Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Aliran Hangat Energi Spiritual
Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya terbit di atas pegunungan, Cang Xuan sudah kembali meninggalkan Desa Awan Timur dan memasuki hutan yang selama ini menjadi tempatnya berlatih. Sejak mengambil keputusan untuk menjadi lebih kuat, ia tidak pernah membiarkan dirinya bermalas-malasan. Setiap hari yang berlalu diisi dengan latihan yang sama, dilakukan berulang kali tanpa mengurangi sedikit pun kesungguhannya.
Pagi itu pun tidak berbeda.
Ia memulai harinya dengan mengayunkan pedang berulang kali di depan batang-batang pohon yang telah menjadi sasaran latihannya. Setiap tebasan dilakukan dengan penuh konsentrasi, seolah ia sedang menghadapi musuh sungguhan. Setelah itu, ia kembali berlari mengelilingi area hutan hingga tubuhnya dipenuhi keringat. Ketika latihan kecepatan selesai, ia melanjutkannya dengan latihan keseimbangan dan kekuatan fisik seperti yang selalu dilakukannya selama beberapa hari terakhir.
Latihan yang dilakukan secara terus-menerus mulai menunjukkan hasilnya.
Pergerakannya perlahan menjadi lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Langkah kakinya terasa lebih ringan dan stabil, sementara ayunan pedangnya semakin bersih dan tajam. Bahkan ketahanan fisiknya juga meningkat cukup pesat. Jika sebelumnya ia sering kelelahan setelah menyelesaikan satu rangkaian latihan, kini tubuhnya mampu bertahan jauh lebih lama sebelum menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang berarti.
Ketika matahari mulai bergerak tinggi dan cahaya siang menyelimuti seluruh hutan, Cang Xuan akhirnya menghentikan latihan fisiknya untuk sementara waktu.
Namun hari itu, ia tidak berniat menghabiskan seluruh waktunya hanya dengan melatih tubuh.
Ada hal lain yang ingin ia coba.
Sesuatu yang berhubungan dengan Kitab Pedang Langit Terbang yang diwariskan oleh ayahnya.
Dengan membawa kitab tersebut, ia berjalan menuju sebuah pohon besar yang berdiri tidak jauh dari tempat latihannya. Pohon itu memiliki batang yang sangat kokoh dan naungan yang cukup luas untuk menghalangi teriknya sinar matahari siang.
Cang Xuan duduk bersila di bawah pohon tersebut.
Kitab Pedang Langit Terbang ia letakkan di sampingnya, sementara kedua matanya perlahan terpejam. Suasana di sekitar terasa tenang. Angin berembus lembut melewati dedaunan di atas kepalanya, menciptakan suara gemerisik yang menenangkan.
Awalnya tidak ada sesuatu yang istimewa terjadi.
Namun beberapa saat kemudian, sebuah kejadian aneh membuat Cang Xuan kembali membuka matanya.
Kitab yang berada di sampingnya tiba-tiba bergerak sendiri.
Halaman-halamannya terbuka perlahan tanpa ada yang menyentuhnya.
Cang Xuan langsung terkejut dan menoleh ke arahnya.
Angin yang berembus tidak cukup kuat untuk menyebabkan hal seperti itu. Namun sebelum sempat memikirkan penyebabnya, pandangannya tertuju pada sebuah kalimat yang tertulis di salah satu halaman yang terbuka.
"Seorang pendekar pedang sejati harus lebih dulu merasakan keberadaan energi dunia."
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat alis Cang Xuan sedikit berkerut.
Ia segera mengambil kitab tersebut lalu membacanya kembali.
Setelah selesai, ia mengulanginya sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Semakin dibaca, semakin ia merasa bahwa kalimat itu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan.
"Seorang pendekar pedang sejati harus lebih dulu merasakan keberadaan energi dunia..."
Gumamnya pelan sambil merenungkan arti kata-kata tersebut.
Pada akhirnya, ia kembali meletakkan kitab itu di sampingnya lalu memejamkan mata.
Jika kitab itu mengatakan bahwa seorang pendekar pedang harus merasakan energi dunia, maka ia akan mencoba melakukannya.
Dengan napas yang perlahan menjadi tenang, Cang Xuan mulai memusatkan seluruh perhatiannya pada lingkungan di sekitarnya. Ia berusaha mengabaikan suara angin, suara dedaunan, bahkan suara napasnya sendiri. Yang ingin ia rasakan adalah sesuatu yang disebut energi dunia.
Sayangnya, tidak peduli seberapa keras ia mencoba, hasilnya tetap sama.
Tidak ada perubahan.
Tidak ada cahaya misterius.
Tidak ada energi yang mengalir ke tubuhnya.
Tidak ada sensasi khusus apa pun.
