NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5 TALAK!

Mobil hitam yang dikendarai Ren meluncur tenang membelah jalan malam. Suasana di dalamnya aneh. Tidak canggung, tapi juga tidak benar-benar ramai.

Sae duduk di samping Anjani di kursi belakang. Anak itu diam memainkan sabuk pengamannya sendiri, sesekali melirik perempuan di sebelahnya seperti sedang memastikan seseorang tidak menghilang mendadak.

Sementara Ren menyetir dengan satu tangan. Wajahnya tetap datar. Aura galaknya tetap cetar. Namun malam ini setidaknya terasa sedikit lebih manusiawi.

“Belok kanan, Pak," ucap Anjani.

“Hm.”

“Yang depan itu.”

“Hm.”

Jawaban Ren pendek-pendek seperti customer service yang kehilangan semangat hidup karena gajinya dipotong 50 persen.

Uniknya, Anjani bukannya terganggu, justru merasa lucu karena setiap “hm”-nya terdengar seperti 'Saya malas bicara tapi masih punya sopan santun minimalis.'

Mobil perlahan melambat. Dan beberapa detik kemudian, Ren sedikit mengangkat alisnya. Rumah yang berdiri di depan mereka berdiri cukup besar, modern, dan mewah. Jelas bukan rumah rakyat jelata.

Lampu halaman menyala hangat. Tamannya luas. Namun justru itu yang membuat Ren diam lebih lama karena semuanya terasa tidak cocok.

Rumah ini terlalu bagus untuk seseorang yang tadi berjalan kaki sendirian malam-malam dengan sepatu lecet dan ponsel mati. Terlalu bagus untuk perempuan yang bahkan tidak punya uang tunai di tasnya.

Tatapan Ren diam-diam bergerak pelan ke arah Anjani, lalu kembali ke rumah itu. Benar-benar kontras.

Sae juga memperhatikan rumah tersebut. “Tante tinggal di sini?”

“Iya."

“Besar.”

“Hm.”

Sae mengangguk kecil, lalu berkata tanpa ekspresi. “Tapi Tante sedih.”

Astaga...Anak ini benar-benar tidak punya fitur basa-basi. Anjani sampai tertawa kecil lelah.

Ren sendiri memijat pelipis sebentar. “Kamu bisa nggak sih nggak ngeluarin semua isi kepala?”

“Kalau dipendam nanti stres.”

“Kamu umur enam tahun.”

“Aku preventif.”

Anjani spontan menunduk menahan senyum lagi. Apalagi mendengar setiap bahasa tinggi yang digunakan anak sekecil itu. Sae seperti hasil copy-paste Ren yang diedit jadi ukuran mini dan sedikit lebih tulus.

Mobil berhenti sempurna di depan pagar.

Anjani membuka pintu pelan. “Terima kasih udah nganter.”

“Hm," jawab Ren lagi. Namun kali ini tatapannya tetap tertuju pada Anjani cukup lama.

Sementara Sae mendadak ikut turun dari mobil.

Ren langsung melirik tajam. “Kamu mau ke mana?”

“Ikut turun.”

“Kenapa?”

Sae menatap Anjani. “Belum selesai.”

“Apanya?”

“Aku belum minta nomor telepon.”

Anjani menatap bocah itu beberapa detik, benar-benar tidak siap dengan kalimat barusan.

Sementara Ren, tatapannya pada Sae terlihat seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan menitipkan anaknya ke asrama luar negeri malam ini juga.

“Kamu itu baru kemarin jadi manusia.”

“Aku membangun koneksi.”

“Dengar tuh bahasanya.”

Anjani gagal menahan tawanya lagi.

Ren menatap langit-langit sebentar. Mungkin sedang mencari kesabaran. Sae sendiri tetap berdiri tenang di hadapan Anjani, serius sekali, seperti sedang negosiasi investasi miliaran.

Sae mengangguk puas. “Bagus. Berarti aku bisa kirim stiker.”

Anjani tertawa kecil. “Cuma buat kirim stiker?”

“Dan nanya kabar,” jawabnya santai.

“Kata Papa, orang baik jangan tiba-tiba hilang.”

