Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Serena langsung meraih pergelangan tangan Aleta. "Jangan sendirian. Aku ikut."
Aleta menatap tangan itu sejenak, lalu mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan bersembunyi di dalamnya.
"Tidak perlu," ucapnya pelan. "Aku hanya akan melihat, bukan melakukan apa-apa seperti yang kau pikirkan."
Serena menggeleng keras. "Justru itu yang aku takutkan. Kau bilang tidak akan melakukan apa-apa, tapi wajahmu tidak terlihat seperti itu."
Aleta tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. "Aku janji, aku akan baik-baik saja."
Serena terdiam. Janji itu terdengar ringan, tapi entah kenapa dia tidak merasa tenang. Dia mengenal Aleta dengan baik, gadis itu cenderung sering berbohong ketika terluka dan selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Baiklah. Aku ke kantin dulu," ujar Serena akhirnya, meski langkahnya terasa berat untuk membiarkan sahabatnya pergi seorang diri. "Jangan lama-lama."
Aleta mengangguk.
Begitu Serena pergi, ekspresi di wajah Aleta berubah. Senyum tipis itu menghilang, digantikan oleh ketenangan dingin yang berbeda dari sebelumnya.
Dia berbalik, melangkah menuju belakang gedung sekolah.
***
Area itu jauh lebih sepi dibandingkan koridor utama. Dinding belakang gedung dipenuhi lumut tipis, dan beberapa jendela tampak tertutup rapat. Hanya suara angin dan gesekan daun yang terdengar.
Langkah Aleta melambat. Dia tidak langsung mendekat. Sebaliknya, dia berhenti di balik sudut tembok, memejamkan mata sejenak sangat sulit baginya berada di situasi saat ini. Jika dulu dia tinggal mengeluarkan pistol dan membidik lawannya, kini dia harus bermain rapi agar namanya tetap bersih selama sekolah.
"Sialan! Hidup memang selalu tidak adil." Racaunya jengkel.
Pendengarannya mulai di asah, napasnya ditahan dan dia mendengar ada dua suara. Satu perempuan. Satu laki-laki. Aleta membuka matanya perlahan. Dia melangkah lebih dekat, nyaris tanpa suara.
"…aku sudah melakukan yang kau minta," suara Clara terdengar, sedikit bergetar.
"Aku tidak peduli prosesnya," balas suara pria itu rendah dan datar. "Aku hanya ingin hasil yang maksimal, kau lihat sendiri gadis itu belum menyerah."
Aleta menyipitkan mata. Nada itu… dingin, terlatih, tanpa emosi. Jelas dia bukan orang biasa, lantas apa hubungannya dengan Aleta sebelum dirinya merasuki raga itu?
"Dia mulai curiga," lanjut Clara. "Aleta itu… aneh. Dia tidak seperti sebelumnya."
"Memang seharusnya begitu," ujar pria itu. "Kalau dia tetap sama, justru itu masalah. Aku tidak butuh banyak alasan darimu, secepatnya buat gadis itu menemuiku."
Aleta membeku. Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dadanya bergetar samar.
Apa maksudnya?
"Terus awasi dia," lanjut pria itu. "Dan jangan bertindak bodoh tanpa perintahku lagi, jika kau masih sayang pada nyawamu."
Clara terdiam.
"Lalu… soal yang kemarin…" suara Clara melemah. "Aku sudah melukainya, tapi dia seperti tidak merasakan apa-apa."
Aleta tersenyum tipis di balik bayangan. Tentu saja. Rasa sakit seperti itu bahkan tidak sebanding dengan apa yang pernah dia alami di kehidupannya yang dulu.
"Itu karena kau lemah," jawab pria itu tanpa ragu. "Tugasmu hanya satu, tekan dia sampai mentalnya terguncang setelah itu kau bebas. Aku yang akan mengambil alih."
Detik itu juga, atmosfer di sekitar Aleta berubah. Matanya yang semula tenang kini dipenuhi kilatan tajam, rasa penasaran tak bisa lagi dia bendung. Langkahnya maju perlahan, tapi kerikil kecil terinjak olehnya dan menimbulkan suara.
"Sial." bisik Aleta.
Clara langsung menoleh saat mendengar ada suara. "Siapa di sana?!"
Hening. Beberapa detik berlalu sebelum Aleta akhirnya keluar dari balik bayangan. Dia berjalan santai, seolah tidak ada yang terjadi.
