NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Di kantor, Bramantyo kembali memanggil keduanya. Kali ini tatapannya lebih tegas dari sebelumnya. Tangannya bertaut di atas meja, ekspresinya datar. Bahkan Wenny yang berdiri di belakang nyaris mendengus kalau saja tidak ingat posisinya.

"Jadi, bagaimana?" tanya Bramantyo langsung.

Irwan dan Taslim saling pandang sejenak. Mereka sudah berdiskusi sebelumnya. Ironisnya, hasilnya sama. Ingin menolak, tetapi istri berkata lain. Bahkan rumah tangga mereka hampir goyah hanya karena satu tawaran.

" Saya setuju, Bos," ujar Irwan pelan.

" Saya juga, Bos," Taslim menyusul.

Bramantyo mengangguk puas. "Wenny, siapkan semuanya. Koordinasikan berkas dengan mereka. Kalau sudah siap, kita ke Thailand."

"Baik, Bos."

Irwan dan Taslim mengerutkan dahi bersamaan.

"Nikahnya di Thailand, Bos?" tanya Taslim.

"Iya. Yang dekat saja. Mereka masih sekolah kan?"

"Itu yang ingin saya tanyakan," Irwan kali ini lebih serius, " Umur mereka baru tujuh belas tahun, Bos."

Bramantyo mengibaskan tangan ringan. "Bisa diatur. Itu urusan saya, kalian siapkan anak masing-masing saja."

Keduanya mengangguk.

"Sudah. kembali kerja. Tunggu kabar selanjutnya."

"Baik, Bos." Mereka membungkuk sopan, lalu keluar dari ruangan luas itu.

Begitu pintu tertutup, Taslim menghela napas panjang.

"Saya masih gak ngerti rencana Bos," katanya sambil memijat pelipis.

" Saya lebih gak ngerti diri sendiri," balas Irwan. Ia menoleh dengan wajah lelah. "Apa saya ini suami yang takut istri ya, Pak?"

Taslim tertawa hambar. "Saya juga kepikiran begitu, Pak Irwan, Tapi kata Bos, mereka gak harus jadi pasangan sungguhan. Masa depan anak kita masih aman "

Irwan mengangguk pelan. "Iya, Pak. Semoga saja,"

Lift terbuka. Mereka masuk, lalu berpisah di lantai masing-masing.

Sementara itu di dalam ruangan, Bramantyo tersenyum tipis. Wenny akhirnya bersuara, tidak lagi menahan diri.

"Anda terlihat terlalu senang menikahkan anak orang, Bos. Maksud saya.. sesama jenis."

Bramantyo terkekeh ringan. "Ini demi Yuina, Wenny."

"Jadi Anda tidak keberatan kalau Nona Yuina menikah dengan perempuan?"

Bramantyo menghela napas pendek. "Tidak perlu dibahas sekarang. Fokus saja pada dua anak itu." Ia menyandarkan punggung.

"Besok kirim dua mobil ke rumah mereka. Bonus tahan sampai pernikahan selesai."

"Termasuk rumah dan mobil untuk anak-anak mereka, Bos?"

"Benar."

Wenny mengangguk. "Baik. Lalu untuk dokumen-"

"Palsukan saja." Suaranya datar. "Jangan buat hal kecil jadi urusan saya."

Wenny diam sejenak, lalu mengangguk lagi. Ia keluar menuju mejanya. Saat duduk, ia merapikan kacamata dan bergumam pelan, "Ada-ada saja."

Di dalam ruangan, Bramantyo tetap tenang. Baginya, ini hanya satu cara mengisi waktu yang kosong. Sejak kepergian istrinya, dunia tidak lagi terasa sama.

Dan Yuina... masa depan anak itu terlalu penting untuk dibiarkan tanpa gambaran.

**

Di suatu tempat-lebih tepatnya di warung bakso kang Cecep-tiga kepala sibuk mengunyah. Siang panas, kuah pedas, dan status bolos. Kombinasi yang terlalu nyaman untuk ukuran anak sekolah.

"Btw, di kantong gw cuma ada sepuluh ribu," kata Narisa santai. "Lo pada tambahin ya."

Harum langsung mengangkat wajah, "Kere amat."

