Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Dimensi Tinggi
Suara riuh rendah anak-anak yang bermain bola gravitasi di kejauhan seolah teredam oleh dinding tak kasat mata. Di bawah naungan pohon sintetis itu, dunia mendadak menjadi sangat sunyi. Arthur tetap duduk tenang, tangannya masih memegang kotak susu stroberi yang sudah setengah kosong.
Ia bisa merasakan embusan napas dingin yang keluar dari mulut pria berbaju laboratorium di sampingnya. Pria itu yang menyebut dirinya teknisi sekolah memiliki wajah yang terlalu simetris, kulit yang terlalu pucat, dan sepasang mata yang tidak pernah berkedip.
"Tempat asalmu pasti sangat membosankan jika tidak ada susu stroberi," jawab Arthur datar. Ia tidak menoleh, matanya tetap menatap lurus ke arah lapangan sekolah. "Dan biasanya, tamu yang tidak diundang akan berakhir dengan cara yang sangat tidak menyenangkan di dunia ini."
Pria itu terkekeh pelan. Suara tawanya tidak terdengar seperti suara manusia, melainkan seperti gesekan dua keping logam yang sangat halus. "Kau benar-benar sudah berubah, Sovereign. Mengancam dengan kata-kata kasar sambil menggunakan tubuh kecil yang rapuh ini? Benar-benar penghinaan bagi kaum kami."
Arthur akhirnya menoleh. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang membuat suhu udara di sekitar mereka kembali turun beberapa derajat. "Tubuh ini mungkin rapuh, tapi kau tahu persis bahwa aku bisa menghapus mu dari garis waktu sebelum sinyal sarafmu sampai ke otakmu. Jadi, katakan padaku, apa tujuanmu menampakkan diri di tempat umum seperti ini?"
"Aku hanya seorang Inquisitor," jawab pria itu sambil merapikan kerah bajunya. "Tugasku adalah mengamati. Para Architects ingin memastikan apakah anomali yang menghancurkan utusan kami adalah benar-benar dirimu, atau hanya sisa energi yang terjebak di planet primitif ini."
Pria itu mengulurkan tangan, mencoba menyentuh daun sintetis pohon di atas mereka. Saat ujung jarinya bersentuhan dengan plastik tersebut, daun itu seketika hancur menjadi debu abu-abu. Ia menunjukkan betapa mudahnya ia memanipulasi materi tingkat molekuler.
"Dunia ini seperti kertas basah bagiku, Sovereign," lanjut sang Inquisitor. "Begitu mudah untuk dirobek. Jika aku melepaskan sedikit saja frekuensi asliku, seluruh sekolah ini akan runtuh menjadi tumpukan atom dalam satu detik. Kau tahu itu, bukan?"
Arthur tersenyum tipis sebuah senyuman yang tidak mengandung keramahan sedikit pun. "Kau mencoba mengancam ku dengan nyawa anak-anak ini? Itu adalah strategi yang sangat kuno. Tapi kau lupa satu hal, Inquisitor. Jika kau merusak satu helai rambut pun dari mereka, aku tidak hanya akan membunuhmu. Aku akan pergi ke dimensi mu dan mematikan matahari kalian selamanya."
Keduanya terdiam. Dua entitas yang mampu menghancurkan peradaban sedang duduk di bangku taman sekolah, berdebat seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang sedang membicarakan cuaca.
Di kejauhan, Bu Hera berjalan melintasi lapangan. Ia melihat Arthur sedang duduk bersama seorang pria dewasa. Karena merasa bertanggung jawab, Bu Hera berjalan mendekat.
"Arthur? Ada masalah?" tanya Bu Hera dengan nada menyelidik. Ia menatap pria berbaju laboratorium itu. "Maaf, Anda siapa? Saya belum pernah melihat Anda di staf teknis pagi ini."
Inquisitor itu menoleh ke arah Bu Hera. Pupil matanya mulai bergetar, bersiap untuk mengirimkan gelombang hipnosis yang bisa menghapus kesadaran Bu Hera dalam sekejap. Namun, sebelum ia sempat melakukannya, Arthur lebih dulu menaruh tangannya di atas meja taman.
Sebuah getaran frekuensi rendah yang hanya bisa dirasakan oleh Inquisitor tersebut keluar dari jemari Arthur. Itu adalah sebuah peringatan sebuah dinding energi yang membentengi Bu Hera.
