NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:920
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Usai sarapan, suasana sedikit lebih tenang. Dinda dengan sigap membereskan piring-piring kotor dan mencucinya dengan cepat. Ia tidak mau membuang waktu.

"Pak... Bu... Dinda minta ijin berangkat dulu ya. Hari ini Dinda ada kuliah pagi, terus lanjut kerja sore di kafe." pamit Dinda .

Bu Sari tersenyum bangga namun juga sedih. "Iya Nak. Hati-hati di jalan ya. Kamu ini memang anak hebat. Sudah baik, rajin, bertanggung jawab lagi."

"Jangan terlalu capek ya Din. Kalau butuh apa-apa bilang sama Bapak."

"Iya Pak, Bu. Dinda berangkat dulu ya. Assalamualaikum."

Nayla yang masih duduk malas di sofa mendengar ucapan Dinda, langsung menyahut dengan nada sinis.

"Halah, sok sibuk banget sih. Mau ke kampus, mau kerja segala. Emang uangnya banyak apa? Pasti gajinya cuma cukup buat beli beras doang kan? Dasar budak."

Dinda tidak menggubris ocehan itu. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mengenakan tas punggungnya dan berjalan keluar rumah dengan langkah tegap.

Beruntung sekali bagi Dinda, beberapa hari yang lalu saat ia dipanggil pulang oleh keluarga Dewantara, ia hanya mengambil cuti sementara dan belum resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya di kafe tersebut. Manajernya pun orangnya baik dan mengizinkan Dinda kembali bekerja seperti biasa.

Ini menjadi penyelamat baginya. Setidaknya ia masih punya penghasilan sendiri, tidak perlu meminta-minta, dan bisa tetap mandiri meski kini ia kembali tinggal di rumah sederhana ini.

 Sementara itu, di dalam rumah...

Setelah kepergian Dinda, suasana menjadi sepi. Nayla merasa bosan setengah mati. Tidak ada AC yang dingin, tidak ada TV layar lebar yang menayangkan saluran keren, tidak ada internet kencang, dan yang paling parah... tidak ada yang melayaninya.

"Nayla... kalau sudah selesai duduk manisnya, tolong bantuin Ibu nyapu halaman ya. Atau setrika baju." perintah Bu sari kepada anak kandungnya.

Nayla langsung melengos kesal. "Hah?! Nyapu?! Setrika?! Bu apa-apaan sih! Aku kan anak muda! Aku butuh hiburan! Aku butuh wifi! Aku gak mau capek-capek!"

Pak Agus menghela napas panjang. "Di sini tidak ada yang santai Nay. Kalau mau makan, ya harus kerja. Dinda saja bisa kerja dan kuliah, kenapa kamu tidak bisa bantu sedikit saja?"

Nayla mendengus kasar. "Dinda kan emang pembantu! Udah bakatnya gitu! Aku beda! Aku terlahir buat dilayani! Bukan buat melayani!"

Nayla berdiri dan masuk kembali ke kamar, mengunci pintu. Ia melemparkan dirinya ke kasur, memeluk bantal dengan penuh amarah.

"Sialan... Semua berubah gara-gara Dinda! Dia yang enak-enakan jadi putri keluarga kaya, kuliah enak, kerja juga dapat pujian. Sedangkan aku... aku harus terjebak di lubang neraka ini!"

Ia semakin benci melihat betapa tangguh dan mandirinya Dinda. Sementara dirinya sendiri, merasa tidak berguna dan tidak bisa apa-apa tanpa harta dan pelayan.

Perjalanan menuju kampus ditempuh Dinda dengan menggunakan ojek online. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, sedikit banyak membantu menenangkan pikirannya yang sempat kacau pagi tadi.

Sesampainya di gerbang kampus, Dinda baru saja turun dari motor ketika terdengar suara teriakan yang sangat akrab di telinganya.

"DINDA!! HEY KAWAN!!"