Yang ia rasakan hanyalah angin yang berembus, tanah di bawah tubuhnya, dan suara hutan yang tenang di sekelilingnya.
Waktu terus berlalu.
Matahari perlahan bergerak dari tengah langit menuju ufuk barat.
Namun hingga sore tiba, usahanya masih belum membuahkan hasil sedikit pun.
Ketika akhirnya membuka mata, Cang Xuan hanya bisa mengembuskan napas pelan.
Meskipun sedikit kecewa, ia tidak merasa putus asa.
Bagaimanapun juga, jika sesuatu yang disebut energi dunia dapat dipahami hanya dalam satu hari, maka hal itu tidak akan dianggap istimewa.
Ia kembali menatap kalimat yang tertulis di dalam Kitab Pedang Langit Terbang sebelum menutupnya perlahan.
Hari pertama mencoba bermeditasi telah berakhir tanpa hasil apa pun.
Hari kedua berlalu dengan hasil yang sama seperti hari pertama. Cang Xuan duduk berjam-jam di bawah pohon besar sambil mencoba merasakan keberadaan energi dunia yang disebutkan dalam Kitab Pedang Langit Terbang, tetapi tidak ada perubahan sedikit pun. Hari ketiga juga tidak berbeda. Yang ia rasakan hanyalah angin yang berembus di antara pepohonan, suara dedaunan yang bergesekan, dan ketenangan hutan yang mengelilinginya.
Meskipun demikian, kegagalan yang berulang kali dialami tidak membuatnya menyerah.
Setelah kehilangan ibunya, satu hal yang paling berkembang dalam dirinya bukanlah bakat atau kekuatan, melainkan keteguhan hati. Jika selama bertahun-tahun ia mampu bertahan menghadapi kemiskinan, kelaparan, dan berbagai kesulitan hidup, maka menunggu beberapa hari demi memahami sebuah kitab bukanlah sesuatu yang akan membuatnya mundur.
Sejak saat itu, kehidupannya berjalan dalam rutinitas yang hampir tidak pernah berubah. Setiap pagi ia melatih tubuhnya hingga keringat membasahi seluruh pakaiannya. Pedang tua di tangannya terus berayun dari hari ke hari, sementara langkah kakinya semakin cepat setelah berulang kali berlari mengelilingi hutan. Ketika matahari mencapai puncaknya, ia akan menghentikan latihan fisik dan mulai bermeditasi di bawah pohon besar sambil mencoba merasakan energi spiritual yang dijelaskan dalam kitab. Setelah sore tiba, ia kembali berburu untuk mendapatkan makanan dan uang, lalu ketika malam turun, ia akan pulang ke Desa Awan Timur dan beristirahat sebelum mengulangi semuanya keesokan harinya.
Hari demi hari berlalu tanpa terasa.
Minggu demi minggu juga berlalu.
Musim di hutan perlahan berubah, sementara tubuh Cang Xuan semakin kuat dari sebelumnya. Gerakannya menjadi lebih lincah, ayunan pedangnya lebih tajam, dan ketahanan fisiknya meningkat jauh dibandingkan saat pertama kali memulai latihan. Namun meskipun perkembangan fisiknya sangat jelas, usahanya dalam merasakan energi spiritual tetap tidak menunjukkan hasil.
Sampai akhirnya, tanpa disadari, dua bulan telah berlalu sejak hari pertama ia membuka Kitab Pedang Langit Terbang.
Pada suatu siang yang tenang, Cang Xuan kembali duduk bersila di bawah pohon yang sama seperti biasanya. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan dan membentuk bercak-bercak cahaya di atas tanah. Angin berembus lembut melewati hutan, membuat ranting dan daun bergoyang perlahan, sementara suara burung terdengar samar dari kejauhan.
Semua tampak sama seperti hari-hari sebelumnya.
Namun kali ini, sesuatu akhirnya berubah.
Saat kesadarannya tenggelam dalam keheningan meditasi, ia tiba-tiba merasakan keberadaan sesuatu yang sangat asing.
Sensasi itu begitu lemah hingga hampir tidak dapat disadari.
Seolah ada titik-titik kecil yang melayang bebas di udara di sekelilingnya.
Awalnya Cang Xuan mengira itu hanya khayalannya. Namun ketika ia mencoba memusatkan perhatian lebih dalam, keberadaan titik-titik tersebut justru menjadi semakin jelas.
Mereka tampak seperti cahaya yang sangat redup.
Kecil.
Lembut.
Dan hampir tidak terlihat.
Titik-titik cahaya itu perlahan bergerak mendekatinya, seolah tertarik oleh sesuatu yang berada di dalam tubuhnya. Kemudian, satu demi satu, cahaya tersebut memasuki tubuhnya tanpa hambatan sedikit pun.
