Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Bertahan Hidup di Alam Liar
Hari pertama di Pegunungan Cang Lei mengajarkan Lin Chen sebuah kenyataan yang tidak pernah ia temukan dalam buku-buku kultivasi.
Bertahan hidup tidak selalu ditentukan oleh tingkat kultivasi.
Seorang kultivator Tahap Pembentukan Inti yang tidak tahu cara membuat api saat hujan tetap bisa mati kedinginan. Seorang kultivator Tahap Jiwa Baru Lahir yang tidak mampu membedakan tanaman beracun dan tanaman obat juga bisa kehilangan nyawanya karena racun.
Di alam liar, kekuatan bukanlah segalanya.
Pengetahuan sering kali menjadi senjata yang jauh lebih berharga.
Dan kebetulan, itulah satu-satunya hal yang selama ini dimiliki Lin Chen.
Sejak kecil, ketika orang lain sibuk berlatih dan meningkatkan kultivasi, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan Klan Lin.
Awalnya karena tidak memiliki pilihan.
Namun lambat laun, membaca menjadi kebiasaannya.
Ia mempelajari berbagai jenis tumbuhan, hewan, geografi, pengobatan, hingga teknik bertahan hidup yang jarang dilirik oleh para murid lain.
Banyak orang menganggap buku-buku itu tidak berguna.
Bagaimanapun, seorang kultivator biasanya mengandalkan kekuatan spiritual untuk mengatasi berbagai masalah.
Tetapi sekarang, semua pengetahuan yang dulu diremehkan mulai menunjukkan nilainya.
Pada hari pertama, Lin Chen membangun tempat berlindung sederhana.
Ia memanfaatkan formasi batu yang ditemukan sebelumnya sebagai dasar perlindungan. Celah-celah di antara batu ditutup menggunakan ranting dan daun lebar yang disusun berlapis-lapis.
Hasilnya memang jauh dari nyaman.
Namun cukup untuk melindunginya dari angin malam dan hujan ringan.
Hari kedua dihabiskan untuk mencari sumber air.
Tidak jauh dari tempat tinggal sementaranya, ia menemukan aliran kecil yang mengalir dari lereng pegunungan.
Airnya jernih dan dingin.
Meski terlihat bersih, Lin Chen tetap merebusnya terlebih dahulu sebelum diminum.
Ia juga mulai menjelajahi daerah sekitar untuk mencari sumber makanan.
Beberapa jenis akar liar yang dapat dimakan berhasil ia temukan.
Ada pula jamur yang aman dikonsumsi dan buah-buahan kecil yang pernah ia pelajari dari buku-buku.
Berkat semua itu, setidaknya ia tidak perlu khawatir kelaparan untuk sementara waktu.
Hari ketiga berjalan cukup tenang.
Sampai menjelang siang.
Saat sedang mencari tanaman obat di lereng hutan, Lin Chen merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Hutan tiba-tiba menjadi terlalu sunyi.
Burung-burung yang biasanya terdengar berkicau mendadak menghilang.
Bahkan suara serangga pun berkurang.
Lin Chen segera menghentikan langkahnya.
Pengalaman dari berbagai buku yang pernah dibacanya membuatnya memahami arti perubahan itu.
Ada predator di dekatnya.
Ia tidak mengetahui lokasi pasti makhluk tersebut, tetapi instingnya mengatakan bahwa dirinya sedang diawasi.
Beberapa saat kemudian, sosok itu akhirnya muncul.
Seekor Serigala Batu.
Tubuhnya berwarna abu-abu gelap dengan bulu kasar yang menyerupai batu cadas. Di sepanjang punggungnya tumbuh tonjolan keras seperti duri.
Dari aura yang dipancarkannya, makhluk itu setara dengan kultivator Tingkat Keenam Kebangkitan Roh.
Jauh lebih kuat daripada Lin Chen.
Serigala Batu itu keluar dari balik semak dengan langkah perlahan.
Matanya yang berwarna kuning terang menatap lurus ke arah mangsanya.
Lin Chen tidak bergerak.
Ia tahu bahwa berlari hanya akan memicu naluri berburu makhluk tersebut.
Sebaliknya, ia mengamati sekeliling dan memilih posisi yang lebih menguntungkan.
Di belakangnya terdapat tiga pohon besar yang membatasi ruang gerak dari berbagai arah.
Setidaknya jika serigala itu menyerang, ia tidak perlu khawatir disergap dari samping.
Makhluk buas itu semakin mendekat.
Tubuhnya merendah, dan siap menerkam kapan saja.
Lin Chen menarik napas perlahan.
Lalu mengerahkan seluruh energi spiritual yang masih dapat ia gunakan ke telapak tangannya.
Jumlahnya sangat sedikit.
Bahkan tidak cukup untuk melancarkan serangan.
Namun itu bukan tujuannya.
Ia hanya ingin menciptakan sedikit tekanan energi yang asing bagi makhluk tersebut.
Aura lemah itu menyebar perlahan.
Serigala Batu tiba tiba berhenti.
Ia mengendus udara, dan kepalanya sedikit miring seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak dikenalnya.
Lin Chen tetap diam, ia tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun, dan waktu terasa berjalan dengan lambat.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Tiga puluh detik.
Akhirnya, serigala itu mundur satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Setelah beberapa saat, makhluk tersebut berbalik dan menghilang ke dalam hutan.
Barulah Lin Chen mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
Punggungnya sudah dipenuhi keringat dingin.
Jika serigala itu benar-benar menyerang, peluangnya untuk bertahan hidup hampir tidak ada.
Malam harinya, ia duduk di depan api unggun kecil yang menyala di depan tempat berlindungnya.
Nyala api menari perlahan di tengah gelapnya hutan.
Lin Chen menatap kobaran itu sambil memikirkan kejadian siang tadi.
Sayangnya, cara yang digunakan sebelumnya tidak akan mungkin berhasil untuk kedua kalinya.
Pegunungan Cang Lei menyimpan makhluk yang jauh lebih kuat daripada Serigala Batu.
Semakin jauh ia menjelajah, semakin besar pula bahaya yang menunggunya.
Cepat atau lambat, ia akan menghadapi situasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kecerdikan.
Ia membutuhkan kekuatan.
Bukan sekadar peningkatan kecil, melainkan perubahan besar yang mampu mengubah nasibnya.
Angin malam berembus pelan.
Api unggun berderak pelan di hadapannya.
Lin Chen mengangkat pandangan ke langit yang terlihat di antara celah dedaunan.
Ribuan bintang berkilauan di atas sana.
Untuk beberapa saat, ia hanya memandanginya dalam diam.
Kemudian sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Jika memang ada jalan untuk mengubah hidupku...Tunjukkan jalan itu kepadaku."
Tentu saja tidak ada yang menjawab.
Hanya kesunyian malam yang menyelimuti Pegunungan Cang Lei.
Namun Lin Chen tidak mengetahui bahwa tidak lama lagi, takdir akan benar-benar memberikan jawaban atas permintaannya.