NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7: Bima yang Paling Heboh

Azril menutup pintu ruang OSIS pelan-pelan. Brosur lomba pidato masih terlipat di tangannya—biru dan putih, dengan logo Kabupaten di sudut atas. Ia belum tahu harus merasa apa. Bangga? Takut? Mungkin keduanya.

Ia baru berjalan beberapa langkah menyusuri koridor yang mulai sepi ketika—

"ZRIL!"

Seseorang menarik lengannya keras. Azril tersentak, nyaris menjatuhkan brosur itu. Sebelum ia bisa bereaksi, tubuhnya sudah diseret ke lorong dekat tangga—tempat yang agak tersembunyi dari lalu lalang siswa.

Bima.

Cowok bertubuh tegap itu berdiri di hadapannya dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru. Tanpa basa-basi, ia merebut brosur dari tangan Azril.

"WOH! LO MAU IKUT LOMBA PIDATO BAHASA INGGRIS?" Suara Bima menggema di lorong kosong. Beberapa siswa yang lewat menoleh, tapi Bima sama sekali tidak peduli. "TINGKAT KABUPATEN LAGI! ZRIL, LO KEREN BANGET!"

Azril panik. "Bim, suara lo—"

"EH TAPI LOMBA INI DI GEDUNG PEMUDA KAN? GUE PERNAH KE SANA WAKTU ADA PERTANDINGAN—"

"Bim, pelan-pelan—"

"LO HARUS LATIHAN TIAP HARI! GUE DUKUNG! FARIS JUGA PASTI BAKALAN DUKUNG LO! ELANG JUGA! KITA JADI SUPPORTER LO!"

Azril sudah menyerah. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan Bima terus mengoceh dengan volume suara yang sepertinya sama sekali tidak mengenal kata "pelan". Brosur di tangan Bima sudah mulai kusut karena terlalu bersemangat memegangnya.

"Terus teks pidatonya udah ada? Temanya apa? Lo harus bikin yang bagus biar—"

"Bim."

Suara itu tidak keras. Tapi entah kenapa Bima langsung berhenti bicara.

Elang muncul dari ujung lorong, berjalan mendekat dengan langkah tenang. Di belakangnya, Faris mengikuti dengan notebook di tangan. Rupanya mereka sedang dalam perjalanan ke kantin ketika mendengar keributan yang dibuat Bima.

"Suara lo kedengeran sampe ujung koridor," Elang berkata datar. "Lihat, Azril kewalahan."

Bima menoleh ke Azril yang memang terlihat seperti baru saja diterjang badai. "Eh, iya ya? Sorry, Zril. Gue terlalu semangat."

Azril menghela napas lega. "Gapapa, Bim. Cuma... pelan-pelan aja."

Elang menatap brosur di tangan Bima. Matanya membaca sekilas tulisan di sana. "Lomba Pidato Bahasa Inggris?"

"Iya!" Bima kembali bersemangat, tapi kali ini suaranya lebih terkendali. "Azril ditawarin Aini buat ikut lomba ini. Keren kan?"

Faris mendekat, menatap brosur itu dengan mata berbinar. Ia menulis sesuatu di notebook-nya, lalu menunjukkannya pada Azril:

[Kamu pasti bisa.]

Azril membaca tulisan itu. Dadanya terasa hangat. "Makasih, Ris."

"Ayo ke kantin dulu," Elang mengusulkan. "Sambil jalan lo cerita ke kita."

Mereka berempat berjalan menyusuri koridor menuju kantin. Bima masih memegang brosur itu, membacanya lagi dengan seksama. Azril berjalan di sampingnya, menceritakan apa yang terjadi di ruang OSIS—tentang Bu Dina yang merekomendasikannya, tentang Aini yang menawarinya kesempatan itu, tentang keraguannya sendiri.

"Gue masih belum yakin sebenernya," Azril mengaku saat mereka hampir sampai di kantin. "Gue gak pernah tampil di depan umum. Apalagi pidato Bahasa Inggris."

"Justru itu," Bima menepuk bahunya. "Ini kesempatan buat lo nunjukin kemampuan lo. Lo kan jago."

