Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Pengusiran Benjamin dan Bertemu Black Witch
"Kau... siapa kau sebenarnya? Penyihir dari mana kau? Apa yang sudah kau perbuat dengan rumahku?" Benjamin berbalik, menoleh sambil menatap tajam ke arah Evelyn.
Evelyn yang sama bingungnya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya juga bingung, Tuan. Kenapa bisa begini..."
"Cepat pergi dari sini! Dan bawa kembali kamar kumuhmu itu sekarang juga. Enyahlah!" tegas Benjamin, mengusir gadis itu tanpa perasaan.
Meskipun suaranya terdengar ketus, indra penciumannya justru menangkap aroma manis yang langsung membuat jantung naganya berdesir hebat. Bau manis bunga peony yang berpadu dengan kesegaran dedaunan pasca-hujan.
Tidak salah lagi. Dia gadis yang tadi siang di rumah sakit, batin Benjamin, berusaha keras menyangkal debaran abnormal di dadanya.
"Tapi, Tuan, aku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan kamarku ke tempat semula. Aku bukan seorang penyihir. Aku hanya manusia biasa!" sahut Evelyn defensif.
Karena tatapan tajam dan penuh permusuhan dari Benjamin terus menghunjam ke arahnya, Evelyn perlahan mundur. Mau tidak mau, ia memilih menyeberangi pembatas distorsi ruang itu, kembali ke kamarnya sendiri, lalu duduk di kursi belajar dengan perasaan dongkol.
Benjamin melangkah menyusul hingga ke batas ambang kamar, lalu berkacak pinggang dengan raut wajah kesal. "Kenapa kau belum pergi juga? Aku tidak percaya pada kebohonganmu, Nona! Kalau kau hanya manusia biasa, tidak mungkin kamarmu bisa terhubung dan berpindah tempat ke sini dengan sendirinya!" bentak Benjamin lagi.
"Cepat pergi dari rumahku! Batalkan mantra sihirmu sekarang!"
Evelyn memilin jemarinya gugup, namun ia menolak untuk mengalah begitu saja. "Mana bisa, Tuan! Saya tidak berbohong, saya benar-benar hanya manusia biasa. Dan lagipula, saya sekarang sudah berada di kamar saya sendiri. Saya tidak lagi menginjak area kamar atau rumah Anda. Ini adalah wilayah kamar saya!"
"Argh, sial!" geram Benjamin frustrasi.
Mage Naga itu terdiam cukup lama, memandangi sosok Evelyn yang tampak kelelahan dan ketakutan. Logika purbanya mulai berputar.
Benjamin memejamkan mata sejenak untuk memindai energi di sekeliling mereka. Anehnya, ia sama sekali tidak mendeteksi adanya sisa pendaran aura sihir aktif dari dalam tubuh gadis itu.
Gadis di hadapannya ini memang benar-benar bukan seorang penyihir. Namun, kenyataan bahwa ruang spasial rumahnya bisa terdistorsi dan menyatu seperti ini justru menyisakan teka-teki yang jauh lebih besar dan berbahaya.
Mau tidak mau, Benjamin akhirnya terpaksa menggunakan sihirnya. "Tetap diam di tempatmu. Sekarang pejamkan matamu erat-erat. Jangan mengintip!"
Evelyn mengernyit bingung. "Kenapa aku harus melakukan hal itu? Bukannya Anda ingin aku kembali ke tempat asalku? Lagipula aku pun sama, Tuan. Aku ingin pergi secepatnya dari tempat ini."
"Kubilang diam. Jangan banyak bicara, apalagi bertanya. Lakukan saja apa yang kuperintahkan!" tegas Benjamin.
Evelyn terpaksa menuruti perintah pria tampan yang ketus itu. Ia memejamkan mata rapat-rapat.
Kukira dia memiliki sifat selembut pangeran di negeri dongeng. Wajahnya saja yang tampan, tapi perkataannya setajam silet. Aku menarik kembali kekagumanku tadi siang, batinnya dongkol.
Benjamin mulai berkonsentrasi. Pendaran cahaya keemasan mulai keluar dari telapak tangannya. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah kamar Evelyn, merapalkan mantra spasial tingkat tinggi dengan harapan bisa mengembalikan kamar itu ke koordinat semula.
"Berpindahlah!" serunya.
Namun, kamar itu sama sekali tidak bergerak seinci pun. Benjamin mulai panik. Ia kembali mencoba untuk kedua kali, ketiga kali, hingga puluhan kali sampai keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Semuanya sia-sia. Mantranya memantul seolah menabrak dinding takdir yang absolut.
Evelyn yang merasa penasaran akhirnya mengintip sedikit melalui celah matanya. "Tuan, kenapa lama sekali? Apa yang sebenarnya Anda lakukan?"
