Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pintu kaca tebal terbuka otomatis. Laura melangkah masuk, disambut interior elegan dan sunyi. Tidak ada suara musik keras, tidak ada lalu lalang tamu biasa. Semuanya terkontrol, tertata, dan terasa… mahal.
“Silakan ikut saya,” ujar seorang staf wanita dengan seragam rapi, muncul seolah sudah menunggu.
“Private room Anda sudah siap.”
Laura mengangguk, lalu mengikuti staf itu menyusuri lorong panjang berlapis karpet tebal.
Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya,
“Sebentar!”
Suara itu datang dari luar.
Ratna.
Ia berdiri di depan pintu masuk, napasnya sedikit terengah. Wajahnya tegang, matanya menyapu ke arah Laura yang sudah setengah masuk.
“Saya juga mau masuk,” kata Ratna pada petugas keamanan. “Saya mengikuti gadis itu.”
Petugas keamanan menoleh datar. “Apakah Ibu memiliki reservasi?”
Ratna terdiam sesaat. “Tidak. Tapi saya perlu bicara dengan dia.”
“Kartu akses, Bu?” tanya petugas itu lagi, suaranya tetap profesional.
“Kartu apa?” Ratna mulai meninggi. “Saya cuma mau masuk sebentar.”
Petugas itu menggeleng pelan. “Maaf, Bu. Restoran ini hanya menerima tamu dengan reservasi dan kartu akses.”
Ratna melirik ke arah Laura, suaranya naik penuh emosi. “Dia bisa masuk, kenapa saya tidak?! Dia cuma pembantu!”
Petugas keamanan menoleh tajam bukan marah, tapi tegas.
“Status pribadi tidak relevan, Bu.”
Ia menunjuk pintu dengan sikap formal. “Tamu tersebut memiliki kartu akses VVIP. Tanpa itu, tidak ada yang bisa masuk ke area private room.”
Ratna membeku.
“Apa?” suaranya nyaris bergetar. “VVIP?”
Petugas itu mengangguk singkat. “Benar. Mohon Ibu meninggalkan area ini.”
Ratna melangkah maju satu langkah. “Ini tidak masuk akal! Kalian pasti salah!”
“Bu,” suara petugas mengeras sedikit, “ini peringatan terakhir.”
Ratna mengepalkan tangan. Wajahnya memerah—antara marah, malu, dan tidak percaya. Ia menatap Laura dari kejauhan, namun Laura tidak menoleh sedikit pun.
Laura terus berjalan menyusuri lorong, punggungnya tegak, langkahnya mantap.
Pintu private room tertutup perlahan di belakangnya.
Dan di luar, Ratna masih berdiri kaku di depan pintu kaca, diusir oleh tempat yang bahkan tidak memberinya kesempatan untuk berteriak.
“Apa sebenarnya kamu itu…” gumam Ratna pelan, matanya menyipit penuh kebencian. “Siapa kamu sebenarnya, Laura?”
Jawaban itu saat ini
hanya diketahui oleh satu orang.
Dan orang itu…
sedang menunggunya di balik pintu yang tak bisa Ratna lewati.
Akhirnya ratna menyerah dan kembali pulang dengan perasaan kecewa.
Laura diantar oleh salah satu staf restoran tersebut menuju ruangan yang sudah di boking sesuai dengan nama yang terdaftar di kartu. Laura pun masuk dan takjub dengan interior dan arsitektur restoran tersebut. Ruangan itu di desain dengan sangat elegan dan pasti harga restoran tersebut tidak main-main membuat laura meneguk ludah kasar.
"Anda mau pesan apa nona?, silahkan dilihat-lihat dulu menu yang ada di restoran ini."ucap pelayan tersebut sembari memberikan sebuah buku berisikan menu restoran tersebut.
Laura mencoba untuk membuka menu yang ada di buku itu, namun bahasa yang ada di dalam buku menu tersebut tidak ada yang dimengerti oleh laura.
"Jus jeruk saja dulu, saya mau menunggu teman saya baru saya pesan."ucap Laura berdalih agar dirinya tidak malu. Iya tidak ingin karyawan tersebut tahu jika Laura baru pertama kali datang ke restoran termewah itu.
"Baik nona, akan segera saya bawakan."ucap pelayan tersebut kemudian meninggalkan Laura.
Baru saja pintu ruangan private itu tertutup, Laura menghembuskan nafas kasar hampir saja ia mempermalukan dirinya sendiri.
"Apa pak Haikal sengaja ngerjain aku."gumam Laura.
Tak berselang lama, pelayan tersebut pun datang sembari membawa segelas jus jeruk dan meletakkannya di depan laura.
