NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5. Usul mencarikan jodoh

Tiba-tiba Ameera bertanya, “Kalau nanti kami sudah menikah, terus, tante Bibah dan Papa, gimana?”

Pertanyaan polos Ameera yang meluncur tanpa beban itu seketika meruntuhkan atmosfer lega di ruang makan. Suasana mendadak senyap, begitu hening hingga suara detak jam dinding di sudut ruangan terdengar begitu nyaring.

Imam yang baru saja hendak meneguk tehnya langsung membeku, cangkir itu tertahan beberapa sentimeter di depan bibirnya. Di seberang meja, wajah Habibah memucat, tatapannya yang semula tertuju pada piring kosong kini beralih menatap Ameera dengan pandangan syok.

Rayhan pun ikut tertegun, melirik Ameera lalu bergantian menatap ibunya dan Imam.

"Iya ya," celetuk Rayhan, ikut terpancing logika Ameera. "Ibu selama ini cuma berdua sama Rayhan. Kalau nanti Rayhan menikah dan kita tinggal di rumah Ameera atau rumah baru, Ibu pasti kesepian di sini sendirian."

Ameera mengangguk antusias, matanya berbinar tanpa menyadari ada badai besar yang sedang berkecamuk di dada dua orang paruh baya di hadapan mereka. Gadis itu menopang dagunya, menatap sang ayah dengan tatapan penuh simpati.

"Papa juga begitu. Sejak Mama meninggal, Papa cuma punya Ameera. Kalau Ameera pindah, siapa yang mengurus Papa? Siapa yang menemani Papa mengobrol malam-malam?" Ameera menghela napas, lalu melirik Habibah dengan senyum manis yang tulus. "Tante Bibah sendirian, Papa juga sendirian... bagaimana ini? Kalau kami tinggal di salah satu rumah, yang satunya pasti kesepian banget."

Deg.

Jantung Imam berpacu gila-gilaan. Pertanyaan Ameera bukan lagi sekadar kekhawatiran seorang anak, melainkan sebuah ironi tingkat tinggi yang menyiksa batinnya. Di dalam hatinya, sebuah suara liar mendadak berbisik: ‘Bagaimana kalau kami bersama? Bagaimana kalau aku dan Habibah bersatu agar tidak ada yang sendirian?’

Namun, Imam segera mengenyahkan pikiran gila itu. Logikanya berteriak bahwa status mereka sebentar lagi adalah besan. Di masyarakat, sangat tabu dan aneh jika besan saling jatuh cinta, apalagi menikah.

Habibah meremas ujung khimarnya kuat-kuat di bawah meja untuk menutupi gemetar tubuhnya. Pertanyaan Ameera terasa seperti sedang menelanjangi rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia takut matanya yang sarat akan rasa cinta pada Imam akan terbaca oleh anak-anak jika ia terlalu lama diam.

"Ah... Ameera," Habibah memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat canggung. "Kamu tidak perlu memikirkan Tante. Tante sudah biasa sendiri sejak almarhum ayahnya Rayhan meninggal. Lagipula, nanti kan Tante bisa main ke rumah kalian, atau sibuk mengurus cucu kalau kalian sudah punya anak."

Imam buru-buru menimpali, mencoba menyelamatkan situasi sebelum kecanggungan ini semakin kentara. "Betul kata Jeng Habibah, Meer. Papa ini sudah tua, sudah punya kesibukan sendiri di kantor dan di masjid. Kamu fokus saja mengurus pernikahanmu dengan Rayhan. Jangan memikirkan orang tua."

Ameera mengerucutkan bibirnya, tampak belum puas dengan jawaban klise tersebut. "Tapi tetap saja rasanya tidak adil. Kami memulai hidup baru yang bahagia, tapi meninggalkan Papa dan Tante Bibah kesepian di hari tua."

Rayhan tersenyum lembut, menggenggam tangan Ameera di atas meja, mencoba menenangkan calon istrinya. "Nanti kita cari solusinya bersama ya, Sayang. Yang penting sekarang kita urus dulu rencana Oktober."

Makan malam itu akhirnya ditutup dengan senyuman yang dipaksakan oleh Imam dan Habibah. Namun, pertanyaan Ameera malam itu telah menanam sebuah bom waktu di kepala Imam. Sepanjang jalan pulang, kalimat putrinya terus terngiang-ngiang, membuat rasa cinta tak lekang waktu yang ia miliki untuk Habibah kembali menuntut sebuah celah yang mustahil untuk diwujudkan.

*

*

Dua hari setelah makan malam yang sedikit canggung itu, Rayhan dan Ameera bertemu di sebuah kafe untuk mencicil desain undangan. Namun, alih-alih fokus pada palet warna kertas, jemari Ameera malah sibuk mengetuk-ngetuk dagunya.

"Ray, aku masih kepikiran omonganku malam itu," buka Ameera, menggeser laptopnya menjauh.

Rayhan mendongak, menurunkan kacamata bacanya. "Soal Ibu dan papa kamu yang bakal kesepian?"

"Iya!" Ameera memajukan badannya antusias. "Gimana kalau kita carikan mereka jodoh? Maksudku, sebelum kita resmi menikah bulan Oktober nanti. Jadi, saat kita memulai hidup baru, Papa dan Tante Bibah juga punya teman untuk menghabiskan masa tua."