"Oh… jadi di sini kau bersembunyi."
Sudah kepalang tanggung, Aleta malas mengulur waktu hingga dia memilih menampakan dirinya saat ini juga.
Wajah Clara langsung pucat. "A-Aleta?!"
Sementara itu, pria di sampingnya tidak terlihat terkejut sama sekali. Justru… dia tersenyum. Tatapan mereka bertemu dan dalam satu detik itu, Aleta tahu. Pria ini… bukan orang sembarangan.
"Aku pikir kau hanya murid biasa," ujar pria itu pelan. "Ternyata instingmu cukup tajam."
Aleta berhenti beberapa langkah dari mereka.
"Aku juga berpikir hal yang sama," balasnya dingin. "Tapi ternyata… ada tikus yang bermain di balik dinding sekolah."
Clara mengepalkan tangannya. "Kau..."
"Diam," potong pria itu singkat.
Clara langsung terdiam.
Aleta memperhatikan itu. Menarik. Berarti posisi pria ini jauh di atas Clara.
"Namamu Aleta, kan?" tanya pria itu.
Aleta tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus, tanpa rasa takut.
Pria itu terkekeh pelan. "Sikapmu tidak seperti anak sekolah, kemana perginya Aletaku yang dulu."
"Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu," balas Aleta. "Pria sepertimu berkeliaran di belakang sekolah… itu cukup mencurigakan. Kau bukan bagian dari sekolah ini, kan?"
Pria itu memiringkan kepala sedikit, seolah menikmati situasi ini. "Lalu menurutmu, aku ini siapa?"
Aleta tidak langsung menjawab. Dia menatap pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Postur tegap. Gerakan minim. Tatapan dingin. Aura membunuh yang ditahan dengan sempurna.
Senyumnya perlahan muncul.
"Kau terbiasa membunuh tanpa menyentuh," ucapnya tenang.
Clara terkejut. "Apa?!"
Namun pria itu… Justru tersenyum lebih lebar.
"Dan kau…" lanjut Aleta, matanya menyipit, "bukan orang baru di dunia itu. Kenapa kau mengincarku?"
Hening.
Angin berhembus pelan, membawa suasana yang semakin menegang.
"Menarik," gumam pria itu. "Sangat menarik."
Dia melangkah mendekat satu langkah. Clara langsung mundur refleks. Sementara Aleta tetap berdiri di tempatnya. Tidak bergerak sedikit pun.
"Kalau begitu…" suara pria itu merendah, "bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"
Aleta mengangkat alis tipis. "Kesepakatan?"
"Ya," ujarnya. "Kau berhenti mencari tahu tentang kami… dan aku akan memastikan hidup sekolahmu tetap… nyaman."
Aleta terdiam sejenak. Lalu dia tertawa kecil. Suara yang pelan, tapi cukup untuk membuat Clara merinding.
"Nyaman?" ulangnya.
Aleta mengangkat wajahnya, menatap pria itu dengan sorot mata yang berubah sepenuhnya.
"Aku tidak pernah hidup nyaman," katanya pelan. "Dan aku juga tidak tertarik untuk memulainya sekarang."
Senyum pria itu perlahan memudar. Untuk pertama kalinya, tatapannya berubah serius.
"Aku tidak suka diancam," lanjut Aleta.
"Lalu?" tanya pria itu.
Aleta melangkah mendekat. Sampai jarak mereka hanya beberapa meter.
"Temui aku di jalan Netra nanti malam," Aleta menyunggingkan senyum tipis. "Akan aku beri tahu di sana."
Sementara pria itu menatap Aleta dalam diam. Beberapa detik berlalu. Lalu dia tertawa seolah ucapan Aleta adalah lelucon.
"Baiklah," ujarnya. "Aku suka orang keras kepala." Dia mundur satu langkah.
"Tapi ingat ini, Aleta," lanjutnya. "Semakin dalam kau menggali… semakin sulit kau keluar."
Aleta mengangguk santai. "Aku tahu, tapi kau lupa bahwa kau sedang berhadapan dengan anak SMA yang sudah kebal dengan segala macam omong kosong seperti itu."
"Wow, nyalimu besar juga."
"Tentu, sampai ketemu nanti malam." Kata Aleta lalu pergi meninggalkan kedua orang itu. Tanpa mereka sadari, Aleta menarik sudut bibirnya sedikit saat membalikkan tubuhnya. "Malam ini, akan menjadi malam yang cukup melelahkan untuknya."
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