Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~6 Pernikahan yang tidak di dambakan
Layla menarik napas panjang. Dadanya sesak melihat kain sutra merah dan perhiasan emas itu terhampar di depannya.
Bukan karena indah. Tapi karena setiap benang dan permata itu terasa seperti rantai yang akan mengikatnya seumur hidup.
“Putri Layla,” suara Surya memecah keheningan. “Apakah Paduka berkenan menerima hantaran ini sebagai tanda ikatan antara Kerajaan Candra dan Jaya Wijaya?”
Layla tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada sebilah kalung emas yang paling mencolok.
Raja Batara menoleh pelan ke arahnya. “Layla, katakan. Kau… setuju?”
Suara ayahnya lirih, hampir memohon. Layla tahu, di balik tatapan itu ada rasa bersalah yang tak terucapkan.
Ia menutup mata sejenak. Bayangan Kudus dan Mahesa yang kurus, dirantai, dan disiksa muncul di benaknya, para Prajurit yang terluka dan pertumpahan darah itu juga, masih saja terlintas dalam ingatannya.
“Aku setuju,” ucapannya pelan.
Suaranya datar, tapi setiap kata terasa seperti memotong lidahnya sendiri.
Serasa yang berdiri di samping Surya mengerutkan dahi. Ia menatap Layla lama.
Gadis itu tidak menangis. Tidak memohon. Hanya diam, dengan mata yang terbakar sesuatu yang lebih dingin
Saat harus menikah namun tanpa landasan cinta.
Seluruh orang yang ada dalam ruangan itu, nampak menangis haru, dan tersenyum bahagia saat mendengar Layla setuju dengan pernikahan ini.
Dan seperti adat kerajaan Candra, setiap kali seserahan mendekati hari pernikahan pria yang akan menjadi calon suami akan memakaikan gelang kepada calon istrinya, namun Raja Gustaf sendiri tidak hadir, ia meminta Serasa yang harus melakukan itu.
"Mari acara yang sesungguhnya akan dimulai." kata seorang Pendeta, yang memimpin ritual acara lamaran.
"Baiklah, silahkan..." Yang Mulia Raja Batara memberikan izin.
"Kepada calon pengantin wanita tolong ulurkan tanggan mu, calon pengantin pria akan memberikanmu sebuah ikatan agar kau dilindungi dari sebuah mata jahat." kata Pendeta.
Perlahan Layla mengulurkan tanggannya, dan tak berselang lama Pangeran Serasa berjalan dengan tenang ke arah Layla, ia memakaikan gelang itu secara perlahan.
Ya, yang Layla tahu besok yang akan menikah dengannya adalah pria yang ada di hadapanya ini, namun ternyata ia sendiri di bohongi karena Raja sombong itu tidak mau datang pada acara lamaran, ia akan tiba di acara pernikahan besok, ia sama sekali tidak menghargai adat istiadat kerajaan Candra.
Setelah acara selesai, Layla langsung meningalkan para tamu yang datang, ia berjalan menyusuri koridor dan langsung masuk kedalam kamarnya.
"Ya-Tuhan, pernikahan ini suci dan ikatan yang paling murni, namun aku mengawalinya dengan kebohongan karena aku sama sekali tidak mencintai pria itu." Layla berkata sendiri, di depan cermin ia menangis sesengukan.
Ratu Saraswati mengamati tangisan anaknya sebelum masuk kedalam kamarnya, sebenarnya hatinya cukup terpukul, saat suaminya mengatakan kalau Layla akan dinikahi Raja Gustaf.
Ratu Saraswati awalnya menentang hal itu, namun Raja Batara begitu tidak berdaya, karena jika Layla tidak menikah dengan Raja Gustaf, Raja Gustaf akan memenggal kedua anaknya Mahesa dan Kudus, serta semua wanita di dalam Istana akan di giring ke Istana Jaya Wijaya dan akan dijadikan pelayan.
"Anak ku, sudai kesedihan mu, besok adalah hari pernikahan mu." Ratu Saraswati menghampiri Putri Layla dan langsung mengusap pipi Layla yang basah karena air mata.
"Ibu, bagimana aku bisa bahagia di hari bahagiaku besok? Aku sama sekali tidak ingin menikah dengan bangsa Wijaya ibu, bahkan sama sekali tak pernah terbesit dalam ingatan ku, aku harus menikah dengan bangsa Wijaya." Putri Layla menunduk sedih.
"Menikah itu nasib anakku, jatuh cinta adalah takdir, jika kali ini kau menikah bukan karena landasan cintamu, anggap saja kau sedang menjalani takdir pernikahan mu, yang akan membawamu ke jalan takdir cintamu." Ratu Saraswati membuang wajah ke samping, tangisannya juga hampir meledak namun ia tahan agar Layla kuat menghadapi semua ini.
Layla terisak lirih, lukanya ia simpan rapih, ia hanya berharap kelak nanti semua ini akan ada titik terangnya.
Ratu Saraswati keluar dari dalam kamar Layla, sebelum keluar ia meminta Layla untuk beristirahat, dan mempersiapkan dirinya untuk acara pernikahannya besok.
