak tangan.

"Santai aja, Elva. Kita kan dapet amanah suci dari singa yayasan buat mastiin lo aman seujung kuku pun," seloroh Kevin dengan cengiran lebar khasnya, mencoba mencairkan kecemasan yang terpancar jelas dari mata bulat Elva.

"Tapi asli ya, tadi siang mukanya si Zayn pas ditahan Kang Dedi udah mirip banget sama penjahat di film aksi. Gue ngeri sendiri liatnya."

Tepat saat kalimat Kevin berakhir, suara langkah sepatu gunung yang dihentakkan kasar di atas tanah berumput kering terdengar dari arah jalur utama pos logistik. Langkah kaki itu begitu berat, bertenaga, dan membawa aura intimidasi yang sangat pekat—sebuah karakteristik langkah yang hanya dimiliki oleh satu orang di SMA Pelita.

Zayn Dominic berjalan membelah kabut tipis senja dengan langkah lebar. Penampilannya sore ini tampak luar biasa berantakan namun justru memancarkan kesan maskulin yang sangat berbahaya. Kaos olahraga sekolahnya yang basah oleh keringat kini dibalut kasar dengan jaket kulit hitam andalannya yang dibiarkan terbuka. Rambut hitam acak-acakan nya bergerak tertiup angin gunung, dan rahang tegasnya mengeras sempurna dengan gumpalan otot leher yang menegang kuat.

Zayn baru saja menyelesaikan perhitungan logistik dan pembagian papan sandi darurat di gudang bawah bersama Kang Dedi. Begitu tugas formal sebagai ketua OSIS itu selesai, dia langsung berlari kencang mendaki jalur perkemahan tanpa memedulikan napasnya yang memburu hebat. Pikirannya sejak siang tadi bener-bener terbakar hebat oleh api cemburu murni setelah melihat tangan Christian Narendra menyentuh lengan gadisnya.

Melihat kehadiran sang pemimpin, Kevin dan Arkan secara otomatis langsung menegakkan tubuh mereka dan mundur satu langkah secara teratur, memberikan ruang privasi mutlak bagi Zayn.

"Udah aman, Zayn. Nggak ada lalat yang mendekat," bisik Arkan pelan sebelum memberikan isyarat mata kepada Kevin untuk ikut melangkah pergi meninggalkan area pojok perkemahan tersebut.

Zayn tidak menyahut. Sepasang mata elangnya langsung mengunci seutuhnya pada sosok Elva yang sedang mendongak menatapnya dengan pandangan mata bulat yang jernih. Begitu jarak mereka hanya tersisa dua langkah, Zayn menghentikan langkahnya. Dia mengatur napasnya yang memburu selama beberapa sekon, menatap intens setiap jengkal tubuh Elva untuk memastikan tidak ada luka atau memar baru yang tercipta akibat insiden terpeleset siang tadi.

Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Zayn tiba-tiba maju satu sekon, meraih pergelangan tangan kecil Elva, lalu menarik tubuh mungil gadis itu dengan satu sentakan lembut namun bertenaga agar berdiri dari batang pohon. Zayn membalikkan tubuh tegapnya, lalu menuntun—hampir menyeret—Elva menuju ke arah tenda komando khusus pengurus OSIS yang terletak paling ujung, jauh dari jangkauan tenda murid-murid lain.

SREKK!

Zayn membuka ritsleting pintu tenda besar itu, mendorong Elva masuk dengan perlahan, lalu segera menyusul masuk dan menutup kembali ritsletingnya dari dalam hingga rapat seutuhnya. Suasana di dalam tenda komando yang luas itu seketika menjadi sangat sunyi, terisolasi seutuhnya dari desai angin gunung dan bisik-bisik murid di luar sana. Penerangan di dalam tenda hanya bersumber dari sebuah lampu petromaks portable yang tergantung di tiang tengah, memancarkan pendaran cahaya kekuningan yang temaram dan romantis.

Zayn melempar tas ransel kecil milik Elva ke sudut karpet pembatas, lalu membalikkan tubuh tegapnya seutuhnya menghadap Elva. Sifat cemburu posesifnya yang ekstrem kini meledak seutuhnya di dalam ruang tertutup ini. Wajah tampannya ditekuk sangat kesal.

"Zayn..." panggil Elva lirih, melangkah maju mendekati tubuh tegap cowoknya yang sedang merengut kesal seperti anak kecil yang kehilangan mainan berharganya.

"Kamu jangan marah-marah terus dong dari siang. Christian beneran cuma menolong aku tadi karena aku hampir jatuh ke semak-semak."

Zayn tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah lambat hingga berdiri tepat di hadapan Elva. Alih-alih melayangkan ciuman dominan seperti malam-malam sebelumnya, Zayn justru melepaskan jaket kulit hitamnya dan melemparkannya ke atas karpet. Hanya dengan balutan kaos olahraga yang sedikit lembap, dia tiba-tiba berlutut dengan satu kaki di atas karpet tebal, tepat di hadapan Elva yang sedang berdiri bingung.