"Gue gak jago."

"Tapi buktinya Bu Dina rekomendasiin lo ke Aini, Zril."

"Itu kan... beda" Azril tersenyum miring. "Kalo di kelas aku masih sanggup, tapi nanti pas lomba pasti banyak banget yang liat."

Bima tertawa. "Zril, kalo lo minder terus kapan lo maju? Kapan lo bisa berubah? Kita tuh harus merubah sifat kita biar bisa sukses man."

Mereka sampai di kantin. Tempat itu tidak seramai biasanya—mungkin karena sebagian siswa memilih makan di kelas atau di taman. Bima langsung menuju bangku pojok yang sama seperti kemarin, tempat mereka duduk bersama Elang untuk pertama kalinya.

"Ayok duduk sini lagi. Ini tempat bersejarah soalnya." Bima duduk dengan manis, diikuti yang lain.

Mereka duduk di posisi yang mirip: Bima dan Azril di satu sisi, Elang di ujung, dan Faris di ujung yang lain dekat jalan keluar. Tapi kali ini suasananya berbeda. Tidak ada kecanggungan. Tidak ada diam yang terlalu lama.

Bima memesan nasi campur seperti biasa. Azril memesan nasi uduk sederhana. Elang memesan bubur ayam—tanpa kerupuk lagi karena Bima sudah menghabiskan stok kerupuknya kemarin. Faris membuka bekal dari rumah: nasi dengan telur dadar dan sayur bening.

"Jadi," Bima memulai dengan mulut setengah penuh, "lo serius mau ikut lomba ini kan?"

Azril mengaduk nasinya. "Gue masih mikir."

"Masih mikir apaan? Kesempatan kayak gini gak dateng dua kali."

"Gue tau. Tapi..."

Tapi gue punya asma. Tapi gue takut tiba-tiba kambuh di atas panggung. Tapi gue gak mau semua orang tau gue sakit.

Kalimat itu berputar di kepalanya. Tapi seperti biasa, tidak ada yang keluar.

Elang yang dari tadi diam tiba-tiba bersuara. "Gak usah dipaksa. Kalo lo belum siap, gak masalah."

Bima menoleh. "Tapi, Lang—"

"Tapi kalo lo gak pernah nyoba," Elang melanjutkan, matanya menatap Azril, "lo gak akan pernah tau lo bisa atau nggak."

Azril menatap Elang. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang terasa familiar. Mungkin karena Elang juga sedang dalam proses "mencoba"—mencoba berubah, mencoba keluar dari bayang-bayang masa lalunya.

"Gue... cuma gak mau ngecewain orang," Azril berkata pelan.

Faris yang sedari tadi mendengarkan sambil makan, meletakkan sendoknya. Ia menulis sesuatu, lalu menggeser notebook-nya ke tengah meja sehingga semua orang bisa membaca:

[Kamu gak akan ngecewain siapapun. Kamu cuma perlu jadi diri sendiri. Itu udah cukup.]

Bima membaca, lalu mengangguk setuju. "Nah, bener kata Faris. Lo tuh mikirnya terlalu jauh, Zril. Satu langkah dulu. Ikut lomba. Latihan. Nanti kalo menang, syukur. Kalo kalah, ya udah. Yang penting lo udah berani nyoba."

Azril menatap teman-temannya satu per satu. Bima dengan semangatnya yang meluap-luap. Faris dengan ketenangannya yang memberi kekuatan. Elang dengan diamnya yang penuh pengertian.

Ia belum pernah punya teman seperti ini.

"Oke," katanya akhirnya. "Gue ikut."

Bima nyaris melompat dari bangku. "YES! GUE BILANG JUGA APA! LO PASTI BISA!"

"Tapi suara lo, Bim..." Elang mengingatkan.

Bima langsung mengecilkan volumenya. "Eh iya, sorry."

Mereka melanjutkan makan dengan obrolan yang lebih ringan. Bima mulai bercerita tentang betapa bangganya ia bisa jadi "manajer" Azril untuk lomba nanti. Faris sesekali tersenyum mendengar celotehan Bima. Elang lebih banyak diam, tapi kali ini diamnya terasa nyaman—bukan diam yang penuh ketegangan seperti dulu.

