"Apa lo takut?"
"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."
Kalimat itu membuat Agnesa membeku.
Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.
Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.
Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.
Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:
Tatapan Agnesa.
Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.
Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—
Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis batas
Matahari Minggu siang menggantung tepat di atas kepala, mengubah atap seng markas ZENTRIX menjadi pemanggang raksasa.
Suara deru mesin mobil pick-up milik ayah Venzo perlahan memudar, menyisakan keheningan yang gerah di gang depan ruko.
Ceklek.
Naren memutar kunci pintu ruko, mendorong daun pintu besi yang terasa panas menyengat telapak tangan.
Di belakangnya, Abyan dan Arion berdiri dengan kaos yang sudah basah oleh keringat, masing-masing memegang ujung kardus mi instan yang berat.
"Gila, ini matahari kayaknya ada dua di atas kita," keluh Abyan sambil melangkah masuk ke dalam ruko.
Gubrak.
Ia meletakkan kardus itu di atas lantai semen tanpa perasaan. "Ren, lo yakin ini semua harus dipindah sekarang? Gue berasa kayak kuli panggul pasar induk."
"Pindahin ke pojok dekat dispenser. Jangan ditumpuk terlalu tinggi, nanti penyok," sahut Naren datar.
Ia sendiri memanggul satu karung beras dua puluh lima kilo di bahu kanannya.
"Efisien tempat, Yan. Kata Agnesa kan gitu," Arion menimpali sambil menyeka dahi dengan punggung tangan yang kotor.
Sret.
Jejak debu menempel di keningnya.
"Ternyata dua puluh dus mi instan itu makan tempat banget ya kalau ditaruh di ruko sesempit ini."
Naren menurunkan karung beras ke lantai.
Bugh.
Debu halus terbang ke udara, menari-nari di bawah berkas cahaya yang masuk dari ventilasi.
Ia berdiri tegak, memijat bahunya sebentar. Kaos abu-abunya kini memiliki bercak putih dari sisa karung beras.
Naren berdiri di tengah ruangan, membelakangi pintu. Abyan duduk di sofa bedah, kaki terbuka lebar. Venzo baru saja masuk, membawa dua kantong plastik besar berisi minyak goreng kemasan dua liter.
Venzo meletakkan kantong itu di atas meja kayu yang penuh noda lingkaran bekas gelas, tepat di samping tumpukan revisi Agnesa yang sudah agak lecek.
"Minum, minum. Gue butuh asupan H2O sebelum pingsan," Abyan merangkak menuju dispenser.
Gluk, gluk, gluk.
Ia meminum air langsung dari galon kecil yang ia isi tadi pagi.
"Pake gelas, Nyet," tegur Arion sambil melempar botol plastik kosong ke arah Abyan.
Tuk. Mengenai bahunya.
"Gue nggak punya tenaga buat nyuci gelas."
Venzo mengeluarkan sebuah kantong kecil dari balik saku celananya. "Ren, nih. Sarung tangan plastiknya. Tadi gue beli di kasir pas lo lagi nungguin Agnesa."
Naren menoleh. Ia menatap bungkusan transparan berisi sarung tangan sekali pakai itu.
Naren tidak segera mengambil sarung tangan itu.
Ia berjalan menuju kipas angin di sudut ruangan, memutar tombolnya ke angka maksimal.
Wusss. Angin panas berputar di dalam ruko.
Ia kemudian mengambil sebuah obeng kecil dari rak alat, mulai memutar-mutar baut kipas yang sebenarnya tidak longgar, hanya untuk memberikan kesibukan pada tangannya.
"Buat apa, Ren?" Arion bertanya sambil membuka satu dus mi instan untuk memastikan isinya tidak hancur.
"Lo beneran mau pake itu?"
"Biar nggak kotor," jawab Naren tanpa menoleh.
"Sejak kapan lo peduli tangan kotor? Biasanya lo bongkar mesin motor sampe oli nempel ke muka aja santai," Abyan mencibir, kini ia sudah telentang di lantai semen yang dianggapnya dingin.
"Gara-gara kertas merah itu ya? Tulisan Agnesa beneran sakti."
"Banyak omong," sahut Naren.
Ia meletakkan obengnya, lalu berbalik dan menyambar bungkusan sarung tangan dari tangan Venzo.
Ia mulai merobek bungkusannya.
Srek.
Naren mengenakan sarung tangan plastik tipis itu.
Ukurannya agak kekecilan untuk tangannya yang lebar, membuat plastiknya meregang kencang.
