NovelToon NovelToon
Love Unscripted

Love Unscripted

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: CieMey

Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.

Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang nya yang tak pernah hilang

Ruang ujian yang semakin berkurang isinya itu terasa semakin menegang, semua peserta terlihat lebih tegang dan mencoba untuk lebih fokus.

"Waktu mengerjakan tinggal 15 menit lagi"

Suara pengawas membuat Vanya tambah panik.

Vanya mecoba sebisa mungkin mengingat rumus yang diajarkan Nana.

"Waktu mengerjakan tinggal 10 menit"

Banyak peserta yang mulai berdiri mengumpulkan kertas jawaban mereka.

Vanya memejamkan matanya mencoba menenangkan pikiran nya. Seketika Vanya ingat dengan rumus itu.

Tanpa membuang buang waktu, Vanya langsung mengerjakan dua soal itu. Tepat setelah pengawas memberi tau waktu mengerjakan tinggal 5 menit lagi, Vanya berhasil mengerjakan seluruh soal.

Vanya berdiri dan mengumpulkan kertas soal. Vanya berjalan keluar, dan tersenyum kepada Nana yang tengah menunggu nya.

"Kok lama ?" tanya Nana yang tersenyum melihat Vanya yang baru saja keluar ruangan.

"iya tadi gue lupa rumus pas tinggal dua soal lagi...untung tadi gue tiba tiba inget rumus yang Lo ajarin" jawab Vanya yang sudah berada di atas motor milik Nana.

"Irgi sama Farida kemana?"

"Farida udah di jemput ayahnya, Irgi udah jalan duluan mau main katanya" jawab Nana sambil menyalahkan motornya.

"yaudah... kita jalan jalan dulu ya" kata Nana sambil menarik tangan Vanya.

"Iya"

Vanya terus tersenyum, iya benar benar senang dapat menyelesaikan soal soal yang cukup sulit itu. Apalagi saat ini ia sedang bersama Nana, rasa senang nya bertambah beribu ribu kali lipat.

"Van makan dulu ya" kata Nana yang berhenti didepan restoran.

"Ayo... Gue juga laper" jawab Vanya sambil melangkah turun dari motor.

Mereka menghabiskan makanan tanpa ada yang mengeluarkan suara. Vanya sedikit bingung, mengapa Nana hanya diam saja. seperti ada yang sedang di pikirkan. Bahkan saat ini Vanya dapat melihat tatapan sendu dari mata Nana.

"Apa dia sakit?" Vanya tak berani menanyakan ke Nana bahkan Vanya tak berani mengeluarkan suaranya.

"Van" suara lemah milik Nana menyadarkan Vanya dari lamunannya.

"Iya" Vanya dapat merasakan ada kesedihan yang mendalam di diri Nana.

"Nanti temenin gue dulu ya"

"Iya" Vanya tak berani menanyakan tujuan mereka. Ia hanya menuruti saja keinginan Nana. Ia tahu saat ini Nana sedang membutuhkannya.

setelah sampai di tempat tujuan, Vanya bingung kenapa Nana malah mengajak nya ke tempat pemakaman.

"Nana kok kita ke pemakaman?" tanya Vanya bingung.

Nana hanya tersenyum. Tatapan sendu terlihat begitu jelas di kedua mata Nana. "Ada yang ingin gue kenalin ke Lo" Nana berjalan menuntun Vanya.

Vanya hanya bisa diam mengikuti langkah Nana. Saat ini kepala dipenuhi banyak pertanyaan.

...☘️☘️☘️...

"Ayo Nana kita kesitu" seorang wanita cantik menarik tangan Nana. Ia membawa Nana menuju bangku paling depan.

saat ini Nana dan Valiza sedang berada di pertunjukan sirkus lumba-lumba.

Valiza wanita keturunan Tionghoa. Ia dan Nana sudah berteman sejak usia 3 tahun. Namun kehidupan mereka sangat berbeda. Nana anak bungsu yang selalu di sayang oleh keluarganya. Sedangkan Valiza, setiap pagi ia harus melihat pertengkaran kedua orangtuanya.

Tak jarang Valiza menangis di kamar kala melihat orangtuanya bertengkar. Bahkan mama nya sering memukul Valiza hanya untuk melampiaskan rasa kesalnya.

"Valiza pelan pelan" Valiza yang tidak mendengar ucapan Nana terjatuh dan membuat lututnya luka.

"Kan tadi aku udah bilang pelan pelan...kamu gamau denger sih" Nana mencoba membantu Valiza berdiri dan mengusap lembut lutut Valiza.

"Sakit ga?" tanya Nana khawatir.

Valiza tersenyum. Sakit di lutut nya tidak seberapa dibandingkan dengan sakit yang biasa dia rasakan karena pukulan mamanya.

"Enggak kok" jawab Valiza yang tersenyum dan meneruskan langkahnya.

"Nana kalo nanti kita udah gede, Nana jangan tinggalin Valiza ya... Nana juga jangan pukul Valiza kaya papa yang pukul mama" kata Valiza tidak melepas genggaman tangannya dengan tangan Nana.

