[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
:**: seratus ribu...
Matahari pagi itu bersinar cukup terik di SMA Pelita, tapi bagi [y/n], udara terasa sedingin es. Dia berdiri di depan gerbang sekolah, menarik napas panjang, dan menata rambut biru tuanya agar terlihat serapi mungkin. Di saku jaket varsity-nya, uang seratus ribu itu masih terlipat rapi, terasa sangat berat di tangannya.
[y/n] melangkah menyusuri koridor dengan senyum ceria andalannya. "Pagi, Amu! Pagi, Toro!" sapa [y/n] dengan nada riang yang sudah ia latih sejak tadi malam di depan cermin. Tidak ada yang boleh tahu. Tidak ada yang boleh curiga.
Namun, begitu dia sampai di ambang pintu kelas 12-D...
Deg...
Dunia [y/n] seolah berhenti berputar. Ariel sudah berdiri di sana. Bukan duduk di pojokan seperti biasanya, tapi bersandar di bingkai pintu dengan tangan bersedekap.
Matanya yang gelap langsung mengunci pandangan [y/n]. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Hanya tatapan yang seolah-olah bisa menelanjangi semua kebohongan [y/n].
Sebelum [y/n] sempat mengeluarkan satu kata "pagi", tangan besar Ariel tiba-tiba menyambar pergelangan tangan [y/n].
"Eh?! Riel—"
Ariel tidak bicara sepatah kata pun. Dia menarik [y/n] keluar dari kelas, melewati koridor yang mulai ramai oleh murid-murid lain.
Genggaman tangannya kuat, tapi anehnya tidak menyakiti [y/n]. Dia hanya terus berjalan dengan langkah lebar, menyeret [y/n] menaiki anak tangga menuju lantai paling atas.
Sepanjang perjalanan di lorong, jantung [y/n] berdegup tidak karuan. Dia bisa merasakan tatapan bingung dan bisikan dari murid-murid yang mereka lewati. Yupi dan Amu yang baru sampai di depan kelas pun hanya bisa melongo melihat pemandangan itu.
Ariel tetap diam. Rahangnya mengeras, pandangannya lurus ke depan sampai mereka tiba di depan pintu besi menuju atap sekolah.
BRAK!
Ariel mendorong pintu rooftop itu, membawa [y/n] ke area terbuka yang berangin kencang. Dia baru melepaskan tangan [y/n] setelah mereka berada di sudut yang jauh dari pintu, tempat yang tidak akan terjangkau oleh siapa pun.
"Lu..." [y/n] terengah, memegangi pergelangan tangannya yang terasa panas. Dia mencoba menenangkan detak jantungnya yang sudah liar. "Lu apa-apaan sih, Riel? Tarik-tarik gua kayak gitu, orang-orang pada liatin tau nggak!"
Ariel membalikkan badannya. Dia menatap [y/n] dengan tatapan dingin yang menyayat. "Udah puas sandiwaranya?"
Suara Ariel rendah, tapi tiap katanya terasa seperti tamparan bagi [y/n].
"Gua nggak ngerti maksud lu—"
"Berhenti, [y/n]," potong Ariel ketus. Dia melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka sampai [y/n] terdesak ke pagar pembatas rooftop. "Berhenti masang muka 'cerah' lu yang menjijikkan itu di depan gua.Gua liat semuanya tadi malem. Semuanya. Pecahan botolnya, teriakan nyokap lu, dan....... Sua kebahagiaan palsu lo. "
Dunia [y/n] runtuh seketika. Pertahanannya hancur total. Senyum palsu yang tadi ia kenakan kini menghilang, digantikan oleh raut wajah yang pucat pasi dan mata yang mulai berkaca-kaca.Suasana di rooftop mendadak sunyi, hanya suara deru angin yang menerpa rambut biru tua [y/n].
Pertanyaan Ariel tadi seolah menelanjangi semua rahasia yang ia simpan rapat-rapat.
[y/n] terdiam sejenak, bahunya gemetar kecil sebelum akhirnya dia menunduk dalam. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia merogoh saku jaket varsity-nya.
Dia mengeluarkan lembaran uang seratus ribu yang masih terlipat rapi, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Ariel.
".... gua.. gua nggak butuh dikasihani..." ucap [y/n] dengan suara yang awalnya serak, tapi perlahan menguat. "Uang lo gua balikin. Makasih buat gelangnya, tapi buat uang ini... gua nggak bisa terima. Gua masih bisa cari kerja part-time buat makan."
Ariel nggak bergeming. Dia nggak menerima uang itu, malah menatap tangan [y/n] yang menyodorkan uang dengan tatapan dingin.