Pada saat yang sama, sebuah aliran hangat mulai muncul dari dalam dirinya.
Mata Cang Xuan langsung terbuka.
Jantungnya berdegup begitu cepat hingga hampir terdengar jelas.
"Itu tadi..."
Tangannya sedikit gemetar karena kegembiraan.
Ia dapat merasakan sesuatu yang selama dua bulan terakhir terus ia cari.
Sebuah energi hangat yang mengalir perlahan di dalam tubuhnya.
Energi itu berbeda dari tenaga fisik yang biasa digunakan untuk berlari atau mengayunkan pedang. Energi tersebut terasa jauh lebih murni dan misterius, seolah berasal dari dunia yang sama sekali berbeda.
Beberapa saat kemudian, sebuah pemahaman muncul di benaknya.
"Energi spiritual!"
Wajahnya langsung dipenuhi kegembiraan yang sulit disembunyikan.
Setelah dua bulan penuh latihan tanpa hasil, setelah berulang kali meragukan dirinya sendiri namun tetap memaksa untuk terus mencoba, akhirnya ia berhasil merasakan keberadaan energi spiritual untuk pertama kalinya.
"Akhirnya!"
Suaranya menggema di tengah hutan yang tenang.
"Akhirnya aku berhasil merasakan energi spiritual!"
Untuk pertama kalinya sejak kematian ibunya, senyum yang benar-benar tulus muncul di wajahnya. Bahkan tanpa sadar ia tertawa kecil karena terlalu bahagia.
Selama dua bulan terakhir, hidupnya dipenuhi latihan, kesendirian, dan kerja keras tanpa henti. Kini semua usaha itu akhirnya membuahkan hasil.
Pandangannya segera beralih kepada Kitab Pedang Langit Terbang yang berada di sampingnya.
"Mulai besok aku bisa mempelajari teknik di dalam kitab ini."
Dengan penuh semangat, ia segera membuka kitab tersebut.
Kali ini perasaannya sangat berbeda dibandingkan sebelumnya.
Jika dahulu isi kitab itu terlihat seperti kumpulan teknik yang jauh dari jangkauannya, sekarang semuanya terasa lebih nyata. Setelah berhasil merasakan energi spiritual, ia akhirnya memiliki dasar untuk mempelajari apa yang diwariskan oleh ayahnya.
Semakin banyak halaman yang dibuka, semakin besar keterkejutan yang muncul di dalam hatinya.
Di dalam kitab tersebut terdapat berbagai teknik yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ada Teknik Pedang Terbang yang memungkinkan pedang menyerang musuh dari kejauhan.
Ada Bayangan Pedang yang mampu menciptakan ilusi tebasan untuk membingungkan lawan.
Ada pula Pengendalian Pedang Jarak Jauh yang memungkinkan seorang pendekar mengendalikan pedangnya tanpa perlu menyentuhnya secara langsung.
Selain itu, masih banyak teknik lain yang tertulis di dalam kitab tersebut, masing-masing tampak jauh melampaui apa pun yang pernah dilihatnya selama hidup di Desa Awan Timur.
Malam itu, setelah kembali ke rumah, Cang Xuan tidak langsung beristirahat seperti biasanya.
Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, ia terus membaca setiap halaman Kitab Pedang Langit Terbang dengan penuh konsentrasi. Semakin banyak yang ia pelajari, semakin ia menyadari bahwa dunia yang selama ini dikenalnya hanyalah sebagian kecil dari dunia yang sebenarnya.
Keesokan paginya, Cang Xuan kembali menuju tempat latihannya di dalam hutan. Setelah berhasil merasakan energi spiritual untuk pertama kalinya sehari sebelumnya, semangatnya berada pada tingkat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama dua bulan penuh ia telah berusaha tanpa hasil, tetapi kini jalan yang selama ini tertutup akhirnya mulai terbuka di hadapannya.
Sesampainya di area latihan, ia meletakkan tas yang dibawanya di atas sebuah batu besar yang berada tidak jauh dari pohon tempatnya biasa bermeditasi. Setelah itu, ia mengeluarkan pedang tua miliknya dan berjalan menuju area terbuka yang cukup luas.
Pedang tersebut kemudian ditancapkannya ke tanah hingga berdiri tegak.
Sebelum memulai, Cang Xuan kembali mengingat isi Kitab Pedang Langit Terbang yang telah dibacanya hingga larut malam. Menurut penjelasan di dalam kitab, langkah pertama yang harus dikuasai oleh seorang pengguna teknik pedang adalah mengendalikan pedangnya menggunakan energi spiritual. Hanya setelah menguasai dasar itu seseorang dapat mempelajari teknik-teknik yang lebih tinggi.
Cang Xuan berdiri beberapa langkah dari pedangnya.
