NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Keturunan Haram

Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Mbah Sekar. Dira mencoba mengajak bicara Faza. Membuat Faza yang biasanya irit bicara. Berubah menjadi Faza yang banyak bicara karena pertanyaan Dira. 

“Kamu kok tahu aku ada di ujung gang?” tanya Dira penasaran sambil memicingkan matanya. 

“Kebetulan saja.” 

“Kok bisa kebetulan?” 

“Bisa aja.” 

“Kok bisa saja?” 

“Auh,” jawab Faza enggan menjawab pertanyaan Dira. Membuat Dira cemberut lalu pelan-pelan menatap Faza sambil memiringkan kepalanya. 

“Makasih loh ya.” 

“Makasih buat apa?”  tanya Faza enggan membahas kejadian barusan. 

“Aku sama sekali tidak menolongmu. Aku hanya kebetulan berada di tempat itu,” sangkal Faza. 

“Siapa juga yang mau berterima kasih tentang itu. Aku kan perempuan kuat dan mandiri. Tentu saja bisa menjaga diri sendiri.” 

Faza tersenyum mendengar penuturan Dira yang tidak pintar berbohong.

“Jika bukan itu. Terus ingin berterima kasih tentang apa?” tanya Faza penuh. 

“Minuman.” Faza langsung mengernyitkan keningnya sebentar. 

“Nanti aku bayar minumannya.” 

“Heleh.”

Ucapan Dira membuat senyum tipis Faza kembali menyungging di sudut bibirnya. Tentu Dira yang melihat merasa kesal.

“Kalau tidak ada niatan senyum. Mending gak usah senyum deh.” 

“Terserah aku mau ngapain.” 

“Ya, terserah kamu saja.” 

Pasrah Dira mendengar ucapan Faza yang tidak mau kalah. Sehingga Dira memilih diam sebentar sambil memikirkan sesuatu. 

Hingga tiba-tiba pertanyaan di pikirannya yang sempat mengganggu. Kini kembali muncul memenuhi kepala. 

“Emm,” dehem Dira panjang mencoba mengalihkan perhatian Faza. Namun, nyatanya Faza sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. 

Karena tidak ada tanggapan sama sekali oleh Faza. Membuat Dira menjawil punggung Faza. 

“Faza.” 

“Heem.” 

“Kok cuma heem saja?” 

“Emangnya kamu minta aku ngapain?” 

“Terserah kamu saja,” pasrah Dira yang kali ini membuat Faza menengokkan kepalanya sebentar ke arah Dira. Lalu kembali fokus ke jalan. 

“Ada apa?” tanya Faza yang langsung membuat Dira tersenyum kembali. 

“Kamu habis dari mana?” tanya Dira penasaran. 

“Kan sebelumnya sudah aku katakan padamu. Jika aku habis dari bengkel.” 

“Benarkah?” 

“Terserah kamu mau percaya atau tidak.” 

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya memastikan saja.”

“Memastikan apa?” 

“Tadi aku sempat melihatmu dengan mudah masuk di komplek perumahan tempat tinggal keluarga Miss Panda. Sedangkan aku gagal karena handphone ku mati dan tidak bisa menghubungi Miss Panda.” 

“Mungkin kamu salah lihat.” 

“Beneran aku gak salah lihat,” kekeh Dira dengan penglihatannya. 

“Siang terik hingga minum air habis satu botol sekali tenggak. Jelas menandakan jika dirimu mengalami dehidrasi berat hingga berhalusinasi,” ucap Faza yang membuat Dira semakin bingung. 

“Tapi, aku yakin melihatmu di...” 

“Mana mungkin aku berada di komplek perumahan polisi. Sedangkan motorku saja ada di bengkel.” 

“Perasaan tadi aku nyebut komplek perumahan keluarga Miss Panda. Kenapa kamu mengatakan komplek perumahan polisi?”

Kreeet.

Faza menggenggam erat stang sepeda mendengar pertanyaan Dira. Mulutnya kelu untuk menjawab. 

