NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Clone dan Penjara

# Bab 6 — Clone dan Penjara

**POV: Reiki**

---

Aku tidak tahu persis kapan semuanya mulai terasa berbeda. Mungkin saat aku duduk di ruang tengah pesawat Hubble, menunggu sesuatu terjadi. Atau mungkin saat Hime menatapku dengan tatapan aneh itu—seperti aku adalah teka-teki yang tidak bisa ia pecahkan.

Tapi yang pasti, ketika pintu pesawat terbuka dan Hubble masuk dengan wajah serius, aku tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Reiki," katanya. "Aku perlu bicara denganmu."

Aku berdiri. "Tentang apa?"

"Tentang kemampuanmu. Dan tentang apa yang harus kita lakukan selanjutnya."

Aku mengikuti Hubble ke ruang belakang pesawat. Di sana, Karmas dan Tigap 1 sudah menunggu. Wajah mereka tegang.

"Kami sudah menghubungi Markas," kata Hubble. "Mereka ingin membawamu ke pusat untuk observasi lebih lanjut."

"Observasi?" Aku mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

"Mereka ingin mempelajari kemampuanmu. Untuk memastikan bahwa kau tidak berbahaya."

"Dan jika aku menolak?"

Hubble menatapku dengan tatapan dingin. "Kau tidak punya pilihan."

Sesuatu di dalam diriku mendidih. Bukan amarah—tapi sesuatu yang lebih dalam. Seperti ada yang bangun.

"Aku tidak akan pergi ke mana pun," kataku.

"Reiki..."

"Aku bilang tidak."

Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak. Lalu Hubble menghela napas.

"Aku tidak ingin melakukan ini dengan cara kasar," katanya. "Tapi jika kau memaksaku..."

Ia melangkah maju. Dan tanpa berpikir, tubuhku bereaksi.

Aku mengangkat tanganku. Dan dari telapak tanganku, sesuatu keluar—bukan listrik, bukan cahaya. Tapi gelombang energi yang mendorong Hubble mundur beberapa langkah.

"Apa?!" Hubble menatapku dengan mata terbelalak.

Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi tubuhku bergerak sendiri. Dan dari dalam diriku, aku mendengar suara—bukan suara yang bisa kudengar, tapi suara yang bisa kurasakan.

*Lawan.*

---

Pertarungan pecah dalam hitungan detik.

Hubble menyerangku dengan kecepatan yang luar biasa. Tinjunya melesat ke arah wajahku, tapi aku menghindar—bukan karena aku pintar bertarung, tapi karena tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku.

Aku mundur, mencari jalan keluar. Tapi Karmas dan Tigap 1 sudah menutup pintu.

"Kau tidak bisa lari, Reiki," kata Hubble. "Semakin cepat kau menyerah, semakin mudah ini."

"Aku tidak akan menyerah."

Hubble mendesah. "Baik. Kau memaksaku."

Ia mengangkat tangannya. Dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya—cahaya merah samar. Lalu tekanan di udara berubah. Rasanya seperti ada yang meremas dadaku.

Aku tersungkur, berlutut. Napasku tersengal.

"Ini adalah kekuatan psikis level tinggi," kata Hubble. "Tekanan energi. Semakin lama kau bertahan, semakin sakit rasanya."

Aku menggertakkan gigi. Tubuhku terasa seperti diremas dari dalam. Tapi di tengah rasa sakit itu, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang mulai bangun.

*Serap.*

Suara itu lagi. Bisikan dari dalam diriku.

*Serap energinya.*

Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Tapi secara insting, aku membuka diriku. Dan aku mulai menyerap.

Tekanan di dadaku berkurang. Lalu hilang sama sekali. Aku berdiri, menatap Hubble yang menatapku dengan tidak percaya.

"Kau... kau menyerap tekananku?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangkat tanganku lagi. Dan kali ini, energi yang keluar dariku berbeda—lebih gelap, lebih pekat.

Hubble mundur selangkah. "Apa... apa yang kau lakukan?"

Aku tidak tahu. Tapi tubuhku tahu.

Dari telapak tanganku, energi hitam menyebar. Ia membentuk bayangan—bayangan yang mulai mengambil wujud. Wujud manusia.

Wujud Hubble.

"Apa?!" teriak Hubble.

Bayangan itu semakin jelas. Dan dalam hitungan detik, di depanku berdiri tiga sosok yang persis seperti Hubble. Clone. Tapi bukan clone biasa—mereka memiliki variasi yang berbeda. Satu lebih besar, satu lebih ramping, satu dengan ekspresi lebih dingin.

"Clone 1 siap," kata yang pertama.