Tangan kekar Zayn bergerak mantap meraih kedua kaki Elva. Dengan gerakan yang sangat telaten dan hati-hati, Zayn melepas sepatu gunung Elva yang kotor terkena tanah merah perbukitan. Dia lalu menyingkirkan kaos kaki Elva, memperlihatkan pergelangan kaki kanan gadis itu yang tampak sedikit memerah dan membengkak tipis—sebuah cedera tersembunyi akibat insiden tergelincir di hutan pinus siang tadi yang coba Elva sembunyikan agar tidak membuat Zayn panik.

"Z-Zayn? Kamu ngapain?" Elva terbelalak kecil, menatap Zayn dari ketinggian dengan mata bulat yang dipenuhi rasa terkejut.

"Diem," ketus Zayn pendek, suaranya terdengar serak dan rendah. Rahang tegasnya mengeras, namun bukan karena marah kepada Elva, melainkan karena mengutuk dirinya sendiri yang terlambat datang siang tadi akibat tugas logistik.

Zayn mengambil sebotol kecil minyak kompres khusus dari kotak P3K milik OSIS di dekatnya. Dia menuangkan cairan dingin itu ke telapak tangannya yang besar dan hangat, lalu mulai memijat pergelangan kaki Elva dengan tekanan yang sangat pas dan lembut. Gerakan jemari Zayn begitu telaten, kontras dengan auranya yang biasanya kaku dan mengintimidasi satu sekolah.

Setiap sentuhan hangat dari tangan Zayn seolah mengirimkan desiran nyaman yang langsung meluluhkan rasa sakit di kaki Elva, sekaligus memadamkan sisa trauma masa lalunya. Elva menatap rambut hitam acak-acakan Zayn yang berada di bawahnya. Cowok sedingin es ini rela menurunkan harga dirinya, berlutut di lantai tenda hanya untuk merawat bagian terkecil dari tubuhnya yang terluka.

Setelah memastikan bengkak di pergelangan kaki Elva sedikit mereda, Zayn berdiri perlahan. Tubuh tegapnya kembali menjulang, mengikis jarak di antara mereka hingga tidak ada celah udara yang tersisa. Ego kepemilikannya yang sempat melunak saat mengobati kaki Elva kini kembali menuntut ruang setelah mengingat bayangan Christian Narendra siang tadi.

Zayn mengulurkan tangan kekarnya, meraih dagu Elva untuk menatap wajahnya. Jari-jari tangannya yang lain bergerak menyibak helaian rambut hitam panjang Elva yang tergerai, menyembunyikannya ke balik bahu untuk mengekspos leher putih bersih gadis itu seutuhnya di bawah cahaya kekuningan lampu petromaks.

"Kaki lo udah gue obatin," ucap Zayn, suaranya terdengar begitu rendah, serak, dan penuh penekanan ego yang kaku.

"Sekarang tinggal bagian leher lo yang harus gue urus."

Napas Zayn yang panas memburu langsung menerpa kulit leher Elva, membuat tubuh mungil gadis itu refleks meremang halus. Zayn memajukan bibirnya, menempelkannya di area sensitif di bawah telinga Elva, tepat di atas sisa tanda merah yang kemarin lusa sudah mulai memudar. Tanpa ragu, Zayn mulai menghisap dan menggigit kecil kulit lembut tersebut dengan tekanan yang pasti, menyalurkan seluruh sisa rasa cemburu dan arogansinya ke dalam sebuah tanda baru.

"Ah... Zayn... pelan-pelan..." Elva melenguh tertahan, kedua tangannya meremas kuat kaos oblong lembap yang dikenakan Zayn saat merasakan sensasi hisapan yang jauh lebih dalam dan kuat di lehernya.

Zayn tidak berhenti. Dia memberikan beberapa hisapan dalam di tempat yang sama selama beberapa detik hingga kulit putih itu kembali berubah warna menjadi kemerahan pekat yang baru, tebal, dan sangat kontras. Tanda baru ini sengaja dia buat sebagai proklamasi wilayah kekuasaan yang mutlak, penegasan visual yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun esok hari bahwa Elva Ileana adalah milik seorang Zayn Dominic seutuhnya.

Setelah merasa puas, Zayn menjauhkan wajahnya sedikit. Dia menatap mahakarya tanda merah baru yang tercetak jelas tepat di sebelah rantai kalung perak berliontin inisial mereka. Senyuman tipis penuh kemenangan yang sangat tampan akhirnya terukir di wajah kaku sang tuan muda. Dia mengusap tanda merah baru itu dengan ibu jari tangannya yang hangat secara sangat lembut.

"Besok kalau anak London itu berani natap lo lagi di lapangan, dia bakal tahu kalau benteng pertahanan gue nggak akan pernah bisa dia tembus," desis Zayn rendah, menatap lurus ke dalam manik mata bulat Elva yang tampak sayu karena terhanyut. Wajah polosnya sudah merah sempurna karena malu.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!