“Faza! Aku tanya padamu. Kenapa kamu diam saja?” tanya Dira yang belum juga mendapat jawaban atas pertanyaan sekaligus kecurigaan.

“Ternyata selain berhalusinasi. Kekurangan cairan juga mempengaruhi pendengaranmu,” tutur Faza. 

“Masa sih? Tadi aku gak salah dengar kok.” 

“Terserah kamu saja.” 

“Iya deh aku percaya. Tapi di kota ini kamu tinggal dimana? Aku sangat yakin kamu tidak tinggal di rumah Bu Manik.” 

“Kalau kamu tahu tempat tinggalku. Memangnya kamu mau ngapain?” tanya balik Faza. 

“Aku hanya mau...” 

Dira tidak melanjutkan ucapannya. Karena dirinya bingung harus menjawab seperti apa. 

“Apa kamu pikir pantas perempuan main ke tempat laki-laki? Aku yakin sekali jika Mbah tahu pasti akan sangat marah, mendapati cucu perempuannya main ke tempat laki-laki. Memangnya kamu mau seperti itu?” tanya beruntun Faza.

“Nggak,” jawab cepat Dira. 

“Kalau Nggak, kenapa kamu kekeh ingin tahu tempat tinggalku?” 

“Aku…, aku hanya penasaran saja,” jawab cepat Dira. 

“Tidak lebih dari itu. Jika kamu tidak mau memberitahu alamatmu tak apa. Aku tidak akan bertanya lagi padamu,” tutur Dira kembali. 

Hanya senyuman yang diberikan oleh Faza menanggapi ucapan Dira. Faza jelas menang kali ini karena mampu membuat Dira menyerah tak berkutik. 

Meskipun awalnya ia merasa terancam. Hingga tak terasa sepeda yang dikendarai Faza masuk ke gang tempat tinggal Dira. 

“Berhenti disini saja, Faza! Biarkan aku pulang sendiri sampai ke rumah,” pinta Dira panik saat matanya menangkap keberadaan Bu Siti yang tengah menyirami jalan dengan air selokan. 

Bukannya berhenti, justru Faza tetap mengayuh sepeda hingga semakin dekat dengan tempat tinggal Dira. Melihat hal itu, jelas Dira semakin panik. 

“Faza, aku bilang berhenti!” pinta Dira yang lagi-lagi tidak ditanggapi Faza. 

Bukannya mengurangi ayunan sepeda maupun berhenti. Justru Faza mempercepat ayunannya hingga akhirnya sampai juga di depan pagar kontrakan Dira.

“Faza!” 

“Widih, laku keras juga curut kecil ini,” sindir Siti sambil memicingkan sudut matanya. Mengawasi Dira mulai dari atas hingga kebawah yang tengah dibonceng Faza. 

Jelas Bu Siti merasa senang karena mendapatkan amunisi baru menyerang Dira. 

“Kemarin subuh ada om-om masuk rumah. Eh, sekarang pulang sama pemuda asing. Ternyata pinter juga kamu mencari mangsa,” sindir Siti sambil mengangkat sudut bibirnya. Lalu bersiap memberikan serangan baru.

Jelas Siti saat ini tengah di atas angin. Apalagi saat suara kerasnya memancing para tetangga Dira tanpa terkecuali Mbah Sekar keluar dari rumahnya. 

Membuat Siti semakin bersemangat untuk kembali menyerang Dira beserta keluarganya. Karena hal inilah yang diinginkan oleh Siti. 

“Bakat terpendam dari ibunya memang mengalir deras,” sindir Siti merasa menang.

“Sepertinya sebentar lagi dia akan menyusul ibunya yang hamil diluar nikah. Lalu melahirkannya dalam keadaan hina.” 

“Cukup Bu Siti!” potong Dira cepat.

“Jangan menghina ibu saya lagi!” geram Dira sambil turun dari boncengan sepeda.