"Oh, ini Tuan Teknisi, Bu Hera," ujar Arthur dengan suara cemprengnya, kembali berakting sempurna. "Dia baru saja membantuku mengambil biskuit ku yang jatuh ke bawah meja. Dia sangat baik!"
Inquisitor itu merasakan tekanan yang luar biasa di pundaknya, seolah olah ada gunung tak terlihat yang sedang menindihnya. Ia segera menarik kembali auranya. "Ya, Bu Guru. Saya hanya sedang memeriksa sistem irigasi di bawah pohon ini. Sepertinya ada penyumbatan kecil."
Bu Hera mengangguk, meskipun ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan pria ini. "Baiklah. Arthur, jangan lupa segera masuk kelas setelah bel berbunyi. Dan Tuan, pastikan laporannya diserahkan ke kantor pusat."
Setelah Bu Hera pergi, Inquisitor itu menghela napas panjang atau setidaknya menirukan gerakan bernapas manusia. "Kau melindunginya? Kau, yang dulu menghancurkan satu sistem tata surya hanya karena mereka menghalangi jalanmu, sekarang melindungi seorang guru manusia?"
"Manusia membuat sup jagung yang enak dan memproduksi susu stroberi," jawab Arthur sambil kembali menyesap susunya. "Itu alasan yang cukup bagiku untuk menjaga mereka tetap hidup. Sekarang, pergilah. Laporkan pada tuanmu bahwa kau tidak menemukan apa pun. Jika tidak, aku akan menjadikanmu percobaan pertama untuk jurus baruku."
Inquisitor itu berdiri. Ia menyadari bahwa meskipun Arthur berada di tubuh anak kecil, otoritasnya tetap mutlak. "Aku akan pergi. Untuk sekarang. Tapi ingatlah, Sovereign, kau tidak bisa bersembunyi selamanya. Para Architects sedang membangun Jembatan yang lebih besar. Dan saat jembatan itu selesai, planet ini akan menjadi tempat pertempuran yang tidak akan bisa kau menangi tanpa menghancurkan seluruh isinya."
Dengan satu langkah kaki, pria itu menghilang. Bukan terbang atau berlari, tapi ia seolah olah terhapus dari pandangan mata, meninggalkan sedikit aroma ozon dan suhu udara yang perlahan kembali normal.
Arthur menghela napas panjang. Ia meremas kotak susu kosong di tangannya hingga menjadi gumpalan kecil. Ia menyadari bahwa alurnya tidak akan sesederhana yang ia harapkan. Musuhnya bukan lagi monster bodoh yang bisa diselesaikan dengan satu sentilan tanpa berpikir mereka adalah entitas cerdas yang mulai memainkan permainan catur dengannya.
Ia bangkit dari bangku dan berjalan menuju kelas. Di koridor, ia melihat Silas sedang berdiri di dekat dispenser air, menatapnya dengan wajah yang masih pucat. Silas tampaknya telah melihat pembicaraan Arthur dengan pria asing tadi dari kejauhan, meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Arthur..." bisik Silas saat bocah itu lewat di depannya.
Arthur berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Silas. "Jika kau masih ingin melihat matahari terbit besok pagi, berhentilah mengikuti ku. Pria yang tadi adalah sesuatu yang tidak bisa kau pahami dengan logikamu. Dan dia jauh lebih tidak ramah daripada aku."
Silas mematung. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia baru saja menyadari bahwa Arthur bukan hanya senjata atau anomali Arthur adalah satu satunya garis pertahanan antara Bumi dan sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang sedang mengintai dari kegelapan angkasa.
Sore harinya, Valerius menerima sebuah pesan singkat di perangkat pribadinya. Pesan itu tidak memiliki nomor pengirim, hanya berupa koordinat geografis di tengah samudra Pasifik dan satu kalimat pendek:
"Siapkan armada patroli di titik ini. Jangan tanya kenapa. Dan kirimkan dua boks susu stroberi lagi ke alamat biasa. Aku butuh stok ekstra untuk minggu depan."
Valerius segera berdiri dari kursinya. Ia tahu bahwa jika Arthur meminta armada patroli, itu berarti ada sesuatu yang besar yang akan muncul. Sesuatu yang bahkan bagi Bocil Kematian itu, sudah mulai terasa menjengkelkan.
"Permainan ini baru saja dimulai," gumam Valerius sambil menatap peta global di layarnya. "Dan aku berada di tim yang paling berbahaya sekaligus paling aman di alam semesta."