NovelToon NovelToon
ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengantin Pengganti
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.

Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.

Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Kenyataan Pahit.

Suasana restoran di sebuah pusat perbelanjaan besar di Jakarta tampak ramai sore itu. Atas bujukan Safa, Arlan terpaksa membelokkan mobilnya ke sana. Safa mengaku sangat ingin mencicipi makanan di mal seperti yang sering ia lihat di televisi, sebab selama ini ia belum pernah pergi ke sana bersama keluarganya.

Mendengar pengakuan itu, mau tidak mau Arlan menyetujuinya. Walaupun ia enggan menyantap makanan cepat saji yang dianggapnya kurang sehat, ia tidak sanggup menolak saat melihat binar di mata sang istri.

Safa terlihat tidak sabar. Tangannya menepuk-nepuk meja berulang kali dengan kaki yang bergoyang-goyang, persis seperti anak kecil yang sedang menunggu pesanan datang.

Arlan hanya menatapnya, sesekali menyunggingkan senyum tipis. Entah mengapa ia bisa menerima sikap manja sang istri. Padahal dulu, setiap kali melihat wanita yang sengaja menempel atau merayunya, ia merasa sangat risi. Namun, bersama Safa, semuanya terasa berbeda.

Dengan bersandar santai Arlan menatap Safa intens. "Kayaknya kamu suka banget, sampai girang gini."

Safa membalasnya dengan senyuman tulus, binar matanya sampai membuat Arlan tertegun kagum.

'Apa dia memang seimut ini?' batinnya menganggumi sang istri. Namun, karena ego ia segera menggeleng meyakinkan dirinya bahwa ia hanya iba.

'Gak. Mana mungkin aku secepat itu menyukainya. Iya, aku pasti cuma kasian.' Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Makasih, ya Mas. Aku ingin banget bergi ke sini dengan keluarga aku. Alhamdulillah sekarang sudah kesampean," ucap Safa dengan polosnya.

"Memangnya, sebelumnya kamu gak pernah pergi ke mall dengan keluargamu? Bukannya kamu punya ibu dan seorang kakak?" ujarnya, pura-pura tak tahu.

Sorot mata Safa berubah redup. Ia menunduk sambil memainkan kukunya. "Mereka tidak pernah membawaku. Bahkan aku tidak pernah dibelikan apa pun walau mereka pulang dari mall dan belanja banyak."

"Tapi gak papa, yang penting sekarang aku pernah ke sini walau hanya sekali. Setidaknya aku sudah pernah," ungkapnya girang.

Arlan hanya bisa menggeleng pelan. "Kenapa hanya sekali. Mulai sekarang kalau kamu mau pergi, ya pergi saja. Ajak Luna, atau teman-temanmu. Kamu kan sekarang punya uang."

Safa menggeleng kuat. "Gak lah, Mas. Itu bukan uangku. Lagi pula hidup gak boleh boros, Allah paling benci itu."

Mendengar itu Arlan hanya bisa menghela nafas. Gadis di depannya ini benar-benar berbeda dari wanita kebanyakan. Jika itu wanita lain, mereka pasti senang dan akan minta uang banyak padanya. Tapi Safa, ia hanya dibawa makan di mall, ia sudah sangat bahagia.

Tak lama makanan yang ia pesan datang.

Safa memesan Nasi Goreng Spesial Solaria dan Milk Tea dengan Boba, menu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan rasanya saat menonton iklan. Arlan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Safa yang begitu lahap menyantap makanan yang sebenarnya sangat biasa bagi orang-orang di kelas Arlan.

Safa menggeleng pelan saat makanan itu menyentuh indra perasanya. "Emmm ... memang ternyata seenak ini. Pantas saja sering seliweran di TV."

Arlan hanya menatapnya. Melihat Safa begitu lahap membuatnya merasa puas.

"Lalu, kenapa kamu tadi menangis? Apa ada yang menjahilimu?" ucapnya penasaran.

Safa menghentikan kunyahannya, menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak mau menjawab ia kembali melahap makanan lezat itu.

"Safa ..." ucap Arlan dengan nada merendah.

Safa dengan susah payah menelan makanannya lalu mendongak. "Mas. Aku selesaikan dulu makananku, baru aku cerita, ya. Mas mau gak?"

"Gak, aku masih kenyang. Sudah habiskan saja, kalau kurang pesan lagi, sana."

Mendengar itu tentu Safa senang. Ia mengangguk, melahap habis makanan di piring. Setelah selesai ia duduk bersandar dengan puas.

"Alhamdulillah, aku kenyang. Makasih ya, Mas."

"Hmmm ...." kata Arlan yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Ponsel itu lalu di letakkan. Dengan ekspresi serius ia menatap ke arahnya.

"Sekarang bisa kan, cerita?"

Wajah yang awalnya berseri berubah muram saat Arlan membahasnya. Untuk meredakan gejolak amarah di dadanya Safa menyeruput milk tea miliknya.

Sebelum bercerita ia meletakkan minumannya dan duduk dengan kaku.

"Aku ... terancam tidak lulus. Beasiswa ku tiba-tiba ditarik, Mas. Kata dosen pembimbing, mungkin aku menyinggung salah satu anggota yang berkepentingan. Kan itu gak masuk akal."

"Bagaimana mungkin aku cari masalah sama mereka, aku mana berani sih, Mas," adunya dengan wajah memelas.