"Selamat menikmati nona, dan jika anda ingin memesan silahkan tekan tombol yang ada di atas meja."ucap karyawan tersebut menjelaskan dengan sangat ramah dan full senyum.
"Baik mbak terima kasih."ucap Laura tak kalah sopan.
Laura membuka blazer nya dan tinggallah baju kemeja berwarna putih yang super ketat melekat di tubuhnya.
Ia ingin memberikan kejutan kepada Haikal, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk lebih menjerat laki-laki kaya raya tersebut.
Baru saja Laura menegur minumannya tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka dan muncullah seorang laki-laki tampan dan penuh karismatik memasuki ruangan tersebut dengan tatapan dinginnya.
Laura cukup terkejut dengan tatapan yang diberikan oleh oleh Haikal, tatapan mata itu tanpa gelap dengan sorot tajam dan membuat tubuh Laura membeku di tempat.
Ia berfikir jika Haikal pasti marah dengan video yang dikirimkan nya. Keberanianya tiba-tiba saja pupus.
"Mana berkas yang saya minta?." Tanya haikal terkesan daftar dan dingin.
"Ini pak."ucap laura sembari menyodorkan sebuah map berwarna biru.
"Kenapa kamu berdiri sangat jauh?, ayo lebih dekat lagi berikan map itu kepada saya. Saya ingin memeriksa sendiri jika kamu tidak salah membawa nya."
Meski merasa ragu, Laura berjalan mendekat sembari memberikan map yang ada di tangannya kepada Haikal.
Haikal menatap laura sembari menilai wanita yang ada di depannya dari atas hingga bawah. Seketika tatapan Haikal terhenti tepat di depan belahan himalaya milik laura. Haikal kembali teringat dengan isi dibalik kemeja putih itu.
Haikal menggigit bibirnya karena bayangan tentang dua gunung yang kenyal, yang tadi dipamerkan oleh laura seolah-olah menantang nya untuk di sesap dan digigit, belum lagi ukurannya yang pasti sangat besar dan lembut.
Laura yang menyadari arah tatapan dari haikal pun sembari menunduk, ia takut jika apa yang dia lakukan tadi adalah sebuah kesalahan dan membuat haikal memecat nya dan menganggapnya kurang ajar.
"Kenapa kamu tidak se berani di video, dan seberani biasanya?" Tanya haikal yang membuat Laura mendongak.
"A-apa?"tanya laura gagap.
"Kamu tahu kenapa kamu saya minta untuk mengantarkan map ini, padahal saya bisa meminta sopir saya untuk menjemputnya sendiri ke rumah?."
Laura hanya menggelengkan kepalanya, karena ia takut salah jawab.
Haikal pun tertawa pelan, seolah ia tengah menertawakan Laura yang tampak gugup.
"Kenapa laura?"
"Saya minta maaf pak, saya gak bermaksud lancang mengirimkan video tersebut kepada bapak. Saya tahu saya tidak sepantasnya mengirimkan video tersebut kepada bapak."
"Kamu sengaja mengirimkan nya atau salah kirim?"
"Maaf pak saya sengaja."
"Kamu sengaja menggoda saya?"
"Kalau bapak tergoda kenapa tidak." Gumam laura pelan tetapi masih bisa didengar oleh haikal.
"Mana yang gatal, Hem?." Tanya haikal mendekat sembari membuka satu persatu kancing baju Laura.
"Bapak mau apa?"
"Saya mau kamu."
"Tapi pak, jangan di sini?."
"Memangnya kenapa, saya sudah memboking ruangan ini untuk 6 jam kedepan. Dan para pelayan tidak akan datang kalo kita tidak memanggil mereka. Kamu tahu berapa uang yang harus saya keluarkan?"
"Laura menggeleng, karena ia benar-benar tidak tahu akan hal itu."
"Satu jam nya lima juta hanya ruangan saja dan kamu kali kan saja dengan enam jam, berapa uang yang saya keluarkan hanya untuk bertemu dengan kamu."
"Apa?? 30 juta?"
"Saya harap kamu tidak membuat saya menyesal mengeluarkan uang sebanyak itu."
Tatapan Haikal kembali pada gundukan himalaya itu, dan dengan cepat haikal pun melepas pemainnya dan dua gunung itu menggantung dengan indahnya.
Haikal mengangkat tubuh ramping Laura dan mendudukan nya di atas meja, kemudian dengan rakusnya Haikal men nyesap Boba coklat tersebut dengan kuat yang membuat Laura me remas rambut Haikal dan menekan wajah laki-laki tersebut ke gunungnya.
"Aahhh.....terus pak....!!!"