NovelToon NovelToon
Istri Nakal Dari Pesantren

Istri Nakal Dari Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mystique17

Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara yang Mulai Dikenal

Hari ketiga Raina di pesantren terasa berbeda.

Pagi itu ia bangun lebih awal dari biasanya, sebelum adzan Subuh berkumandang. Jaket Gus Haris masih terlipat rapi di ujung kasur, dan kerudung abu-abu pemberiannya tergantung di gantungan kecil di dinding. Raina menatap kedua benda itu lama, lalu menghela napas panjang.

“Gue nggak boleh terlalu lembut,” gumamnya pada diri sendiri sambil berdiri.

Ia mencuci muka dengan air dingin, mengikat rambut pendeknya, dan kali ini memilih untuk memakai kerudung abu-abu itu meski masih agak longgar. Ia juga memakai jaket hitam tipis di atas kemeja hitamnya. Penampilannya masih jauh dari santriwati lain, tapi setidaknya tidak seberani hari pertama.

Ketika ia keluar kamar, Lila sudah menunggu di koridor dengan senyum cerah.

“Mbak Raina! Wah, kerudungnya dipakai. Cantik banget!”

Raina cemberut manja, pipinya yang agak bulat sedikit memerah.

“Jangan lebay. Gue cuma nggak mau kedinginan aja.”

Mereka berjalan bersama menuju masjid untuk Subuh. Kali ini tatapan santriwati tidak terlalu tajam. Beberapa bahkan mengangguk kecil sebagai salam. Sinta yang lewat di depan mereka memberikan senyum tipis — bukan senyum ramah sepenuhnya, tapi setidaknya tidak lagi penuh penilaian.

Di masjid, Raina duduk di barisan tengah bersama Lila. Ia mencoba mendengarkan bacaan ayat dengan lebih serius. Suara santriwati yang tartil terdengar indah di telinganya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sepenuhnya asing.

Setelah shalat Subuh selesai, Gus Haris muncul di pintu masjid perempuan. Ia memakai koko putih bersih dan peci hitam, wajahnya tampan seperti biasa dengan sorot mata yang lembut.

“Raina,” panggilnya pelan.

Raina menoleh. Dada nya berdebar pelan tanpa alasan yang jelas.

“Pagi,” balas Raina pendek, suaranya masih agak kaku.

Gus Haris tersenyum tipis.

“Pagi. Hari ini ada kelas fiqih setelah sarapan. Kamu ikut ya? Aku yang mengajar.”

Raina mengangguk enggan.

“Ya udah.”

Lila menyikut lengannya pelan sambil tersenyum nakal. “Gus Haris baik banget ya sama Mbak.”

“ Diam lo,” balas Raina sambil mencubit lengan Lila kecil-kecilan, tapi ada senyum kecil di bibirnya.

Setelah sarapan bubur ayam lagi di dapur umum, Raina dan Lila berangkat ke kelas fiqih. Ruangan kelas sudah mulai penuh. Raina duduk di barisan tengah, kali ini tidak di paling belakang lagi.

Gus Haris masuk dengan langkah tenang. Ia membawa kitab fiqih tebal dan duduk di depan santriwati. Suaranya yang lembut langsung mengisi ruangan saat ia mulai menjelaskan bab tentang bersuci.

Raina mencoba mendengarkan. Kali ini ia tidak melirik ke luar jendela terus-menerus. Suara Gus Haris terdengar tenang dan sabar, setiap penjelasannya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Sesekali ia memberikan contoh sederhana yang membuat beberapa santriwati mengangguk-angguk.

Di tengah penjelasan, Gus Haris menatap ke arah Raina.

“Raina, apa pendapatmu tentang pentingnya bersuci sebelum shalat?”

Raina tersentak. Semua mata kembali tertuju padanya. Kali ini tidak ada bisikan sinis seperti kemarin. Hanya rasa penasaran.

Raina menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu menjawab dengan suara yang lebih pelan daripada biasanya.

“Bersuci itu… membersihkan diri dari kotoran lahir dan batin, kan? Biar shalatnya diterima.”

Gus Haris mengangguk, senyumnya hangat.

“Benar sekali. Tapi bersuci juga tentang membersihkan hati dari dendam, amarah, dan keras kepala. Karena hati yang kotor akan sulit menerima kebaikan.”

Raina merasa kata-kata itu seperti ditujukan langsung kepadanya. Ia menunduk, jari-jarinya memainkan ujung kerudung.

Setelah kelas selesai, santriwati mulai keluar ruangan. Lila menarik Raina ke samping.

“Mbak, tadi jawaban Mbak bagus loh! Gus Haris kelihatan senang.”