Arlan mengangguk-angguk. Ia setuju dengan ucapan sang istri, gadis lugu sepertinya mana mungkin cari masalah dengan orang lain. Tiba-tiba ia merasa dadanya sesak merasakan seolah merasakan apa yang tengah Safa rasakan.

Dengan tangan mengepal kuat Safa berkata. "Bahkan Miss Ama meminta aku untuk cari tahu siapa yang mempersulitku dan meminta maaf padanya. Jika benar dia Adit, anak pemilik yayasan yang sering jadi donatur aku gak sudi."

Seketika wajah Arlan mengeras saat mendengar nama Adit. "Siapa dia? Kekasihmu?"

Safa berdecih walau pelan. "Cih, ogah. Dia itu cowok aneh. Beberapa kali aku tolak tapi dia tetap aja gak mau nyerah, malah dia marah dan ngancam aku. Aku rasa dia yang buat beasiswa aku dicabut."

"Aku akan hadapi dia. Bagaimana pun itu urusan pribadi, bagaimana bisa dia melakukan, ini," ujar Safa penuh tekat.

Kedua tangan Arlan mengepal kuat di bawah meja. Entah kenapa ia merasa sangat marah tanpa sebab.

Melihat ekspresi sang suami Safa agak kecewa, ada sedikit harapan sang suami akan membantu. Namun, ia salah. Arlan justru hanya menatapnya dengan diam.

Merasa kecewa, Safa bangkit. "Mas, aku mau ke kamar kecil dulu."

Safa melenggang begitu saja. Ia menghindari Arlan kalau-kalau ia tak bisa menahan ekspresi sedihnya.

Saat Safa pergi ponsel Arlan terus berdering. Nama Egar kembali muncul di layar.

"Hah, pasti dia mau ngomel lagi," gumamnya sambil menekan tombol hijau.

"Arlan! Di mana lagi kamu, hah! Kenapa sering banget hilang sih hari ini?" pekik suara di balik telepon.

Karena bising Arlan berpindah ke arah pintu restoran. "Aku ada urusan mendadak. Kamu jangan manja deh. Biasanya juga bisa handle sendiri."

"Bagaimana mungkin. Ini masalah serius. Tender harus segera terkejar, tapi kamu malah ngilang mulu," cecar Egar dengan nada yang memekakkan telinga.

"Iya, iya. Aku nanti balik ke kantor. Tapi bantu aku buat selidiki sesuatu, aku akan kirim detailnya nanti, oke."

"Iya terserah," jawab Egar singkat sebelum sambungan diputus.

Sementara Safa yang baru selesai dari kamar mandi berjalan kembali ke restoran. Namun, saat mendekati restoran ia melihat sesuatu yang membuatnya mematung dan buru-buru bersembunyi.

Disana, ia melihat sang suami tengah berbicara dengan seseorang yang sangat ingin ia hindari. Jemarinya meremas ujung kemejanya hingga jarinya memutih.

"Kenapa selalu ada kamu? Apa kali ini aku juga akan di salahkan, apa aku juga akan jadi pelampiasan?"

Dengan hati yang kesal dan sakit, Safa memilih pergi meninggalkan sang suami. Ia bahkan meninggalkan tas dan ponselnya, berlari tanpa arah.

1
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
siapa sih yg sering wa mas Arlan
Siti Anisa
bagus novelx suka
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
hahhahaha.. aku ngakak ngebayangin ekpresi nya si Arlan🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
ganjalannya pasti tentang perasaan masing-masing🥺🥺
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
nggak ada.. nggak punya/Tongue//Tongue/
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
ya ampun, siapa itu😬😬😬😬
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
aq g absen hari di mana mana krn khusus buat baca novel🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: hok O di maratonin ma aunty🤭
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
safar cerita aja ttg hendra ke suami kamu ya
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
uhuk uhuk
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
idih gtau aja klo safa it istri bos kamu, klo sampe tau bs mati mendadadak riana😂
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
edgar sama farah aja thori, klo author g jodohin edgar sama farah, kalo gitu edgar sama aq aja gimana setujuh kan?
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: ihh aunty mah.. 🤣🤣
Berondong itu aunty, mau kah aunty🤭🤭
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
heronya safa dateng🫶😂
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
siapa ya
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
blm tau aja suami safa orang keyong
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
sampe trauma begitu
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
arlan klo kamu tau safa sprti apa di rumah nya pasti kamu kasian
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
adit ini bener bener mulutnya seperti omprengan
𝓐𝔂⃝❥ ⃟🥑⃟ Sᴇɴᷢᴀͥᴀͥ☠️⃝⠀
mampir thor 🤔
Shankara Senja
safa itu bodoh bngt ya..apa apa diem..lebih baik dihajar abis sm mama lo dari pd dihajar abis diranjang sm bpk tiri lo.masa depan lo hancur ..kabur ,kek,takut bngt ga nemu makan..apa pengen ngancurin masa depan lu di perkosa bapak tiri lo..lo hancur jg keluarga lo ga perduli
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: Iya mungkin kabur lbih enak. Tapi ada sebagian orang gak akan berani kak. Mereka selalu memikirkan bakti dan takut akan hal-hal yang belum pasti. 🤧
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
ingat safa selalu tutup pintu dan kunci klo perlu gembok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!