Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Kedua tangan Mafia mengepal, rahangnya mengeras, wajahnya datar dengan kedua mata yang terlihat begitu menusuk. Mafia seperti tersambar petir mendengar kalimat yang keluar dari mulut tahanannya.
Benar benar tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Mafia keluar dari ruangan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata. Langkahnya tegak dan sangat terarah menuju tempat dimana orang yang terlibat berada, diikuti oleh Kasim.
Sedangkan Haru, dia tetap pada posisinya, berjaga di luar ruangan ini sampai mendapat arahan lagi dari tuannya setelah mengantar Aan kembali pada penjara bawah tanah.
Vair, dia menatap pada pintu yang baru saja Mafia lewati. Dia masih ada pada posisinya dalam keadaan lemas dan benar benar tidak berdaya. Sakit di sekujur tubuhnya, tenggorokannya sangat membutuhkan air segar. Mungkin dengan satu tegukan air, Vair merasa sedikit lebih baik.
"Seseorang...!"
"Uhuk uhuk..."
Vair terbatuk, tenggorokannya terasa sangat kering, hanya untuk sekedar bersuara saja terasa alot. Vair berusaha berjalan walau sempoyongan, hingga dia sampai didepan pintu dan melihat Kasim yang berdiri tegak disana.
"Hai, aku boleh minta sesuatu?" Vair bersuara sekeras mungkin tapi hanya suara seperti bisikan yang terdengar. Tetapi, Kasim tidak buta dan tidak tuli, tentunya Kasim menatap pada wanita itu dan bertanya, "Kamu ngomong apa? Bisa jelas dikit nggak?"
"Aku haus. Aku ingin minum."
"Oh, oke. Aku ambil dulu."
Kasim segera pergi meninggalkan tempatnya berjaga, dia mengambil minum didapur rumah ini. Bukan dia yang mengambil tetapi Kasim meminta pada temannya yang bertugas dibagian itu.
Tidak lama, Kasim kembali. Namun, kedua matanya melebar melihat Vair yang sudah tergeletak dilantai dekat pintu. "Nona! Hei! Kamu kenapa?" Kasim mendekat, berlutut, menaruh segelas air minum di lantai.
"Nona bangun. Jangan coba coba mengelabuhi aku, percuma. Hei, Nona Vair bangun.." Kasim berdecak melihat Vair yang tidak bergerak sedikit pun, dia yakin jika nona di depannya ini jatuh pingsan.
"Ini pasti gara gara kehausan," Kasim berdiri, dia berjalan untuk menemui tuan Mafia, meninggalkan Vair yang masih di posisi yang sama.
Liga yang sedang memakan buah buahan yang di antarkan oleh bibik menoleh karena mendengar suara langkah kaki mendekat. Buah apel yang sejak tadi terasa manis dan enak di lidah mendadak terasa pahit dan juga alot untuk di kunyah saat melihat Mafia yang datang menghampirinya.
"Mafi----"
Dubrakkk
Prankkk
Liga terkejut hingga reflek berdiri melihat piring yang berisi apel pecah menjadi seribu keping, sepuluh butir apel kecil yang harganya mahal itu menggelinding di lantai saat kaki panjang Mafia menendangnya.
"Berani banget kamu bohongi aku Liga...!" suara Mafia menggelegar, memenuhi ruangan berukuran enam kali dua belas centi meter itu. Matanya yang menatap tajam membuat Liga sedikit takut, membuat Liga bertanya tanya sekiranya apa yang terjadi pada Mafia dan membuatnya murka seperti itu.
"Bohong gimana? Ngomong yang jelas kawan..." Walau takut, Liga tetap ingin terlihat santai. Tapi melihat Haru yang muncul di belakang Mafia dengan sunggingan senyum yang seolah mengejeknya, Liga mulai mengerti.
Kurang ajar kamu Haru. Beraninya kamu mengadu sama Mafia. Lihat saja, dia pasti akan selesai di genggaman ku.
Bug
"Ah..!"