Ren langsung melirik tajam. “Aku nggak pernah ngomong begitu.”

“Tapi maksudnya mirip.”

“Kamu ngarang.”

“Aku improvisasi.”

Anjani sampai memegang dahinya kecil sambil tertawa.

Dengan wajah serius, Sae menyodorkan jam tangan kecilnya.

“Tolong save nomor Tante.”

Anjani mengangkat alis. “Kamu niat banget.”

“Iya, aku nggak mau kehilangan koneksi penting,” jawab Sae polos.

Ren menatap kosong ke depan beberapa detik. Mungkin sedang mempertanyakan pola asuhnya sendiri. “Kamu terlalu kecil buat ngomong kayak CEO.”

“Aku bertumbuh cepat.”

Anjani akhirnya menyerah, lalu mengetik nomor teleponnya sambil tertawa kecil. Namun tepat saat itu, sorot lampu mobil lain masuk ke halaman.

Sebuah mobil putih berhenti tidak jauh dari mereka. Dan suasana langsung berubah. Bella turun lebih dulu dari kursi belakang. Langkah kecilnya langsung berhenti saat melihat Anjani berdiri bersama Ren dan Sae. Mata anak itu membesar.

“Loh?”

Di belakangnya, Cintya ikut keluar mobil. Tubuhnya sempat membeku sepersekian detik.

Ren Aksara di rumah Anjani dengan Sae. Dan yang paling mengganggu, mereka terlihat akrab. Tatapan Cintya berubah tipis. Cepat sekali. Tapi tetap tertangkap oleh mata Ren yang observatif.

“Pak Ren?” Nada suara Cintya langsung berubah lembut penuh keterkejutan manis. “Ada di sini?”

Ren menoleh singkat. “Hm.” Jawabannya pendek, dingin, dan profesional. Seakan tadi mereka tidak pernah ngobrol di backstage.

Cintya tetap tersenyum manis. “Kebetulan banget…”

Tatapannya melirik Anjani sekilas. Dan ada sesuatu yang langsung mengusiknya. Anjani terlihat lebih hidup sekarang. Pipinya sedikit merah karena tertawa tadi. Matanya tidak sesuram sebelumnya. Dan penyebabnya jelas Ren dan Sae.

Sial. Cintya paling tidak suka ketika pusat perhatian mulai bergeser.

“Pak Ren habis dari mana?” tanyanya lagi sok akrab.

“Mengantar.”

“Ah…” Senyum Cintya tetap manis. “Kak Anjani ngerepotin ya?” Kalimatnya halus, tapi tetap menusuk.

Sayangnya malam ini Ren sedang tidak punya energi untuk basa-basi sosial.

“Saya nggak bilang direpotkan.”

Deg.

Senyum Cintya nyaris retak tipis.

Ren melanjutkan datar. “Kalau saya merasa repot, saya nggak akan antar.”

Telak, halus, tapi cukup untuk membuat suasana sedikit canggung.

Cintya tersenyum kecil lagi walau dalam hati mulai kesal. Dan anehnya…kekesalan itu justru mengarah ke Anjani. Dia menilai perempuan itu seperti gangguan kecil yang tiba-tiba muncul di jalur kariernya.

Satriya akhirnya turun dari mobil. Perhatiannya langsung berhenti pada Ren, lalu pada Anjani, lalu kembali ke Ren. Rahangnya mengeras samar. Namun lelaki itu tetap memasang senyum sopan.

“Pak Ren…” Ia mengangguk kecil. “Kenapa bisa sama istri saya?”

Istri saya. Oh. Tatapan Ren perlahan bergeser ke Anjani, lalu ke Satriya, lalu ke mobil yang tadi membawa Satriya, Bella, dan Cintya bersama, tanpa Anjani.

Lelaki itu diam beberapa detik. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa tidak suka.

“Ada masalah kecil di jalan,” jawab Ren singkat.

Sae yang berdiri dekat Anjani tiba-tiba bicara datar. “Tantenya jalan kaki.”

Sunyi.

Bella langsung melirik ibunya. Satriya sedikit menegang.

Namun Sae lanjut tanpa rasa bersalah. “Malam-malam.”

Ren menoleh pelan pada anaknya.

