Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU YANG TIDAK DIUNDANG
Suara ketukan pintu yang tidak sabaran itu bergema di seluruh paviliun, menghancurkan sisa ketenangan pagi. Keyra yang baru saja mengganti piyama bebeknya dengan kemeja flanel kebesaran, mengintip dari celah pintu kamar dengan rasa penasaran yang membuncah.
Ghazali menghela napas panjang, sebuah reaksi langka yang menunjukkan rasa tidak sukanya. Ia menyambar kaus hijaunya, memakainya dengan cepat sebelum membuka pintu depan.
Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan penampilan yang sangat kontras dengan lingkungan markas yang berdebu. Rambutnya dicat cokelat mahoni yang tertata sempurna, tas branded tersampir di lengannya, dan aroma parfum floral yang mahal langsung menusuk hidung, mengalahkan aroma tanah basah pasca badai.
"Ghazali! Ya ampun, aku khawatir setengah mati semalam!" Clarissa langsung merangsek masuk, hampir saja memeluk pria itu jika Ghazali tidak melangkah mundur dengan sigap.
"Clarissa? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Akses jalan masih ditutup untuk warga sipil," suara Ghazali terdengar lebih dingin dari biasanya, sebuah barikade tak kasat mata yang ia pasang seketika.
Clarissa mengerucutkan bibirnya manja. "Papiku yang bicara dengan Komandan Distrik. Aku tidak tahan memikirkanmu terjebak badai di barak yang... em, sedikit menyedihkan ini."
Keyra yang mengintip dari balik tembok dapur, tanpa sadar mencibir pelan. Menyedihkan katanya? Ini paviliun perwira, bukan kandang ayam!
Namun, gerakan kecil Keyra tertangkap oleh mata tajam Clarissa. Wanita itu menghentikan ocehannya dan menatap ke arah dapur dengan pandangan menyelidik.
"Ghazali... siapa itu?" tanya Clarissa, suaranya naik satu oktav. "Kenapa ada perempuan di paviliunmu sepagi ini? Dan kenapa dia memakai baju... santai sekali?"
Ghazali menoleh, mendapati Keyra yang terjebak di posisi canggung setengah bersembunyi di balik lemari es. "Dia mahasiswa magang medis. Baraknya rusak karena badai semalam, jadi dia ditempatkan di sini atas perintah pangkalan."
Keyra akhirnya memutuskan untuk keluar dengan gaya "bar-bar" andalannya. Ia berjalan santai menuju dispenser, pura-pura tidak terganggu dengan tatapan maut dari Clarissa.
"Pagi, Kapten. Pagi... cantik yang wangi banget," sapa Keyra dengan nada datar yang dibuat-buat.
Clarissa melotot, menatap Keyra dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Mahasiswa magang? Kenapa tidak tidur di tenda darurat saja? Bukankah itu lebih sesuai dengan jiwa pengabdian?"
Keyra meletakkan gelasnya dengan dentingan yang sedikit keras. "Oh, saya sih mau saja. Tapi Kapten Kulkas ini maksud saya Ghazali bersikeras menyuruh saya di sini. Katanya biar saya tidak membuat keributan di luar. Padahal menurut saya, keributan justru baru saja datang lewat pintu depan."
Wajah Clarissa memerah padam. Ia menoleh pada Ghazali, mencari pembelaan. "Ghazali! Lihat cara dia bicara padaku! Dia tidak sopan sama sekali!"
Ghazali hanya menatap mereka berdua bergantian. Ia melihat Keyra yang tampak menantang, dan Clarissa yang mulai histeris. Alih-alih membela salah satunya, Ghazali justru mengambil kunci mobilnya di atas meja.
"Clarissa, kamu tidak bisa lama-lama di sini. Area ini masih dalam status waspada bencana. Bastian akan mengawalmu keluar lewat jalur alternatif dalam tiga puluh menit," ucap Ghazali tegas, mengabaikan protes wanita itu.
Ia lalu menoleh pada Keyra. "Dan kamu, Nona Dokter. Sepuluh menitmu sudah habis. Cepat siap-siap ke klinik atau saya tambahkan hukuman lari dua kali lipat."
Ghazali berjalan keluar paviliun tanpa menoleh lagi, meninggalkan dua wanita itu dalam suasana yang mendidih.
Clarissa mendekati Keyra, menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Dengar ya, mahasiswa. Ghazali itu calon tunanganku. Jangan pikir karena kalian tinggal satu atap selama dua hari, kamu punya kesempatan. Kamu itu cuma... pengganggu sementara."
Keyra hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya ia gunakan sebelum menjahili dosen paling galak di kampus. "Calon tunangan ya? Kasihan ya, Kaptennya sepertinya belum tahu kalau dia punya calon tunangan seberisik kamu."
Tanpa menunggu jawaban, Keyra masuk kembali ke kamar untuk mengambil tas medisnya, meninggalkan Clarissa yang menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....