Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Bayangan dalam Mimpi dan Bisikan Tak Dengar
Malam semakin larut, dan Hutan Aethelgard kini diselimuti oleh kabut tipis yang dingin.
Di dalam pondok kayu itu, suasana hening, hanya terdengar suara napas teratur dari Alexandria dan deru angin yang berhembus pelan di luar jendela. Namun, di balik keheningan itu, ada sesuatu yang bergerak—bukan di dunia nyata, tapi di alam mimpi Alexandria.
Alexandria terbangun dalam mimpinya di sebuah tempat yang asing namun terasa akrab. Ia berdiri di tengah sebuah hutan yang sama sekali berbeda dengan Aethelgard. Pohon-pohon di sini lebih tinggi dan megah, dengan daun yang berkilauan seperti emas dan perak di bawah cahaya bulan yang terang benderang. Udara di sini terasa manis, beraroma bunga-bunga yang tidak ia kenal, dan ada suara musik lembut yang entah dari mana datangnya, seolah memainkan nada yang menyentuh jiwa.
"Di mana ini?" bisik Alexandria pelan, berjalan perlahan di antara pepohonan yang megah itu.
Tiba-tiba, ia melihat sosok seorang pria berdiri tidak jauh darinya, membelakangi dirinya. Pria itu mengenakan jubah panjang berwarna biru tua yang disulam dengan benang emas, tampak anggun dan berwibawa. Tubuhnya tegap, dan ada aura kekuatan yang memancar darinya, aura yang sangat familiar bagi Alexandria.
Jantung Alexandria berdegup kencang.
"Hei..." panggilnya pelan. "Siapa kamu?"
Pria itu perlahan berbalik. Namun, wajahnya masih tertutup oleh kabut tipis yang seolah tidak ingin hilang. Alexandria hanya bisa melihat samar-samar garis rahang yang tegas dan bibir yang bergerak, seolah sedang memanggil namanya.
"Alexandria..." suara itu terdengar dalam, lembut, namun bergema di seluruh ruang mimpi itu.
Suara itu membuat hati Alexandria bergetar hebat. Rasanya begitu akrab, seolah ia sudah mendengarnya ribuan kali, meski ia tahu ia belum pernah mendengarnya sebelumnya.
"Kamu... kamu siapa?" tanya Alexandria lagi, langkah kakinya maju selangkah, ingin mendekat, ingin melihat wajah itu dengan jelas.
"Apakah kamu... apakah kamu berhubungan dengan Kumbang?"
Sebutan nama itu sepertinya membuat pria itu tersenyum. Meski wajahnya samar, Alexandria bisa merasakan senyuman itu. Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Alexandria, menawarkannya untuk menggenggamnya.
"Datanglah padaku, Alexandria. Aku di sini... aku selalu di sini."
Alexandria mengulurkan tangannya juga, ingin sekali menyentuh tangan itu, ingin sekali tahu siapa pemilik suara dan aura yang menenangkan ini. Namun, tepat saat jari-jarinya hampir menyentuh jari pria itu, pemandangan di sekitarnya tiba-tiba berubah. Hutan yang indah itu menghilang, digantikan oleh kegelapan pekat yang menakutkan. Suara musik yang indah berubah menjadi jeritan dan geraman marah.
Dan di hadapannya, pria itu kini tampak kesakitan. Tubuhnya bersinar dengan cahaya hitam dan emas yang menyilaukan, dan Alexandria bisa melihat bayangan seekor macan kumbang yang besar melingkar di sekitar tubuh pria itu, seolah sedang berusaha menelan atau menyatu dengannya.
"Alexandria... lari!" suara pria itu berubah, kini terdengar panik dan menyakitkan.
"Lari menjauh dariku! Aku berbahaya!"
"Tidak!" teriak Alexandria, air matanya mengalir tanpa sadar.
"Aku tidak akan meninggalkanmu! Aku tidak akan meninggalkan Kumbang!"
Ia berusaha berlari mendekat, ingin menarik pria itu keluar dari kegelapan itu, tapi kakinya terasa berat, seolah tertanam di tanah. Ia hanya bisa menonton dengan hati hancur saat pria itu dan bayangan macan kumbang itu perlahan menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan suara erangan kesakitan yang memilukan.
"JANGAN!" teriak Alexandria sekuat tenaga.
......
"Alexandria! Alexandria, bangunlah!"
Suara yang khas, suara yang selalu menenangkannya, membuyarkan mimpi buruk itu. Alexandria membuka matanya dengan terengah-engah, napasnya memburu, dan keringat dingin membasahi dahinya. Pemandangan di hadapannya bukan lagi hutan aneh atau kegelapan menakutkan, melainkan langit-langit kayu kamarnya yang familiar, dan wajah cemas dari sosok besar yang sedang berjongkok di samping tempat tidurnya.
Itu adalah Kumbang. Macan kumbang itu menatapnya dengan mata keemasan yang penuh kekhawatiran. Ia menjulurkan lidahnya yang hangat, menjilati air mata yang ternyata mengalir di pipi Alexandria dengan lembut.
"Kumbang..." bisik Alexandria, suaranya bergetar.