"Clone 2 siap," kata yang kedua.

"Clone 3 siap," kata yang ketiga.

Aku menatap mereka dengan takjub. Aku tidak tahu bagaimana aku melakukannya. Tapi aku melakukannya.

"Tangkap dia," kataku, menunjuk Hubble.

Ketiga clone itu bergerak serempak.

---

Hubble adalah petarung yang tangguh. Tapi melawan tiga clone dirinya sendiri? Itu pertarungan yang tidak seimbang.

Clone 1 menyerang dengan kekuatan fisik. Clone 2 menggunakan kecepatan. Clone 3—yang paling dingin—hanya berdiri dan menunggu, membaca setiap gerakan Hubble.

Aku mundur ke sudut ruangan, menyaksikan pertarungan itu. Tubuhku masih gemetar—bukan karena takut, tapi karena energi yang mengalir di dalam diriku. Rasanya seperti aku baru saja membuka pintu yang tidak seharusnya dibuka.

"Reiki!" Suara Hime dari luar. Ia menerobos masuk, matanya terbelalak melihat apa yang terjadi. "Apa yang kau lakukan?!"

"Aku... aku tidak tahu."

Ia menatap clone-clone itu, lalu menatapku. "Kau menciptakan clone? Dari energi psikis?"

"Aku tidak sengaja."

Hime mendekat, meraih lenganku. "Kau harus menghentikan ini. Sekarang."

"Aku tidak tahu caranya."

"Kau yang menciptakannya. Kau pasti bisa menghentikannya."

Aku menatap clone-clone itu. Mereka masih bertarung dengan Hubble, yang mulai kewalahan. Aku menutup mata, mencoba merasakan hubungan antara aku dan mereka.

Dan aku merasakannya. Seperti tali energi yang menghubungkan kami.

"Hentikan," bisikku.

Clone-clone itu berhenti. Mereka menatapku, menunggu perintah.

"Cukup. Kembali."

Mereka menghilang—larut dalam udara seperti asap. Hubble jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Ia menatapku dengan campuran ketakutan dan kemarahan.

"Apa... apa kau ini?" bisiknya.

Aku tidak bisa menjawab.

---

Malam itu, aku dikurung di ruang belakang pesawat. Hubble memerintahkan agar aku tidak boleh keluar sampai mereka memutuskan apa yang harus dilakukan.

Aku duduk di lantai, memeluk lutut. Pikiranku masih kacau.

*Aku menciptakan clone. Dari energi. Clone yang bisa berpikir dan bergerak sendiri.*

Apa aku ini monster?

Pintu terbuka. Hime masuk, membawa segelas air. Ia duduk di sampingku tanpa bicara.

"Kau takut?" tanyanya akhirnya.

"Ya."

"Kau seharusnya tidak takut."

Aku menatapnya. "Bagaimana bisa aku tidak takut? Aku baru saja menciptakan monster."

"Kau tidak menciptakan monster. Kau menciptakan senjata. Dan senjata tidak baik atau buruk—itu tergantung pada yang menggunakannya."

"Tapi aku tidak tahu cara menggunakannya."

"Kau akan belajar."

Aku diam. Air di gelas itu dingin di tanganku, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikiranku.

"Hime."

"Hm?"

"Kenapa kau masih di sini? Kenapa kau tidak pergi saja? Aku jelas-jelas berbahaya."

Hime menatapku lama. Lalu ia berkata, "Karena aku pernah mengenal seseorang sepertimu. Dan aku meninggalkannya. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku."

"Aku tidak akan mengulanginya."

Kata-katanya menggantung di udara. Berat. Penuh makna yang tidak sepenuhnya aku mengerti.

"Siapa dia?" tanyaku.

Hime tersenyum tipis. Senyum yang sedih. "Cerita untuk lain kali."

Ia berdiri dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.

"Kau bukan monster, Reiki. Kau hanya... berbeda. Dan tidak apa-apa."

Pintu tertutup. Aku duduk sendirian di ruang gelap, merenungkan kata-katanya.

*Berbeda. Tidak apa-apa.*

Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tidak yakin.

---

Keesokan harinya, Hubble memanggilku untuk bicara. Kali ini, nada bicaranya berbeda—tidak lagi dingin dan otoriter, tapi lebih hati-hati. Seperti ia berbicara dengan sesuatu yang tidak ia mengerti.

"Duduk," katanya.

Aku duduk di seberangnya. Meja di antara kami kosong, tapi aku bisa merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan.

"Aku sudah menghubungi Markas," katanya. "Mereka... terkejut dengan laporanku."

"Tentu saja."