Bulan telah menggantung di langit malam, namun nampaknya Layla sama sekali tidak merasa mengantuk.
Akhirnya Layla duduk sendiri di balkon kamarnya. Angin malam menusuk kulitnya, tapi tak sedingin hatinya saat ini.
Ia memegang gagang pedang ayahnya yang diam-diam ia sembunyikan di bawah bantal.
Bilahnya masih ada noda darah kering. Darah prajurit Candra. Darah yang tumpah karena keputusan satu orang.
“Gustaf…” namanya ia bisikkan seperti sumpah.
“Jika kau pikir dengan aliansi pernikahan Putri Canda dengan Bangsa Wijaya akan membuat semakin memperkuat dua kerajaan itu, kau salah besar.” Layla mendengus saat melihat darah di pedang itu.
"Aku bersumpah!!... Di suatu waktu aku yang akan memenggal kepalamu dan melemparkan nya di depan Istana mu."
Dari kejauhan terdengar suara lonceng istana. Tanda bahwa hari sudah berganti.
Besok, ia akan menjadi bagian dari wilayah Jaya Wijaya.
Tapi bukan sebagai istri. Melainkan sebagai api yang akan membakar singgasana itu dari dalam, karena itu sumpah yang Layla ucapkan dalam dirinya.
Malam itu terasa panjang.
Layla tak memejamkan mata sedetik pun. Setiap kali ia mencoba menutup kelopaknya, yang muncul bukan wajah calon suaminya, melainkan bayangan kepala kakanya Pangeran Laksamana.
.
.
Fajar menyingsing.
Suara genderang pernikahan menggema dari halaman istana. Bau kemenyan dan melati bercampur dengan debu jalan yang baru disapu. Kerajaan Candra bersiap menyerahkan putrinya pada kerajaan yang paling mereka benci.
Ratu Saraswati masuk bersama para dayang membawa gaun pengantin berwarna merah darah.
“Layla, bangunlah anakku. Hari ini kau akan menjadi ratu,” ucapnya pelan, suaranya tercekat.
Layla berdiri tanpa sepatah kata. Ia membiarkan tangannya dirias, rambutnya disanggul, dan wajahnya ditutup cadar sutra.
Di luar, ia terlihat tenang. Di dalam, ada badai yang siap menerjang.
“Di mana calon suamiku?” tanya Layla tiba-tiba saat prosesi akan dimulai.
Suara itu membuat seluruh ruangan hening.
Ratu Saraswati menghindar menatap matanya.
“Raja Gustaf akan menjemputmu langsung di gerbang Istana Jaya Wijaya. Adat Wijaya berbeda, anakku.”
Layla tertawa kecil. Kosong.
“Adat? Atau memang ia takut menatapku sebelum menikah?”
Tanpa ia sadari calon suaminya adalah Raja Gustaf sendiri.
Dan tak ada yang berani menjawab pertanyaan Layla lagi.
Konvoi pernikahan berangkat saat matahari sudah meninggi.
Kereta emas Candra melaju perlahan menuju perbatasan, dikawal prajurit dari kedua kerajaan. Di depan, Pangeran Serasa menunggang kuda dengan wajah muram. Sejak semalam ia tak banyak bicara.
Layla duduk di dalam kereta, tangannya mengepal di atas pangkuan. Gelang emas yang dipakaikan Serasa semalam terasa panas, seperti membakar kulitnya.
“Serasa,” panggilnya pelan melalui tirai kereta.
“Apakah Raja Gustaf benar-benar percaya pernikahan ini akan membawa damai?”
Serasa menahan kudanya sejenak, lalu menjawab tanpa menoleh.
“Raja tidak percaya pada damai, Putri Layla. Ia percaya pada kendali.”
Jawaban itu membuat Layla mengangguk pelan.
Setidaknya ada satu orang di pihak musuh yang tidak munafik, dan ia masih belum sadar kalau Pangeran Serasa bukanlah calon suaminya, melainkan calon adik iparnya.
---
Gerbang Istana Jaya Wijaya terbuka lebar.
Bendera hitam dengan lambang elang emas berkibar tinggi, menandakan sang raja hadir.
Layla turun dari kereta.
Dan di ujung tangga marmer, berdiri Raja Gustaf.
Jubah hitam, mahkota duri, senyum yang tak pernah sampai ke mata. Usianya 26 tahun, tapi tatapannya seperti pria yang sudah mengubur ratusan orang dengan tangannya sendiri.
“Selamat datang, Ratuku,” katanya pelan, suaranya hanya cukup didengar dirinya sendiri.
“Aku sudah tidak sabar menunggu malam ini.”
Layla membalas tatapannya. Di balik cadar, matanya menyala.
“Jangan terlalu berharap, Raja Gustaf. Malam ini mungkin jadi malam terakhir kau bisa tersenyum.” kata hati Layla, ia berangan akan membalaskan dendamnya malam ini.
Karena ia pikir Serasa adalah kerabat dekat Raja Gustaf. Maka dari itu pernikahan mereka akan di gelar di kerajaan ini.