"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Hilang Keperjakaan Liam
Teriakan kaget itu juga membuat Liam terkejut. Dia segera menoleh ke samping dan melihat seorang wanita menutup mulutnya sambil menatapnya dengan intens.
Wanita itu memiliki rambut acak-acakan, mengenakan kaos sederhana dan piyama. Dari penampilannya saat ini, jelas terlihat bahwa dia baru saja bangun tidur. Menurut Liam, wajahnya lumayan sementara usianya tampak sekitar tiga puluh tahunan.
Saat ini, Liam baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah sementara sebuah handuk putih melilit bagian bawah tubuhnya.
"S-Siapa kau?" kata wanita itu sambil menatap Liam.
Rona merah muncul di wajahnya saat matanya tanpa sadar melirik perut six pack milik Liam. Tatapannya menjadi nakal saat perlahan bergerak ke bawah, untungnya Liam segera menghentikannya tepat waktu.
"Tenang, tenanglah. Ini aku, Liam, yang menyewa kamar di atas, ingat?" Liam buru-buru menjelaskan saat melihat ekspresinya yang gugup.
Wanita di depannya adalah putri dari pemilik rumah ini. Dialah yang mengumpulkan uang sewa setiap bulan. Dia tinggal di salah satu dari dua kamar di lantai bawah, tetapi baru pindah ke sini beberapa bulan lalu. Liam bahkan tidak tahu namanya.
"L-Liam?"wanita itu berpikir sejenak sebelum mengingat seorang pemuda kurus yang menyewa kamar di atas.
Dia membandingkan bayangan Liam di ingatannya dengan Liam yang ada di depannya sekarang.
Wajah mereka cocok dan dia bisa melihat kemiripannya. Namun, tubuh yang dia ingat terasa seperti perbedaan langit dan bumi.
Sejauh yang dia ingat, pemuda itu selalu kurus dan lemah. Meskipun wajahnya tampan, karena tubuhnya yang kurus, dia tidak terlalu enak dipandang menurutnya.
Namun Liam yang berdiri di depannya sekarang, ‘B-bagaimana dia bisa jadi se… menarik… eh… berotot begini?’
Wajah wanita itu memerah karena pikirannya sendiri yang aneh. Pikirannya tiba-tiba dipenuhi dengan pikiran-pikiran aneh. Lebih tepatnya, dia membayangkan banyak pikiran kotor yang berpusat pada Liam.
"Ah, benar. Bagus juga kau ada di sini. Aku ingin memberitahumu bahwa aku akan segera pindah."
Mendengar itu, wanita tersebut terkejut. Melihat perubahan Liam, dia jadi enggan membiarkannya pergi. Dalam waktu singkat melihatnya seperti itu, hasratnya terhadap lawan jenis tiba-tiba bangkit.
Akan lebih baik jika dia tetap tinggal di rumah ini, dengan begitu dia masih bisa melihat… tubuhnya.
Dia tiba-tiba teringat sesuatu. Selama beberapa bulan Liam tinggal di sini, dia sering terlambat membayar sewa. Bahkan, pada bulan-bulan terakhir saat dia sendiri yang menagih sewa yang terlambat, Liam selalu tampak enggan mengeluarkan uangnya.
"Kenapa kau mau pindah? Apa kau tidak puas dengan kamarmu? Kau bisa pindah ke lantai bawah kalau mau. Kau bisa tukar kamar dengan penyewa di sebelah kamarku, ada AC-nya, bagaimana?" kata wanita itu.
"Hei, bukan itu masalahnya. Aku selalu puas dengan kamarku. Tapi aku sudah menemukan tempat baru. Aku akan pindah ke sana segera," jawab Liam, tidak menyadari maksud tersembunyi wanita itu.
"Tapi kau belum bisa pindah. Kau masih harus membayar sewa bulan ini sebelum pergi." Wanita itu akhirnya mengeluarkan kartu trufnya.
Sebelum Liam sempat menjawab, wanita itu melontarkan tawaran menggoda kepadanya.
"Bagaimana kalau begini? Aku akan menggratiskan sewa bulan ini plus kau bisa pindah ke lantai bawah, ke kamar ber-AC itu. Tapi kau harus membayarku dengan cara lain…" wanita itu tiba-tiba mendekati Liam dengan gerakan yang menggoda.
Tangannya hampir menyentuh dada berotot Liam, tetapi Liam merinding dan segera menghindar ke samping.
Dia tiba-tiba teringat percakapan yang pernah dia dengar dari para penyewa di lantai atas. Katanya, wanita ini sebenarnya sebenarnya adalah penari klub yang memberikan layanan ekstra kepada penonton asalkan ada uang tambahan.
Bahkan salah satu penyewa dilantai atas mengaku pernah berhubungan dengannya.
Saat itu Liam tidak terlalu memikirkannya dan menganggap itu hanyalah omong kosong. Namun melihat tindakan-tindakan menggoda wanita ini sekarang, serta tatapan menggoda yang ia berikan, mungkin saja apa yang dia dengar memang benar?
Liam merinding memikirkan hal itu. Meskipun dia masih perjaka, dia tetap punya harga diri. Dia tidak mau berhubungan seks dan kehilangan keperjakaannya pada seorang wanita bayaran, kan?
Bahkan jika dugaannya tentang wanita itu salah, dia tetap tidak mau melakukan hal itu.
Liam langsung berlari melewatinya dan buru-buru naik tangga.
"Ah, tidak. Aku akan menolak tawaranmu. Terima kasih!"
"Hah? Kau yakin menolak tawaranku? Hei, jangan sok jual mahal. Bagaimana kalau aku menggratiskan dua bulan harga sewa? Tapi kau harus tinggal satu kamar denganku, bagaimana??"
Melihat Liam tidak menghiraukan tawarannya, wanita itu mendengus kesal lalu masuk ke kamar mandi.
Kembali di kamarnya, Liam diam-diam menghela napas lega. Sepertinya dia benar-benar harus segera pindah.
‘Astaga, wanita itu benar-benar sange,’ pikirnya.
Dia melihat jam tangannya dan menyadari bahwa sudah hampir pukul 8 pagi, tinggal 10 menit lagi. Dia juga sudah merasa lapar. Tepat, saat dia hendak menghubungi Sylvie, tiba-tiba dia menerima pesan darinya.
"Aku sudah di sini, kau di mana?"
"Pas sekali, aku baru saja mau keluar!" balas Liam sambil buru-buru mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang baru dibeli.
Dia masih mengenakan kemeja putih dipadukan dengan celana jeans hitam baru. Dia hanya membeli satu pasang sepatu, jadi dia masih memakai yang itu.
Dia membawa surat kepemilikan bersamanya sebelum turun ke bawah dengan hati-hati. Setelah memastikan aman—wanita yang tadi tidak ada di sekitar—Liam langsung bergegas pergi.
Jalanan kini ramai dengan aktivitas, sangat berbeda dengan suasana tadi malam. Pedagang kaki lima ilegal memajang berbagai barang di pinggir jalan sementara para pembeli memenuhi area tersebut. Sepeda motor bahkan mobil pun hampir tidak bisa lewat.
Ini adalah area yang sangat padat penduduk dan Liam melewati tempat ini setiap hari, jadi dia sudah terbiasa dengan pemandangan tersebut.
Dia melihat sekeliling sebelum akhirnya menemukan mobil sedan Sylvie yang terparkir di tengah keramaian jalan.