Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH (di dalam duka)
ibu sudah membantu merapikan sanggulan rambutku yang tadi sempat acak-acakan. Sementara Satya kini sudah memakai kemeja berwarna biru muda, hanya kemeja itu yang ada, sepertinya bekas kemarin ia pakai kerja.
Tidak lama bapak penghulu datang untuk menikahkan aku dan kak Satya. Sebenarnya tadi sebelum penghulu datang telah terjadi perdebatan, kedua orangtua dari Raisya menolak pernikahan aku dan Satya. Namun, setelah Raisya memohon akhirnya emosi mereka mereda.
Kini aku telah duduk di kuri di samping Satya, aku melihat ketegangan di wajah ayah maupun ibu. Untuk pertama dan terakhir kalinya ayah akan menikahkan putrinya hari ini tanpa disangka sangka.
"saya terima nikah dan kawinnya Sandra Anindita binti Nazrudin dengan maskawin uang sebesar satu juta rupiah dibayar tunai" dengan satu kali tarikan nafas, akad berjalan lancar. Tidak terasa air mataku menetes kala ucapan sah terdengar.
Aku melirik Raisya yang terbaring sambil tersenyum menatapku, ingin saja aku berlari memeluknya.
Acara akad dadakan dan paksaan berjalan cukup lancar, dengan kak Satya memberiku mahar sebanyak satu juta, karena hanya itulah uang yang tersisa di dompetnya.
"sa, aku minta maaf sekali" setelah ruangan cukup hening, tinggal menyisakan aku, Satya, drina dan Raisya. Setelah akad selesai ayah dan ibu pamit pulang, begitupun dengan kedua orangtua Satya dan Raisya, karena saat ini kondisi Raisya sudah stabil jadi mereka bisa pulang tempat perasaan was was.
Aku memegang tangan wanita itu, tangannya sangat dingin dan pucat.
"justru aku yang harus minta maaf ndra, aku yang memaksamu untuk menikah dengan mas Satya"
"apapun sa, akan aku lakukan asal kmu sembuh sa, percayalah kamu pasti sembuh"
"aku hanya bisa berdoa ndra, usaha dan upaya sudah aku usahakan bersama mas Satya. Namun hasilnya?, kanker ku sudah tidak bisa di obati lagi ndra"
"kamu kaya gitu si ngomongnya sa, mana Raisya yang selalu optimis" aku menghambur memeluk sahabatku itu, taku. aku takut sekali kehilangan.
***
Setelah salat magrib berjamaah aku Raisya dan sandrina, dengan kak Satya sebagai imam.
"mama ndra, aku mau tempe krispinya dong boleh dikit ya" ucap gadis kecil itu, meminta izin untuk memakan tempe goreng krispi.
"boleh, asal dikit ya. Jangan banyak-banyak nanti tenggorokannya sakit" aku memberinya sepotong tempe krispi, dan kembali menyuapinya.
Kami sedang makan malam, aku yang bertugas menyuapi sandrina yang lagi susah makan jadi harus disuapin, sementara kak Satya sedang menyuapi Raisya.
"ayolah sa satu suap lagi"
"udah mas, aku udah kenyang. Ngantuk mau tidur"
"baru juga dua suap masa udah kenyang"
"hehe, kamu gabung aja sana sama Sandra, aku mau tidur ngantuk banget"
Aku memperhatikan pasangan romantis itu sambil duduk di sofa, dengan sandrina yang sedang menonton televisi serial kartun pavoritnya.
Setelah Satya kalah argumen, akhirnya dia membiarkan Raisya untuk tertidur, Satya beranjak dari duduknya dan mengecup kening Raisya dengan lembut. Aku bisa melihat, berapa sayangnya Satya pada Raisya.
kini ruangan hening, ditambah canggung—sangat. Di sampingku dengan jarak sekitar 1,5 meter kak Satya duduk sambil memainkan ponselnya. Aku ingin mengobrol namun suaraku rasanya tercekat di tenggorokan. seperti biasa sandrina tertidur dengan pahaku sebagai bantalan.
"ndra, gamau ganti baju?" Kak Satya membuyarkan lamunanku.
"aku belum sempat bawa baju kak"
"mau aku beliin?"
"Hem, gak usah kak. Aku udah minta ibu buat kirimin baju, mungkin sebentar lagi sampe"
Aku melihat kak Satya, wajah pria itu datar seolah tidak terjadi apa-apa dengan tadi siang. Sementara aku panik bukan main, apalagi sekarang hanya aku dan kak Satya yang masih melek. canggung? Jelas sangat canggung.
"kak kalau mau istirahat, istirahat aja Raisya biar aku yang jagain" ucapku sambil membenarkan posisi sandrina yang sudah tertidur pulas. dari setelah akad tadi sandrina sangat nempel sekali padaku.
"engga kamu aja yang istirahat ndra, tuh disana sama drina" kak Satya menunjukan bed kosong yaang dikhususkan.
"yaudah kak, aku pindahin drina dulu"
setelah aku menidurkan drina, ada seseorang yang mengetuk pintu di luar sana. Yang ternyata kurir yang mengantarkan pakaianku, kak Satya yang menerima bungkusan pakaianku.
"nih, sepertinya pakaian dari ibu"
"oh iya kak, simpan aja disana" Kak Satya menyimpannya di bed samping sandrina.
Aku membuka bungkusan paper bag itu, ibu mengirimkan beberapa pakaian dan alat mandi. Jadi aku bisa mandi dan ganti pakaian malam ini.
Setalah lima belas menit dikamar mandi, aku merasa lebih fresh. Kini aku telah berganti baju dengan piyama satin berwarna navy. Kini giliran kak Satya yang ke toilet, tadi katanya perutnya melilit sakit. Aku sudah menyarankannya untuk membalur dengan minyak angin.
Aku melihat Raisya yang tertidur dengan pulas, wajahnya begitu teduh cahaya dari istri yang shalehah. Aku melihat layar monitor, kenapa detak jantung dan saturasi oksigen Raisya makin menurun. Tanpa perlu nunggu lama aku menghubungi dokter.
"kak Satya, detak jantung raisya kenapa makin menurun" aku berbicara cukup panik.
"Satya yang baru keluar dari kamar mandi mengerutkan keningnya"
"sudah panggil dokter?"
"sudah kak"
"sa, bangun sa. Ini mas" ucap ka Satya di pinggir telinga Raisya.
aku berdiri lemas di pinggir bed Raisya, air mataku sudah berderai, bibirku tidak henti-hentinya terus berdzikir sebisaku, panjatan do'a pun tidak putus.
"mas, ndra aku titip drina ya, semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warohmah, aku pamit. Mas Satya tolong tuntun aku".
dokter dan beberapa asistennya datang, segala upaya untuk menstabilkan saturasi oksigen pun telah dokter lakukan. Namun nihil saturasi dan detak jantung raisya tetap menurun. Kini nafas Raisya mulai tersenggal.
Saatnya kak Satya melafalkan dua kalimat syahadat, Raisa dengan lirih mengikuti apa yang Satya ucapkan. Begitu selesai nafasnya pun berakhir. Kak Satya dengan tenang mengecup kening istrinya itu, yang tersenyum damai. air mata sudah mengalir di pipinya, laki laki kuat itu kini menangis. Ia memeluk tubuh istrinya untuk terakhir kalinya.