Menatap tajam kearah Siti yang tengah merendahkan Nimas. Rasa tidak terima jelas dirasakan oleh Dira saat ini. 

“Apakah ada yang salah dengan ucapanku, curut kecil?” sindir Siti. 

Dengan amarah yang hampir meledak. Dira berjalan mendekati Siti, yang saat ini matanya melotot hampir keluar dari tempatnya. Siti jelas tidak menyangka jika Dira berani membalas cacian dan hinaan yang dirinya berikan. 

“Saya memang terlahir diluar nikah. Saya mengakui hal itu,” ucap Dira yang langsung membuat siapapun orang yang ada di tempat tersebut terdiam. 

“Tapi, apakah itu keinginan ibu saya?” tanya Dira atas pertanyaan itu. 

“Jawabannya tidak. Karena ibu saya adalah korban,” ucap Dira menekan suaranya. Menandakan ada amarah tertahan yang hampir meledak kapanpun. 

“Peristiwa kelam 18 tahun lalu yang menimpa ibu saya. Membuat beliau mengalami gangguan jiwa,” geram Dira.

“Luka itu masih membekas hingga sampai saat ini. Ibu saya berteriak histeris setiap subuh tiba selama 18 tahun. DAN ANDA MENJADIKAN HAL ITU SEBAGAI OLOK-OLOKAN!” teriak histeris Dira hingga membuat Mbah Sekar berjalan mendekati Dira. 

Meskipun langkah kakinya terasa sangat lemas. Mencoba mengakhiri suasana tidak nyaman ini. Yang kapan saja akan berpengaruh pada kondisi kejiwaan Nimas. 

Gang sempit dan rumah yang hanya dibatasi satu tembok antara bangunan lain. Jelas akan sangat mudah sampai di telinga Nimas. 

“Cukup, Nduk.” pinta Mbah Sekar sambil menyentuh tangan Dira. Mencoba meraih hati dan emosi Dira agar kembali tenang.

“Mbah, Dira hanya gak ikhlas ibu menjadi bahan gunjingan dan hinaan. Dira hanya ingin mengatakan IBU ADALAH KORBAN.” 

“Sudah cukup,” pinta Mbah Sekar penuh penekanan. Membuat Dira yang sebelumnya emosinya meledak. Kini sedikit menurun. 

“Mbah,” lirih Dira melihat wajah tua yang sudah menahan luka di usianya senjanya. 

“Ayo masuk! Ibumu sudah sejak tadi menanyakan keberadaanmu,” ucap Mbah Sekar yang langsung membuat air mata Dira mengalir semakin deras. 

Jika sudah menyangkut Nimas. Tidak hanya Mbah Sekar yang hatinya runtuh, melainkan juga Dira.

“Ayo kita masuk!” ajak kembali Mbah Sekar yang langsung diikuti oleh Dira. 

Saat Dira membalikkan tubuhnya untuk menuju ke kediamannya. Mata Dira langsung terkunci ke arah Faza yang saat ini menatap dirinya. 

Diam sejenak saling melihat satu sama lain. Hingga langkah kaki yang terasa sangat berat menghampiri Faza. Mengambil alih kembali sepedanya yang masih dipegang oleh Faza. 

“Terima kasih banyak telah mengantarku pulang ke rumah dengan selamat,” ucap Dira sambil memalingkan wajahnya. Lalu mendorong sepedanya masuk ke pagar kontrakan. 

Meninggalkan Faza yang saat ini berdiri kaku dengan pandangan terus menatap Dira. Tangannya terkepal kuat menahan amarah yang sulit diungkapkan. 

Sakit? 

Jelas Faza ikut merasakan apa yang dirasa oleh Dira. Rasa nyeri hingga tembus ke relung hati membuat nafasnya tercekat. 

Keturunan haram. 

Untaian kata-kata tidak asing dalam hidup Faza. Dua kata yang  ringan diucapkan namun menimbulkan luka hingga akhir hayat. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!