Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 6 :Rosario di Saku Mas Zaki
jam 8 pagi Zaki masih duduk di kursi ruang tamu, Belum tidur. Belum ngantuk. Kereta Matarmaja dan obrolan singkat dengan Indry masih terngiang-ngiang di kepala._
Kemejanya kusut, bau stasiun masih nempel. Yang dia bawa pulang cuma satu: rosario pink muda yang sekarang ada di saku dada.
Matahari Sudah mulai terik . Lampu kuning kecil masih nyala. Suara ayam tetangga masih ribut.
Tangan Zaki masuk ke saku. Dingin. Manik-manik itu berkilat pelan kena lampu.
“Ngapain aku simpen ini ya,” gumamnya sendiri.
Nggak dijawab. Yang ada malah kepala kebayang muka Indry tiga langkah di depannya semalam. Mata bengkak nahan nangis, tapi senyumnya masih sama kayak 15 tahun lalu.
Zaki ketawa pelan. “Kamu kurusan, Zaki.”
Dia niru suara Indry. Terus bales sendiri: “Lu masih suka bohong. Lu gemukan.”
Flashback nyerang.
_2009. Teras Bu Inah. Sore._
Indry duduk di kursi kayu, kaki diayun-ayun. Rosario pink muda melingkar di leher. Zaki baru akan berangkat jualan martabak, tangan masih bau adonan martabak manis.
“Zak, sini,” kata Indry.
“Ngapain?”
Indry narik tangan Zaki. “Tunjukin.”
Dia letak jari Zaki di manik pertama. “Ini Bapa. Terus ini Putra. Terus ini Roh Kudus. Biar kalau gue doa, lu nggak kaget.”
Zaki garuk kepala. “Gue kalau doa angkat tangan. Lu angkat jari. Sama-sama ke atas kan?”
Indry ketawa. “Iya sih. Tuhan nggak buta arah.”
Dari situ mereka akrab. Ngobrol apa aja. Tentang Ayah Indry yang perawat, tentang Ibu Zaki yang sering kirim ikan asin dari kampung, tentang Deoni adik Indry yang suka nanya kapan kakaknya pulang kampung.
Nggak pernah ada kata “pacaran”. Tapi semua orang di gang tahu, kalau Zaki nggak jualan martabak malam itu, pasti dia ada di teras Bu Inah.
Bahkan Bu Inah pernah nyindir: “Zak, martabakmu gosong tuh. Kayaknya pikiranmu di teras gue deh.”
Zaki cuma garuk kepala. Indry pura-pura nggak denger, tapi pipinya merah.
Balik ke 2026. Zaki masih di teras.
HP di meja getar. Notifikasi whatsapp.
Indry: “Salve 🙏slamat pagi, Zaki. semoga hari mu baik. Tuhan Memberkati mu.”
Zaki ketawa. Jarinya cepat ngetik: “Assalamu'alaikum,Ndry...Terima kasih. semoga harimu baik juga.”
Centang biru. Indry balas emoji ketawa. Udah. Itu aja.
Tapi Zaki baca ulang 5 kali. Kayak baca surat.
Jam 9 pagi, Bu Warti tetangga depan lewat bawa ember.
“Zak, semalem nggak pulang ya? Kereta telat?”
Zaki angkat muka. “Iya, Bu. Nunggu orang.”
Bu Warti ngangguk-ngangguk. “Wah, pacar?”
Zaki diem. Terus senyum. “Teman lama, Bu. Yang penting orang baik.”
Bu Warti pergi sambil ngomel pelan. “Jaman sekarang teman baik aja udah langka.”
Pak RT mampir siang. Lihat rosario di meja.
“Itu apa, Zak? Manik-manik?”
Zaki pegang pelan. “Tinggalan teman, Pak. Biar saya inget buat jaga hormat.”
Pak RT angguk. “Bagus. Orang jaga hormat itu mahal sekarang.”
Sorenya Zaki buka lemari. Dia rapiin baju. Di sela kaos koko putih, ada kertas lipatan kecil. Tulisan tangan Indry tahun 2010.
“Mas Zaki, makasih udah benerin pompa air Bu Inah. Kalau nggak ada kamu, aku mandi air ember seminggu.”
Zaki baca sambil senyum. Lipatan kertas itu udah kuning. Tapi nggak pernah dibuang.
Dia ambil rosario pink muda dari saku. Diletak di atas kertas itu. Dua barang tua. Dua kenangan.
Malamnya Zaki nggak tidur. Dia buka kotak kayu kecil di lemari. Di dalamnya ada mushaf, KTP lama, foto Ibu, sama selembar foto Indry waktu SMP Foto itu dia print dari FB Indry tahun 2010. Rambut kepang dua, pakai seragam, senyum lebar.
Rosario pink muda dia letak di atas foto itu.
Zaki duduk di lantai. Tangan diangkat.
“Ya Allah, kalau dia bukan jalan, kuatkan aku ikhlas. Kalau dia jalan, kasih aku cara buat jaga imannya. Aku nggak minta banyak. Cuma jangan bikin dia kecewa lagi.”
Doanya selesai. Dia simpan kotak itu di atas lemari.
Malamnya Sebelum tidur, dia chat lagi. Pendek aja.
“Indry, tidur ya. Besok kerja.”