Sementara Sae justru memandang Satriya lurus. “Jahat.”

Deg.

Anjani langsung kaget kecil. “Sae…”

“Aku cuma bilang yang aku lihat.”

Ren menghela napas panjang. "Cukup, Sae."

“Kalau salah ya salah.” Sae masih lanjut.

Satriya tampak makin tidak nyaman sekarang. Sementara Bella tiba-tiba mendengus kecil.

“Huh.”

Semua mata menoleh padanya. Bella memeluk bonekanya sambil memandang Sae jutek.

“Sae memang gitu.”

Anjani berkedip. “Kalian kenal?” tanyanya yang memang tidak tahu.

Selama ini Satriya yang lebih sering mengantar sekolah. Bella juga tidak jarang lebih memilih Cintya untuk menjemputnya sekolah. lebih tepatnya, anak itu tidak ada minat diantar ibunya sendiri.

Bella langsung menjawab. “Dia teman sekelas Bella.”

Kini gantian Ren yang sedikit terdiam.

Teman sekelas? Sae tidak pernah cerita. Atau lebih tepatnya, Ren memang hampir tidak pernah mengantar anak itu sekolah.

Bella menunjuk Sae tanpa malu-malu. “Dia cuek banget. Sombong. Makanya nggak punya teman.”

Sunyi kecil jatuh.

Namun Sae hanya menatap Bella datar, kemudian menjawab tenang. “Aku punya.”

“Mana?”

Sae tanpa ragu menunjuk Anjani. “Tante.”

Astaga...Anjani benar-benar ingin tertawa sekaligus menangis sekarang.

Mobil Ren perlahan menjauh dari halaman rumah. Lampu belakangnya memudar sedikit demi sedikit di ujung jalan. Dan Anjani merasa suasana kembali dingin setelah mobil itu hilang.

Anjani masih menatap jalan depan rumah beberapa detik ketika suara lirih Cintya terdengar di belakang Satriya. Nyaris seperti bisikan angin, tapi sukses membuat rahang Satriya perlahan mengeras.

“Pantes aja Pak Ren sampai segitunya…,” bisik Cintya lirih seolah tak enak hati. “Kak Anjani ternyata nyaman juga cari perhatian laki-laki lain.”

Deg.

Kalimat itu seperti menyiram bensin ke bara yang sejak tadi sudah ditahan Satriya mati-matian. Tatapan lelaki itu berubah semakin gelap.

Sementara Cintya cepat-cepat memasang wajah bersalah. “Eh tapi mungkin aku salah lihat…”

Terlambat. Kalimat itu sudah telanjur masuk seperti racun kecil. Dan Satriya memang sedang terlalu penuh ego untuk tidak menelannya. Tatapan lelaki itu langsung berubah lebih gelap.

Anjani yang berdiri membelakangi mereka perlahan berbalik. Tatapannya tenang dan dinginnya langsung jatuh pada Cintya.

“Bukannya tadi kamu katanya nggak enak badan?”

Cintya sedikit membeku. “Hmm?”

“Makanya Satriya harus nganterin kamu.” Tatapan Anjani turun pada mobil mereka. “Tapi kalian malah makan dulu.”

Sunyi kecil.

Bella langsung menggigit bibir. Sementara Cintya buru-buru tertawa kecil.

“Oh itu…” Tangannya mengusap rambut Bella lembut. “Bella laper banget tadi. Aku nggak tega kalau anak kecil tidur belum makan.”

Terkesan lembut, masuk akal. Dan tetap membuat Anjani terlihat salah kalau mempermasalahkannya.

Ah. Pintar sekali. Anjani sampai merasa muak.

"Lalu kenapa ikut kesini?"

Cintya sedikit tersentak, tapi hanya sepersekian detik. Perempuan itu terlalu lihai untuk kehilangan ekspresi cantiknya lama-lama.

“Oh…” Ia tersenyum lembut sambil mengusap rambut Bella. “Bella rewel, minta aku temenin sampai tidur.”

Bella langsung mengangguk cepat. “Iya! Bella mau sama Tante Cintya.”

Anjani diam. Tentu saja. Semudah itu sekarang. Rumahnya sendiri bahkan terasa lebih menerima perempuan lain dibanding dirinya.