"Tapi mereka tidak memerintahkan untuk membawamu ke pusat."

Aku mengerutkan dahi. "Kenapa?"

Hubble menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena mereka takut padamu."

Aku tersentak. "Apa?"

"Mereka tidak tahu apa yang kau mampu lakukan. Dan mereka tidak ingin mengambil risiko dengan memindahkanmu." Ia berhenti. "Jadi untuk sementara, kau akan tetap di sini. Di desa ini. Di bawah pengawasanku."

"Jadi aku tahanan?"

"Bukan tahanan. Lebih seperti... aset yang perlu diamankan."

Aku ingin membantah. Tapi aku tahu tidak ada gunanya.

"Baik," kataku akhirnya. "Tapi aku ingin Hime tetap di sini."

Hubble mengangguk. "Itu sudah kuperhitungkan."

---

Malam itu, aku duduk di atap pesawat, menatap bintang. Hime naik beberapa saat kemudian, duduk di sampingku.

"Kau tahu," katanya, "dulu aku juga sering duduk di atap seperti ini. Menatap bintang. Bertanya-tanya tentang masa depan."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku tidak perlu bertanya-tanya lagi. Karena masa depan itu sudah ada di depanku."

Aku menatapnya. Cahaya bulan menerangi wajahnya, membuatnya terlihat lebih muda. Tapi matanya—matanya menyimpan sesuatu yang tua. Sesuatu yang telah melihat terlalu banyak.

"Hime, kau boleh jujur padaku."

"Tentang apa?"

"Tentang siapa aku sebenarnya."

Hime diam. Lalu ia berkata, "Aku tidak tahu siapa dirimu, Reiki. Tapi aku punya firasat."

"Firasat seperti apa?"

Ia menatapku. Dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya—harapan. Tapi juga ketakutan.

"Firasat bahwa kau adalah jawaban dari pertanyaan yang sudah lama aku cari."

Aku tidak mengerti. Tapi sebelum sempat bertanya, Hime sudah berdiri.

"Selamat malam, Reiki."

Ia turun, meninggalkanku sendirian di atap, menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—ada alasan kenapa aku ada di dunia ini.

---

Pagi harinya, aku dibangunkan oleh suara pintu yang terbuka. Karmas masuk dengan sepiring makanan. Wajahnya tidak setegang Hubble—lebih seperti seorang kakek yang sedang mengawasi cucunya yang nakal.

 "Sarapan, " katanya, meletakkan piring di lantai.

 "Terima kasih. "

Ia duduk di seberangku, menatapku dengan rasa ingin tahu.  "Kau tahu, aku sudah melihat banyak psikis muda selama empat dekade terakhir. Tapi belum pernah ada yang sepertimu. "

 "Maksudnya? "

 "Kemampuanmu muncul secara insting. Tanpa latihan, tanpa bimbingan. Itu sangat langka. "

Aku mengambil sepotong roti.  "Apa itu berarti aku monster? "

Karmas tersenyum.  "Monster tidak bertanya apakah mereka monster. Hanya manusia yang melakukannya. "

Aku diam, merenungkan kata-katanya.

 "Aku akan memberitahumu sesuatu, " lanjut Karmas.  "Dulu, saat aku masih muda, aku bertemu dengan seorang psikis yang kemampuannya juga muncul secara insting. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Ia takut pada dirinya sendiri. Tapi kemudian ia belajar, berlatih, dan menjadi salah satu psikis terkuat yang pernah kukenal. "

 "Siapa dia? "

Karmas tersenyum.  "Hubble. "

Aku terkejut.  "Hubble? "

 "Dulu ia juga seperti dirimu. Bingung, takut, tidak tahu harus berbuat apa. Tapi ia tidak menyerah. Dan lihat ia sekarang. "

Aku menatap piring di depanku.  "Jadi kau bilang aku bisa seperti dia? "

 "Atau lebih baik. Tergantung pilihanmu. "

Karmas berdiri dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.

 "Kau bukan monster, Reiki. Kau hanya anak yang punya kekuatan besar. Dan kekuatan besar selalu datang dengan tanggung jawab besar. Ingat itu. "

Pintu tertutup. Aku duduk sendirian, merenungkan kata-kata Karmas.

*Kekuatan besar. Tanggung jawab besar.*

Mungkin ia benar. Mungkin aku bukan monster. Tapi aku masih belum yakin.

---

Sore harinya, Hime datang lagi. Kali ini, ia membawa buku catatan tebal.

 "Apa itu? " tanyaku.

 "Catatan tentang psikis. Aku mengumpulkannya selama bertahun-tahun. " Ia duduk di sampingku dan membuka halaman pertama.  "Aku akan mengajarimu dasar-dasarnya. "

 "Sekarang? "

 "Sekarang. Kita tidak punya banyak waktu. "

Dan selama beberapa jam berikutnya, Hime mengajariku tentang dunia psikis. Tentang hierarki mereka, tentang energi, tentang cara mengendalikan kekuatan. Aku mendengarkan dengan saksama, menyerap setiap kata seperti spons.

 "Yang paling penting, " katanya,  "adalah kendali. Kekuatan tanpa kendali hanya akan menghancurkan dirimu sendiri dan orang di sekitarmu. "

 "Bagaimana cara mengendalikannya? "

 "Kau harus tenang. Fokus. Jangan biarkan emosi menguasaimu. "

Aku menutup mata, mencoba menenangkan pikiranku. Tapi sulit—terlalu banyak yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

 "Coba lagi, " kata Hime.  "Pelan-pelan. "

Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya pelan-pelan. Dan untuk sesaat, aku merasakan sesuatu—keheningan di dalam pikiranku.

 "Bagus, " kata Hime.  "Pertahankan. "

Aku membuka mata. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku merasa sedikit lebih tenang.

 "Terima kasih, " kataku.

Hime tersenyum.  "Sama-sama. "

---

Malam harinya, setelah Hime pergi, aku duduk sendirian di ruang belakang pesawat. Pikiranku masih kacau—tapi kali ini, ada sedikit cahaya di tengah kegelapan.

Karmas bilang aku bukan monster. Hime bilang aku hanya berbeda. Tapi yang paling penting, mereka bilang aku bisa belajar.

Aku menatap tanganku. Masih biasa. Tapi aku tahu di dalamnya, ada kekuatan yang menunggu untuk dilepaskan.

*Suatu hari nanti\,* pikirku. *Aku akan mengendalikan ini. Aku akan menjadi seseorang yang bisa dibanggakan.*

Tapi untuk sekarang, aku hanya perlu bertahan.

---

Keesokan harinya, Hubble membukakan pintu ruanganku. Wajahnya masih dingin, tapi tidak lagi penuh kebencian.

 "Sarapan, " katanya, meletakkan nampan di lantai.

 "Terima kasih. "

Ia berdiri di pintu, ragu-ragu. Lalu ia berkata,  "Karmas bilang kau mulai belajar. "

 "Sedikit. "

 "Bagus. " Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti.  "Hei. "

 "Ya? "

 "Apa yang kau lakukan kemarin—menciptakan clone-clone itu—itu... mengesankan. Tapi juga menakutkan. "

Aku menatapnya.  "Aku tahu. "

 "Kau harus belajar mengendalikannya. Sebelum kau kehilangan kendali sepenuhnya. "

 "Aku akan berusaha. "

Hubble mengangguk. Lalu ia pergi, meninggalkan pintu terbuka.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti tahanan.

---

Sore harinya, Hime datang lagi. Kali ini, ia membawa kabar buruk.

 "Hubble baru saja mendapat laporan dari Markas, " katanya.  "Mereka mengirim tim tambahan. "

 "Tim tambahan? Untuk apa? "

 "Untuk mengawasi situasi. Mereka curiga ada sesuatu yang lebih besar di desa ini. "

Aku mengerutkan dahi.  "Apa maksudnya? "

Hime duduk di sampingku.  "Menurut data yang kukumpulkan, energi yang kau lepaskan kemarin tidak hanya memengaruhi desa ini. Ia terdeteksi oleh satelit Markas. "

 "Berarti mereka tahu? "

 "Mereka tahu ada sesuatu. Tapi mereka tidak tahu persis apa. "

Aku diam. Ini tidak baik. Jika Markas mengirim tim tambahan, mereka mungkin akan membawaku paksa.

 "Kita harus pergi, " kataku.

 "Ke mana? "

 "Ke mana pun. Yang penting jauh dari sini. "

Hime menggeleng.  "Melarikan diri bukan solusi. Mereka akan tetap mencarimu. "

 "Lalu apa yang harus aku lakukan? "

Hime menatapku.  "Kau harus belajar mengendalikan kekuatanmu. Cepat. Sebelum mereka datang. "

Aku menelan ludah.  "Berapa lama waktu yang kita punya? "

 "Mungkin seminggu. Mungkin kurang. "

Aku mengepalkan tinjuku. Seminggu. Hanya seminggu untuk belajar mengendalikan kekuatan yang bahkan aku sendiri tidak mengerti.

Tapi aku tidak punya pilihan.

 "Aku siap, " kataku.  "Ajar aku. "

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!