NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Membuat keputusan

Sekitar tiga pulih menit yang di butuhkan Gatra untuk sampai di daerah perumahan Griya Puri Arunika, alah satu perumahan kelas menengah yang ada di ibu kota.

Pengamanan di perumahan ini sangat ketat hingga setiap kendaraan yang memasuki perumahan harus di cek terlebih dahulu kecuali Gatra yang sudah di kenal oleh satpam.

Sesampainya di depan rumah berlantai dua, Gatra langsung turun dari mobil dan menekan lift dengan tidak sabar. Biasanya hari Minggu sahabatnya selalu ada di rumah bersama keluarga kecilnya yang sebenarnya tak ingin di ganggunya, tapi ia harus menyampaikan keberatannya dengan tetangga barunya.

Gatra tak habis pikir dengan jalan pikiran Hakim yang sudah tahu kalau ia tak menyukai anak kecil, tapi menerima penyewa yang sudah memiliki anak.

"Iya, tunggu sebentar." Sahutan dari dalam rumah menghentikan aksi Gatra menekan bel tidak hentinya sampai pintu itu terbuka dengan ekspresi masam dari Hakim. "Dari banyaknya yang bertamu cuma kamu yang ngga santai nekan belnya, Ga. Sumpah, di rumah saya ada dua anak yang usianya belum lima tahun, gimana kalau seandainya mereka lagi tidur terus kebangun?"

"Di tenangin lagi Kim." Balas Gatra. "Tapi saya ngga mau bicarain itu, soalnya ada suatu yang lebih penting yang pengen saya sampaikan pada kamu!"

"Masuk." Hakim mempersilahkan Gatra yang tak menunggu dua melangkah menuju sofa ruang tamunya. Sebagai sahabat dari zaman SMP, Hakim mengenal Gatra yang tak mungkin datang ke rumahnya apa lagi di hari Minggu kalau tidak ada sesuatu yang penting.

"Saya ngga suka sama tetangga yang baru, Kim." Kata Gatra tanpa ragu. "Saya maklumi kalau kamu lupa, maka akan saya ingatkan lagi kalau saya ngga pernah suka bertetangga sama anak kecil."

"Tunggu-tunggu tentanga? Seingatnya saya cuma di apartemen. Anak kecil siapa, Ga?"

Gatra mendengus. "Saya ngga percaya kamu ngga tahu orang yang nyewa unit apartemen itu, Kim."

"Anaknya Nayra maksudnya? Tapi Rayyan bukan anak yang kayak gitu, Ga. Dia anak baik makanya saya izinkan mereka tinggal beberapa bulan di sana."

"Tapi saya ngga suka, Kim. Saya terganggu kalau bertetangga sama anak kecil!" Tegas Gatra tiba-tiba mengingat pertemuan di kolam renang dengan Rayyan yang makin membuatnya kesal serta menyesali menolongnya. "Saya mau kamu usir orang yang baru aja nyewa unit apartemen itu!"

Hakim tidak langsung bersuara karna mencerna informasi tiba-tiba dari sahabatnya dengan bingung. "Ngusir orang yang nyewa unit... maaf, saya ngga bisa, Ga. Apa lagi cuma untuk alasan ngga kuat."

"Kenapa ngga bisa? Itu kan apartemen kamu jadi kamu pasti punya hak buat usir setiap orang yang tinggal di sana!"

"Iya, tapi dia udah bayar untuk beberapa bulan kedepan," ungkap Hakim.

"Ya sudah, kembalikan uangnya lagi atau harus saya yang melakukannya?"

"Ngga bisa gitu juga kali, Ga. Bukan karna uangnya ngga ada, tapi sebagai pemilik kita ngga bisa seenaknya mengusir orang tanpa mikir dampak kedepannya. Selain itu, dia ngga aneh-aneh, misal ketahuan menjual barang-barang di unit, kotor, ngga bayar uang sewa atau paling parah menggoda tetangga lain yang bikin ngga nyaman."

Gatra terdiam membenarkan, tapi bagaimana dengan kenyamanannya? Anak itu pagi tadi sudah menunggunya, bertanya banyak hal yang bisa di jadikan alasan untuk mengusir mereka, tapi mengingat cuma persoalan nama membuat pria itu mengurungkan untuk memberitahukan pada sahabatnya.

"Di tambah lagi dia sahabat baik adik saya, Ga. Saya ngga punya alasan kuat untuk langsung mengusirnya."

"Kenapa ngga bisa? Apartemen ini bukan milik orang tua atau salah satu orang di pemerintahan yang punya aturan ketat, unit itu di beli pakai uang pribadi."

"Benar, tapi sebenarnya ada apa? Apa juga masalahnya? Biasanya kamu oke-oke aja sekalipun bertetangga sama orang yang rese." Ungkap Hakim sambil menatap Gatra yang terdiam. "Saya tebak pasti Rayyan sok akrab?"

Gatra mengangguk. "Kalau saya ngga jawab dia akan paksa bahkan sampai cerita-cerita yang ngga nyambung pokoknya sampai dapat apa yang dia mau."

"Astaga... Rayyan, saya rasa Nayra ngga tahu, Ga. Nanti deh saya bilang..." Hakim terdiam menyadari sesuatu hal yang mungkin tak akan di sukai Gatra, tapi pasti akan di tanyakan ibu dari Rayyan. "Nayra pasti nanya kenapa kamu segitunya sama anak kecil? Kan mereka mau kenal jadi wajar kayak gitu, nanti kalau terdesak ngga papa cerita yang sebenarnya kan?"

Gatra terdiam, membenarkan, seengak sukanya orang dengan anak-anak mereka pasti ramah pada mereka. Sementara di kondisi Gatra beda. Ia sudah sampai pada tidak nyaman untuk ada di satu lingkaran dengan mereka sekalipun tak melakukan apa-apa.

"Tapi kalau ngga boleh saya akan cari alasan lain, Ga."

"Bilang aja, Kim. Bukan berarti saya mau di pandang aneh atau dikasihani ya, tapi biar mereka ngerti terus larang anaknya buat ngga terlalu ramah atau nyamperin saya kayak tadi."

"Ga, jangan bilang... ngomong kasar buat ngusir dia?"

"Saya ngga kayak dulu lagi, Kim. Saya ngomong baik-baik, tapi dia ngga nurut sampai akhirnya saya biarin, saya sabarin sampai anak itu tiba-tiba cerita sendiri, katanya Nayra mau ngasih kue ke tetangga." Gatra tak bercerita lebih jauh lagi karna merasa tidak penting untuk sahabatnya ketahui. "Niat saya pengen tinggal jauh dari keluarga untuk mencari ketenangan, tapi malah terganggu dengan keberadaan mereka."

"Nanti saya omongin ke mereka." Kata Hakim lelah menasehati sahabatnya ini. "Jangan kayak gini, Ga. Hidup selalu berjalan jadi jangan berdiri di situ-situ aja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!