Ia menarik napas panjang lalu perlahan menenangkan pikirannya. Kesadarannya mulai terfokus sepenuhnya pada energi spiritual yang baru saja berhasil ia rasakan sehari sebelumnya. Meskipun jumlah energi itu masih sangat sedikit, ia tetap berusaha mengendalikannya sesuai petunjuk yang tertulis di dalam kitab.
Tatapannya tidak pernah lepas dari pedang yang tertancap di hadapannya.
Dalam benaknya, ia membayangkan pedang tersebut terangkat dari tanah.
Awalnya tidak ada perubahan apa pun.
Pedang itu tetap berdiri diam seperti benda mati biasa.
Namun Cang Xuan tidak terburu-buru. Ia terus memusatkan pikirannya sambil membimbing energi spiritual yang berada di dalam tubuhnya menuju pedang tersebut.
Beberapa saat kemudian, sebuah suara samar akhirnya terdengar.
Buzz...
Pedang itu bergetar.
Getarannya sangat kecil, tetapi bagi Cang Xuan, perubahan sekecil apa pun sudah cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Matanya langsung membesar.
Ia hampir mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun getaran itu terus berlanjut.
Perlahan-lahan, sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil mulai terjadi.
Pedang tersebut mulai terangkat dari tanah.
Awalnya hanya sedikit.
Kemudian semakin tinggi.
Satu jari.
Dua jari.
Tiga jari.
Hingga akhirnya seluruh bilah pedang benar-benar melayang di udara tanpa ditopang oleh apa pun.
Menyaksikan pemandangan itu dengan mata kepalanya sendiri, Cang Xuan hampir tidak dapat menahan kegembiraan yang memenuhi hatinya.
"Aku berhasil!"
Seruan itu langsung keluar dari mulutnya.
Wajahnya dipenuhi kegembiraan dan keterkejutan.
Meskipun pedang tersebut hanya melayang beberapa saat dan tidak bergerak ke mana-mana, hal itu tetap merupakan bukti bahwa dirinya benar-benar telah berhasil menggunakan energi spiritual.
Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
Baru beberapa saat setelah pedang melayang, wajah Cang Xuan mendadak berubah pucat.
Ia dapat merasakan energi spiritual di dalam tubuhnya menghilang dengan sangat cepat.
Belum sempat melakukan apa pun—
Clang!
Pedang itu jatuh kembali ke tanah dengan suara nyaring.
Pada saat yang sama, seluruh energi spiritual yang berhasil dikumpulkannya terkuras habis.
Tubuhnya langsung terasa lemas.
Kedua kakinya sedikit goyah, sementara napasnya menjadi berat seperti seseorang yang baru saja berlari dalam jarak yang sangat jauh.
Meski demikian, tidak ada sedikit pun kekecewaan di wajahnya.
Sebaliknya, senyum yang muncul justru semakin lebar.
"Sepertinya aku masih harus memperkuat energi spiritualku."
Ia memandang pedang yang tergeletak di tanah sambil mengatur napas.
"Tapi setidaknya aku sudah berhasil melangkah maju."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Cang Xuan, pencapaian hari ini memiliki arti yang sangat besar. Selama ini, Dunia Atas, ayahnya, dan berbagai rahasia yang tersembunyi di balik Kitab Pedang Langit Terbang terasa begitu jauh dari jangkauannya. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat sebuah jalan yang dapat membawanya menuju tujuan tersebut.
Perlahan, ia mengangkat kepala dan menatap langit biru yang membentang luas di atas hutan.
Awan putih bergerak perlahan mengikuti arah angin, sementara sinar matahari pagi menyinari seluruh dunia dengan cahaya yang hangat.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam sambil menatap langit yang seolah tidak memiliki batas.
Kemudian tangannya perlahan mengepal.
Semakin lama, genggamannya menjadi semakin erat.
Tatapan yang sebelumnya tenang kini dipenuhi tekad yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Ayah..."
Suara pelan itu menghilang bersama hembusan angin.
"Tunggu aku."
Di dalam hatinya, bayangan pria yang bahkan belum pernah dilihatnya mulai terbentuk sedikit demi sedikit.
"Aku akan datang ke Dunia Atas."
Tekad itu tidak lagi sekadar angan-angan.
Ia telah berubah menjadi tujuan yang ingin dicapai dengan seluruh hidupnya.
"Aku berjanji, aku akan menemuimu."
Angin berembus melewati hutan, menggoyangkan dedaunan dan rerumputan di sekitarnya. Di bawah langit biru yang luas, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun berdiri dengan tatapan yang mengarah jauh ke cakrawala, seolah sumpah yang baru saja diucapkannya tengah dibawa oleh angin menuju tempat yang sangat jauh, menuju dunia yang suatu hari nanti akan menjadi tujuan perjalanannya.
End Chapter 6