Balasan masuk 3 menit kemudian: “Iya Mas Zaki. Kamu juga.”
“Mas Zaki.”
Zaki baca itu sambil senyum. 15 tahun nggak dipanggil “Mas”. Kedengarannya aneh. Tapi enak. Kayak ada hangat yang balik pelan-pelan.
Di Karawaci, Indry baring di kasur. Meta udah ngorok. Ogah mimpi ngomong soal mie.
Indry pegang HP. Chat Zaki terakhir: “Salve 🙏Iya Mas Zaki. Kamu juga.”
Dia nggak bales panjang. Takut kebablasan.
Tapi di hati, ada satu kalimat yang nggak diucap:
“Aku kangen, Mas Zaki.”
Pagi harinya Meta bangun duluan. Liat Indry masih pegang HP.
“Ngapain nggak tidur? Nge-stalk Zaki ya?”
Indry buru-buru taruh HP. “Bukan! Gue cuma... ngecek baterai.”
Meta ketawa. “Baterai apaan 3%. Lu ngecek hati lu kali.”
Indry ketawa malu. “Met, dia... dia masih sama ya. Diam, tapi bikin tenang.”
Meta duduk di pinggir kasur. “Dry, gue nggak ngerti soal agama. Tapi gue ngerti soal orang baik. Zaki itu baik. Dan dia nggak takut beda sama lu. Itu langka.”
Indry angguk pelan. “Gue takut, Met. Takut berharap lagi.”
Meta pegang tangan Indry. “Harap boleh, Dry. Asal lu nggak lupa, lu pantas bahagia. Ayah, Mama, Deoni... mereka mau liat lu ketawa, bukan cuma kuat.”
Indry diem. Mata mulai berkaca.
“Kalau Zaki nanti pergi lagi gimana?”
Meta nimpuk bantal. “Kalau pergi, gue cari. Gue culik balik. Gue kunci di kos lu.Lagian bukannya Elu yang pergi, yang ngeghosting die...gimane sih lu..... Nggak ada drama 15 tahun lagi.”
Mereka ketawa. Indry akhirnya tidur lagi. Tenang.
Di Tegal, Zaki bangun siang. Dia telpon Ibu di kampung.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam. Kamu sehat, Zak? Kok suaranya capek?”
Zaki senyum sendiri. “Sehat, Bu. Semalem ketemu teman lama.”
Ibu di seberang langsung peka. “Perempuan?”
Zaki ketawa kecil. “Iya, Bu.”
Ibu Zaki nggak banyak tanya. “Kalau dia baik, jaga. Kalau dia bikin kamu tenang, jangan dilepas. Ibu nggak minta menantu kaya. Ibu minta menantu yang bisa bikin kamu jadi imam yang baik.”
Zaki diem. Kata “imam” itu berat. Tapi enak didengar.
“InsyaAllah, Bu. Zaki jaga.”
Ibu Zaki balas: “Rosario itu kamu simpan baik-baik ya. Itu amanah. Amanah hati.”
Zaki kaget. “Bu kok tahu?”
Ibu ketawa. “Anakmu itu kalau ada apa-apa, mukanya ketahuan. Dari nada suara aja Ibu tahu. Itu rosario bukan milikmu, tapi kamu simpan kayak milikmu. Artinya kamu hormat.”
Zaki ngelirik dadanya, ya elaaa...lupa lepasin, kapan kepake ini Rosario....
Zaki nggak bisa jawab. Dia cuma bilang: “Makasih, Bu.”
Siangnya Zaki keluar beli bubur ayam. Penjualnya anak muda.
“Mas, lihat Mas bawa tas gede kemarin. Ada oleh-oleh?”
Zaki ketawa. “Udah dibagiin. Yang penting orangnya selamat sampai.”
Anak itu ngangguk. “Mas pasti suka ya sama orangnya.”
Zaki diem. Terus jawab pelan: “Suka itu gampang. Jaga itu yang susah.” reflek tangan Zaki meraba isi saku nya, Rosario itu sekarang jadi teman seperjalanan Zaki.
Malamnya hujan gerimis lagi. Zaki buka chat Indry. Dia nggak kirim panjang. Cuma satu kalimat:
“Indry, kalau kamu capek, istirahat. Aku di sini.”
Indry baca. Tangannya dingin. Dia balas:
“Salve, mas 🙏Aku nggak capek kalau kamu masih ngetik gini.”
Zaki baca balasan itu sambil senyum. Dia nggak balas lagi. Takut kebanyakan. Takut Indry salah paham.
Di Karawaci, Indry simpan HP. Tatap foto Ayah, Mama, Deoni di dinding.
“Pah, Mah, Deo... kalau kalian lihat aku sekarang, kalian marah nggak?”
Nggak ada jawaban. Tapi rasanya tenang.
Terucap Doa Fatima dalam hati Indry, selalu otomatis kalau Indry ingat mereka.
Di Tegal, Zaki matikan lampu. Rosario pink muda tetap di atas kotak kayu.
Di luar, hujan makin deras.
Dua orang. Dua doa. Satu janji hormat.
Dan untuk malam ini, itu cukup.
Cukup buat bikin hati mereka nggak kesepian lagi.
Cukup buat bikin mereka percaya, 15 tahun nggak sia-sia.