NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keseruan di Kampung

Perjalanan hampir enam jam dari bandara akhirnya berakhir ketika kendaraan yang ditumpangi Asido memasuki jalan Kampung yang begitu dikenalnya sejak kecil.

Sawah terbentang di kanan kiri jalan. Beberapa anak kecil berlarian di pinggir jalan sambil tertawa. Udara kampung yang sejuk langsung menyambutnya begitu ia turun dari mobil.

"Masih sama......" ucap Asido sambil memandanginya.

Asido turun tepat di depan rumahnya.

"Amang???" panggil ibunya keluar tergesa-gesa dari teras.

"Omak....." jawab Asido sambil tersenyum.

Ibunya langsung memeluknya erat.

"Kok kurus kali kau, Mang....."

Asido tertawa, "setiap pulang pasti bilang begitu."

"Karna memang begitu, Mang." ucap ibunya sambil memegang lengan Asido.

Tak lama kemudian, ayahnya keluar dari dalam rumah.

"Horas, Amang..."

"Horas, Bapa...."

Keduanya berjabat tangan erat sebelum ayahnya menepuk bahu Asido bangga.

"Sehat, Mang??"

"Sehat pasti, Pa......" jawab Asido tegas meyakinkan.

"Masuk dulu. Omak mu itu, sudah masak dari pagi," bisik ayahnya jengkel.

"Kalian bisik-bisik apa sih?" tanya ibunya curiga.

"Gak ada, Mak..... Biasa Bapak kan memang iseng..." balas Asido sambil tertawa.

Suara tertawa itu terdengar sampai ke dalam rumah.

"Bah..... sudah pulang kau, dek?" Abang Asido muncul dari dalam.

"Abang....." Asido memeluk abangnya. "Apa kabar, Bang?" lanjutnya.

Abangnya, Saut menepuk punggung adeknya. "Sehat bea...... kalo kau, sehat juga kan?" tanyanya balik.

"Seperti yang abang lihat ini..... Sehat," jawabnya yakin.

Mereka masuk bersama, meja makan sudah penuh dengan makanan kesukaan Asido.

Arsik ikan mas.

Daun Ubi tumbuk.

Sambal andaliman.

Naniura.

Asido sampai tertawa bercampur haru melihat banyaknya hidangan itu.

"Mau kasih makan satu kampung?"

"Ini untukmu..... Spesial dimasak omak mu itu...."

Asido tersenyum, "mauliate omak ku...." ucapnya sambil meraih tangan ibunya.

Sepanjang makan, pertanyaan keluarga tak pernah berhenti.

"Bagaimana klinik?"

"Ramai pasien?"

"Ada rencana buka cabang lagi, Mang?"

Pertanyaan itu berganti ganti ditanyakan orangtua Asido.

"Kalo aku harus jawab itu semua sekarang, kapan aku makan lagi?" tanya Asido sedikit manja.

"Iya, Mak, Pak..... Annon mai...." ucap Saut, abangnya.

Ayah dan ibunya saling memandang

"Maaf, Mang..... Ya udah makan lah dulu."

Sore harinya, kabar kepulangan Asido sudah menyebar ke seluruh kampung. Saat berjalan ke warung kopi dekat lapangan desa, beberapa suara langsung memanggilnya.

"WOI DOKTER!!"

Asido menoleh. Sekelompok pria seusianya melambaikan tangan dari depan warung.

"Masih hidup rupanya kalian."

"Kurang ajar." balas mereka hampir serentak.

Mereka langsung tertawa.

Roni, Joni, dan beberapa teman SMA yang sudah lama tidak berkumpul berdiri menyambutnya.

"Duduk sini,"

"Traktir dulu."

"Dokter kaya wajib traktir."

Asido menarik kursinya, "ini mau duduk sudah dipalak."

"Karna kau paling sukses." balas Joni.

Mereka kembali tertawa.

Warung kopi sore itu dipenuhi cerita lama. Tentang guru yang galak waktu SMA. Tentang pertandingan sepak bola antar kelas. Tentang teman -teman yang kini sudah berkeluarga. Bahkan beberapa teman menunjukkan foto anak mereka.

"Ini anakku yang kedua."

"Ini anakku masuk SD tahun depan."

Asido mengangguk sambil tersenyum.

"Cepat juga waktu berlalu ya."

"Makanya," Kata "Rian sambil menyeruput kopi. " Tinggal kau yang belum bawa anak ke sini."

"Jangankan anak, bawa calon aja dulu" balas salah satu temannya yang lain.

"Aih..... Boasa gabe au pembahasan?"

"Je ise be? Cuman kau aja yang belum....." balas Joni.

