Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Bayangan dari Masa Lalu
Lantai penjara wanita itu terasa dingin dan lembap, kontras dengan kenyamanan penthouse Elena yang beraroma kayu cendana.
Elena melangkah melewati koridor panjang dengan suara langkah sepatunya yang menggema, menciptakan irama yang membuat para narapidana di balik jeruji menoleh penasaran.
Ia berhenti di depan sebuah ruangan kaca untuk kunjungan khusus.
Di sana, duduk seorang wanita tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya, mengenakan seragam oranye yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang ringkih.
Dia bukan Siska. Dia adalah Marni, mantan kepala pelayan di kediaman utama keluarga Adiguna yang tiba-tiba menghilang sepuluh tahun lalu.
Elena duduk, mengangkat gagang telepon di balik kaca.
"Paman Han bilang kau mencariku karena punya informasi tentang ibuku. Bagaimana kau tahu siapa aku?"
Wanita tua itu menatap mata Elena dengan gemetar.
"Wajahmu mungkin berubah, Nona... tapi cara Anda memegang pena saat mengisi formulir tadi, dan sorot mata dingin itu... Anda mewarisi itu dari Nyonya Sarah. Ibu kandung Anda."
Elena terdiam. Sarah. Nama itu jarang sekali diucapkan di rumah Adiguna.
"Haryo bilang ibuku meninggal karena pendarahan saat melahirkanku," ucap Elena, suaranya tetap datar meski jantungnya berpacu.
Marni tertawa kering, suara yang terdengar seperti gesekan kertas amplas.
"Itu kebohongan terbesar yang pernah dia ciptakan. Nyonya Sarah tidak meninggal karena melahirkan. Dia 'dilenyapkan' karena dia tahu terlalu banyak tentang dari mana kekayaan awal keluarga Adiguna berasal."
Marni mencondongkan tubuhnya ke kaca, suaranya merendah.
"Nyonya Sarah bukan wanita biasa. Dia adalah pewaris asli dari tanah-tanah yang sekarang menjadi kawasan pusat bisnis Jakarta. Haryo menikahinya hanya untuk menguasai aset-aset itu. Saat Nyonya Sarah menolak menandatangani surat pengalihan harta setelah Anda lahir, Haryo mengurungnya di sebuah sanatorium terpencil."
Elena merasa darahnya membeku. "Jadi dia masih hidup saat aku tumbuh besar?"
"Dia hidup dalam penderitaan selama lima tahun di sana, sebelum akhirnya dinyatakan bunuh diri. Tapi saya tahu yang sebenarnya, Nona. Saya melihat Haryo membakar surat-surat medisnya." Marni terbatuk kecil.
"Saya dipenjara di sini karena tuduhan pencurian yang difitnahkan Haryo saat saya mencoba mengambil dokumen bukti itu. Dia ingin memastikan saya membusuk di sini."
Elena mencengkeram gagang telepon hingga buku jarinya memutih. "Di mana dokumen itu sekarang?"
"Di rumah lama di Puncak. Di bawah lantai ruang kerja pribadi Haryo yang lama. Ada brankas yang terkubur. Kodenya adalah tanggal lahir Anda, Nona... tanggal yang selalu ingin dia lupakan."
Sore itu juga, Elena membatalkan semua jadwal rapatnya. Ia dan Paman Han melesat menuju kawasan Puncak, Bogor.
Hujan turun lebat di sepanjang jalur pendakian, kabut tebal menyelimuti vila tua milik keluarga Adiguna yang sudah bertahun-tahun tidak ditempati.
Vila itu tampak seperti rumah hantu.
Tanaman merambat menutupi dinding batu, dan udara di dalamnya terasa apek.
"Hati-hati, Nona. Tempat ini mungkin masih dipantau secara jarak jauh," Paman Han mengingatkan sambil menyalakan senter berkekuatan tinggi.
Mereka sampai di ruang kerja Haryo. Elena berlutut di lantai kayu yang sudah rapuh di sudut ruangan.
Setelah menggeser sebuah lemari tua yang berat, ia menemukan lantai yang sedikit berongga.
Dengan bantuan linggis dari Paman Han, ia mencungkil papan kayu tersebut.
Benar saja. Sebuah brankas baja kecil berwarna hitam legam tertanam di sana.
Elena memutar angka kodenya: 1-5-0-9. Klik.
