NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Empat pembunuh yang masih tersisa menatap rekan-rekan mereka yang telah berubah menjadi potongan daging dengan tubuh bergetar hebat. Mereka semua adalah veteran kejam yang telah mencabut ratusan nyawa, namun monster berwujud manusia di depan mereka ini berada di level yang sama sekali berbeda.

"Jangan berani mundur, dasar kalian pengecut! Serang dia secara bersama-sama sekarang juga!" teriak pemimpin bermata satu itu dari barisan belakang dengan nada panik. Namun pria cacat itu sendiri justru perlahan-lahan melangkah mundur, berusaha mencari celah aman terdekat menuju pintu keluar ruangan.

Keempat pembunuh bayaran itu menekan paksa rasa takut mereka dan kembali menerjang maju dengan sisa keputusasaan yang menggebu. Mereka menyerang serempak dari empat arah mata angin yang berbeda, mencoba mengunci secara total setiap sudut pergerakan Valerius.

Valerius sama sekali tidak terlihat panik melihat manuver jebakan mematikan yang terencana dengan cukup baik tersebut. Ia justru sengaja melepaskan gagang pedang bajanya hingga jatuh berdenting di atas lantai batu, sebuah tindakan gegabah yang terlihat sangat gila.

Saat keempat bilah tajam ujung pedang mereka hampir menembus dada dan punggungnya, Valerius membungkuk ekstrem menyerupai postur seekor laba-laba. Ia berhasil menghindari semua serangan fatal itu hanya dengan selisih jarak tipis selebar helaian rambut manusia.

Kedua tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit hitam melesat maju sangat cepat menyambar kerah dua orang pembunuh di depannya. Ia mengerahkan seluruh kekuatan otot fisiknya yang telah ditingkatkan oleh sistem, membenturkan kedua kepala pria itu dengan sangat keras.

Suara retakan tulang tengkorak yang hancur berkeping-keping akibat benturan itu terdengar bergema mengerikan di seluruh sudut ruangan. Kedua pembunuh itu seketika tewas di tempat dengan mata melotot dan hidung memuntahkan cairan kental berwarna merah kehitaman.

Dua pembunuh terakhir yang berada tepat di belakangnya terbelalak ngeri melihat pertunjukan kekuatan fisik yang tak masuk akal tersebut. Mereka mencoba panik menarik kembali senjata mereka untuk lari menyelamatkan diri, namun Valerius telah memutar tubuhnya jauh lebih cepat.

Ia mengambil cepat dua bilah belati beracun milik mayat di dekat kakinya dan melemparkannya ke belakang tanpa melihat sama sekali. Kedua belati kecil itu melesat cepat seperti sambaran kilat hitam, menancap sangat presisi tepat di pertengahan dahi kedua pembunuh malang tersebut.

Ruangan kerja Baron Kaelos yang semula sangat mewah itu kini telah berubah sepenuhnya menjadi pemandangan rumah potong hewan berdarah. Mayat-mayat berserakan dalam kondisi cacat tak utuh, sementara karpet merah mahal itu kini kewalahan menyerap genangan lautan darah segar.

Pemimpin bermata satu itu berdiri mematung kaku di dekat perapian batu, wajah kasarnya kini sepucat kapas yang direndam air kapur. Ia menatap nanar Valerius yang kini berdiri tegak di tengah hamparan mayat tanpa ada satu pun luka gores di tubuhnya.

"Kau... kau jelas bukan manusia... kau adalah iblis yang lahir dari neraka bawah!" kutuk pria bermata satu itu dengan suara bergetar dan putus asa. Ia mencengkeram erat gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih pasi, mencoba sia-sia mencari keberanian yang telah lama mati.

Valerius menendang pelan sebuah kepala terpenggal di dekatnya hingga menggelinding berhenti tepat di depan ujung sepatu pria bermata satu itu. "Sebuah penghinaan yang sangat kecil. Iblis sejati akan menangis meronta jika melihat apa yang biasa aku lakukan padanya."

