NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Bab 24

Kota itu tidak mati.

Ia hanya… berhenti bernapas.

Gedung-gedung berdiri seperti kerangka yang lupa cara runtuh. Jalanan retak seperti kulit yang terlalu lama menahan luka. Di beberapa tempat, akar-akar pohon mencuat dari tanah, merobek aspal, menjalar seperti tangan yang mencoba keluar dari kuburan.

Bumi berjalan pelan di antara reruntuhan itu, langkahnya hati-hati. Sepatu hitam yang ia kenakan sesekali tergelincir di batuan lepas. Angin berhembus membawa debu halus yang terasa pahit di lidah.

Di depan mereka, sebuah jembatan runtuh membentuk lorong rendah. Untuk melewatinya, mereka harus merangkak.

“Serius?” gumam Bumi, menatap ruang sempit itu.

“Kalau kamu punya sayap, silakan terbang,” sahut Nuri singkat.

Bumi mendesah, lalu ikut merangkak. Lututnya menyentuh tanah yang dingin dan kasar, tangannya menyapu debu dan serpihan kecil.

Di bawah jembatan itu, gelap terasa lebih padat. Suara napas mereka memantul pelan, menciptakan gema yang membuat ruang sempit itu terasa lebih sempit lagi.

Tiba-tiba, di sisi kanan, sebuah lubang besar terlihat.

Menganga.

Dalam.

Tidak terlihat dasarnya.

Bumi berhenti sejenak, menatap ke dalamnya.

“Kenapa lubang bisa sedalam ini?” tanyanya pelan.

“Bisa jadi meteor. Bisa jadi ini jalan ke inti bumi,” jawab Pam.

“Orang bisa dengan mudah ke inti bumi?” tanya Bumi heran.

Nuri yang berada di belakangnya tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia bertanya, “Kamu tahu energi inti bumi itu ada di mana?”

Bumi menoleh, alisnya berkerut. “Nggak lah. Aku kan belum juga sebulan di sini.”

Nuri mendesah pelan.

“Kamu nggak pernah kepikiran buat nanya… siapa yang pertama nemuin energi inti bumi?”

Bumi memutar matanya, sedikit kesal.

“Oh iya deh,” katanya dengan nada sarkastik. “Yang si paling ingin tahu. Yang paling suka ngulik. Yang paling pintar!”

Tok!

Sebuah pukulan ringan mendarat di kepalanya.

“Sekarang bukan saatnya bercanda,” kata Nuri tegas.

Bumi meringis, mengusap kepalanya.

“Ya terus, kakak kenapa—”

“Sst!”

Pam langsung memotong.

Suaranya rendah, tapi tajam.

Keduanya langsung diam.

Pam berhenti di ujung lorong, matanya menyapu sekitar. Dahi perempuan itu berkerut, keringat mengalir di pelipisnya meski udara terasa dingin.

“Suara kalian bisa manggil banyak hal buruk,” bisiknya.

Bumi menelan ludah. “Tentara?”

Nuri menambahkan, “Hewan?”

Pam menatap mereka berdua.

“Semuanya.”

Kata itu jatuh seperti batu ke dalam dada.

Mereka keluar dari bawah jembatan.

Di depan, lubang besar lain menganga. Diameter hampir empat meter, kedalamannya… tidak terukur. Hanya gelap yang menunggu di bawah sana, seperti sesuatu yang tidak ingin ditemukan.

Pam melangkah lebih dulu, melewati pinggirnya dengan hati-hati.

Bumi mengikuti, mencoba tidak melihat ke bawah.

Nuri di belakang, langkahnya ringan tapi waspada.

“Di tahun tiga ribuan,” kata Pam tiba-tiba, suaranya lebih pelan sekarang, “manusia pertama kali berhasil mencapai inti bumi dengan selamat.”

Bumi menoleh. “Serius?”

Pam mengangguk kecil. “Awalnya cuma eksperimen. Banyak yang gagal. Banyak yang… hilang.”

Mereka berjalan lagi.

Melewati mobil rongsok yang sudah menjadi sarang lumut. Tangga yang patah. Dinding yang setengah roboh.

“Kemudian, dua ratus tahun setelah itu,” lanjut Pam, “seorang profesor dari Inggris… William Mann… menemukan cara mengambil energi dari inti bumi.”

“Kayak… ngebor gitu?” tanya Bumi.

“Lebih rumit,” jawab Pam. “Dan lebih berbahaya.”

Nuri menyela, “Sedikit aja dari inti bumi… bisa menghidupkan jutaan pembangkit listrik.”

Bumi terdiam, mencoba membayangkan, “Jadi yang dimaksud energi inti bumi itu, beneran inti bumi?”

“Kamu kira apa?” tanya Nuri heran.

“Nggak tau. Material baru, dari angkasa?” Bumi mengangkat kedua bahunya, bingung.

“Nggak. Energi inti bumi adalah energi yang emang dari inti bumi,” lanjut Pam, mengangkat tangannya menunjuk sekitar. “Teknologi berkembang cepat. Dunia berubah.”

