Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
***
Tiga hari telah berlalu sejak badai malam pertama yang menghancurkan fisik Lilianne. Berkat salep langka dari Utara dan ketabahan luar biasa, luka-lukanya mulai mengering, meski rasa ngilu sesekali masih menyengat di area kewanitaannya setiap kali ia bergerak terlalu cepat. Lilianne tidak lagi tampak seperti mangsa yang ketakutan. Di bawah bimbingan Lisa, ia kini bersiap untuk perburuan pertamanya.
Malam itu, lilin-lilin aromatik beraroma lili hutan—bunga kesayangan mendiang Ratu Seraphina dinyalakan di setiap sudut kamar. Wanginya lembut, memabukkan, dan membawa aura melankolis yang tenang.
Lilianne mengenakan gaun tidur dari sutra transparan berwarna perak yang jatuh pas di lekuk tubuhnya, memperlihatkan kulit putihnya yang kini bersih dari lebam, namun masih tampak rapuh.
"Apakah aku sudah terlihat seperti hantu yang ia rindukan, Lisa?" bisik Lilianne sambil menatap pantulannya di cermin. Rambut peraknya dibiarkan tergerai menutupi punggungnya yang polos.
"Anda terlihat lebih dari sekadar hantu, Yang Mulia. Anda terlihat seperti kelemahan yang ingin ia miliki selamanya," jawab Lisa dengan hormat sebelum membungkuk dan keluar, meninggalkan Lilianne dalam keheningan yang mencekam.
Klek.
Pintu terbuka. Langkah sepatu bot yang berat itu tidak lagi terdengar terburu-buru seperti malam pertama. Arthur masuk dengan jubah hitamnya yang tersampir longgar. Begitu kakinya melangkah masuk, ia terhenti. Hidungnya menghirup aroma lili yang memenuhi ruangan. Matanya yang biru gelap seketika menyipit, berkilat antara amarah dan nostalgia yang menyakitkan.
"Siapa yang mengizinkanmu menggunakan aroma ini?" suara Arthur rendah, berbahaya seperti guncangan gempa sebelum bencana.
Lilianne tidak berbalik. Ia tetap menatap cermin, membiarkan Arthur melihat leher jenjangnya yang terekspos. "Saya pikir istana yang dingin ini membutuhkan sedikit keharuman dari masa lalu, Yang Mulia. Bukankah lili adalah lambang kemurnian Valerieth?"
Arthur melangkah mendekat, bayangannya yang besar menelan sosok Lilianne. Ia mencengkeram bahu istrinya, memaksanya berbalik. "Jangan bermain api denganku, Lilianne. Kau tidak tahu apa yang kau bangkitkan."
Lilianne tidak gemetar. Ia justru mengulurkan tangannya yang mungil, menyentuh rahang tegas Arthur yang kasar karena bulu halus. "Saya tidak sedang bermain api. Saya sedang menawarkan air untuk mendinginkan api di hati Anda."
Mata mereka bertemu. Dominasi Arthur yang biasanya menghancurkan, kini bertemu dengan ketenangan Lilianne yang memabukkan. Keinginan yang sempat ia tahan selama beberapa hari terakhir meledak seketika. Tanpa kata-kata, Arthur menyambar bibir Lilianne. Kali ini, ciumannya tidak hanya berisi kekejaman, tapi juga rasa lapar yang luar biasa.
Arthur mengangkat tubuh ringan Lilianne dan menghempaskannya ke atas ranjang yang empuk. Gaun tidur perak itu terlepas dalam sekejap, memperlihatkan kemurnian Lilianne yang kembali ditantang oleh kegelapan Arthur.
"Nngh... Yang Mulia..." Lilianne melenguh saat bibir Arthur menjajahi lehernya, meninggalkan jejak panas yang membakar.
Arthur tidak membuang waktu. Nafsunya yang liar kembali mengambil alih. Saat ia kembali menyatu dengan Lilianne, sebuah rintihan panjang keluar dari mulut gadis itu.
"Ahhh! S-sakit... hiks... pelan-pelan..."
Meskipun sudah pulih, ukuran dan kekuatan Arthur tetap membuat Lilianne merasa kewalahan. Tubuhnya yang kecil harus berjuang menampung dominasi suaminya yang perkasa. "Ugh... ahh... Yang Mulia, kumohon..."