Pintu brankas terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian berwarna biru kusam dan beberapa lembar saham kuno, serta sebuah foto yang membuat napas Elena terhenti.
Foto itu menunjukkan ibunya, Sarah, sedang menggendong bayi kecil.
Di belakang foto itu tertulis:
"Untuk putriku, Alana. Jangan pernah percaya pada senyum ayahmu. Simpan ini, ini adalah hakmu yang sesungguhnya."
Di balik foto itu, terselip sebuah sertifikat kepemilikan tanah atas nama sebuah yayasan yang kini memegang 30% saham di bank-bank terbesar di Asia Tenggara.
"Paman... Haryo bukan hanya penipu. Dia adalah pencuri identitas," bisik Elena.
"Kekayaan Adiguna Group dibangun di atas aset ibuku yang ia rampas secara ilegal."
Malam itu, Elena tidak kembali ke Jakarta. Ia pergi ke rumah sakit tempat Haryo dirawat di bawah penjagaan polisi.
Dengan kekuasaannya sebagai pemegang saham mayoritas baru, ia berhasil masuk ke ruang VVIP tempat Haryo terbaring lemah dengan berbagai selang menempel di tubuhnya.
Haryo membuka matanya yang kuyu saat merasakan kehadiran seseorang.
"Kau... datang untuk melihatku mati?" suara Haryo parau.
Elena duduk di kursi samping tempat tidur, meletakkan buku harian biru itu di atas pangkuan Haryo.
"Aku datang untuk memberitahumu bahwa aku sudah menemukan 'warisan' ibu."
Mata Haryo membelalak. Ketakutan yang lebih besar dari kematian terpancar dari sana.
"Aku sudah menyerahkan semua bukti penggelapan aset Sarah Adiguna ke Kejaksaan Agung satu jam yang lalu," Elena melanjutkan dengan suara lembut namun mematikan.
"Besok pagi, seluruh harta yang kau banggakan itu akan disita oleh negara atas nama yayasan ibuku. Kau tidak akan mati sebagai pengusaha bangkrut, Haryo. Kau akan mati sebagai narapidana yang hartanya ludes tak bersisa."
Haryo mencoba bicara, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
Ia hanya bisa menatap Elena dengan rasa benci yang bercampur dengan penyesalan yang terlambat.
"Dan Adrian?" Elena tersenyum miring.
"Aku sudah memastikan dia tidak akan mendapatkan jaminan. Dia akan menghabiskan masa mudanya di sel yang sama dengan orang-orang yang dulu dia hina."
Elena berdiri, merapikan mantelnya.
"Selamat tinggal, Ayah. Terima kasih sudah mengajariku bahwa untuk menjadi pemenang, aku harus menjadi lebih kejam daripada monster yang menciptakanku."
Satu bulan kemudian.
Gedung pusat Adiguna Group kini berganti nama menjadi Sarah Tower.
Elena berdiri di podium di depan ribuan karyawan dan wartawan. Ia tidak lagi memakai kacamata hitam.
Ia tampil apa adanya—wanita yang kuat, mandiri, dan berkuasa.
"Perusahaan ini tidak lagi berdiri di atas keserakahan," tegas Elena dalam pidatonya.
"Mulai hari ini, kita akan fokus pada keadilan sosial dan transparansi."
Setelah acara selesai, Paman Han menghampirinya.
"Semua sudah bersih, Nona. Siska sudah dijatuhi hukuman 15 tahun, Adrian 12 tahun. Haryo... dia meninggal tadi malam dalam kesunyian."
Elena menatap langit Jakarta yang cerah.
Dendamnya sudah tuntas. Identitas rahasianya sebagai Elena kini menjadi identitas aslinya.
Ia bukan lagi 'Nyonya yang Terbuang', tapi 'Ratu yang Membangun Kembali'.
Ia mengambil ponselnya dan menghapus folder foto masa lalunya. Kini, hanya ada masa depan.
"Paman, siapkan pesawat," ucap Elena sambil tersenyum.
"Kita mau ke mana, Nona?"
"Swiss. Aku ingin mengunjungi makam ibuku yang sebenarnya... dan memulai hidup tanpa bayang-bayang mereka lagi."
Elena melangkah turun dari podium, setiap langkahnya kini terasa ringan.
Ia telah berhasil mengubah luka menjadi senjata, dan kehinaan menjadi takhta.
Permainan memang telah berakhir, tapi hidup Elena yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung...
Ayo buruan baca...