Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mobil perlahan melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah besar bergaya modern klasik. Gerbang tinggi dengan ornamen elegan berdiri kokoh, sementara taman di halaman depan tampak terawat dengan baik. Namun, bagi Arsyi, kemegahan itu justru menghadirkan perasaan asing dan sedikit menyesakkan.
Harsa mematikan mesin mobil tanpa banyak bicara. Keheningan kembali menyelimuti keduanya, seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hubungan mereka.
Ia kemudian menoleh singkat ke arah Arsyi.
“Kita sudah sampai,” ucapnya datar.
Arsyi mengangguk pelan. Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, ia membuka pintu mobil dan turun dengan hati-hati. Udara Jakarta yang lebih hangat langsung menyambutnya, berbeda dengan kesejukan Bandung yang baru saja ia tinggalkan.
Harsa menyusul turun dari sisi pengemudi. Ia mengambil tas Arsyi dari bagasi dan menyerahkannya tanpa banyak kata.
“Terima kasih,” ucap Arsyi pelan sambil menerima tas tersebut.
Harsa hanya mengangguk singkat. Tatapannya kemudian beralih pada jam tangan di pergelangan tangannya, seolah mengingat sesuatu yang penting.
“Aku harus segera pergi ke kantor,” katanya.
Arsyi menoleh, sedikit terkejut. “Sekarang?”
“Iya,” jawab Harsa singkat. “Ada meeting yang sudah dijadwalkan sejak pagi, dan kemungkinan aku tidak akan pulang cepat.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang tetap datar, “Aku mungkin pulang malam karena lembur.”
Arsyi terdiam, dia mencoba memahami situasi tersebut, meskipun dalam hatinya terselip perasaan sepi yang tiba-tiba muncul. Baru saja menginjakkan kaki di rumah barunya, ia harus langsung menghadapi kenyataan bahwa ia akan menghabiskan waktu sendirian.
“Baik, Kak. Tidak apa-apa,” jawabnya lembut, berusaha tetap tegar.
Harsa menatapnya sejenak, seolah memastikan bahwa Arsyi benar-benar baik-baik saja.
“Ibu ada di dalam bersama Melodi,” tambahnya. “Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa langsung berbicara dengan beliau.”
Arsyi mengangguk pelan. “Terima kasih sudah mengantarku.”
Harsa tidak memberikan tanggapan lebih lanjut. Ia hanya mengeluarkan kunci mobil dan bersiap kembali masuk ke dalam kendaraan.
Namun, sebelum benar-benar pergi, ia sempat berhenti sejenak. “Arsyi,” panggilnya.
Arsyi menoleh. “Iya, Kak?”
“Beristirahatlah. Perjalanan tadi cukup melelahkan,” ucapnya singkat.
Meskipun terdengar sederhana, kalimat itu menyiratkan perhatian kecil yang tidak bisa diabaikan. Arsyi memberikan senyum tipis. “Baik.”
Tanpa menambahkan kata-kata lain, Harsa segera masuk ke dalam mobil. Mesin kembali menyala, dan dalam hitungan detik, kendaraan itu perlahan meninggalkan halaman rumah, membawa serta kesibukan dan jarak yang masih membentang di antara mereka.
Arsyi berdiri sejenak di depan rumah, menatap mobil yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan dirinya sebelum melangkah memasuki babak baru kehidupannya.
Pintu rumah terbuka bahkan sebelum ia sempat mengetuk. Nyonya Ratih muncul dengan senyum hangat, sementara di pelukannya, Melodi tampak terjaga dan menggerakkan tangan kecilnya.
“Arsyi, akhirnya kamu sampai juga,” sambut Nyonya Ratih dengan penuh kehangatan.
Arsyi langsung mendekat dan menyalami wanita itu dengan hormat. “Iya, Tante.”
“Masuklah, Nak. Ini rumahmu sekarang,” ujar Nyonya Ratih lembut.
Kalimat itu membuat hati Arsyi bergetar. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk, antara harapan, kecemasan, dan tekad untuk menjalani peran barunya dengan sebaik mungkin.
Melihat Melodi, Arsyi tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Boleh aku menggendongnya?”
“Tentu saja,” jawab Nyonya Ratih sambil menyerahkan bayi itu.
Begitu Melodi berada dalam pelukannya, Arsyi merasakan kehangatan yang perlahan menenangkan hatinya. Ia menatap wajah mungil itu dengan penuh kasih sayang.
Nyonya Ratih duduk di hadapan Arsyi dengan senyum lembut. Tatapannya penuh kehangatan, namun juga menyimpan kekhawatiran yang tersirat.
“Terima kasih sudah datang dan menerima semua ini, Nak,” ucap Nyonya Ratih pelan.
Arsyi menggeleng halus. “Saya yang seharusnya berterima kasih, Tante, karena sudah menerima saya di keluarga ini.”