Liga mendelik sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Liga tidak menyangka jika Mafia akan memukulnya di bagian perutnya. Sungguh, Liga benar benar di buat kaget. "Mafia, ini kamu sadar sama apa yang kamu lakukan ke aku? Kamu melukai sahabat kamu sendiri?"
Melihat tatapan Liga yang seolah tidak menyangka dengan apa yang di lakukan padanya, Mafia membuang muka dengan kedua tangan terkepal. Ingin rasanya memukul bahkan menghabisi nyawa Liga saat ini juga jika tidak mengingat dia adalah sahabatnya sejak kecil bahkan mendiang orang tua Liga menitipkannya padanya.
"Har---"
"Tuan...!"
Ucapan Mafia terpotong saat tiba tiba Kasim datang dengan wajah panik, napasnya juga memburu, terlihat jika dia berlari dan terburu buru ke sini.
Kedua mata Mafia memicing, menungu apa yang akan Kasim katakan padanya. Berdecak saat hampir lima menit Kasim tidak kunjung bicara juga. "Kasim... ada apa, hah? Sampai sampai napas kamu ngos ngosan seperti itu? Jangan membuat aku penasaran..."
"Itu tuan. Nona Vair pingsan. Pingsan di dekat pintu. Sepertinya kehau---"
Ucapan Kasim terhenti karena Mafia sudah lebih dulu pergi tanpa mau mendengarkan kalimatnya sampai selesai. Bukan hanya Mafia, tapi Haru dan Liga juga meninggalkannya. Kasim menghela lelah, tapi tidak apa apa, yang penting dia sudah melapor.
Di belakang Mafia yang berjalan cepat menuju Vair yang pingsan, Liga memendam sejuta amarah. Ingin rasanya dia memukul Haru yang ada di belakangnya sekarang juga hingga tewas. Tapi, dia tidak berdaya, Liga merasa bersalah karena memang dirinya yang memulai dulu.
Mafia mengangkat Vair, dia membawanya ke atas tempat tidur, merebahkannya dengan hati hati seolah takut jika wanita itu akan semakin kesakitan.
"Haru, panggil medis, cepat..!"
"Baik tuan..."
Haru pergi sesuai perintah, menyisakan Liga, Kasim, dan juga Mafia yang menemani Vair. "Kasim tolong ambilkan air putih, sekarang..!"
Kasim mengangguk. "Siap tuan..." Kasim bergegas mengambil air putih sesuai perintah tuannya.
"Mafia, ak----"
"Tutup mulut mu dan jangan banyak bicara! Setelah Vair bangun nanti, kamu harus jujur di depan ku, di depan Vair, dan di depan salah satu saksi..."
"Saksi?" Liga bingung. "Saksi apa yang kamu maksud Mafia?" perasaan Liga mulai tidak tenang, tentu saja pikirannya tertuju pada kejadian di dalam sel tadi itu. Memang, di sana banyak yang melihat kejadian aslinya, tapi, Liga berusaha meyakinkan diri sendiri jika para tahanan yang di jadikan saksi itu tidak akan beani mengatakan yang sebenarnya. Liga yakin sekali.
"Kamu pasti akan tahu nanti. Jadi, sekarang simpan saja kata kata mu itu." Mafia duduk di samping Vair, memegang bahunya dengan lembut. Kasim masuk dengan segelas air putih dan beberapa obat-obatan.
"Tuan, air putih dan obat-obatan untuk Nona Vair," seru Kasim.
Mafia mengambil gelas air putih dan mencipratkan ke wajah Vair. "Vair, ayo bangun. Jangan pura pura kamu." bisiknya.
"Sss...." Vair mulai bergerak saat terasa ada yang basah di wajahnya, membuka matanya perlahan, terkejut saat Mafia berada tidak jauh darinya, bahkan, wajahnya hanya berjarak lima centi saja.
"Apa yang kamu lakukan Mafia? Jangan macam macam kamu..." tangan kanannya mendorong dada Mafia agar menjauh.
Mafia membantu Vair duduk dan memberinya air putih. "Minum dulu, banyak omongnya nanti saja. Aku tahu, kamu pasti pingsan gara gara kehausan..." tepat sasaran, kata kata Mafia menembus jantung hati Vair membuat Vair menunduk malu.