Ia segera duduk, lalu memeluk leher macan itu dengan erat, seolah takut jika ia melepaskan pelukannya, makhluk itu akan menghilang seperti di dalam mimpinya.
"Kamu ada di sini... kamu benar-benar ada di sini."
Macan itu mengeluarkan suara dengungan rendah yang menenangkan, tubuhnya yang hangat memberikan rasa nyaman yang luar biasa bagi Alexandria yang masih gemetar karena mimpi itu. Ia menggosokkan kepalanya ke bahu Alexandria, berulang-ulang, seolah ingin mengatakan bahwa ia tidak akan ke mana-mana.
"Aku bermimpi buruk, Kumbang," cerita Alexandria pelan, saat napasnya mulai teratur kembali.
"Aku bermimpi tentang seorang pria... dan tentang kamu. Atau... apakah pria itu adalah kamu?" Ia melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata macan itu lekat-lekat.
"Di mimpiku, kamu dan dia adalah satu. Kamu kesakitan, Kumbang. Kamu menyuruhku untuk lari, tapi aku tidak mau. Aku tidak mau meninggalkanmu."
Mata keemasan itu menatapnya dengan intensitas yang luar biasa. Dalam tatapan itu, Alexandria bisa melihat rasa sedih, rasa sakit, dan juga rasa cinta yang mendalam. Seolah-olah macan itu mengerti setiap kata yang diucapkannya, seolah-olah mimpi itu bukan sekadar bunga tidur, tapi sebuah pesan, sebuah potongan dari kebenaran yang tersembunyi.
Leonard merasa hancur melihat Alexandria menangis karena mimpi itu. Ia ingin sekali berbicara, ingin sekali mengatakan bahwa itu adalah masa lalunya, bahwa itu adalah rasa sakit yang ia alami, dan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan Alexandria terluka karenanya. Tapi mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara geraman dan dengungan. Ia terkurung, dan itu adalah siksaan terbesar baginya saat ini.
Namun, sentuhan Alexandria, pelukan hangatnya, dan kata-kata sayangnya adalah obat yang paling ampuh. Setiap kali wanita itu mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkannya, hati Leonard terasa penuh, seolah semua penderitaan bertahun-tahun itu terbayar lunas dengan satu kalimat itu.
"Jangan khawatir," bisik Alexandria, seolah membaca pikiran macan itu.
Ia mengusap kepala macan itu dengan lembut. "Aku di sini. Kita akan menghadapi apa saja bersama-sama. Baik itu mimpi buruk, atau orang-orang yang mengintai kita. Aku tidak takut selama kamu ada di sampingku."
Malam itu, Alexandria tidak kembali tidur di kamarnya. Ia memutuskan untuk tidur di ruang tengah, di samping Kumbang. Ia berbaring di atas karpet tebal yang empuk, sementara macan itu berbaring di sampingnya, kepalanya bertumpu di dekat dada Alexandria, membiarkan wanita itu mendengar detak jantungnya yang kuat dan teratur—bukti bahwa ia nyata, bahwa ia ada di sana.
Suara detak jantung itu menjadi lagu pengantar tidur bagi Alexandria. Perlahan, rasa takutnya menghilang, dan ia pun terlelap lagi, kali ini dengan tidur yang nyenyak dan damai, tanpa mimpi buruk yang mengganggu.
Keesokan harinya, matahari bersinar cerah, seolah ingin menghapus semua kesedihan dan ketakutan dari malam sebelumnya. Alexandria bangun dengan perasaan yang lebih segar, meski masih ada sisa rasa aneh dari mimpinya yang terus menghantuinya.
Hari itu, Alexandria memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sudah lama ingin ia lakukan. Ia ingin mencari tahu lebih banyak tentang masa lalunya, tentang apa yang sebenarnya diketahui oleh orangtuanya tentang hutan ini dan tentang makhluk-makhluk yang mungkin tinggal di dalamnya.
Ia ingat bahwa ayahnya, Elias, memiliki sebuah kotak kayu tua yang disimpan di lemari paling atas di ruang kerja ayahnya. Di dalamnya, ada buku-buku catatan dan peta-peta kuno yang jarang sekali ia sentuh.
Mungkin di sana ada jawabannya, pikir Alexandria. Mungkin di sana ada penjelasan tentang mimpiku, tentang Kumbang, dan tentang takdirku.
Dengan semangat baru, Alexandria mulai mencari kotak itu. Macan kumbang itu mengikutinya kemana saja, matanya mengamati setiap gerakannya dengan rasa ingin tahu juga. Saat Alexandria berdiri di atas kursi dan meraih kotak kayu tua yang berdebu itu dari atas lemari, macan itu berdiri tegak di bawahnya, siap menangkap jika Alexandria terpeleset.
"Ada ini, Kumbang," kata Alexandria dengan senyum tipis, sambil menurunkan kotak itu dengan hati-hati.
Kotak itu terbuat dari kayu Oak yang kuat, dengan ukiran pola bunga dan hewan yang sudah mulai pudar karena usia.