Benjamin tidak menjawab. Ia mendesah frustrasi. Karena sudah kelelahan dan menyia-nyiakan terlalu banyak energi sihir, pria itu menyerah. Ia melangkah mundur dan memilih berbaring di ranjangnya, mengabaikan Evelyn yang masih kebingungan. Benjamin memejamkan mata, berharap esok pagi semua kegilaan ini hanyalah mimpi buruk yang menguap.
"Tuan, kenapa Anda malah tidur?! Bagaimana nasibku? Aku harus ke sekolah besok—ah, maksudku, aku harus pergi ke suatu tempat!"
Evelyn panik mendapati pria itu justru mengabaikannya. "Tuan, bangunlah!" teriaknya dari ambang kamar. Namun, Benjamin tetap bergeming, pura-pura tidak mendengar.
Kesabaran Evelyn habis. "Sial!" umpatnya parau.
Ia melangkah lebar keluar dari kamarnya sendiri, menyeberangi pembatas aneh itu tanpa memedulikan Benjamin lagi. Evelyn berjalan cepat melewati ruang tengah yang sunyi, lalu membuka pintu depan rumah kayu tersebut. Ia harus memastikan di mana sebenarnya ia berada saat ini.
Begitu pintu terbuka, hawa dingin langsung menusuk kulit tubuhnya. Untungnya, ia masih mengenakan sweter hitam tebal sejak senja tadi. Di atas sana, hamparan bintang bertaburan dengan indah, sangat kontras dengan badai emosi di dadanya.
Evelyn melangkah ke halaman luar. Rumah kayu ini ternyata berdiri di atas sebuah bukit yang tinggi. Dari tempatnya berdiri, pemandangan hutan belantara membentang luas di bawah sana, sementara jalan raya kota hanya terlihat seperti garis tipis yang jauh.
Evelyn menghela napas panjang, merapatkan sweternya saat angin malam berembus kencang. "Sepertinya aku berada di area hutan yang sama saat aku bertemu makhluk seram itu," gumam Evelyn lirih.
Dari ketinggian bukit ini, netra hijau zamrudnya bisa melihat dengan jelas siluet jantung Hutan Vespera—tempat di mana ibunya dihabisi oleh kawanan Demon liar beberapa jam lalu. Di kejauhan, kompleks rumah sewanya sendiri terlihat sangat kecil.
Kenangan mengerikan itu kembali berputar di otaknya tanpa ampun. Dadanya mendadak terasa sesak dan perih. Ia bahkan tidak sempat menyelamatkan satu helai rambut pun dari ibunya. Tidak ada yang tersisa dari Karina selain genangan darah di atas tanah hutan yang dingin.
Evelyn ingin menangis sekencang-kencangnya. Namun, matanya tetap kering. Sumur air matanya seolah telah mati rasa.
"Ibu... Ayah... aku ingin bertemu kalian," bisiknya parau pada kegelapan malam. Bahunya bergetar hebat menahan badai keputusasaan yang kian pekat. "Aku ingin pergi dari sini. Tapi bukan ke rumah kumuh itu... aku hanya ingin pulang menemui kalian."
"Kau sedang apa, Nona? Kenapa malam-malam begini gadis cantik sepertimu malah berdiri melamun di halaman seorang Mage?"
Sebuah suara serak tiba-tiba memecah keheningan malam. Sosok yang menyapa itu adalah Lula, seorang Black Witch alias penyihir hitam rendahan. Ia merupakan salah satu bawahan Benjamin yang sering berkeliaran di tengah malam, baik untuk berjaga-jaga di sekitar bukit maupun sekadar mengusili orang asing yang tersesat.
Evelyn perlahan menoleh. Jantungnya seketika terlonjak mendapati seorang nenek bungkuk yang mengenakan jubah lusuh sambil bertumpu pada tongkat kayu tua. Di bawah sorotan lampu teras rumah Benjamin, Evelyn bisa melihat dengan sangat jelas wajah keriput wanita tua itu.
Si nenek menyeringai lebar, memperlihatkan deretan gigi hitam yang tampak sangat mengerikan di kegelapan malam.
"Nenek ini... siapa?" Evelyn memberanikan diri untuk bertanya, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.
"Ah, benar. Izinkan aku memperkenalkan diri... namaku Lula. Aku adalah..." Wanita tua itu sengaja menjeda kalimatnya. Tidak mungkin ia mengungkap identitas aslinya sebagai penyihir hitam kepada gadis asing ini. "Aku adalah orang yang tinggal di sekitar sini. Bisa disebut juga tetangga."
Evelyn mengangguk pelan, meski intuisi tajamnya merasakan ada sesuatu yang janggal dari wanita tua di hadapannya. "Lalu, kenapa Nenek sendiri malam-malam begini ada di luar? Bukankah seharusnya Nenek beristirahat di rumah?"
"Aku memang sedang bertugas menjaga tempat ini, Nona. Di sekitar hutan ini ada banyak sekali makhluk usil berkeliaran. Karena itulah aku berada di sini,"