Satriya tiba-tiba bicara dingin, “Bella. Masuk.”

Bella langsung diam.

“Cintya, tolong temenin Bella ke kamar," lanjut pria itu dengan emosi tertahan.

Cintya mengangguk kecil. Namun sebelum pergi, matanya sempat melirik Anjani tipis. Tatapan kemenangan kecil yang dibungkus wajah prihatin.

Menjijikkan. Anjani muak.

“Dan kamu…” Tatapan Satriya kini jatuh penuh dingin padanya. “Masuk.”

Pintu rumah tertutup. Sunyi langsung terasa berat. Rumah besar itu mendadak seperti tempat asing. Tidak ada kehangatan dan kenyamanan. Hanya besar dan dingin.

Langkah Anjani baru sampai ruang tamu ketika--

Plak!

Kepalanya langsung terlempar ke samping. Tamparan keras Satriya membuat tubuhnya limbung sedikit.

Sunyi. Sangat sunyi. Sampai suara napas mereka sendiri terdengar jelas.

Anjani perlahan menoleh kembali. Pipinya terasa panas. Telinganya berdenging. Namun yang lebih sakit adalah fakta bahwa ini pertama kalinya Satriya benar-benar menamparnya. Lelaki yang dulu bahkan panik saat jemarinya tak sengaja tergores pisau dapur. Sekarang menamparnya tanpa ragu.

“Aku capek punya istri kayak kamu!” Suara Satriya meledak akhirnya.

Semua emosi yang sejak tadi ia tahan pecah begitu saja. “Kamu sadar nggak sih dari tadi kamu bikin malu aku?!”

Anjani diam. Sementara Satriya tertawa pendek penuh emosi.

“Sekarang apa lagi?” Ia mendekat kasar. “Cari perhatian seorang CEO besar? Biar hidup kamu naik level?”

“Aku nggak gitu.”

“Bullshit.” Suara Satriya meledak rendah. “Perempuan mana yang malam-malam pulang sama laki-laki lain terus pura-pura polos?”

Anjani perlahan mengepalkan tangan. “Aku jalan kaki karena kamu tinggal.”

“Jadi itu alasan kamu nempel sama dia? Terus kenapa nggak sekalian nginep sama dia?!”

Deg.

Anjani memejamkan mata sesaat. Hancur. Benar-benar hancur.

Satriya belum selesai. Kini tatapannya penuh hina. “Muka kayak kamu aja masih pede dekat-dekat Ren Aksara.” Kalimatnya menghantam telak.

Bukan hanya menghina Anjani sebagai istri, tapi juga sebagai perempuan.

“Aku nggak minta dianter.”

“Tapi kamu nikmatin perhatian dia ‘kan?”

Anjani menatap lurus. Matanya kian berkaca-kaca, tapi suaranya tetap tenang.

“Aku cuma dihargai sebagai manusia.”

Satriya langsung mencengkeram rahang Anjani kasar. “Jangan sok jadi korban di depan aku.”

Napas Anjani sedikit tercekat.

“Kalau bukan karena aku…” Suara Satriya makin tajam. “Kamu pikir ada yang mau sama perempuan gagal kayak kamu? Kamu udah nggak punya apa-apa, Anjani.”

Anjani memejam sebentar. Dia sudah teramat lelah.

Namun Satriya belum selesai. “Lihat Cintya. Apa pun yang dia lakukan selalu enak dilihat. Dia tahu cara bawa diri. Tahu cara bikin orang respect. Nggak pernah bikin malu laki-laki!“ ucapnya penuh penekanan.

Ah. Akhirnya keluar juga lerbandingan itu. Yang selama ini diam-diam selalu ada.

Anjani perlahan tertawa pahit. “Kalau begitu…” Matanya menatap Satriya lurus meski air mata mulai menetes. “Harusnya kamu nikahin dia aja.”

Plak!

Tamparan kedua mendarat lebih keras. Tubuh Anjani sampai jatuh terduduk ke sofa.

“Nggak usah ngomong kayak perempuan murahan!”

Murahan. Padahal lelaki itu bahkan tidak sadar seberapa jauh dirinya sudah menghancurkan harga diri istrinya sendiri.