Ia mulai membuka kardus mi instan berikutnya, mengeluarkan isinya satu per satu untuk disusun ulang agar lebih rapat sesuai instruksi 'efisiensi' Agnesa.
"Ngomong-ngomong, tadi di swalayan..." Venzo duduk di kursi kayu, memperhatikan Naren bekerja.
"Agnesa kelihatan beda kalau nggak pake seragam."
"Beda gimana? Tetap galak, tetap kaku, tetap kayak robot," potong Abyan.
"Mana ada cewek belanja bawa-bawa aura mau sidang skripsi."
"Nggak juga," Venzo memperbaiki letak kacamata.
"Tadi dia minum susu cokelat yang dikasih Naren. Langsung di tempat."
Naren berhenti bergerak. Tangannya yang terbungkus plastik masih memegang satu bungkus mi goreng.
Ada jeda sekitar lima detik.
Suara kipas angin yang mencicit menjadi satu-satunya pengisi suara.
Naren berkedip perlahan, menatap bungkus mi di tangannya seolah ada teka-teki rumit di sana. Ia kemudian memasukkan mi itu ke dalam tumpukan dengan gerakan yang sedikit terlalu keras.
Krek. Kerupuk di dalam bungkus mi itu remuk.
"Dia haus kali," gumam Naren.
"Atau dia emang suka," Arion menimpali dari pojok. "Lo kok tahu dia suka susu cokelat?"
"Gue asal beli."
"Halah, bohongnya nggak pinter," Abyan bangkit, duduk bersandar di kaki sofa.
"Tadi lo bilang lo lihat dia ngeliatin kotak susu di mejanya lewat jendela. Sejak kapan lo jadi pengintai perumahan elit, Ren? Lo beneran ke rumahnya semalam cuma mau nganter revisi?"
Naren tidak menjawab. Ia terus menyusun mi instan. Satu, dua, tiga. Lapisan pertama selesai.
Keringat menetes dari ujung rambut Naren, jatuh tepat ke atas plastik sarung tangannya. Ia merasakannya—sensasi panas yang terperangkap di dalam plastik, tangan yang mulai lembap dan tidak nyaman.
Ia menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering, tapi ia enggan beranjak ke dispenser karena merasa sedang diawasi oleh ketiga temannya.
"Gue cuma kebetulan lewat," kata Naren akhirnya.
"Kebetulan lewat jam sebelas malam ke perumahan yang jaraknya sepuluh kilo dari sini?" Abyan tertawa mengejek.
"Logika lo bocor, Bos."
"Udah, biarin aja. Yang penting logistik beres," sela Venzo.
"Ren, lo udah cek daftar minyak gorengnya? Agnesa minta yang kemasan dua liter karena katanya lebih gampang ditumpuk di bak mobil besok."
"Udah ada di meja," Naren menunjuk dengan dagunya.
Naren berdiri, berjalan ke arah meja kayu.
Ia mengambil lembaran revisi yang tadi pagi ia bawa dari markas. Ia melihat coretan merah itu lagi.
Tulisan Agnesa sangat tegas, setiap hurufnya memiliki sudut yang tajam, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang tidak suka kompromi.
Kenapa dia harus belajar kalkulus di hari Minggu? Naren membatin.
Pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan logistik baksos, tapi entah mengapa terus berputar di kepalanya sejak ia melihat jendela lantai dua rumah Agnesa yang menyala semalam.
Cahaya matahari mulai bergeser, masuk lebih dalam ke ruangan ruko, menyinari tumpukan debu di atas lemari tua. Bau plastik baru, bau kardus kering, dan bau keringat bercampur menjadi satu.
Naren berdiri diam di dekat meja, menatap tumpukan minyak goreng.
Di antara botol-botol kuning keemasan itu, ia seolah melihat bayangan wajah Agnesa yang panik saat ia menyodorkan susu cokelat tadi pagi.
"Ren, lo denger nggak?" suara Abyan memecah lamunan.
"Apa?"
"Gue nanya, besok kita kumpul jam berapa buat muat barang ke mobil?"
"Jam tujuh pagi. Agnesa mau kita udah sampe di sekolah jam delapan."
"Busyet, pagi banget! Gue biasanya jam tujuh baru mimpi dapet jackpot," keluh Abyan lagi.
Ia kemudian mulai bersenandung tidak jelas, menirukan suara knalpot motor.
Brrrruuum... daka-daka-daka.
