Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
.
Dirga masih belum bergerak. Menatap punggung wanita itu yang kian menjauh, pria itu mencoba mengatur emosinya. Meraup wajahnya kasar. Dia sendiri juga tidak tahu, kenapa setiap kali bersama Amanda, dia selalu saja ingin berdebat.
“Ingat ya, Yah. Pastikan Bu Manda selamat sampai rumahnya!”
Dirga memejamkan matanya ketika pesan Putri terngiang di kepalanya.
“Shit..!” umpatnya memukul setir mobil dengan kepalan tangannya. Jika ada sesuatu dengan wanita itu, dia yang akan mendapat amukan dari Putri.
“Apa susah bagi wanita itu untuk diam dan bilang ‘iya’ saja?” Entah apa yang membuatnya tidak terima. Mungkin, seharusnya Amanda tidak menjawab meski dia menggerutu. Mestinya Amanda merengek memohon untuk tidak diturunkan di pinggir jalan.
“Wanita bar-bar seperti dia, bagaimana bisa menjadi guru kesayangan Putri. Apa wanita itu memakai ilmu guna-guna?” Entah apa yang terjadi sebenarnya. Pikiran pria itu semakin liar ke mana-mana.
Dirga menjalankan kembali mobilnya, mengejar punggung Amanda yang terlihat semakin mengecil.
“Naik!” seru Dirga menurunkan kaca mobilnya setelah berhasil menyamai langkah Amanda.
Amanda bersikap acuh. Tak sudi dia ikut lagi dengan mobil pria yang dia juluki ‘Duda Gila’ itu.
Dirga semakin geram dengan sikap Amanda yang berpura-pura tak mendengar teriakannya. Menepikan mobil dan memarkirnya, Dirga bergegas turun dan menbanting pintu dengan kesal, lalu mengejar wanita yang berjalan tak jauh di depannya.
“Aku bilang naik ke mobil!” Geram Dirga setelah berhasil mencekal tangan Amanda.
“Lepas!” Amanda meringis akibat cengkeraman tangan Dirga.
“Apa tidak bisa sekali saja bersikap patuh?” Dirga menatap Amanda dengan rahang mengeras menahan kesal.
“Kau pikir kau itu siapa, sampai aku harus patuh padamu?” Amanda mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Dirga tetapi gagal. Dia kalah tenaga.
“Naik ke mobil atau kau mau tanganmu ini patah?!” Dirga mencengkeram tangan itu semakin erat.
“Lepas! Apa maumu sebenarnya? Kau menyuruh turun, aku sudah turun. Apa lagi sekarang?”
“Aku hanya ingin menjalankan amanat putriku. Jadi, cepat kembali ke mobil!” seru Dirga.
“Tidak perlu! Katakan saja pada Putri kalau kau sudah mengantarku. Beres kan?” Manda masih mencoba untuk melepaskan tangannya.
“Aku bukan pembohong! Dan aku juga bukan seorang yang suka ingkar janji apalagi pada putriku sendiri.”
Tidak sabar menghadapi sikap Amanda yang keras kepala, Dirga menarik paksa wanita itu. Tarik menarik terjadi karena Amanda yang terus meronta, hingga menarik perhatian beberapa orang yang berada di sekitar mereka.
“Hei, ada apa ini?” Seorang pria berseragam satpol PP mendekat.
“Tolong, dia ingin memaksa saya.” Amanda memanfaatkan kesempatan. Dengan adanya orang-orang yang berkerumun, Duda gila itu tidak akan berani memaksanya lagi. Namun, dia salah.
“Maafkan kami.” Dirga mengeluarkan raut wajah bersalah. “Dia ini calon istri saya. Dia sedang ngambek karena minta dibelikan berlian. Padahal saya sudah berjanji akan membelikan nanti sepulang dari luar negri.”
Pria yang telah menduda selama sembilan belas tahun itu menyeringai licik. Jika Amanda bisa bermain drama, dia juga bisa.
Amanda membelalakkan matanya. Bisa-bisanya si Duda Gila ini mengarang cerita seperti itu.
“Jadi ini yang benar yang mana?” Tanya satpol PP lagi.
“Dia bohong! Dia itu… “
“Pak..?” Dirga memotong ucapannya Amanda. “Itu mobil saya. Dan tolong lihat pakaian saya. Apa saja terlihat seperti seorang penjahat?” Tanya Dirga
Satpol PP itu menoleh ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan yang ditunjuk oleh Dirga. Mobil mewah keluaran terbaru, dan termasuk jenis limited edition. Ia pun memperhatikan Dirga secara seksama. Sama sekali tidak nampak jika Dirga seorang penjahat.
“Jangan percaya, Pak!” seru Amanda tak mau menyerah. “Jaman sekarang banyak penjahat berdasi,” lanjutnya sambil berusaha melepaskan tangan yang masih berada dalam cengkraman Dirga.