Di tengah obrolan, Bima tiba-tiba menepuk dahi. "EH! Gue lupa!"

"Lupa apa?" Azril bertanya.

"Besok kan Hari Kemerdekaan! 17 Agustus!"

Azril mengernyit. "Terus?"

"Maksud lo, 'terus'?" Bima menatapnya tidak percaya. "Oiya ini pertama kalinya lo ikut perayaan 17-an di sekolah ini kan?"

Azril mengangguk ragu. "Iya... kenapa emang?"

Bima menoleh ke Elang. "Lang, lo yang jelasin. Gue capek ngomong mulu."

Elang meletakkan sendoknya. Ia menatap Azril dengan tatapan datar seperti biasa, tapi ada sedikit nada antusias yang terselip di suaranya. "Besok ada upacara pagi. Habis itu lomba-lomba. Tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, panjat pinang di lapangan belakang."

"Terus malemnya," Bima menyambar, tidak tahan diam terlalu lama, "ada pertunjukan seni! Semua ekskul tampil. Paduan suara, tari tradisional, teater, band sekolah. Puncaknya pesta kembang api!"

Azril mendengarkan dengan mata sedikit membesar. Di sekolah lamanya, perayaan 17 Agustus hanya sebatas upacara pagi dan itu pun formalitas. Tidak ada lomba. Tidak ada pertunjukan seni. Tidak ada pesta kembang api.

"Lo... serius?" tanyanya.

"Serius. Ini acara terbesar sekolah selain wisuda dan perayaan ulang tahun sekolah." Bima menyandarkan punggungnya ke dinding, tersenyum lebar. "Pokoknya lo harus dateng. Kita berempat nonton bareng. Siapa tau lo bisa dapet inspirasi buat pidato dari acara ini."

Azril tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ia mulai merasa bahwa sekolah ini... berbeda. Bukan hanya karena teman-temannya, tapi karena semuanya terasa lebih hidup.

Faris yang sedari tadi diam tiba-tiba menulis sesuatu di notebook-nya. Ia tidak menunjukkannya pada siapa pun—hanya menatap tulisannya sendiri.

[Gue pengen kayak Azril. Berani tampil di depan umum. Berani mencoba.]

Ia menutup notebook-nya pelan. Di seberang meja, Azril sedang tertawa mendengar celotehan Bima tentang lomba makan kerupuk tahun lalu yang berakhir dengan kekacauan. Elang bahkan hampir tersenyum—hampir.

Mungkin suatu hari nanti, pikir Faris. Mungkin suatu hari nanti gue juga bisa kayak dia.

...~•~•~•~...

Bel masuk berbunyi. Mereka berempat beranjak dari bangku kantin, mengembalikan piring dan mangkuk ke tempat cuci, lalu berjalan kembali ke kelas. Bima masih terus mengoceh tentang strategi latihan pidato untuk Azril, sesekali diselingi pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab.

Di depan pintu kelas XII IPS 2, Aini sudah berdiri dengan map OSIS di tangan. Begitu melihat mereka, ia tersenyum.

"Zril, jadi ikut kan?"

Azril mengangguk. "Iya, Ai. Gue ikut."

Aini tersenyum lebih lebar. "Bagus. Nanti aku kasih tau Bu Dina. Senin depan kita daftar."

Ia berbalik, tapi sebelum pergi, matanya bertemu dengan Elang. Kakaknya itu mengangguk kecil—sebuah isyarat yang hanya mereka berdua yang mengerti.

Aku yakin, Kak. Aku yakin kamu bisa berubah.

Aini berjalan pergi, dan Elang menatap punggung adiknya sampai menghilang di ujung koridor.

"Lang! Masuk yuk!" Bima sudah setengah masuk ke kelas.

Elang menghela napas. Lalu melangkah masuk.

Hari ini belum selesai. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa besok—dengan segala lomba dan keramaiannya—mungkin tidak akan seburuk yang ia kira.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!