Valerius kembali berjalan mendekat dengan langkah santai, tidak sudi mengambil pedangnya dan membiarkan kedua tangannya kosong tanpa senjata pelindung. Kepongahan absolut yang dipancarkan Valerius ini benar-benar menghancurkan sisa-sisa terakhir kewarasan mental pemimpin pembunuh bayaran tersebut.

"Mati kau, dasar monster!" raung pria itu seraya menerjang maju dengan ayunan pedang vertikal yang diarahkan langsung untuk membelah kepala. Serangan mematikan itu sangat cepat dan penuh tenaga keputusasaan, namun pola gerakannya terlalu mudah ditebak dan dibaca.

Valerius hanya mengangkat sebelah tangan kirinya ke udara, membiarkan bilah tajam pedang itu menebas tepat di atas pergelangan tangannya. Suara benturan logam keras terdengar nyaring, sarung tangan kulit hitam Valerius berhasil menahan tebasan itu berkat perlindungan Mana yang ia pusatkan.

Pria bermata satu itu terbelalak tak percaya melihat serangan pedangnya tertahan mentah-mentah hanya oleh lengan kosong seorang pemuda. Di saat sepersekian detik keterkejutannya itu, tangan kanan Valerius melesat maju menembus pertahanan lawannya bagai patukan ular kobra beracun.

Jari-jarinya yang sekuat baja mencengkeram erat leher pria bermata satu itu, mengangkat tubuh kekarnya tinggi ke udara hanya dengan satu tangan. Kedua kaki pria itu menendang-nendang udara dengan panik saat saluran pernapasannya tercekik mati secara seketika.

Valerius menatap lekat mata tunggal pria itu yang kini melotot merah karena kekurangan pasokan oksigen di dalam otaknya. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bayangan ketakutan absolut yang sangat memuaskan hatinya tercetak di kornea mata tersebut.

"Kembalilah meringkuk pada majikanmu di neraka, dan katakan padanya bahwa aku yang akan segera datang menjemputnya," bisik Valerius dengan sangat pelan namun menusuk. Cengkeraman tangannya mengeras secara drastis dalam sekejap, meremukkan seluruh tulang leher pria itu dengan suara gemeretak basah yang sangat memuakkan.

Tubuh tak bernyawa itu jatuh layu berdebum keras ke atas lantai saat Valerius melepaskan cengkeraman maut tangannya. Notifikasi terakhir dari sistem menutup pesta pembantaian brutal malam ini dengan rentetan huruf merah yang menyilaukan mata batinnya.

[Seluruh Target Pembunuh Bayaran Berhasil Dieliminasi. Misi Dadakan Selesai dengan Sempurna.]

[Hadiah: +1000 Poin Dosa, Item Senjata Iblis 'Belati Penyedot Jiwa'. Level Up! Host berhasil mencapai Level 6.]

Energi kehangatan yang luar biasa memabukkan kembali menyelimuti seluruh tubuh Valerius, memulihkan stamina dan memperluas kapasitas Mana-nya secara masif. Ia membiarkan sensasi evolusi kekuatan itu meresap ke dalam sumsumnya, sebelum akhirnya memutar tubuhnya perlahan menghadap sang tuan rumah yang tersisa.

Baron Kaelos masih asyik meringkuk di sudut ruangan gelap, menutup matanya rapat-rapat sambil menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan gemetar. Pria gemuk itu tak henti-hentinya menggumamkan rapalan doa-doa suci yang sudah tak memiliki arti atau keselamatan apa pun di ruangan terkutuk ini.

Valerius melangkah mendekat dengan perlahan, sengaja menginjak kubangan genangan darah agar suara kecipak basahnya terdengar jelas mengintimidasi. Ia berjongkok merendahkan tubuhnya di depan Baron Kaelos, meraih bahu gemuk pria itu dengan tangannya yang masih berlumuran darah segar musuh.

Kaelos tersentak hebat layaknya tersengat listrik, matanya terbuka lebar memancarkan teror murni saat melihat wajah Valerius yang kini sangat dekat. Pemuda yang tersenyum di depannya ini terlihat bagai malaikat kematian sungguhan yang baru saja merangkak keluar dari dasar lautan darah.