Narisa mengangguk tanpa ragu. "Makanya cita-cita gw jadi orang kaya."

Kara tiba-tiba mengeluarkan selembar uang dari saku celana olahraganya. "Goceng?"

Harum membelalak. "Serius lo?"

"Apa?" kara mengangkat alis. "Dompet gw ketinggalan di kelas."

"Di dompet lo ada berapa?"

"Goceng juga."

"Halah, bangke," Harum menghela napas. "Untung gw punya yang biru."

"Hasil rampok di mana?"

Harum cengengesan, "Uang emak gw. Buat beli kue nanti"

"Anjir, anak durhaka,"

Harum malah tertawa, seolah itu prestasi.

Narisa hanya menggeleng melihat dua manusia di depannya. Kalau tadi dia bolos bersama tiga temannya yang lain, sepuluh ribunya mungkin masih utuh. Uang jajan mereka jelas lebih manusiawi.

"Eh, Bonar," kata Kara tiba-tiba. "Harusnya kita bahas 'itu' kan?"

Narisa langsung paham. "Tawaran ke bokap lo sama Juga?"

"Iya. Kan satu kantor."

"Kok bisa ya?"

Kara mengangkat bahu. "Gak ngerti. Yang jelas bonyok gw setuju."

Narisa mendengus pelan. "Sama. Nyokap gw matre. Susah,"

Kara tidak menanggapi. Ia juga tidak punya posisi untuk menghakimi.

Narisa tiba-tiba menegakkan badan, "Gw ada ide"

Kara langsung ikut condong ke depan. "Apaan?"

"Kita minta duitnya duluan, terus kabur masing- masing."

Kara mengernyit. "Kabur ke mana?"

"Ya terserah, gw sih ke rumah Putri."

Kara menghela napas panjang. "Otak lo kapan bisa jalan sih?"

Narisa sudah mau menyahut, tapi Kara lebih dulu menambahkan,

"Lawan kita itu bos besar. Kita ini cuma anak SMA goblok. Mau kabur ke mana juga tetep dicari."

Narisa terdiam. Kesal, tapi tidak bisa membantah.

"kalian berdua ngomongin apa sih?" sela Harum.

Kara menoleh. "Lo gak perlu tau. Ini masalah gede."

"Justru itu gw pengen tau."

Kara dan Narisa saling pandang. Pikir mereka, tambah satu kepala mungkin bisa ikut membantu. Akhirnya mereka menjelaskan dengan versi dan gaya masing-masing. Aneh, tapi intinya sama.

Harum mengangguk-angguk sok bijak. "Oke, gw paham. Menurut gw, jalanin aja. Paling gak masa depan kalian aman sampe lulus kuliah."

Narisa menganga. "Lo gak denger yang soal tinggal bareng?"

"Lah, kenapa? Kali aja kalian jadi akrab." Harum mengangkat bahu. "Tapi kalau lo hamil, gw angkat tangan."

Plak.

Kara langsung menepuk kepala tarum. "Ngomong yang bener, peak. Gw masih cewek."

Harum cekikikan, "Ya udah. Kamar masing- masing aja. Anggep ngekost."

Narisa langsung tersadar. "Oh... bener juga."

Kara menatapnya. "Apa?"

"Berarti kita tinggal bagi wilayah."

"Bentuk rumahnya aja belum tau, lo udah bahas teritori."

Narisa menggaruk kepala. "Kebanyakan baca sejarah kayaknya. Gara-gara tugas Bu Rani nih. Bahas PP II, lima lembar lagi."

"Eh, kita juga dapet!" sahut Harum, "Tulis tangan lagi. Parah emang Bu Rani."

Kara mengernyit. "Rani?"

Harum dan Narisa saling pandang.

"Oiya... Rina," kata mereka bersamaan,

Kara memijat pelipis. "Pantes nilai kalian hancur. Nama guru sendiri aja lupa."

"Gak penting itu," kata Narisa, mulai serius lagi. Telunjuknya mengarah ke Harum, "Lo jangan ember ya. Sekali lo buka mulut, aib lo bakal gw sebar."

Harum mengernyit. "Ya kagak lah. Lagian lo aneh banget. Hobi kok ngumpulin aib orang."

Narisa terkekeh, padahal tadi dia cuma bercanda.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!