Alexandria membuka tutup kotak itu. Debu halus terbang sedikit, membuatnya bersin pelan. Di dalamnya, memang ada beberapa buku catatan bersampul kulit, gulungan kertas yang ternyata adalah peta, dan juga beberapa benda kecil yang terlihat seperti jimat atau artefak kuno.
Alexandria mengambil salah satu buku catatan yang paling tebal. Itu adalah buku catatan ayahnya. Ia membuka halaman pertamanya. Tulisan tangan ayahnya yang tegak dan rapi terlihat jelas di sana.
"Hutan Aethelgard bukan sekadar hutan. Ia adalah jembatan. Jembatan antara dunia kita dan dunia lain yang penuh keajaiban dan misteri. Penduduknya bukan hanya hewan dan tumbuhan, tapi juga makhluk yang memiliki kekuatan luar biasa, yang kita sebut sebagai Penjaga Alam..."
Mata Alexandria membelalak membaca kalimat itu. Jantungnya berdegup kencang. Jadi ayahnya benar-benar tahu! Dunia lain... Penjaga Alam... Apakah itu yang dimaksud dengan Kumbang? Apakah Kumbang adalah salah satu dari Penjaga Alam itu?
Ia terus membaca dengan cepat, matanya menyapu baris demi baris tulisan ayahnya. Ayahnya menulis tentang legenda kuno, tentang perjanjian antara manusia dan penduduk dunia lain, tentang kutukan yang bisa menimpa siapa saja yang melanggar aturan, dan tentang... tentang sosok "Penyeimbang" yang akan datang dari garis keturunan manusia untuk menyatukan dua dunia.
Dan di salah satu halaman, ada gambar sketsa yang membuat napas Alexandria tercekat di tenggorokan.
Itu adalah gambar seekor macan kumbang yang besar dan gagah, dengan mata yang berwarna keemasan menyala. Dan di sampingnya, ada sketsa seorang pria tampan dengan pakaian bangsawan, yang memiliki mata yang sama persis—mata keemasan yang sama dengan macan itu, dan sama dengan mata Kumbang-nya.
Di bawah gambar itu, ada tulisan ayahnya.
"Pangeran dari Eldoria, yang terkurung dalam wujud binatang karena pengkhianatan. Hanya ikatan jiwa yang murni yang bisa membebaskannya."
"Eldoria..." bisik Alexandria, suaranya bergetar.
Nama itu terasa familiar, seolah ia pernah mendengarnya di suatu tempat. Tunggu... Eldoria! Itu adalah nama hutan di mimpinya tadi malam!
Ia menoleh cepat ke arah macan kumbang yang sedang duduk menatapnya dengan tenang. Mata keemasan itu menatapnya, dan kali ini, Alexandria melihat sesuatu yang berbeda. Bukan lagi sekadar mata hewan, tapi mata seorang pria, mata pangeran dari cerita ayahnya, mata pria di mimpinya.
"Kumbang..." bisik Alexandria pelan, air matanya kembali menetes.
"Apakah kamu... apakah kamu dia? Apakah kamu Pangeran dari Eldoria itu?"
Macan itu tidak menjawab, tapi ia berdiri, berjalan perlahan mendekati Alexandria, lalu meletakkan kepalanya di atas buku catatan yang terbuka itu, tepat di atas gambar macan kumbang dan pria itu. Gerakan itu begitu jelas, begitu penuh makna.
Itu adalah jawaban.
Dunia Alexandria berputar. Semua tebakan, semua mimpi, semua perasaan aneh itu ternyata benar. Makhluk yang ia rawat, makhluk yang ia cintai, bukanlah sekadar hewan. Dia adalah manusia, seorang pangeran, yang terkurung dalam wujud macan karena kutukan.
Dan entah kenapa, alih-alih merasa takut atau terkejut, Alexandria justru merasa lega. Semuanya akhirnya masuk akal. Tatapan matanya, kecerdasannya, perasaannya... semuanya.
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh wajah macan itu dengan lembut, penuh kasih sayang dan rasa hormat yang baru.
"Jadi... itu kamu, ya," bisiknya pelan.
"Pangeran yang kesepian. Maafkan aku karena baru tahu sekarang. Tapi tidak peduli apa pun wujudmu... kamu tetap Kumbang-ku. Kamu tetap orang yang paling aku sayangi di dunia ini."
Mendengar kata-kata itu, macan kumbang itu—Leonard—menutup matanya, seolah merasa lega dan bahagia yang luar biasa. Ia menjilat tangan Alexandria dengan lembut, penuh rasa terima kasih. Rahasia terbesarnya akhirnya terungkap, dan wanita yang ia cintai menerimanya, bahkan sebelum ia sempat menjelaskan apa pun.
Namun, mereka berdua tahu bahwa ini bukanlah akhir. Ini hanyalah awal dari babak baru. Masih banyak rahasia yang perlu diungkap, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab, dan masih banyak bahaya yang perlu dihadapi.
Tapi untuk saat ini, di bawah sinar matahari pagi yang hangat itu, mereka hanya ingin menikmati momen di mana kebenaran mulai terungkap, dan ikatan di antara mereka menjadi semakin kuat, tak terputuskan oleh apa pun.