"Tatap aku, Lilianne!" perintah Arthur, suaranya parau karena kenikmatan. Ia memacu gerakannya, membuat ranjang emas itu berderit. "Katakan namaku!"
"A-Arthur... ahhh! Ugh... sakit... tapi... mmmh..." Lilianne merintih, tangannya mencengkeram sprei hingga kuku-kukunya hampir merobek kain mahal itu. Di antara rasa sakit yang menghujam, ada sensasi aneh yang mulai menjalar—sebuah kenikmatan yang belum pernah ia kenal, yang lahir dari penyerahan diri yang total.
Arthur mengerang nikmat, kepalanya bersandar di ceruk leher Lilianne, menghirup aroma lili hutan yang kini bercampur dengan aroma keringat mereka. "Kau adalah milikku... kau dengar? Seluruh dirimu... adalah canduku!"
"A-ahhh! Terlalu... terlalu dalam... ugh!" Lilianne mendongak, matanya berair, bibirnya terbuka lebar mengeluarkan desahan-desahan yang memicu adrenalin Arthur. Ia merasa seolah jiwanya sedang ditarik keluar oleh pria di atasnya.
Penyatuan itu berlangsung lama dan intens. Ruangan itu dipenuhi oleh suara kulit yang beradu dan erangan kepuasan Arthur yang panjang. Setiap kali Lilianne merasa akan pingsan karena kewalahan, Arthur akan menariknya kembali dengan ciuman yang menyesakkan napas. Hingga akhirnya, dengan satu geraman hebat yang memenuhi kamar, Arthur melepaskan puncaknya di dalam diri Lilianne.
Keheningan kembali menyelimuti kamar. Napas mereka berdua masih memburu, bersahutan di tengah kegelapan yang hanya diterangi cahaya lilin yang mulai meredup. Arthur tidak langsung bangkit dan pergi seperti biasanya. Ia tetap menindih sebagian tubuh Lilianne, menyandarkan keningnya di bahu istrinya yang masih gemetar hebat.
Jemari Arthur yang kasar perlahan membelai rambut perak Lilianne yang berantakan. Matanya yang biru gelap menatap wajah Lilianne yang tampak begitu rapuh dan lelah sebuah pemandangan yang entah kenapa menusuk bagian terdalam dari hatinya yang membeku.
"Jangan pernah melakukan hal-hal bodoh, Putri Mahkotaku," bisik Arthur tepat di telinga Lilianne. Suaranya tidak lagi berisi ancaman murni, ada nada ketulusan yang terselip di sana.
Lilianne menoleh pelan, menatap mata suaminya. Ia melihat kilat kesepian di sana sebuah luka yang disembunyikan di balik gelar panglima perang.
"Cukup lakukan tugasmu... berikan aku seorang pangeran, pewaris bagi takhta ini," lanjut Arthur, jemarinya kini mengusap sisa air mata di sudut mata Lilianne. "Jika kau melakukan itu, aku berjanji... kau akan menjadi wanita paling agung di seluruh kekaisaran ini. Tidak ada satu orang pun, termasuk kaisar sekalipun, yang akan berani menyentuh sehelai rambutmu."
Lilianne menegang. Ia merasakan kehangatan yang tak terduga dari pelukan Arthur. Ia datang untuk memanipulasi pria ini, untuk menjadikannya pion dalam rencana besarnya. Namun, melihat ketulusan di mata pria yang baru saja menyakitinya dengan kenikmatan itu, hati Lilianne bergetar. Ada rasa iba yang mulai menyusup di antara ambisi dan l dendamnya.
"Apakah itu janji, Yang Mulia?" tanya Lilianne dengan suara yang masih lemah.
Arthur tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengecup kening Lilianne dengan lembut sebuah kecupan yang jauh lebih bermakna daripada ribuan sumpah. Malam itu, untuk pertama kalinya, Lilianne merasa bukan sebagai pion yang dikurbankan, l melainkan sebagai bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia mulai menerima kenyataannya: bahwa takdirnya kini terikat erat dengan sang singa kejam ini. Dan jika ia harus menjadi ratu di atas tumpukan tulang belulang, maka ia akan melakukannya di samping pria ini.
"Tidurlah, Lili," gumam Arthur pelan sebelum ia ikut memejamkan mata di samping istrinya—suatu hal yang belum pernah ia lakukan untuk wanita mana pun sebelumnya.
***
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang