Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frekuensi yang Hilang dan Musim Gugur yang Membeku
Musim gugur di London datang dengan angin yang menyapu dedaunan kering di sepanjang jalanan LSE, namun bagi Arkan, cuaca dingin itu terasa lebih hangat dibandingkan keheningan di ponselnya. Sudah tiga minggu sejak ia mendarat di Heathrow tanpa satu pun pesan dari Ziva.
Tidak ada ucapan selamat pagi, tidak ada foto makanan yang biasanya dikirim Ziva dengan omelan tentang betapa mahalnya harga bagel di New York.
Arkan menenggelamkan dirinya dalam angka. Ia mengambil proyek analisis risiko yang paling rumit, menghabiskan waktu di perpustakaan kampus hingga petugas keamanan harus menegurnya setiap malam pukul dua pagi. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya cekung, namun ia tetap berdiri tegak dengan setelan jasnya yang rapi—menjadi sosok "Robot Aturan" yang sepuluh kali lebih dingin dari masa SMA-nya dulu.
New York: Gila Kerja di Tengah Kesepian
Di Brooklyn, Ziva melakukan hal yang sama. Ia berhasil menembus magang di sebuah kantor berita independen di kawasan DUMBO. Ia sengaja mengambil giliran kerja malam, meliput berita-berita kriminal dan sosial yang melelahkan agar saat pulang ke apartemen, ia bisa langsung jatuh tertidur tanpa harus menatap sisi tempat tidur yang kosong.
Sore itu, di meja redaksinya, Ziva menatap layar komputer yang menampilkan draf artikelnya. Namun, jemarinya terhenti saat ia melihat kalung pena perak pemberian Arkan yang ia letakkan di samping keyboard.
"Ziva, lo dipanggil editor di ruang tengah," teriak Sarah, rekan magangnya.
Ziva menghela napas, menyembunyikan kalung itu di dalam tasnya. "Oke, gue dateng."
Saat berjalan, ia berpapasan dengan cermin besar di koridor. Ia melihat pantulan dirinya sendiri: seorang jurnalis muda yang ambisius, yang akhirnya mendapatkan pengakuan atas kemampuannya sendiri tanpa bantuan nama Wijaya. Ia seharusnya senang. Ini yang ia mau, bukan? Kebebasan mutlak. Tapi kenapa rasanya seperti memenangkan peperangan di atas tanah yang tandus?
Jembatan yang Patah
Di Sydney, Revan mulai frustrasi. Ia sudah mencoba mengirim pesan ke grup mereka, mencoba melucu dengan mengirim foto kegagalannya memasak pasta, namun Arkan hanya membacanya tanpa membalas (Read), dan Ziva bahkan tidak membukanya sama sekali.
"Dasar dua batu!" umpat Revan, melempar ponselnya ke bangku cadangan saat latihan basket.
"Ada masalah, Rev?" tanya pelatihnya.
"Nggak, Coach. Cuma dua temen gue lagi lomba siapa yang paling kuat nahan gengsi, dan gue yang kena imbas pusingnya," jawab Revan ketus sambil melakukan slam dunk dengan tenaga yang berlebihan, meluapkan kekesalannya.
Revan menyadari satu hal: bantuan yang ia berikan tempo hari justru menjadi pedang bermata dua. Ia ingin menyelamatkan reputasi mereka, tapi ia justru memicu bom waktu ego yang selama ini tertutup oleh rasa rindu.
London: Tawaran Elena yang Berbeda
Malam itu, di sebuah kafe remang di London, Elena duduk di hadapan Arkan. Kali ini tidak ada sampanye, tidak ada sentuhan menggoda. Elena tampak lebih serius.
"Aku dengar dari Julian, beasiswa Ziva dipulihkan dan dia sekarang magang di tempat bagus," ucap Elena sambil menyeruput tehnya. "Kamu menang, Arkan. Tapi kenapa wajahmu kayak orang yang baru aja kehilangan seluruh aset sahamnya?"
Arkan tidak menyentuh kopinya. "Bukan urusanmu, Elena."
"Arkan, aku memang licik, tapi aku bukan orang bodoh. Kamu menjauh dari istrimu karena kamu merasa dia nggak butuh kamu lagi, kan?" Elena tersenyum miring. "Tapi kamu lupa satu hal. Di New York, orang mandiri itu banyak. Tapi orang yang mau berkorban harga diri demi orang lain... itu cuma kamu. Jangan sampai gengsimu bikin kamu kehilangan satu-satunya alasan kamu tetap jadi manusia, bukan robot finansial."
Arkan terdiam. Kalimat Elena menusuk tepat di ulu hatinya. Namun, ia teringat kata-kata Ziva di Riverside Park: "Lo hampir hancurin harga diri gue." Pikiran itu menutup kembali pintu hatinya. "Terima kasih sarannya, Elena. Tapi aku tahu apa yang aku lakukan."
Malam Sunyi di Dua Benua
Jam menunjukkan pukul tiga pagi di London, berarti pukul sepuluh malam di New York.
Arkan merebahkan tubuhnya di kasur asrama yang sempit. Ia meraih ponselnya, membuka kontak "Istriku". Jarinya gemetar di atas tombol panggil. Ia hanya ingin mendengar napasnya. Hanya ingin tahu apakah Ziva baik-baik saja. Namun, ia kembali mengingat betapa kerasnya Ziva menolaknya di bandara tempo hari. Ia mematikan ponselnya dan melemparnya ke lantai.
Di saat yang sama, Ziva sedang duduk di balkon apartemennya, menatap kerlap-kerlip lampu Manhattan. Ia memegang ponselnya, mengetik pesan singkat: "Ar, lo udah makan?"
Ia menatap pesan itu selama sepuluh menit. Jemarinya ragu untuk menekan tombol kirim. Nggak, Ziv. Lo harus buktiin kalau lo bisa tanpa dia. Kalau lo mulai duluan, dia bakal ngerasa dia selalu bener dengan cara 'pelindung'-nya itu.
Ziva menghapus pesan itu. Ia mengunci ponselnya dan masuk ke dalam.
Lampu di dua kamar di dua benua berbeda itu padam secara bersamaan. Mereka masih saling mencintai, namun ego mereka kini menjadi samudra ketiga yang lebih luas dari Atlantik dan Pasifik, membuat mereka tetap asing dalam ikatan yang paling suci.