Dua orang gadis berlari kecil menghampirinya dengan wajah ceria. Mereka adalah Angel dan Mira, sahabat karibnya sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Persahabatan mereka sudah terjalin bertahun-tahun, melewati segala suka duka bersama.

Angel langsung memeluk Dinda erat. "Akhirnya lo muncul juga Din! Kita kangen berat tau! Kemana aja sih lo beberapa hari ini? Kabur aja gitu!"

Mira memegang kedua bahu Dinda, menatapnya lekat-lekat. "Iya nih! Kita denger kabar aneh sih... katanya lo ketemu orang tua kandung lo? Katanya lo jadi anak orang kaya gitu? Tapi kok hari ini lo dateng pake ojek online lagi? Dan kenapa mata lo bengkak gitu? Lo habis nangis ya?"

Dinda tersenyum tipis, namun kali ini senyumnya terlihat sedikit getir dan lelah.

 "... Iya, bener kok. Kemarin emang aku diajak pulang sama keluarga asli aku. Keluarga Dewantara. Mereka orang kaya, rumahnya gedhe banget."

Angel terbelalak kaget. "WUIH SERIUS?! Wah keren dong! Berarti lo sekarang cewek sultan ya?!"

Dinda menggeleng pelan, lalu menceritakan semuanya dengan jujur. "Enggak Gel... Bukan gitu ceritanya. Di sana aku enggak bahagia. Aku difitnah, aku dituduh jahat, dan mereka lebih percaya sama anak angkat mereka daripada sama aku. Akhirnya... aku milih pulang lagi ke rumah Ibu Sari. Aku lebih nyaman di sana."

Mendengar cerita Dinda, wajah Angel dan Mira langsung berubah menjadi sedih dan marah. Mereka tidak peduli Dinda sekarang kaya atau miskin. Yang mereka pedulikan adalah perasaan sahabat mereka.

Mira memeluk Dinda lagi, kali ini lebih erat. "Ya ampun Din... Kasihan banget sih lo. Ternyata jadi orang kaya juga gak menjamin bahagia ya. Maafin mereka ya Din. Terserah mereka deh kalau gak bisa hargain lo. Yang penting lo ada kita!"

Angel menepuk-nepuk punggung Dinda sembari mendengus kesal. "Bener banget! Mending lo di sini sama kita! Kita kan temenan dari jaman malu-malu, jaman serba pas-pasan, dan kita gak pernah ninggalin lo! Orang tua kandung lo aja tega nyakitin lo, biarin aja mereka nyesel seumur hidup!"

Dinda tersenyum hangat mendengar ucapan sahabat-sahabatnya. Hatinya terasa lebih ringan. Memang benar kata orang, rumah bukanlah tempat yang punya dinding dan atap mewah, tapi rumah adalah tempat di mana ada orang-orang yang menyayangimu apa adanya.

"Makasih ya guys... Makasih udah selalu ada buat aku. Kalau gak ada kalian, mungkin aku udah nyerah dari lama."

 "Yeee apaan tuh makasih-makasih! Sahabat apa-apaan kalau musuhan! Udah ah jangan sedih lagi! Hari ini kita kuliah seru-seruan aja! Nanti sore temenin kita jajan ya, kita yang traktir! Biar lo gak mikirin masalah mulu!"

"Setuju! Lagian siapa yang butuh harta kalau hati kita bahagia kan? Ayo masuk kelas! Dosennya udah dateng kayaknya!"

Mereka bertiga pun berjalan bergandengan tangan masuk ke area kampus. Tawa mereka kembali terdengar ceria. Di mata Angel dan Mira, Dinda tetaplah Dinda yang sama. Gadis baik, pintar, dan menyenangkan. Status sosial tidak pernah menjadi penghalang persahabatan mereka.

Jam istirahat berbunyi nyaring. Dinda, Angel, dan Mira berjalan santai menuju kantin kampus. Wajah Dinda kini sudah kembali ceria, ditemani sahabat-sahabatnya membuatnya lupa sejenak akan masalah yang menimpanya di rumah.

