NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Kejar-kejaran di Jembatan Layang

Gas kupuntir habis sampai mentok. Mesin motor bebek bututku menjerit kasar, meletup-letup membelah jalanan lingkar luar pelabuhan yang mulai padat oleh truk kontainer roda sepuluh.

Sinar matahari pagi menembus celah helm cetokku, terasa membakar, beradu dengan hawa dingin yang masih terus merembes dari balik plester kain di pergelangan tangan kiriku.

Denyutnya makin kencang, membuat stang motor bergetar hebat di genggamanku.

"Jangan mati dulu, Astrea butut! Sedikit lagi!" makiku pada mesin motor yang mulai kehilangan tenaga akibat dipaksa mengebut.

Pikiranku karut-marut. Jarak dari depo sortir pusat ke gang kosanku di daerah pasar ikan biasanya memakan waktu lima belas menit. Tapi dalam situasi dikepung pasukan bersenjata Baron Logistics yang membawa pemindai suhu tubuh genggam, waktu lima belas menit terasa seperti hitungan mundur menuju tiang gantungan. Kala yang bertubuh raksasa dan berdarah dingin itu jelas tidak akan bisa berkelit jika mereka menggeledah Kamar Nomor Empat.

Begitu roda motorku menanjak naik ke atas jembatan layang yang melintasi jalur rel kereta api pelabuhan, arus lalu lintas mendadak melambat.

Macet total. Deretan angkot hijau dan pikap pengangkut sayur berhenti mengular, menciptakan benteng besi yang mustahil kutembus.

Aku mendecitkan rem, menurunkan kaki ke aspal yang mulai beruap. Jantungku mencelos. Tepat di ujung jembatan layang, sekitar dua ratus meter di depan, tampak siluet dua mobil jip hitam besar berlogo jangkar perak—armada resmi Baron Logistics. Beberapa pria berjaket taktis hitam berdiri di sana, menghentikan setiap pengendara motor yang lewat. Di tangan mereka, sebuah alat berbentuk pistol dengan layar digital menyala kemerahan, ditempelkan ke setiap leher kurir atau nelayan yang melintas.

Mereka sudah memblokade jalur utama menuju pasar ikan.

"Sial! Mereka cepat sekali!" umpatku, celingukan mencari celah di antara pembatas jalan semen.

Belum sempat aku memutar balik roda motor untuk mencari jalan tikus bawah jembatan, sebuah deru mesin motor matik ber-cc besar terdengar meraung dari arah belakang. Bukan kurir biasa. Dua motor matik hitam tanpa plat nomor mendadak memotong jalanku, menjepit posisi motor bebekku tepat di lajur tengah jembatan yang sempit.

Dua orang pengendara di atasnya mengenakan jaket seragam Baron yang masih bersih, tapi wajah mereka ditutupi helm full-face hitam. Salah satu dari mereka membuka kaca helmnya sedikit, menampilkan sepasang mata sipit yang sangat kukenal. Itu badut-badut suruhan Roy dari divisi logistik khusus.

"Mau kabur ke mana, Lara? Bang Roy bilang, kamu punya urusan yang belum selesai di kantor," teriak pria yang posisinya paling dekat denganku, kaki kirinya sengaja menendang knalpot motorku sampai berdering nyaring.

"Minggir, Keparat! Aku tidak ada urusan dengan kalian!" teriakku, mencoba memiringkan stang untuk selap-selip di antara sela-sela bak truk tangki.

Namun, pengendara kedua bergerak lebih cepat.

Dia memepet sisi kiriku dengan kasar. Siku lengan jaketnya menghantam bahuku, membuat keseimbanganku goyah. Roda depan motor bebekku slip, bergeser di atas aspal panas yang berpasir. Tubuhku condong ke kanan, hampir saja tersungkur di bawah roda raksasa truk kontainer yang sedang berhenti.

"Turun kamu! Ikut kami balik ke depo!" bentak mereka lagi, tangannya menjangkau kerah jaket oranyeku.

