“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Retaknya Dinding Keangkuhan
Keheningan yang merayap di ruang kerja pribadi Narendra terasa begitu padat, hingga detak jarum jam dinding kristal terdengar seperti dentuman godam yang menghantam dada.
Pria tiran itu masih terpaku di kursi kebesarannya.
Sepasang matanya yang tajam menatap nanar pada map medis putih berlambang Rumah Sakit Medika Utama yang tergeletak di atas meja kaca hitamnya.
Tangannya yang biasanya begitu stabil saat menandatangani kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah, kini perlahan bergerak maju dengan getaran samar yang tidak mampu ia kendalikan.
Jemarinya yang kokoh membuka halaman pertama berkas tersebut.
Di sana, sebaris nama tercetak dengan jelas: Alika Pradipta. Di bawahnya, deretan angka hasil analisis laboratorium dengan tanda bintang merah tebal langsung menampar logikanya yang selama ini tertutup oleh kabut kesombongan.
HASIL PEMERIKSAAN IMUNOLOGI & SEROLOGI:
> Antinuclear Antibody (ANA) Test: POSITIF (Titer 1:1280, Homogeneous Pattern) — Abnormal
(Tinggi)
> Anti-dsDNA: POSITIF (240 IU/mL) — Abnormal (Tinggi)
> Komplemen C3 & C4: Menurun Drastis
> Laju Endap Darah (LED): 110 mm/jam — Indikasi Inflamasi Sistemik Akut
Narendra mencoba menarik napas, namun rongga dadanya mendadak terasa begitu sempit.
Ia menolak untuk percaya.
Ego raksasanya memberontak, mencari celah untuk menyangkal kebenaran yang kini terpampang nyata di depan matanya.
"Ini... ini bisa saja kau rekayasa, Raditya!" suara bariton Narendra keluar dengan nada serak, mencoba mengembalikan otoritasnya yang mulai runtuh.
Ia melemparkan kembali berkas itu ke atas meja. "Kau adalah dokter pribadinya, kau bisa dengan mudah mencetak lembar kertas ini untuk menipuku agar aku menjadi panik dan membiarkan Alika pergi dari rumah ini bersamamu!"
Raditya mendengus getir, sebuah tawa sarkasme lolos dari bibirnya.
Ia melangkah satu tindakan lebih dekat, menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja kerja Narendra, menatap sang CEO dengan sepasang mata yang menyala-nyala oleh amarah yang membakar.
"Rekayasa? Menipumu?!" bentak Raditya, suaranya menggelegar di dalam ruangan yang kedap suara itu.
"Narendra, buka matamu lebar-lebar! Aku tidak sepicik itu untuk mempertaruhkan lisensi medisku dan reputasi rumah sakit ini hanya demi melayani drama paranoid rumah tanggamu yang sakit! Jika kau tidak percaya padaku, panggil dokter spesialis reumatologi independen dari belahan dunia mana pun sekarang juga. Biarkan mereka memeriksa istrimu. Tapi pertanyaannya, apakah Alika masih memiliki waktu untuk menunggu egomu selesai berdebat?!"
Kata-kata Raditya seperti aliran listrik bertegangan tinggi yang langsung menyengat ingatan Narendra.
Kilasan kejadian demi kejadian yang terjadi sejak pagi tadi mendadak berputar hebat di dalam benaknya seperti rol film yang rusak.
Ia teringat bagaimana Alika tersengal-sengal di ambang pintu ruang makan tadi pagi. Ia teringat jari-jari istrinya yang memucat dan mencengkeram pinggiran meja makan dengan sangat kuat hanya untuk menopang berat tubuhnya sendiri.
Dan yang paling menghantam kesadarannya adalah ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang sempat ia usap di pipi Alika siang tadi—kulit yang melepuh, panas, dan membuat istrinya meringis kesakitan yang luar biasa.
"Kosmetik apa yang kamu pakai pagi ini, Alika? Apakah ini caramu merawat diri sebagai istri seorang CEO? Memakai produk murahan hingga kulitmu mengalami alergi parah?"
Kalimat kejam yang ia lontarkan sendiri beberapa jam lalu kini bergema kembali di telinganya, menjelma menjadi belati tak kasat mata yang menusuk tepat ke dalam jantungnya.
Rasa bersalah yang murni dan pekat mulai merayap naik dari dasar ulu hatinya, melumpuhkan seluruh pembelaan diri yang selama ini ia agungkan.
"Pagi ini, saat kau menuduhnya memakai kosmetik murahan karena wajahnya memerah, kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?" suara Raditya merendah, namun setiap katanya berbobot seperti timah panas.
"Itu adalah malar rash, Narendra. Ruam khas penyakit Lupus yang muncul ke permukaan kulit saat sistem imun di dalam tubuhnya sedang mengamuk dan menyerang pembuluh darahnya sendiri! Dan saat dia mengeluh pusing serta sesak, itu karena selaput parunya sedang meradang, saling bergesekan tanpa pelumas setiap kali dia menarik napas. Semua itu terjadi karena kau—dengan segala keangkuhanmu—telah menyita dan menghentikan obat imunosupresannya!"
Narendra mencengkeram tepi meja kacanya hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar hebat.
Wajahnya yang biasanya memancarkan ketenangan seorang penguasa korporat kini memucat pasi, kehilangan seluruh rona kehidupan.
Sisi tiran dalam dirinya mendadak lumpuh total, digantikan oleh gelombang ketakutan gelap yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Pria itu menyadari, dengan cara yang paling brutal, bahwa kulit yang melepuh di pipi Alika bukanlah alergi kosmetik, melainkan sebuah jeritan dari tubuh istrinya yang sedang hancur dari dalam.