Bumi menatap reruntuhan di sekelilingnya.

“Dan ini hasilnya?” katanya pelan.

Pam tidak menjawab langsung.

“Manusia terlalu serakah,” katanya akhirnya. “Banyak yang pakai inti bumi secara diam-diam. Untuk perang. Untuk eksperimen. Untuk hal-hal yang… nggak seharusnya. Jadi ada kota yang berhasil, dan ada kota yang hancur penuh radiasi.”

Nuri menambahkan pelan, “Belum lagi alien. Yang mencoba merebut dan mengambilnya.”

Bumi menghela napas panjang.

“Jadi sekarang… bumi kita ini… udah nggak punya inti lagi?”

Pam menggeleng. “Masih ada. Tapi cuma sekitar tiga puluh persen.”

“Cuma?” Bumi membelalakkan mata. “Kalau habis?”

Pam berhenti sebentar, menatap lurus ke depan.

“Kalau kurang dari itu… bumi berhenti berputar.”

Sunyi.

Bahkan angin pun terasa berhenti sejenak.

“Gawat…” gumam Bumi.

“Makanya banyak yang bikin mesin waktu,” kata Pam lagi.

“Atau pesawat luar angkasa,” tambah Nuri.

“Untuk kabur?” tanya Bumi.

“Atau…” Pam meliriknya, “untuk cari inti bumi di tempat lain. Dan menghidupkan kembali bumi kita ini.”

Nuri mencibir kecil. “Kedengarannya bagus. Tapi kenyataannya… nggak sesederhana itu.”

Bumi mengangguk pelan.

“Nggak mungkin kan manusia hidup di planet lain?” tanyanya.

“Bisa,” jawab Nuri. “Tapi bertahan itu beda cerita.”

“Dan nyari inti planet lain…” Pam mengangkat bahu, “itu seperti nyari jarum di seluruh galaksi.”

Mereka masuk ke sebuah rumah tua.

Atapnya sudah berlubang, cahaya masuk dari atas seperti sorotan panggung. Debu beterbangan pelan, menciptakan ilusi seperti bintang kecil di udara.

Pam berhenti di dekat jendela yang sudah pecah.

“Kalian lihat hutan itu?” tanyanya.

Bumi dan Nuri mendekat.

Di kejauhan, hamparan hijau terlihat seperti lautan yang tidak bergerak.

“Iya,” jawab Bumi.

“Dua kilometer dari tepi hutan itu… ada perbatasan,” kata Pam. “Setelah itu, tanah lapang. Luas banget.”

“Dan?” tanya Nuri.

“Dan di ujungnya… kota.”

Bumi menyipitkan mata. “Kota kayak gimana?”

Pam tersenyum tipis.

“Kalian bakal kaget.”

“Jadi kita lewat sana?” tanya Bumi.

Pam menggeleng.

“Kita lewat… itu.”

Ia menunjuk ke arah lain.

Sebuah bendungan besar.

Tua.

Retak.

Seperti raksasa yang kelelahan.

“Kita masuk ke dalamnya,” kata Pam. “Terus cari jalan ke saluran limbah.”

Bumi mengangkat alis. “Sekarang?”

Nuri menoleh ke arahnya. “Kamu capek?”

“Nggak!” jawab Bumi cepat. “Aku cuma nanya.”

Nuri terkekeh kecil. “Kamu tahu nggak, Pam? Bumi di tahun 2026 itu… kerjaannya cuma main game. Mabar. Jarang olahraga.”

Bumi langsung menoleh tajam. “Makasih ya infonya!”

Pam tersenyum kecil.

Bumi mendengus, lalu berjalan lebih dulu.

“Ya udah, aku duluan!”

“Bumi—” panggil Pam.

Tapi Bumi sudah melangkah cepat menuju arah bendungan.

Langkahnya keras.

Kesal.

Sedikit kekanak-kanakan.

Langit tiba-tiba bergetar.

Suara.

Dengungan tajam.

“Bumi!”

Pam langsung berlari.

Sebuah jet melintas di atas mereka.

Cepat.

Terlalu cepat.

Pam menarik Bumi, memaksanya jatuh ke bawah tumpukan mobil rongsok.

Tubuh mereka terperosok ke tanah.

Debu beterbangan.

“Aduh—” Pam meringis.

Bumi langsung menoleh.

Lengan Pam tergores, kulitnya lecet, sedikit berdarah.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bumi cepat.

Pam mengangguk, menahan rasa sakit. “Nggak apa-apa.”

Nuri datang, membungkuk, napasnya sedikit terengah.

“Kamu sih!” katanya ke Bumi. “Sok jalan sendiri!”

Bumi menunduk. “Sori…”

Jet itu melintas lagi di kejauhan.

Lalu… menghilang.

Hening kembali.

Pam menarik napas panjang, lalu berdiri perlahan. Kakinya sedikit goyah.

“Ayo,” katanya. “Kita harus sampai bendungan sebelum malam.”

Bumi dan Nuri mengikuti Pam, tanpa banyak bicara, karena mereka masih saling kesal satu sama lain.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!