"Buka matamu lebar-lebar, Kaelos," perintah Valerius dengan nada suara yang sangat dingin dan memegang otoritas absolut. "Mimpi burukmu malam ini sudah berakhir, dan anjing-anjing penggigit lehermu itu sudah kukirim kembali ke tempat yang semestinya."

Kaelos menatap mayat-mayat cacat yang berserakan di ruang kerjanya dengan napas memburu dan dada yang naik-turun secara drastis. Ia melihat tumpukan daging dan lautan darah itu dengan ngeri, lalu kembali menatap Valerius dengan pandangan mental yang benar-benar hancur lebur.

Sisa-sisa keserakahan dan arogansi Kaelos telah musnah tak bersisa, digantikan sepenuhnya oleh kepatuhan buta yang lahir dari ketakutan tergelap. Di mata sang Baron yang terguncang, Valerius bukan lagi seorang putra bangsawan yang terbuang lemah, melainkan eksistensi dewa kematian itu sendiri.

"T-Tuan Muda... kau... kau benar-benar menyelamatkanku..." isak Kaelos, tubuh gempalnya bergetar tak terkendali layaknya dedaunan kering yang tertiup badai musim dingin. Ia memegang erat tangan Valerius yang berlumuran darah seolah itu adalah satu-satunya tali keselamatan terakhirnya di ujung tebing maut.

"Kakakku menganggap harga hidupmu sama murahnya dengan udara kotor di lembah perbatasan ini," bisik Valerius, dengan lihai menanamkan bisa manipulasi ke dalam pikiran sang Baron. "Dia dengan licik mengirim mereka kemari bukan hanya untuk membunuhku, tapi juga untuk membungkam mulut besarmu secara permanen selamanya."

Air mata kembali mengalir amat deras dari sepasang mata sipit Kaelos, rasa syukurnya yang aneh bercampur trauma membuatnya tak bisa lagi berpikir jernih. Ia telah sepenuhnya jatuh terperangkap ke dalam jaring laba-laba psikologis yang ditenun Valerius dengan sangat teliti dan kejam.

Valerius melepaskan gelombang skill pasif 'Lidah Berbisa' miliknya untuk mengunci alam bawah sadar pria rapuh yang sedang hancur tersebut. "Tapi kau tak perlu lagi khawatir, Kaelos. Selama kau patuh berada di bawah bayanganku, tidak akan ada satu pun nyawa di dunia ini yang berani menyentuh sehelai rambutmu."

Kaelos menganggukkan kepalanya kuat-kuat secara berlebihan, kombinasi air mata dan ingus mengotori wajahnya yang terlihat sangat amat menyedihkan. "Aku berani bersumpah demi nyawaku sendiri, Tuan Valerius. Aku dan seluruh prajurit Benteng Besi Hitam akan setia mengabdi padamu hingga kami mati!"

Senyum asimetris kembali merekah muncul di wajah kotor Valerius, merasa sangat puas melihat boneka barunya akhirnya telah jadi secara sempurna. Rantai ketakutan traumatis telah mengikat erat leher anjing ini, menahannya jauh lebih kuat daripada ikatan rantai emas keserakahan mana pun.

Kini, ia tidak hanya sekadar mengamankan posisinya sementara, namun ia telah mendapatkan pasukan militer faksi pertamanya untuk memulai langkah kehancuran besar. Benteng Besi Hitam telah resmi jatuh bertekuk lutut ke genggamannya, bukan melalui ajang perang terbuka, melainkan lewat jalur manipulasi dan pembantaian dalam diam.

Valerius berdiri tegak perlahan, menyeka santai darah kental di tangannya pada jubah Kaelos yang tengah menunduk mencium ujung sepatu botnya. Panggung teater berikutnya akan dipastikan jauh lebih berdarah dari ini, dan ibu kota agung telah menanti kedatangan sang Jagal dengan penuh ketidaktahuan.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!