"Rasti..." gumam Narendra tiba-tiba, suaranya parau dan bergetar liar.
Ia langsung menyambar interkom di sudut mejanya dengan gerakan panik yang tak terkendali. "Rasti! Buka pintu kamar Alika sekarang! Buka, kubilang!" teriaknya dengan volume yang memekakkan telinga, mengabaikan seluruh tata krama yang selalu ia jaga.
Tanpa menunggu jawaban dari balik interkom, Narendra langsung bangkit berdiri, menendang kursi kerjanya hingga terjungkal ke belakang, dan berlari keluar ruangan seperti orang kesetanan.
Raditya tidak membuang waktu; ia segera menyambar map medisnya dan ikut berlari menyusuri koridor panjang, menyusul langkah lebar sang CEO yang kini dipenuhi oleh keputusasaan mutlak.
Mereka berdua menaiki anak tangga menuju lantai atas dengan terburu-buru, mengabaikan beberapa pelayan rumah yang menatap mereka dengan pandangan syok dan ketakutan.
Di depan pintu kamar utama, Rasti sudah berdiri memegang seuntai kunci besi dengan tangan yang gemetar hebat akibat mendengar bentakan histeris Narendra di interkom tadi.
"Buka sialan! Cepat!" bentak Narendra lagi saat tiba di depan pintu, napasnya memburu tidak beraturan.
Begitu kunci diputar dan pintu kayu jati itu terbuka lebar, aroma minyak angin yang pekat berpadu dengan hawa panas yang pengap langsung menyergap indra penciuman mereka.
Kamar mewah bergaya Eropa itu tampak begitu sunyi, hanya menyisakan visual dari layar televisi raksasa yang masih menampilkan tayangan kuliner tanpa suara.
Namun, pandangan Narendra dan Raditya langsung mengunci pada ranjang king size di sudut ruangan.
Alika terbaring di sana, namun posisinya sudah tidak lagi teratur.
Tubuh rampingnya meringkuk ke samping, kedua tangannya mencengkeram perutnya sendiri dengan sangat erat seolah sedang menahan siksaan yang luar biasa dari dalam lambungnya.
Selimut sutra putih yang membungkusnya telah tersingkap ke lantai, menampilkan sosoknya yang tampak begitu kurus, ringkih, dan tak berdaya. Bibirnya yang tadi pagi dilapisi oleh riasan tebal kini pecah-pecah, mengering, dan memancarkan semburat warna keunguan yang mengerikan.
"Alika!"
Narendra berteriak histris.
Ia melompat ke atas ranjang tanpa memedulikan penampilannya lagi, langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Namun, begitu kulit tangannya bersentuhan dengan leher dan lengan Alika, Narendra tersentak hebat. Tubuh wanita itu luar biasa panas, seperti bara api yang sedang membakar seonggok kayu kering.
"Alika, bangun! Ini aku, Mas... Mas Narendra ada di sini. Bangun, Alika, jangan bercanda seperti ini!" Narendra mengguncang bahu istrinya dengan kepanikan yang kian memuncak.
Air matanya, yang tidak pernah tumpah sejak kematian ibunya belasan tahun lalu, kini mulai menggenang di pelupuk matanya, meruntuhkan sisa-sisa topeng kejam yang selama ini ia kenakan.
"Minggir, Narendra! Jangan guncang tubuhnya!" perintah Raditya dengan otoritas medis yang mutlak, mendorong bahu Narendra menjauh dengan kasar.
Sang tiran, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, menurut tanpa memberikan perlawanan sedikit pun.
Ia mundur satu langkah ke belakang, berdiri lemas di tepi ranjang dengan pandangan kosong dan seluruh tubuh yang bergetar hebat.
Raditya dengan sigap menempelkan dua jarinya ke leher Alika, memeriksa denyut nadi karotisnya yang terasa sangat lemah namun berdetak dengan ritme yang terlampau cepat. "Nadinya lemah dan cepat... dia mengalami takikardia berat," gumam Raditya dengan rahang yang mengeras cemas.
Ia kemudian membuka kelopak mata Alika, memeriksa refleks pupilnya yang mulai melambat terhadap cahaya, lalu menempelkan telinganya langsung ke atas dada Alika.
Suara gesekan halus (friction rub) dari paru-parunya yang meradang terdengar semakin jelas, berpacu dengan napas Alika yang pendek-pendek dan dangkal.
Saat Raditya membetulkan posisi kepala Alika untuk melancarkan jalur pernapasannya, matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
Ada bercak cairan lambung berwarna gelap yang bercampur dengan semburat darah segar merembes di sudut bibir Alika yang pecah—sebuah indikasi bahwa pil zat besi yang dipaksakan masuk tadi pagi telah merusak dinding lambungnya yang memang sudah meradang akut.
Tidak hanya itu, di atas bantal sutra tempat kepala Alika bertumpu, sebuah hairpiece hitam tampak terlepas, mengekspos bagian puncak kepala Alika yang mengalami kebotakan parah (alopesia) akibat folikel rambutnya yang telah hancur diserang oleh antibodinya sendiri.
Narendra menatap seluruh pemandangan mengerikan itu dengan lutut yang mendadak lemas, membuatnya jatuh berlutut di lantai pualam di samping ranjang.
Seluruh kekuasaan, pengaruh bisnis Artha Group, dan tumpukan uang miliknya kini telah hancur lebur menjadi puing-puing tak berharga.
Ia menyadari, dengan cara yang paling kejam dan terlambat, bahwa sandiwara gila yang ia ciptakan untuk mengurung dan menghukum Alika, justru telah menjadi algojo yang siap merenggut nyawa wanita yang sebenarnya paling ia cintai di dunia ini.