“Baiklah kalau Anda ragu.” Dirga melepaskan tangan Amanda untuk meraih dompet yang tersimpan di saku belakang celananya. “Ini kartu identitas saya. Apa Anda bisa mengenali nama dalam kartu ini?”
“Anda adalah Tuan Dirga Wijaya?” Mata satpol PP itu terbelalak melihat nama yang tertera di kartu. Berulang kali membandingkan foto dengan wajah yang ada di hadapan nya. Dan pria dihadapannya benar-benar Dirga Wijaya, yang wajahnya sering mondar-mandir di layar televisi dan media bisnis.
“Nyonya, harusnya Anda bisa bersabar jika kekasih Anda sudah berjanji akan membelikan apa yang Anda inginkan.” petugas Satpol PP menghela nafas menatap wajah Amanda. Sudah pasti wanita ini yang salah, karena pasal satu: Tuan Dirga tidak pernah salah. Dan jika pun salah, kembali ke pasal satu. Tuan Dirga tetap benar.
Amanda kalah dan mengikuti Dirga masuk mobil karena tidak mau semakin menjadi tontonan.
Di sepanjang perjalanan, keduanya hanya saling diam. Amanda memalingkan muka menatap jalanan yang mereka lewati dengan dua tangan yang bersilang di depan dada. Malas melihat wajah Dirga yang menyebalkan.
*
Mobil Dirga berhenti di halaman sebuah rumah kecil yang terletak di tengah gang sempit. Amanda langsung turun tanpa berucap sepatah katapun.
“Manusia tidak tahu terima kasih.” Dirga bergumam kesal. Merasa penasaran, Dirga ikut turun dari mobil. Dengan dua tangan tersimpan di saku celana, ia berjalan perlahan ke arah pintu rumah sambil mengamati sekeliling.
Dinding rumah berwarna putih yang mulai menguning akibat usia, namun terlihat sangat rapi dengan beberapa tanaman hias yang tumbuh subur di sekitarnya. Dirga tidak pernah mengira Amanda tinggal di tempat seperti ini.
Tepat saat Amanda membuka pintu kayu rumah, suara kegembiraan terdengar dari dalam.
“Bu Manda sudah pulang!” seru seorang gadis kecil dengan rambut ikal yang melompat-lompat mendekati Amanda, diikuti oleh beberapa anak lain yang berhamburan memeluknya, tertawa sambil menghapus air mata.
Sesosok pria lanjut usia dengan wajah keriput dan rambut yang sudah sepenuhnya memutih muncul dari dalam rumah. “Kamu akhirnya pulang, Nak. Kita semua khawatir karena kamu tidak pulang semalam,” ucap pria itu, Hendra, ayah Amanda.
“Maaf, Pak. Ada masalah kemarin malam, jadi aku harus menginap di rumah teman,” jelas Amanda sambil memeluk anak-anak yang sedang berkumpul di sekelilingnya.
Seorang gadis remaja dengan wajah mirip Amanda mendekat dengan kruk untuk membantunya berjalan. “Kakak, Dinda khawatir,” ucap gadis itu ikut memeluk menangis sesenggukan.
Pak Hendra menoleh ke arah Dirga yang berdiri di dekat pintu. Ia sedikit terkejut namun tetap tersenyum ramah. “Siapa yang mengantar kamu pulang, Nak?” tanyanya.
Amanda segera berbalik dan terkejut karena tidak menyangka Dirga ikut turun. “Itu Tuan Dirga, Pak. Dia ayahnya Putri, yang dulu sering main ke sini,” jelasnya.
Dirga mengangguk sebagai tanda hormat dan menyapa Pak Hendra serta Dinda dengan sopan. “Salam kenal, Pak. Saya Dirga. Maafkan jika kedatangan saya mengganggu.”
Mata Amanda memicing melihat sikap Dirga yang berubah 180 derajat. Ternyata, Dirga bisa juga bersikap sopan.
“Tidak apa-apa, Tuan. Silakan masuk! Maaf rumah kami kecil,” ucap Pak Hendra tersenyum hangat.
Dirga masuk ke dalam rumah dan menelan ludahnya kasar. Luas dari seluruh rumah itu bahkan tidak ada separuh dari luas kamar Putri.
“Kalian sudah makan?” mengabaikan keberadaan Dirga, Amanda menyapa anak-anak asuhnya penuh perhatian.
Dirga duduk di kursi melihat bagaimana Amanda begitu menyayangi anak-anak yang sama sekali bukan anaknya. Begitupun anak-anak itu tampak sangat mencintai Amanda.
Bagaikan sesuatu menyentuh hatinya manakala sekelebat kenangan masa silam kembali hadir, ketika almarhum istrinya bersama dengan Putri bercengkerama dengan anak-anak di Panti Asuhan. Bibirnya tanpa sadar tersenyum.
“Susi…”
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.