Kecantikan Dinda memang tidak bisa ditutup-tutupi. Wajahnya yang ayu, kulit putih bersih, dan tatapan matanya yang lembut merupakan perpaduan sempurna dari genetika Liana dan Leonardo. Meski hanya mengenakan baju kampus sederhana dan tas biasa, ia tetap terlihat anggun dan memancarkan aura yang berbeda.

Namun, keindahan itu justru menjadi duri dalam daging bagi orang-orang yang hatinya iri dan dengki.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan datanglah sekelompok gadis yang dikenal sebagai Geng Ratu Gengsi. Mereka berjalan dengan gaya sok keren, dandanan menor, dan selalu berjalan beriringan seolah-olah mereka pemilik kampus. Pemimpinnya bernama Sasha, gadis yang merasa dirinya paling cantik, paling kaya, dan paling berkuasa di kampus.

Sasha dan gengnya langsung memblokir jalan Dinda dan teman-temannya.

Sasha: tersenyum sinis sambil memutar-mutar rambutnya.

"Halah... lihat deh siapa yang lewat. Si Bidadari Kampung! Tumben keluar lubang lo Din? Kemana aja? Gak jadi jadi anak orang kaya itu?"

Dinda mencoba bersabar dan ingin lewat.

"Permisi ya, kami mau lewat."

Santi menahan bahu Dinda dengan kasar.

"Dih, kenapa buru-buru? Jawab dulu dong pertanyaan Ketua kami! Katanya lo anak pengusaha? Anak orang kaya? Kok kayaknya gak ada bedanya sama pengemis sih? Masih aja pake baju murahan!"

Angel sudah tidak tahan. "Heh! Kalian jangan kurang ajar ya! Urus hidup kalian sendiri aja deh! Ribet!"

 "Iya nih! Jangan sok keras kalian! Cantik-cantik tapi kelakuannya sampah!"

Sasha tertawa keras dan mengejek. "Hahaha... Dengar gak kalian? Mereka belain! Hei Dinda! Lo tahu gak sih? Lo itu cantik sih... tapi sayang banget! Cantiknya itu murahan! Gak ada kelasnya! Bedalah sama kita yang cantiknya elegan dan berkelas!"

Sasha mendekatkan wajahnya ke Dinda.

"Gue tahu kok lo iri sama kita! Iri karena kita bisa beli baju mahal, iri karena kita punya pacar ganteng, iri karena kita disegani! Makanya lo cari perhatian dengan pura-pura baik hati kan? Sok suci banget sih lo!"

Sasha mendorong bahu Dinda sedikit. "Dan denger-denger lo sekarang tinggal di daerah kumuh lagi ya? Gagal jadi putri kaya? Hahaha... Nasib nasib... Lahir dari rahim siapa aja emang gak bisa dipilih, tapi kenapa sih hidup lo gitu-gitu aja? Cupu banget deh!"

Geng Sasha pun tertawa terbahak-bahak, mengejek dan menunjuk-nunjuk Dinda. Mereka sangat iri melihat kecantikan alami Dinda yang jauh lebih memikat daripada buatan mereka, sehingga mereka harus merendahkan Dinda untuk merasa lebih tinggi.

Dinda menunduk, tangannya mengepal kuat menahan air mata agar tidak jatuh. Ia sedih, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lemah.

Dinda berucap pelan namun tegas. "Aku tidak pernah merasa iri sama kalian. Cantik itu bukan soal baju atau uang, tapi soal hati. Dan selama aku merasa bahagia dengan hidupku, kalian tidak punya hak buat menghakimi aku."

"Hah?! Berani banget ya lo ngomong gitu?! Lo mau diapain ha?!" bentak sasha .

Sasha siap untuk mendorong Dinda lebih keras lagi, dan teman-temannya sudah siap ikut main tangan tapi teman - teman Dinda bersiap untuk melawan mereka .

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!