Satriya berjalan mondar-mandir kasar sambil mengacak rambutnya frustrasi.

“Kamu tuh kenapa sih sekarang?! Kurang apa hidup kamu?! Rumah gede ada! Mobil ada! Semua kebutuhan kamu aku kasih!”

Anjani tertawa kecil. Hatinya terlampau lelah dan sakit.

“Semua?” bisiknya lirih.

Satriya langsung mendekat lagi.

“Jangan mulai nyindir!”

“Aku nggak nyindir.” Tatapannya perlahan naik. “Aku cuma heran… semua yang kamu bilang itu ternyata nggak cukup bikin aku dianggap manusia di rumah ini.”

Satriya langsung mencengkeram rahangnya kasar. “Kamu berani banget sekarang.”

Anjani menahan nyeri. Air matanya akhirnya jatuh juga. Namun tetap tidak ada teriakan. Justru ketenangan itulah yang membuat Satriya makin emosi karena perempuan itu terlihat seperti sudah mati rasa padanya.

“Kamu pikir Ren Aksara bakal beneran lihat perempuan kayak kamu?” Suara Satriya penuh hinaan. “Lihat diri kamu dulu!”

Tatapan lelaki itu turun dari kepala sampai kaki Anjani. “Kamu udah nggak menarik. Penampilan biasa. Nggak punya value selain ngurus rumah. Kamu bukan seperti Cintya yang bersinar," lanjutnya lagi tanpa memikirkan hati istrinya yang sudah runtuh.

Anjani masih diam. Lidahnya kelu. Sesak mendekap dadanya tajam.

“Kamu?” Satriya menatapnya rendah. “Kalau bukan karena aku masih kasihan, dari dulu juga--”

“Kasihan?” Suara Anjani memotong pelan.

Untuk pertama kali malam itu, tatapannya berubah benar-benar dingin. Satriya sedikit terdiam. Anjani perlahan melepaskan cengkeraman di rahangnya sendiri.

“Jadi selama ini…” Bibirnya bergetar tipis. “Aku hidup dari rasa kasihan kamu?”

“Kamu tuh harusnya bersyukur!” Bentakan Satriya menggema keras. “Aku masih mau sama kamu meski kamu udah kayak begini!”

Tamparan kata-kata itu jauh lebih menyakitkan daripada tamparan sebelumnya. Air mata Anjani jatuh makin deras sekarang. Namun suaranya justru semakin tenang. Tenang seperti orang yang akhirnya benar-benar lelah berharap dan berniat pergi.

“Kalau begitu…” Ia menarik napas kecil. “Kita cerai aja.”

Sunyi.

Satriya membeku sepersekian detik. Seolah tidak percaya kalimat itu keluar dari perempuan yang selama ini selalu diam.

“Apa?”

“Aku capek.”

Sederhana, tapi begitu penuh luka.

“Aku capek terus dibandingin.” Suara Anjani pecah pelan. “Capek hidup di rumah yang bikin aku ngerasa nggak berharga.”

Satriya menatapnya tajam, lalu tertawa pendek penuh emosi. “Kamu ancam aku pake cerai sekarang?”

“Aku nggak ngancam.”

Tatapan Anjani lurus. “Aku serius.”

Dan anehnya keseriusan itu justru membuat sesuatu dalam diri Satriya meledak total.

“Fine!” bentaknya keras. “Kamu mau cerai?!”

Satriya menunjuk pintu depan kasar. “Cerai!”

Dada Anjani berdentum keras.

“Aku talak kamu!”

Anjani membeku, namun Satriya belum berhenti.

“Talak satu!”

Napas Anjani tercekat.

“Talak dua!”

Air mata Anjani jatuh tanpa suara. Dan saat lelaki itu menatapnya penuh kemarahan dan ego yang terbakar—

“Talak tiga!”

Bersambung~~

Fyuh! Bab yang lumayan panjang lho ini. Masa' nggak dapat apresiasi sih? Minimal like dan komen kek🫣🤭

Lanjut besok lagi ya. Kalau kisah ini rame, aku usahakan double up. Bye2👋🏻👋🏻

1
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!