Semua langsung tertawa.

Akhirnya percakapan yang sedikit menyindir, banyak lelucon, yang selalu berusaha mengaitkan pada Asido berakhir juga.

Malam sudah tiba. Setelah semua kesibukan hari itu selesai, Asido duduk sendirian di teras rumah.

Lampu-lampu rumah tetangga terlihat dari kejauhan. Suara jangkrik memenuhi udara malam kampung.

Sudah lama, Asido tak merasakan ketenangan seperti ini. Tidak ada antrean pasien. Tidak ada rapat operasional. Tidak ada telepon pekerjaan yang terus berdatangan.

Hanya sudara malam dan udara sejuk kampung halaman.

Asido menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu.

Di dalam rumah, suara tawa orang tuanya masih terdengar samar. Senyum tipis muncul di wajahnya. Sesibuk apapun hidup di kota, pulang kampung selalu membuatnya merasa menjadi dirinya sendiri yang dulu lagi.

Malam semakin larut. Asido masih duduk di teras rumah sambil memandangi jalan Kampung yang sepi.

Tanpa sadar, ingatannya kembali ke hari Minggu lalu. Ke depan gereja. Ke seorang perempuan dengan ekspresi wajahnya saat menerima sepatunya.

Asido tersenyum kecil.

Perempuan itu benar-benar terlihat tidak enak hati waktu itu.

"Lucu sih....." gumam Asido masih tersenyum.

Asido menatap ke atas, di luar itu bintang-bintang terlihat begitu indah.

"Masih saja kuingat ya..... Bahkan keindahan bintang ini tak mampu mengusir ekspresinya dari ingatanku...."

Asido tertawa kecil pada dirinya sendiri.

"Sido?"

Ibunya keluar sambil membawa jaket dan segelas teh manis hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

"Dari tadi di luar terus," katanya sambil menyampirkan jaket itu ke bahu putranya.

"Belum dingin, Mak...."

"Ini di kampung, nanti masuk angin baru tau,"

Asido tersenyum kecil lalu menerima gelas teh yang disodorkan.

"Terimakasih, Mak."

Ibunya duduk di kursi sebelah. Beberapa saat mereka sama-sama menikmati suasana malam yang tenang.

"Capek kerja?" tanya ibunya akhirnya.

"Biasa aja, Ma...."

"Biasa itu artinya lumayan juga kan? Makanya, Mang.... Sekali-kali pulang."

"Makanya pulang sekarang." balas Asido.

Ibunya tersenyum puas mendengar jawaban itu.

Asido kembali menatap langit, memandang bintang dan tersenyum. Sementara ibunya memperhatikan wajah putranya beberapa saat.

"Kenapa?"

Asido menoleh pada ibunya, "kenapa apa, Mak?" tanyanya heran.

"Kau dari tadi senyum-senyum sendiri."

Asido hampir tersedak teh yang baru diminumnya.

"Mana ada." elak Asido.

"Ada" balas ibunya.

"Tidak ada, Mak......"

Ibunya terkekeh pelan, Jangan bohong sama Omak. Dari tadi kulihat kok."

Asido menggeleng sambil menatap jalan di depan rumahnya. Tapi sikap itu justru membuat ibunya semakin curiga.

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Ada perempuan?"

Asido menutup mata sejenak.

"Mak....."

Ibunya meraih tangan Asido, "berarti memang ada seseorang yang kau pikirkan?"

Asido tertawa kecil sambil mengusap wajahnya.

"Bukan begitu."

"Tapi emang ada kan, Mang?" lanjut tanya ibunya lebih lembut.

Asido terdiam sesaat.

"Mang??" panggil ibunya membuat Asido tersadar.

"Asli, Omak ini penyidik kali."

Ibunya tertawa puas.

Tawa ibunya terdengar cukup keras hingga memecah kesunyian malam. Dan rupanya terdengar sampai ke dalam rumah.

"Ada apa, sampai kedengaran ke dalam?"

Ayah Asido keluar dengan wajah bingung.

Ia melangkah ke teras sambil membawa kacamata bacanya.

"Tidak ada...." jawab Ibunya cepat.

Ayahnya memandang mereka bergantian.

"Jadi apa yang lucu?"

Ibunya langsung tersenyum lebar, tanpa bicara.

"Omakmu itu mahua i?" tanya ayahnya pada Asido.

Asido mengangkat bahunya sedikit sambil tersenyum, dan pura-pura tidak tau."

"Kalian aneh ya..... Apalagi omak mu ini kalo sudah sama anak siappudannya ini, ada aja tingkahnya...." ucapnya iseng.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!