Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangkan di Balik Pangkat
Perjalanan pulang yang tadinya terasa lega kini berubah mencekam. Suasana di dalam kendaraan menjadi hening, hanya terdengar suara deru mesin dan napas yang tertahan. Putra mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Citra, sementara matanya menatap tajam ke arah Kolonel Bayu.
“Perwira tinggi militer?” ulang Putra, suaranya rendah namun tegas. “Siapa namanya?”
Kolonel Bayu menghela napas panjang, lalu mengeluarkan selembar kertas catatan dari saku jaketnya. Tulisan di sana terlihat tergesa-gesa, namun jelas terbaca.
“Mayor Jenderal Wiratama,” jawabnya pelan. “Berdasarkan catatan transaksi dan surat-surat yang ditemukan, dialah yang menyediakan dana besar untuk operasi Bibi Sari selama bertahun-tahun. Ia juga yang memastikan setiap langkah mereka tidak terdeteksi oleh pihak berwenang.”
Nama itu membuat jantung Putra berdegup kencang. Ia mengenal nama itu dengan sangat baik Mayor Jenderal Wiratama adalah salah satu perwira paling dihormati di lingkungan militer, bahkan sempat menjadi pembimbingnya saat ia masih menjalani pendidikan dasar.
“Tapi... itu tidak mungkin,” gumam Putra, bingung. “Ia dikenal sebagai sosok yang tegas dan menjunjung tinggi keadilan.”
“Terkadang topeng yang paling indah menyembunyikan luka yang paling dalam,” sahut Citra lembut. Ia memegang lengan suaminya, berusaha menenangkan sekaligus mengingatkan. “Ingat apa yang kita pelajari? Banyak hal yang terlihat jelas ternyata menyimpan rahasia gelap.”
Sesampainya di tempat persembunyian yang aman, mereka segera berkumpul di ruang rapat kecil. Orang tua angkat Citra sudah diberi perawatan dan istirahat, sementara Andi masih terlelap di kamar sebelah. Tim penyelidik mulai memilah-milah semua bukti yang disita dari lokasi pertemuan dan rumah Bibi Sari.
“Lihat ini,” tunjuk Arga sambil meletakkan sebuah dokumen di meja. “Ada catatan yang menyebutkan bahwa Mayor Jenderal Wiratama memiliki hubungan darah dengan cabang keluarga yang merasa dirugikan. Ia menganggap bahwa posisinya bisa digunakan untuk ‘memperbaiki’ apa yang menurutnya salah di masa lalu.”
Putra memegang dokumen itu dengan hati-hati. Matanya menyusuri setiap baris tulisan, hingga ia berhenti pada satu bagian yang membuatnya tertegun.
“Ada lagi,” katanya pelan. “Disebutkan di sini bahwa ia juga memiliki kepentingan lain. Bukan hanya soal warisan keluarga ada lahan tambang yang nilainya sangat besar di baliknya. Jika warisan itu jatuh ke tangan yang salah, ia bisa menguasai seluruh wilayah itu dan mendapatkan keuntungan yang tak terhitung jumlahnya.”
Saat mereka sedang membahas rencana penyelidikan lebih lanjut, telepon di meja berdering. Panggilan itu datang dari markas pusat. Kolonel Bayu mengangkatnya, dan seiring ia mendengarkan, wajahnya semakin mengeras.
“Apa yang terjadi?” tanya Citra begitu panggilan berakhir.
“Bibi Sari,” jawab Kolonel Bayu singkat. “Ia dibawa ke tahanan sementara, namun dalam perjalanan, kendaraan pengawalnya diserang. Para penyerang berpakaian seragam militer, dan mereka berhasil melarikan diri membawa Bibi Sari bersamanya.”
“Mereka ingin membungkamnya sebelum ia berbicara lebih banyak,” tebak Putra dengan cepat. “Ini pasti perintah dari atas.”
“Kita tidak punya banyak waktu,” lanjut Kolonel Bayu. “Jika Bibi Sari menghilang atau dibunuh, satu-satunya saksi kunci akan hilang, dan kita akan kesulitan membuktikan keterlibatan Wiratama.”
Malam itu, mereka menyusun strategi baru. Putra menyarankan agar mereka memeriksa jalur komunikasi dan tempat persembunyian yang mungkin digunakan, sementara Citra mengusulkan untuk memeriksa lebih dalam riwayat keluarga dan aset yang dimiliki oleh Wiratama mungkin ada petunjuk yang terlewat.
Di tengah kesibukan itu, Citra merasa ada yang mengamatinya. Ia menoleh ke arah jendela, namun hanya melihat kegelapan malam. Namun perasaan tidak nyaman itu tidak hilang. Seolah-olah mata asing sedang mengawasi setiap langkah mereka.
“Kita tidak aman bahkan di sini,” bisiknya pada Putra.
Putra mengangguk setuju. “Mereka tahu kita memiliki bukti. Mereka tidak akan berhenti sampai semuanya dihancurkan.”
Keesokan harinya, saat mereka mulai memeriksa dokumen-dokumen lama di ruang arsip, Andi datang berlari dengan sebuah benda di tangannya.
“Temukan ini di saku jaket Bibi Sari yang tertinggal,” katanya sambil menyerahkan sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil dan selembar foto lama. Foto itu menunjukkan sekelompok orang yang berdiri di depan sebuah bangunan tua. Di antara mereka, terlihat wajah yang masih muda Mayor Jenderal Wiratama, berdiri berdampingan dengan ayah kandung Citra yang telah lama menghilang.
“Mereka saling mengenal,” gumam Citra terkejut. “Lebih dekat dari yang kita kira.”
Putra menatap foto itu dengan pandangan serius. “Ini bukan lagi soal perjuangan warisan. Ini soal masa lalu yang terkubur, persahabatan yang berubah menjadi kebencian, dan kekuasaan yang siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi.”
Saat mereka menyadari bahwa jaringan ini jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan, sebuah pesan rahasia masuk ke perangkat komunikasi Kolonel Bayu. Pesan itu singkat namun mengancam:
“Serahkan semua dokumen dan berhenti menyelidiki, atau nyawa orang-orang yang kau cintai akan menjadi taruhannya.”
“Kita tidak akan mundur,” kata Putra tegas sambil menggenggam tangan Citra. “Apapun yang terjadi, kita akan mengungkap semuanya.”
Dan di kejauhan, di balik tembok markas militer yang megah, seorang pria berseragam lengkap meletakkan teleponnya. Senyum tipis terukir di wajahnya, namun matanya dingin dan penuh ambisi.
“Mereka tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi,” gumamnya pelan. “Jika mereka terus melangkah, mereka akan menyesal telah membuka kotak pandora itu.”