Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan dengan Raditya
*Bab 6
Nayla keluar dari ruangan Pak Hendra dengan map di tangannya.
Dia sekarang duduk di bangku kayu dekat pagar rumah sakit, menunggu jemputannya. Tas besar dan koper tergeletak di sampingnya.
Nayla menatap sekeliling. Pohon-pohon rimbun berjejer di sepanjang pagar. Orang-orang berlalu lalang di depannya—ada yang tergesa, ada yang santai.
"Dua bulan.," gumamnya. Napasnya terasa lebih ringan.
Nayla melipat kertas itu kembali, memasukkannya ke dalam map, lalu ke dalam tas. Ia menyandarkan punggungnya ke bangku. Dadanya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Lalu suara itu terdengar.
...Gruumm... Gruumm...
Beberapa meter di depannya, sebuah mobil berwarna hijau tua melambat. Bannya berderak pelan di aspal, lalu berhenti tepat di depannya.
Besar dan kokoh.
Nayla menegakkan punggungnya.
Satu kaki turun menyentuh aspal.
Sepatu hitam mengkilat, disusul celana hijau loreng dengan lipatan yang rapi.
Nayla segera berdiri dari bangku.
Raditya.
Di dadanya tercetak rapi: _Raditya AD_.
Di bahunya, tiga bunga melati emas.
Nayla sedikit mengernyit.
"Letnan..." gumamnya pelan.
Rahang tegas, mata tajam, alis tebal yang membuat tatapannya terasa lebih tajam. Hidung mancung. Dan bibir sedikit kemerahan—satu-satunya hal di wajah itu yang terlihat lembut.
Raditya melangkah santai menuju dirinya. Tubuhnya besar dan kekar.
Raditya berhenti di depannya.
"Dokter Nayla," singkatnya.
"Ah, iya Pak. Saya Nayla. Saya yang ditugaskan Pak Hendra untuk pergi ke Karang Wilis," jawab Nayla cepat.
"Jam 07.50 kita berangkat Sekarang," balas Raditya singkat. Ia memutar tubuhnya lalu melangkahkan kaki.
"Hah?" Nayla terdiam beberapa saat.
"Gak ada kenalan dulu gitu?" gumamnya sambil mengangkat tas-tasnya.
Nayla berjalan ke arah mobil.
"Tolongin dong, Pak. Ini berat," katanya setengah ngos-ngosan.
Raditya mengernyitkan dahi melihat Nayla yang kesusahan membawa tas-tas yang menurutnya kecil itu. Wajah Nayla sudah merah, kakinya sesekali terseok menyeretnya.
Raditya melangkah mendekat. Tanpa basa-basi, tangan kanannya mengambil tas Nayla dan meletakkannya di bahunya, sementara tangan kirinya menyeret koper Nayla.
"Ayo, jangan buang waktu," ucap Raditya dingin.
Dia melangkah mendahului Nayla menuju mobilnya. Nayla mengikuti di belakangnya.
Raditya membuka bagasi, memasukkan tas dan koper Nayla, lalu berbalik menuju pintu depan mobil.
_Kreek._ Suara pintu dibuka.
Raditya yang hendak masuk menoleh ke belakang. Dia melihat Nayla masih berdiri diam.
"Masuk," ucap Raditya singkat.
"Ah, iya Pak," sahut Nayla gugup.
Raditya masuk dari sisi pengemudi. Duduk. Sabuk terpasang dalam satu gerakan. Tangan kiri meraih setir, tangan kanan memutar kunci kontak.
_Gruumm._
Mesin menyala. Kendaraan bergerak.
Tidak ada musik. Tidak ada obrolan pembuka. Hanya sunyi yang rasanya seperti peraturan tertulis.
Nayla melirik ke kanan.
Raditya menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras. Tangannya di setir, rapi dan presisi, seperti sedang ujian mengemudi.
Nayla melirik ke depan.
Lalu ke kanan lagi.
Raditya masih sama.
Ia membuang pandangan ke jendela. Mencoba menikmati pemandangan: gedung, pohon, motor, pohon lagi, kambing di pinggir jalan.
Kambing.
Tiga puluh detik berlalu.
"Bapak asli mana?"
Raditya tidak menjawab.
"Pak?"
"Tidak perlu banyak bicara."
Nayla mengernyit. Ia menatap profil Raditya sebentar, lalu berbalik ke jendela dengan ekspresi orang yang baru saja diusir dari warung padahal baru duduk.
Diam lagi.
Satu menit.
Dua menit.
"Bapak suka makan apa?"
"—"
"Bapak punya kucing?"
"—"
"Bapak kalau tidur dengkur nggak?"
Raditya menoleh.
Satu tatapan. Datar. Dingin. Cukup untuk membuat orang lain langsung meminta maaf dan berdoa.
Nayla tersenyum canggung. "Hehe... _just curious_, Pak."
Raditya kembali menatap jalan.
Nayla merosot pelan di joknya. Tidak kentara, tapi cukup untuk mengekspresikan betapa frustasi nya dia rasanya pengen menghilang sebentar.
"saya gak ngorok"
"hah ap, apa pak saya, saya, gak kedengeran"
Raditya tida menanggapi
Ya Allah _Dua bulan,_ batinnya. _Dua bulan sama orang ini._
Ia menatap langit-langit kendaraan