Raina hanya mendengus pelan, tapi pipinya sedikit memerah.

Siang harinya, hujan deras turun di Pasuruan. Raina dan Lila terjebak di teras asrama sambil menunggu hujan reda. Mereka duduk berdampingan, memandang air hujan yang turun deras di halaman.

“Mbak Raina,” panggil Lila pelan. “Gue boleh cerita sesuatu nggak?”

“Cerita aja.”

Lila menarik napas dalam-dalam.

“Gue dulu juga dipaksa mondok sama orang tua karena sering bolos sekolah dan pacaran sama cowok yang nggak bener. Gue marah banget waktu itu. Tapi lama-lama… gue nemu kedamaian di sini. Mungkin Mbak juga akan nemu itu.”

Raina diam lama. Ia menatap genangan air di halaman.

“Gue takut, Lila. Gue takut kalau gue berubah, gue nggak jadi diri gue lagi. Gue suka jadi preman kecil yang bebas. Tapi di sini… semuanya terasa terkekang.”

Lila tersenyum lembut.

“Berubah nggak berarti hilang, Mbak. Mbak tetap bisa jadi Raina yang lincah, tapi dengan hati yang lebih tenang.”

Hujan mulai reda ketika Gus Haris muncul dari arah masjid dengan payung besar. Ia mendekat ke teras asrama dan melihat Raina dan Lila.

“Raina, hujan sudah reda. Aku antar kamu ke rumah kyai. Bu Nyai ingin bicara dengan kamu.”

Raina mengangguk. Ia pamit pada Lila lalu berjalan di bawah payung yang dibawa Gus Haris. Mereka berjalan beriringan, payung itu cukup besar untuk menutupi mereka berdua.

Sepanjang jalan, hujan kecil masih turun. Suara tetesan air di daun-daun mengisi keheningan.

“Kerudungnya dipakai terus,” kata Gus Haris pelan, suaranya hampir tertutup suara hujan.

Raina menunduk.

“Gue cuma… nggak mau basah aja.”

Gus Haris tersenyum tipis.

“Aku senang kamu mencoba. Pelan-pelan saja.”

Mereka tiba di rumah kyai. Bu Nyai sudah menunggu di ruang tamu dengan teh hangat dan kue basah.

“Raina, duduk nak,” kata Bu Nyai dengan suara keibuan.

“Bu Nyai dengar kamu mulai ikut kegiatan. Bagus sekali.”

Raina duduk dengan canggung. Gus Haris duduk di sebelahnya, tapi tidak terlalu dekat.

Bu Nyai tersenyum lembut.

“Besok malam adalah malam pernikahan kalian. Kami sudah menyiapkan segalanya. Kamu tidak perlu khawatir. Kami hanya ingin kalian bahagia.”

Raina merasa dadanya sesak lagi. Ia menunduk dalam-dalam.

“Bu… gue masih takut. Gue nggak siap jadi istri. Apalagi istri ustadz.”

Bu Nyai menggenggam tangan Raina pelan.

“Tidak ada yang siap sepenuhnya, Nak. Pernikahan itu perjalanan. Haris anak yang sabar. Dia akan menemanimu langkah demi langkah.”

Gus Haris diam saja, tapi sorot matanya penuh pengertian.

Malam harinya, Raina kembali ke kamar dengan hati yang semakin berat. Ia duduk di kasur sambil memeluk jaket Gus Haris lagi. Bau sabun colek itu sudah mulai familiar.

Ia mengingat suara Gus Haris sepanjang hari ini — saat mengajar, saat berbicara di bawah payung hujan, saat diam mendengarkan Bu Nyai.

“Kenapa suara lo selalu tenang gitu…” bisik Raina pelan.

“Kenapa gue malah mulai suka mendengarnya?”

Raina berbaring, jaket itu masih dipeluknya. Matanya menatap langit-langit kamar.

Besok malam adalah malam pernikahan.

Ia takut.

Tapi di balik ketakutan itu, ada sedikit rasa penasaran yang semakin besar.

Dan ada sedikit kehangatan yang mulai tumbuh di hatinya yang dulu keras kepala.

Di rumah kyai, Gus Haris berdiri di teras sambil menatap arah asrama. Angin malam berhembus pelan.

Ia tersenyum kecil, penuh harap.

“Pelan-pelan, Raina. Aku akan menunggumu.”

Malam itu, hati Raina mulai berubah — bukan karena paksaan, tapi karena kelembutan yang perlahan menyentuhnya.

Dan perjalanan mereka baru saja memasuki babak yang lebih dalam.

1
Ibad Real
Semangat Thorr
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!