Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Surat dari Masa Lalu
Setelah berkeliling pabrik teh dan melihat proses panen sejak subuh, Luna dan Alex akhirnya kembali ke vila menjelang siang.
Matahari sudah bersinar cerah.
Kabut yang tadi pagi menutupi perbukitan perlahan menghilang.
Hamparan kebun teh terlihat hijau membentang sejauh mata memandang.
Begitu sampai di vila, Luna langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tengah.
"Aku capek."
keluhnya.
Alex yang sedang membuka jaket tertawa kecil.
"Katanya mau tinggal di sini."
"Mau."
jawab Luna cepat.
"Tapi jangan bangun jam empat pagi."
Mendengar itu Alex hanya menggeleng geli.
---
Tak lama kemudian salah satu pengurus perkebunan datang membawa beberapa dokumen.
"Pak Alex."
"Iya, Pak Rahmat."
"Ada laporan panen yang perlu ditandatangani."
Alex menerima map tersebut.
Lalu berbincang beberapa menit mengenai hasil panen tahun ini.
Sementara Luna memilih berjalan-jalan di sekitar vila.
---
Di bagian belakang rumah terdapat sebuah taman kecil yang menghadap langsung ke kebun teh.
Angin sejuk berembus lembut.
Membuat Luna merasa tenang.
Saat sedang menikmati pemandangan, matanya tertuju pada sebuah bangunan kecil di samping vila.
Mirip gudang penyimpanan lama.
Pintunya terbuat dari kayu tua.
Dan terlihat jarang dibuka.
Penasaran, Luna mendekat.
---
"Ngapain?"
Suara Alex membuatnya menoleh.
"Ada ruangan di sana."
kata Luna sambil menunjuk.
Alex mengikuti arah pandangannya.
"Oh."
"Itu gudang lama."
"Kamu pernah masuk?"
Alex berpikir sejenak.
"Kayaknya terakhir waktu SMA."
Luna langsung tertarik.
"Yuk lihat."
Alex mengangkat alis.
"Kamu penasaran banget ya."
"Iya."
---
Akhirnya mereka berjalan menuju gudang tersebut.
Pintu kayunya sedikit berderit saat dibuka.
Aroma kayu tua langsung menyambut mereka.
Di dalam terdapat berbagai barang lama.
Meja.
Kursi.
Kotak arsip.
Dan beberapa peralatan kebun yang sudah tidak digunakan.
---
Luna melihat-lihat dengan antusias.
Sedangkan Alex berdiri santai sambil memperhatikan istrinya.
"Kamu kayak anak kecil."
kata Alex.
Luna menjulurkan lidah.
"Diam."
---
Di salah satu sudut ruangan terdapat lemari kayu tua yang tertutup debu.
Luna membuka pintunya perlahan.
Dan menemukan beberapa album foto.
Matanya langsung berbinar.
"Alex."
"Hm?"
"Ada foto."
---
Mereka duduk di lantai sambil membuka album tersebut.
Foto-foto lama memenuhi setiap halaman.
Sebagian besar adalah foto perkebunan.
Para pekerja.
Dan keluarga Dimitri bertahun-tahun yang lalu.
---
Luna tersenyum saat melihat foto Alex kecil.
Anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun dengan wajah cemberut.
"Lucu."
katanya.
Alex langsung mengernyit.
"Nggak lucu."
"Lucu."
"Nggak."
"Lucu."
Perdebatan itu berakhir ketika Luna tertawa keras.
---
Di halaman berikutnya terdapat foto ibunda Alex.
Wanita cantik dengan senyum hangat yang sama seperti dalam foto-foto di vila.
Di beberapa foto, ia terlihat sedang memetik teh bersama para pekerja.
Di foto lain, ia duduk memeluk Alex kecil.
---
"Kamu mirip Mama."
kata Luna pelan.
Alex menatap foto itu cukup lama.
"Mungkin."
---
Saat hendak menutup album, sebuah amplop tua jatuh dari sela-sela halaman.
Mereka sama-sama terkejut.
"Apa itu?"
tanya Luna.
Alex mengambil amplop tersebut.
Warnanya sudah sedikit menguning karena usia.
Di bagian depan tertulis tulisan tangan yang rapi.
Untuk Alex.
---
Alex membeku.
Karena ia langsung mengenali tulisan itu.
Tulisan ibunya.
---
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Luna tidak berkata apa-apa.
Ia hanya memperhatikan ekspresi suaminya.
---
Dengan hati-hati Alex membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar surat.
Tulisan tangan yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.
---
Alex mulai membaca.
Awalnya perlahan.
Kemudian semakin lama semakin diam.
Sangat diam.
---
Luna tidak berani mengganggu.
Namun ia melihat perubahan pada mata Alex.
Tatapan yang biasanya tenang kini terlihat bergetar.
---
"Alex?"
panggil Luna pelan.
Pria itu tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia menyerahkan surat tersebut.
---
Luna membacanya.
Isi surat itu sederhana.
Bukan surat panjang.
Hanya beberapa paragraf yang ditulis sang ibu.
Tentang harapannya untuk masa depan Alex.
Tentang bagaimana ia ingin putranya tumbuh menjadi laki-laki yang baik.
Dan satu kalimat yang membuat Luna ikut terdiam.
> "Kalau suatu hari Mama sudah tidak ada, carilah seseorang yang membuatmu tersenyum tanpa perlu berpura-pura kuat."
---
Luna menelan ludah.
Kalimat itu terasa begitu menyentuh.
---
Alex menatap keluar jendela gudang.
Ke arah hamparan kebun teh.
Tempat yang paling dicintai ibunya.
---
"Mama selalu bilang aku terlalu serius."
katanya pelan.
Luna tersenyum kecil.
"Itu benar sih."
Alex meliriknya.
Lalu untuk pertama kalinya sejak menemukan surat itu, ia tertawa.
Benar-benar tertawa.
---
"Mungkin Mama juga bakal suka sama kamu."
ucapnya.
Luna terdiam.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
---
"Kenapa?"
tanya Luna.
"Karena kamu cerewet."
Alex menjawab datar.
Luna langsung memukul lengannya.
"Alex!"
Pria itu tertawa lebih keras.
---
Meski begitu, Luna tahu.
Di balik candaan tersebut, ada ketulusan yang tidak diucapkan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alex merasa seolah kembali menerima pesan terakhir dari ibunya.
Bukan tentang bisnis.
Bukan tentang warisan.
Melainkan tentang kebahagiaan.
---
Sore itu mereka keluar dari gudang tua sambil membawa album foto dan surat tersebut.
Langit mulai berubah jingga.
Matahari perlahan turun di balik perbukitan teh.
Dan di dalam hati Alex, ada perasaan hangat yang sudah lama tidak ia rasakan.
Perasaan bahwa mungkin...
Ibunya akan bahagia melihat kehidupannya sekarang.
Melihat dirinya yang tidak lagi sendirian.
Karena kini ada Luna yang berjalan di sampingnya.
Menemani setiap langkah yang akan mereka tempuh bersama.