Rayhan tertegun sejenak, lalu senyumnya merekah. "Ide kamu boleh juga, Meer. Ibu itu sudah terlalu lama mengorbankan kebahagiaannya demi membesarkan aku sendiri. Kalau ada pria baik-baik yang bisa menemani Ibu, aku pasti bakal tenang melepas Ibu."

"Sama! Papa juga selalu mendahulukan aku. Tapi... kita harus bergerak terpisah," bisik Ameera cerdik. "Malam ini, kamu bicara ke Tante Bibah, aku bicara ke Papa. Kita tes ombak dulu, bagaimana tipe ideal mereka. Setuju?"

Rayhan tertawa kecil melihat tingkah gemas calon istrinya, lalu menjabat tangan Ameera. "Setuju. Misi rahasia dimulai malam ini."

Mereka berdua tersenyum puas, sama sekali tidak tahu bahwa mereka baru saja menyusun rencana untuk meledakkan hati orang tua mereka sendiri.

*

*

Malamnya, Imam baru saja selesai menunaikan salat Isya saat Ameera masuk ke kamarnya membawa sepiring potongan buah melon.

"Papa, longgar tidak? Ameera mau mengobrol sebentar," ujar Ameera manis, duduk di tepi ranjang Imam.

Imam melepas pecinya, tersenyum hangat. "Mengobrol apa, Meer? Soal vendor gedung lagi?"

"Bukan. Ini soal masa depan Papa," Ameera menarik napas panjang, lalu berucap tanpa tedeng aling-aling. "Pa... kalau Ameera carikan Papa istri baru, Papa mau tidak?"

Uhuk!

Imam mendadak tersedak ludahnya sendiri. Wajah gagahnya seketika menegang. "Kam-kamu bicara apa, Meer? Jangan ngawur."

"Ameera serius, Pa! Papa itu masih gagah, masih berwibawa. Ameera tidak mau Papa sendirian di rumah ini nanti. Memangnya... Papa tidak kesepian? Apa Papa tidak punya keinginan untuk menikah lagi? Tipe wanita ideal Papa yang seperti apa, sih?" cecar Ameera penuh selidik.

Pertanyaan Ameera membuat dada Imam bergemuruh hebat. ‘Tipe ideal?

Pikiran Imam langsung melayang pada sosok wanita anggun bergamis marun yang beberapa hari lalu menangis di hadapannya. Wanita yang aroma melatinya masih membekas di ingatannya. Wanita yang cintanya tak lekang oleh waktu.

‘Tipe ideal Papa itu Habibah, Meer! Hanya Habibah! Calon mertua kamu.’ batin Imam menjerit frustasi.

Namun, di dunia nyata, Imam hanya bisa mengelus dadanya, memaksakan wajah datar. "Papa sudah tua, Meer. Tidak usah aneh-aneh. Fokus saja pada pernikahanmu."

*

*

Di saat yang bersamaan, di ruang tengah rumahnya, Habibah sedang khusyuk merajut sebuah taplak meja untuk meredakan pikirannya yang kalut. Rayhan berjalan mendekat, lalu duduk di lesehan bawah, menyandarkan kepalanya di lutut sang ibu.

"Ibu..." panggil Rayhan lembut.

"Iya, Ray! Ada apa?" Habibah mengelus rambut putra tunggalnya dengan penuh kasih sayang.

"Ibu tidak ada niatan untuk mencari teman hidup lagi?"

Gerakan tangan Habibah yang sedang merajut seketika terhenti. Jarum rajutnya nyaris menusuk jarinya sendiri. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu, Ray?"

"Rayhan cuma tidak tega bayangin Ibu sendirian di rumah ini nanti," suara Rayhan terdengar tulus dan sarat akan rasa bersalah. "Ibu masih cantik. Pasti banyak bapak-bapak di luar sana yang mau mengantre untuk membahagiakan Ibu di usia senja. Ibu mau Rayhan carikan calon?"

Setitik air mata lolos begitu saja dari sudut mata Habibah, yang untungnya tidak terlihat oleh Rayhan yang sedang menunduk. Rasa sesak yang luar biasa kembali menghimpit dadanya.

‘Jodoh? Teman hidup?’

Bagi Habibah, ruang di hatinya sudah terkunci rapat sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Dan kunci itu dipegang oleh satu-satunya pria yang kemarin ia temui sebagai calon besannya: Imam. Bagaimana bisa ia menerima pria lain jika bayang-bayang cinta pertamanya kini justru berada begitu dekat, namun sekaligus begitu mustahil untuk digapai?

Habibah menarik napas berat, mencoba menstabilkan suaranya agar tidak terdengar bergetar. "Ray... bagi Ibu, melihatmu bahagia bersama Ameera itu sudah lebih dari cukup. Ibu tidak butuh pria lain di hidup Ibu."

*

Keesokan harinya, Rayhan dan Ameera kembali bertemu lewat video call. Keduanya sama-sama menghela napas pasrah karena misi pertama mereka ditolak mentah-mentah oleh orang tua masing-masing.

Mereka mengira orang tua mereka menolak karena faktor usia dan kesetiaan pada masa lalu yang telah tiada. Mereka sama sekali tidak sadar, bahwa Imam dan Habibah menolak karena hati mereka saat ini sedang saling merindukan satu sama lain dalam diam.

****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!