Aku mencengkeram rem dalam-dalam, menahan bobot motor dengan seluruh sisa kekuatan kaki bot karetku. Napasku memburu. Sudut mataku melihat pembatas jembatan layang yang tinggi, tidak ada jalan keluar, tidak ada tempat untuk berkelit. Aku terkepung di atas ketinggian, di bawah tatapan para pengendara lain yang memilih abai karena takut berurusan dengan orang-orang Baron.

Tepat saat tangan pria itu hendak mencengkeram tengkuk jaket milikku, pergelangan tangan kiriku yang dibalut plester mendadak meledak oleh rasa perih yang luar biasa, seolah ada jarum es raksasa yang dihantamkan menembus tulang dagingku.

Bersamaan dengan rasa sakit itu, sebuah fenomena ganjil terjadi.

Udara panas pelabuhan di sekitar jembatan layang mendadak turun drastis dalam satu detik.

Angin kencang yang beraroma lumut basah, air payau, dan bau rawa purba yang pekat tiba-tiba bertiup kencang entah dari mana. Embusan angin itu berputar, membentuk pusaran udara dingin yang tak kasat mata namun memiliki tekanan yang sangat masif, menghantam tepat ke arah dua motor matik yang menjepitku.

Wuuush!

"Apa-apaan ini?!" teriak salah satu suruhan Roy saat motor matik besarnya mendadak oleng ke samping seolah dihantam dinding semen tak terlihat.

Tekanan udara dingin itu terasa ganjil, menahan laju motor bebekku agar tetap tegak berdiri di atas aspal dengan kokoh, sementara dua motor pengejarku justru terseret mundur beberapa meter, roda mereka slip di atas aspal yang tiba-tiba dilapisi kristal es tipis yang tipis dan licin.

Aku terperangah, menatap telapak tanganku yang gemetar. Bau lumut ini... ini bau Kala.

Refleks, aku memalingkan wajah ke arah kolong jembatan layang, menatap deretan tiang beton raksasa yang menyangga jalur kereta api di bawah kami. Di balik bayang-bayang tiang beton yang gelap dan berdebu, aku melihat sesosok siluet.

Seorang cowok bertubuh tinggi besar, mengenakan jaket hoodie hitam dengan topi kupluk rajut sewarna arang yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya. Dia berdiri di atas pipa besi penyalur air rawa, mengabaikan ketinggian yang mematikan di bawahnya.

Meskipun wajahnya tertutup bayangan, dari jarak sejauh ini, aku bisa melihat dengan sangat jelas sepasang mata berpupil vertikal berwarna emas yang menyala penuh murka. Tatapannya lurus mengunci dua orang suruhan Roy yang masih sibuk mengendalikan motor mereka yang tergelincir. Tangan kanan cowok itu terjulur ke depan, jemarinya yang kaku bergerak pelan di udara, seolah dialah yang baru saja mengendalikan arah embusan angin rawa yang gila tadi.

Dia nekat keluar dari Kamar Nomor Empat dalam kondisi penuh luka robek demi mengejarku ke sini.

"Kala..." bisikku, tenggorokanku mendadak tercekat.

Melihat fokus para pengejarku teralih oleh hawa dingin yang aneh, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sambil menahan rasa perih di lengan, kuhantamkan kaki kanan ke tuas gigi motor, memuntir gas sedalam mungkin, dan memanfaatkan celah sempit di antara dua mobil pikap yang sempat renggang akibat kepanikan sopirnya.

Motor bebekku melesat maju, melompati trotoar jembatan yang rendah, lalu menukik turun mengambil jalur memutar memotong rel kereta—sebuah rute tikus terlarang yang biasa dilewati anak-anak pelabuhan untuk menembus pasar ikan dari arah belakang.

Aku terus memacu motorku tanpa berani menengok ke belakang lagi, tapi bayangan sepasang mata emas yang berkilat marah di balik tiang beton itu terus tercetak jelas di dinding kepalaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!