Nyonya Ratih tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Melodi dengan penuh kasih. “Mulai sekarang, kamu tidak perlu sungkan lagi. Anggap saja rumah ini sebagai rumahmu sendiri. Panggil saya Ibu,"
Arsyi mengangguk dengan sopan. “Baik, Tante.”
Beberapa saat kemudian, Nyonya Ratih terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata, “Arsyi, sebenarnya Ibu ingin berpamitan.”
Arsyi sedikit terkejut. “Berpamitan, Tante? Maaf, ibu.”
“Iya,” jawab Nyonya Ratih. “Ibu dan ayah mertuamu, akan kembali ke Bekasi siang ini. Besok pagi kami harus berangkat ke Singapura untuk urusan pekerjaan.”
Arsyi menatapnya dengan raut wajah yang sedikit cemas. “Secepat itu, Bu?”
Nyonya Ratih mengangguk. “Iya, Nak. Kami memang sudah memiliki jadwal yang tidak bisa ditunda. Tapi Ibu percaya kamu bisa menjaga Melodi dengan baik.”
Arsyi tersenyum lembut sambil menatap bayi dalam pelukannya. “InsyaAllah, Bu. Saya akan menjaganya sebaik mungkin.”
Nyonya Ratih kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih santai, “Oh ya, biasanya Harsa lebih suka makan malam di rumah. Dia jarang sekali menyukai masakan dari pelayan.”
Arsyi tampak memperhatikan dengan saksama. “Jadi … saya yang harus memasak untuknya, Bu?”
“Kalau kamu tidak keberatan,” jawab Nyonya Ratih dengan senyum hangat. “Masakan rumahan selalu membuatnya lebih nyaman.”
Arsyi mengangguk pelan. “Tentu saja tidak keberatan. Saya akan mencoba yang terbaik.”
Namun, Arsyi kemudian teringat sesuatu. Ia menatap Nyonya Ratih dengan sedikit ragu sebelum berkata, “Tapi tadi Kak Harsa mengatakan bahwa dia akan pulang malam karena lembur.”
Ucapan itu membuat ekspresi Nyonya Ratih berubah. Alisnya sedikit berkerut, seolah merasa heran.
“Lembur?” ulangnya pelan.
“Iya, Bu,” jawab Arsyi. “Dia bilang ada meeting dan kemungkinan akan pulang malam.”
Nyonya Ratih tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, “Aneh sekali.”
Arsyi menatapnya dengan bingung. “Memangnya kenapa, Bu?”
“Harsa itu jarang sekali lembur,” jelas Nyonya Ratih. “Sejak dulu, dia selalu berusaha pulang tepat waktu, apalagi setelah menikah dengan Nadin. Dia lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.”
Arsyi terdiam, informasi itu menimbulkan perasaan yang sulit dijelaskan di dalam hatinya. Ia tidak ingin berprasangka buruk, namun ada sesuatu yang terasa janggal.
“Mungkin memang ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan,” ujar Arsyi mencoba berpikir positif.
Nyonya Ratih tersenyum tipis. “Mungkin saja. Tapi bagaimanapun juga, kamu tetap bisa menyiapkan makanan. Siapa tahu dia berubah pikiran dan pulang lebih cepat.”
Arsyi mengangguk. “Baik, Tante. Saya akan menyiapkannya.”
Nyonya Ratih kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Ibu harus segera bersiap. Sopir sudah menunggu di luar.”
Arsyi ikut berdiri sambil tetap menggendong Melodi. “Terima kasih atas semua nasihatnya, Bu.”
Nyonya Ratih mendekat dan menggenggam tangan Arsyi dengan lembut. “Jaga dirimu baik-baik, Nak. Dan jangan ragu untuk menghubungi Ibu jika ada apa pun.”
“Iya, Bu,” jawab Arsyi dengan tulus.
Sebelum benar-benar pergi, Nyonya Ratih mengecup lembut kening Melodi, lalu menatap Arsyi dengan penuh harap. “Mulai sekarang, kalian adalah keluarga kecil. Semoga Allah selalu melindungi kalian.”
“Aamiin,” ucap Arsyi pelan.
Tak lama kemudian, mobil yang membawa Nyonya Ratih meninggalkan halaman rumah. Arsyi berdiri di ambang pintu sambil menggendong Melodi, menatap kepergian wanita yang kini menjadi sosok ibu baginya.
Ketika rumah kembali sunyi, Arsyi melangkah masuk dengan perasaan yang campur aduk. Ia menatap sekeliling rumah yang begitu besar, mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ada suara pelayan dari arah dapur.
Ucapan Nyonya Ratih tentang kebiasaan Harsa yang jarang lembur terus terngiang di benaknya. Ada pertanyaan yang belum terjawab, namun Arsyi memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Ia menatap Melodi yang mulai terlelap dalam pelukannya dan tersenyum lembut.
“Sepertinya kita akan memulai semuanya dari awal, ya,” bisiknya.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