"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH SEMBILAN
Meski pun perempuan itu masih istrinya sendiri.
Oleh karena itu Kanaya bermaksud untuk
membiarkan Andra tidur lebih dulu di ranjang agar ia bisa tidur di soffa tanpa khawatir diganggu atau dibopong diam-diam saat dirinya sudah tertidur lelap.
Hanya dengan membayangkannya saja pun Kanaya sudah merinding, bulu rambutnya berdiri ngeri.
"Oh,.. Iya ya. Maaf ya, aku lupa kalau kamu nggak bisa tidur sama sekali kalau ada berisik." Ujar Andra tulus.
Sejak dulu istrinya itu memang harus tidur dalam keadaan yang damai dan tenang, hening bahkan sunyi.
"Euhm,... Kalau kamu ke sana dan nemenin Ibu, kayanya Ibu nggak akan nangis lagi deh. Jadi, gimana kalau kaya yang aku bilang sebelumnya, kamu tidur di sana sama Ibu dan temenin-"
Belum sempat Kanaya berucap, tapi Andra sudah memotong dengan cukup tajam.
"Nggak. Aku tidur di sini." Jawaban Andra tegas, pria itu seakan mengisyaratkan bahwa dirinya tak mau menerima bantahan apapun.
"Ya terus? Masa kamu mau tidur tenang di sini sedangkan Nisrin harus nenangin Ibu sendirian? Kasian lho istri kamu itu, gimana kalau dia nantinya malah bergadang? Kalian kan lagi berusaha buat punya anak, perempuan nggak boleh kekurangan tidur selama masa percobaan hamil." Ucap Kanaya yang justru membuat Andra ingin marah.
Masalahnya, ia tau Kanaya bukan hanya sekedar memberinya saran cuma-cuma karena perasaan peduli.
Tapi wanita itu lagi-lagi sedang mengusirnya.
"Kalau gitu kenapa kamu juga nggak ikut nenangin Ibu? Kita bisa nenangin Ibu sama-sama kalau kamu pengen banget aku ke sana."
Kanaya tanpa sadar mendengus, bibirnya mencebik seolah sedang mengejek.
"Ey, mana boleh. Ibu kamu kan nggak suka sama aku, dia murka banget kalau liat muka aku ada di deket dia. Kalau aku ikut ke sana, yang ada Ibu malah makin histeris dan tantrum. Gimana kalau dia malah nyalah-nyalahin aku atas masalah ini kaya yang dia lakuin sebelumnya? Ibu kan emang sukanya nyalahin aku apapun masalahnya. Apalagi dia lagi histeris kaya begini, gimana kalau mukaku dia timpuk vas bunga?" Kanaya berucap dan bertanya terus terang.
Meski pun nada bicara wanita itu terdengar tenang dan bahkan ceria, tapi Andra bisa mendengar dengan sangat jelas rasa sakit hati dari suara istrinya itu.
"Nah, jadi karena alasan itu, yang sekarang harus ada di sekeliling dia ya orang-orang yang memang dia suka.
Kamu sama Nisrin, kalian berdua." Tegas Kanaya.
Andra menetap istrinya lama, memperhatikan setiap jengkal wajah Kanaya dengan seksama seolah sedang menerka-nerka isi pikiran wanita itu yang akhir-akhir ini begitu tidak tertebak.
"Aku tidur di sini,..." Jawab Andra singkat.
Pria itu kemudian berlalu begitu saja meninggalkan
Kanaya dan bergegas memakai baju.
Kanaya menatap pria itu dengan mata memicing penuh selidik, menunggu dengan harap-harap cemas apakah pria itu benar-benar akan mengabaikan ibunya begitu saja hanya demi bisa tidur satu ranjang bersama dirinya.
"Telinga kamu masih bisa dengar kan, Mas? Suara Ibu nangis masih kedengeran kenceng lho, emang kamu bisa tidur tenang di sini?"
"Ada Nisrin, Ibu nggak akan kenapa-kenapa." Jawab Andra enteng.
Pria itu naik ke atas ranjang dan merebahkan kepalanya di atas bantal yang sudah sangat ia rindukan, entah kapan terakhir kali kepalanya berlabuh di atas bantal tersebut.
Kedua mata Andra terpejam tenang, seolah-olah suara tangis Samira hanya lah alunan merdu pengantar tidur.
"Mas,.... Mas Andra?"
Suara Nisrin yang memanggil-manggilnya dari balik pintu memaksa Andra untuk kembali membuka mata.
Dia bangun dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal, sedangkan Kanaya justru terlihat senang.
Bibirnya mengulum senyum dan hatinya bersorak, di dalam hatinya Kanaya terus berdo'a agar Andra pergi dari kamarnya dan kembali ke kamar Nisrin bersama ibu mertuanya.
"Nanti Mas ke sini lagi ya, Sayang." Ucap Andra setelah bicara beberapa saat dengan Nisrin, ia menatap ke arah Kanaya yang masih duduk di atas soffa.
"Mas nggak akan lama,..." Sambung Andra kemudian pergi sambil menutup pintu.
"Nggak balik lagi juga nggak apa-apa. Bodo amat."
Ucapnya sambil meloncat dari soffa, bergegas ke arah pintu dan memutar kuncinya.
"Waktunya boboooo,...."