"Iya Nana janji ga bakal pukul Valiza"

"Valiza sayang sama Nana" kata Valiza yang memeluk Nana dengan erat.

Nana membalas pelukan Valiza "Nana juga sayang sama Valiza."

Tidak ada yang menyangka kalau itu adalah pertemuan terakhir bagi Nana dan Valiza. Gadis cantik itu harus merenggang nyawa karena orang tuanya.

Valiza yang kasihan melihat mama nya yang terus di pukuli oleh papa nya, mencoba menghentikan papanya. Tepat di saat Valiza melindungi mamanya, papanya mengeluarkan pistol yang ia siapkan dan menembakan ke arah mamanya.

Valiza berhasil memeluk mamanya. Tapi di saat yang bersamaan ia merasakan sakit. "mama i love you" kata kata terakhir yang keluar dari mulut Valiza, sebelum akhirnya Valiza benar benar tertidur pulas untuk selamanya.

...☘️☘️☘️...

Ingatan tentang masa lalunya terlintas setiap kali Nana melihat Vanya. Setiap Nana berada di dekat Vanya, ia seperti merasakan kehadiran Valiza di sekitarnya.

Vanya dan Valiza memiliki banyak kesamaan. mereka wanita yang periang, pandai, baik, ramah, dan wanita yang kuat. Tapi Vanya lebih beruntung dari pada valiza. Vanya memiliki keluarga yang sayang padanya tidak seperti Valiza yang harus merasakan penderitaan karena keluarganya yang tidak harmonis.

"Na kok kita ke pemakaman" suara Vanya mampu menyadarkan Nana.

"Ada yang ingin gue kenalin ke Lo"

Nana terus berjalan melewati beberapa makam. Sampai ia bertemu pusara bertuliskan nama Valiza.

"Hai cantik apa kabar... maaf baru bisa dateng kemaren sibuk" Nana tetap berbicara walaupun ia tahu tidak akan ada yang menjawab.

Vanya mengikuti Nana yang berjongkok di samping makam yang bertuliskan nama Valiza.

"Dia siapa? kenapa Nana bilang cantik? apa dia mantannya Nana" pertanyaan itu sedang memenuhi isi kepala Vanya.

"Van kenalin ini Valiza... wanita paling kuat yang pernah hadir di hidup gue" kata Nana tanpa mengalihkan perhatiannya dari pusara di hadapannya.

"Hai Valiza" sapa Vanya yang menghormati Nana, ia tahu jika pemilik pusara di hadapannya ini orang yang sangat penting bagi Nana.

Tangan Vanya meraih bunga yang sempat Nana beli di depan pemakaman dan meletakkannya di atas pusara.

"Na... Gue tunggu di motor ya, gue gamau ganggu Lo"

Nana menoleh menatap Vanya. "Lo mau pulang? ayo gue anterin" Nana merasa tidak enak kepada Vanya. seharusnya Vanya tidak melihat dirinya yang seperti ini.

"Enggak kok Na... Gue tungguin Lo kok, Santai aja gue juga lagi ga ada kegiatan" kata Vanya sambil tersenyum mencoba meyakinkan Nana.

"take your time" Vanya berjalan meninggalkan Nana sendirian.

Nana terdiam menatap Vanya yang terus menjauh dari tempatnya.

"Valiza kamu udah liat Vanya kan? dia orang baik, dia sama cantiknya sama kamu... kalau nanti dia jadi pacar aku, kamu jangan marah ya... aku janji gaakan pernah lupain kamu" kata Nana sambil menaburkan bunga.

"Aku pulang dulu ya... bye bye cantik" Nana tahu tidak akan ada yang menjawabnya. Mungkin saat ini orang orang melihatnya seperti orang aneh, karena ia terus berbicara sendiri.

Tapi Nana benar benar tidak peduli dengan tatapan aneh orang orang disekitarnya. Baginya Valiza masih bisa melihatnya dan mendengar ucapannya walaupun ia tidak bisa melihat dan mendengar suara Valiza lagi.

Nana berjalan menuju tempat parkir. Ia melihat Vanya yang sedang menunggunya sambil membaca novel. "Van maaf lama"

Vanya berdiri dan tersenyum manis kepada Nana "gapapa kok Na... Lo udah selesai?" tanya Vanya sedikit canggung dengan keadaan saat ini.

"Udah... Sekarang gantian Lo yang mau kemana, bebas gue anterin" kata Nana sambil menyalahkan motornya.

"Gausah lah kita pulang aja ya... lagian juga kayanya Lo capek banget, mending kita pulang aja" Vanya berbicara dengan sangat hati hati, ia takut salah bicara dan menyinggung perasaan Nana.

"Gue ga capek kok... gapapa kalo Lo mau jalan lagi" kata Nana mencoba meyakinkan Vanya.

"Yaudah kerumah gue aja... kalo Lo ga capek yaudah gue aja yang capek" kata Vanya tak mau memperpanjang perdebatan ini.

Nana tidak bisa lagi menolak. sebenarnya ia juga merasa sangat lelah, entah mengapa setiap kali ia mengingat Valiza tenaganya seperti terhisap habis.

"Yaudah ayo deh ke rumah lo " kata Nana pasrah.

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
gempi
b
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!