"Eh, kalian tahu nggak? Katanya Agnesa itu mau dikuliahin ke luar negeri sama bapaknya."
Naren yang sedang melepas sarung tangan plastiknya tiba-tiba berhenti.
Sret.
Sarung tangan itu setengah terlepas, menggantung di jari-jarinya.
"Kata siapa lo?" tanya Arion.
"Gue denger dari anak-anak OSIS pas lagi nongkrong di kantin kemarin lusa. Katanya dia udah disiapin buat masuk ke Oxford atau mana gitu, yang logonya kayak lambang Harry Potter."
"Pantesan dia belajar gila-gilaan," Venzo bergumam pelan. "Tuntutan keluarganya emang tinggi banget."
Naren meremas sarung tangan plastik yang sudah terlepas menjadi gumpalan kecil. Ia tidak membuangnya ke tempat sampah, melainkan memasukkannya ke dalam saku celananya.
Ia berjalan menuju jendela ruko, menatap ke arah jalanan yang sepi. Tangannya yang tidak lagi terbungkus plastik mencengkeram tralis besi jendela dengan kuat hingga buku-bukunya memutih.
"Oxford ya..." Naren berbicara sendiri, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Kenapa, Ren? Takut ditinggal?" Abyan menggoda, suaranya terdengar cempreng di telinga Naren.
"Nggak peduli gue," sahut Naren, tapi ia tidak melepaskan cengkeramannya pada tralis.
Di luar, seekor kucing liar melintas di atas pagar tembok tetangga. Naren memperhatikannya. Kucing itu berhenti sejenak, menatap Naren, lalu melompat hilang ke balik bangunan.
Naren teringat Agnesa yang selalu tampak seperti kucing yang terjebak di dalam kandang emas; cantik, mahal, tapi tidak pernah benar-benar bebas menyentuh tanah.
"Eh, liat nih!" Arion berseru sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Si Agnesa baru update status WhatsApp. Jarang-jarang nih."
Naren dengan cepat merogoh ponselnya di saku. Ia membuka WhatsApp. Ada lingkaran hijau di sekitar foto profil Agnesa—foto sebuah buku catatan yang sangat rapi. Ia mengkliknya.
Hanya ada satu foto: Sebuah kotak susu cokelat kosong di atas meja belajar dengan latar belakang tumpukan buku kalkulus. Tanpa caption. Hanya sebuah foto benda mati yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Naren menatap layar ponselnya lama sekali. Cahaya dari layar terpantul di matanya yang gelap. Ia tidak memberikan reaksi apa pun, tidak tersenyum, tidak berkomentar.
Ia hanya menatap foto itu sampai layar ponselnya meredup sendiri dan menjadi hitam.
Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah.
"Wuih, dia minum susunya! Fix, Ren, lo dukun ya?" Abyan mendekat, mencoba melihat ponsel Naren tapi Naren lebih cepat menutupnya.
"Kebetulan aja," kata Naren lagi. Kalimat andalannya.
"Kebetulan itu kalau terjadi sekali. Kalau berkali-kali itu namanya takdir, Bos!"
"Takdir pala lo peyang," Naren menjitak kepala Abyan pelan.
Pluk.
"Aduh! Sakit tahu!"
Naren menarik napas dalam, oksigen yang masuk terasa panas tapi entah mengapa memberikan sedikit ketenangan.
Ia melihat ke sekeliling ruko. Tumpukan barang logistik sudah mulai rapi. Sisa-sisa kardus yang kosong ia kumpulkan di satu sudut.
Naren mengambil selembar kertas kosong dari meja. Ia mengambil bolpoin hitam, lalu mulai menuliskan sesuatu.
Ia tidak menulis daftar barang. Ia menggambar sebuah denah sederhana—posisi parkir mobil pick-up besok di sekolah agar tidak menghalangi akses jalan Agnesa.
Ia menggambar garis-garis itu berkali-kali, menebalkannya sampai kertas itu hampir sobek di beberapa bagian.
"Ren, gue balik duluan ya. Mau mandi, badan gue udah bau terasi," kata Arion sambil berdiri.
"Gue juga. Mau siapin motor buat besok," Abyan ikut berdiri, meregangkan otot-ototnya hingga terdengar suara krek, krek dari punggungnya.
"Ya. Besok jangan telat. Jam tujuh teng," Naren mengingatkan.
Venzo tetap duduk sebentar. "Lo nggak balik, Ren?"
"Nanti. Gue mau beresin ini dikit lagi."
Venzo mengangguk. "Jangan terlalu dipikirin, Ren."
"Apalagi?"
"Oxford. Itu jauh. Tapi ini masih bulan Mei."
Venzo kemudian pergi menyusul yang lain.
Suara motor mereka menderu menjauh, meninggalkan Naren sendirian di dalam ruko yang gerah.
Naren berjalan ke arah dispenser, mengambil gelas plastik yang sudah agak kusam.
Ia mengisi air dingin.
Gluk, gluk, gluk.
Ia meminumnya dalam sekali tegak. Rasa dingin itu menjalar ke dadanya, memberikan sedikit ruang untuk berpikir jernih.
Ia kembali menatap foto susu cokelat di ponselnya dalam ingatan.
Kenapa Agnesa mempostingnya? Untuk pamer? Untuk memberi tahu bahwa dia sudah melakukan 'pembayaran' atas tiket parkir semalam? Atau karena dia memang ingin Naren melihatnya?
"Cewek aneh," gumam Naren.
Naren berjalan ke arah pojok ruko tempat ia menumpuk dus mi instan.
Ia melihat tumpukan itu, lalu ia melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan semalam: ia merapikan sudut-sudut kardus yang sedikit penyok dengan jarinya, menekannya dengan sangat hati-hati agar terlihat sempurna.
Ia melakukan ini pada semua kardus yang ada di sana.
Sore mulai menjelang. Cahaya matahari berubah menjadi jingga, masuk melalui celah pintu yang terbuka separuh, menciptakan bayangan panjang Naren di atas lantai semen.
Suara klakson kendaraan dari jalan raya terdengar sayup-sayup, menandakan dunia di luar sana masih terus bergerak sementara waktu seolah berhenti di dalam markas ZENTRIX.
Naren duduk di lantai, bersandar pada karung beras.
Ia merasa lelah, tapi bukan jenis lelah yang membuatnya ingin langsung tidur. Ia merasa seperti sedang menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa.
Ia merogoh sakunya lagi, menyentuh gumpalan plastik sarung tangan yang tadi ia simpan.
Teksturnya kasar dan berisik di dalam saku.
"Oxford..." ucapnya lagi, kali ini lebih pelan, hampir menyerupai helaan napas.
Ia teringat nilai-nilainya sendiri yang berantakan. Ia teringat bagaimana gurunya selalu menganggapnya sebagai masalah yang harus diselesaikan, bukan sebagai siswa yang punya masa depan.
Berbanding terbalik dengan Agnesa yang selalu menjadi contoh di setiap mading sekolah.
"Gue nggak butuh kuliah jauh-jauh," katanya pada ruangan kosong.
Namun, ia kemudian mengambil buku catatan kecil miliknya, mencari halaman kosong, dan menuliskan satu kata di sana dengan ukuran sangat kecil di pojok bawah: 'Paspor'.
Ia tertawa kecil, tawa yang getir dan kering. Ia segera mencoret kata itu sampai tidak terbaca.
Naren berdiri, menyambar jaket kulitnya yang tergantung di pilar. Ia mematikan kipas angin.
Ngiiiiing... pet.
Suara baling-baling yang berhenti berputar menyisakan kesunyian yang berat. Ia mengunci pintu ruko, memastikan gemboknya terpasang dengan benar.
Klik.
Ia naik ke atas motornya.
Jalanan Bandung di Minggu sore biasanya penuh dengan orang-orang yang ingin menikmati sisa libur sebelum Senin yang menyebalkan datang.
Naren memacu motornya perlahan, membiarkan angin sore menerpa wajahnya, mengeringkan sisa keringat dan debu yang menempel.
Besok adalah hari Senin. Hari di mana semua rencana logistik, semua revisi merah, dan semua rahasia kecil di balik susu cokelat akan bertemu di satu titik yang sama: sekolah.
Naren menarik gas motornya lebih dalam.
Vruuummm!
Ia melaju di bawah langit yang mulai berubah ungu, meninggalkan markasnya yang kini penuh dengan barang-barang bantuan sosial yang telah disusun dengan rapi—mungkin terlalu rapi untuk ukuran seorang pemimpin geng motor, tapi cukup rapi untuk memuaskan mata seorang ketua OSIS yang perfeksionis.
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Susu cokelatnya udah basi belum?"
"Sudah saya habiskan kemarin,"
Agnesa Jujur Banget? Yuk Ikuti Kelanjutan Kisahnya di Bab 7: Luka yang Terbaca