NovelToon NovelToon
BANGRING : Siampa Puncak Harau

BANGRING : Siampa Puncak Harau

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Zamo

Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.

Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.

Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.

Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.

Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.

Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Arai

[28 Oktober 1281]

Matahari mendaki langit dengan angkuh, memanaskan dek kayu kapal Jung Singasari hingga mengeluarkan aroma damar yang kuat.

Hiruk-pikuk pelabuhan mencapai puncaknya. Barisan gerobak yang dikawal satu peleton penuh prajurit Singasari tiba, membawa peti-peti kayu berukir halus. Di dalamnya tersimpan harta pribadi, kain sutra, dan wewangian milik para putri kerajaan—upeti hidup yang akan dikirim ke tanah Jawa.

Sena, Balun, Danta dan Idan bergerak cepat di antara kerumunan kuli. Tubuh mereka bermandi keringat, namun mata Sena tetap dingin, memindai setiap jengkal lorong kapal saat mereka mulai mengangkut barang-barang tersebut ke dalam palka.

"Barang Putri Dharmapuri Tuan, di mana harus kutaruh ini?" tanya Sena asal bunyi kepada seorang prajurit yang berjaga di ambang pintu kabin penumpang. Ia sengaja mengeraskan suara untuk menyamarkan debar jantungnya.

"Sana, yang paling ujung!" tunjuk prajurit itu tanpa curiga, sambil terus mengawasi para kuli yang membawa barang naik ke kapal.

Sena segera melangkah masuk. Lorong kabin itu sempit dan remang-remang. Ia sampai di kamar paling ujung dan menyelinap masuk. Matanya dengan cepat memetakan ruangan: sebuah tempat tidur rendah, lemari kayu besar yang cukup untuk menyembunyikan orang, dan yang paling penting—sebuah jendela kayu lebar yang mengarah langsung ke laut lepas.

"Ini dia. Jarak terdekat ke air," batin Sena.

Namun, penilaiannya terputus oleh suara berat di belakangnya.

"Oi! Itu barang siapa yang kau bawa?"

Seorang prajurit dengan pakaian lebih rapi, mungkin seorang pejabat administrasi berdiri di ambang pintu memegang gulungan lontar. Sena menegang, namun ia segera membungkuk rendah, menyembunyikan wajahnya.

"Hamba tidak tahu, Tuan. Penjaga di depan menyuruh hamba mengantar ke sini," jawab Sena dengan nada gemetar yang dibuat-buat.

Prajurit itu mendekat, memeriksa tanda khusus pada peti yang dibawa Sena. Sena menelan ludah, dia tak tahu kalau setiap barang telah diberi tanda, tangannya sudah bersiap mematahkan leher prajurit yang berjongkok didepannya jika penyamarannya terbongkar.

Prajurit itu berdiri tegak dan mendengus.

"Ini kamar Puti Kirai dari Dharmapuri. Barang yang kau bawa ini milik putri dari Drini. Ceroboh sekali!" Prajurit itu menunjuk ke lorong di sisi seberang. "Bawa barang ini ke ujung lorong sana! Mengerti?"

"Ba... baik, Tuan! Maafkan hamba," Sena segera memanggul kembali peti itu dan berlari kecil keluar.

Meski ditegur, hati Sena bersorak. Kesalahan itu justru menjadi berkah. Kini ia tahu dengan pasti: Kamar Puti Kirai berada di ujung buritan. Posisi itu sangat ideal. Ia hanya perlu memanjat tali jangkar atau tali kemudi dari arah air, dan ia akan langsung mencapai jendela kamar sang putri tanpa harus melewati lorong yang dijaga ketat.

Malam jatuh dengan kabut tipis yang menyelimuti teluk. Pesta keberangkatan berlangsung di dek utama; suara tawa prajurit yang mabuk tuak dan denting musik samar terdengar hingga ke kolong dermaga.

Malam yang ditentukan tiba. Pelabuhan Muaro Jambi diselimuti kabut tipis yang merayap dari permukaan laut, menciptakan atmosfer yang sempurna bagi sang bayangan.

Kapal Jung besar milik Singasari bergoyang pelan mengikuti irama ombak, obor-obor di geladak tampak seperti mata monster yang sedang mengantuk.

Sena berdiri di tepi dermaga yang gelap, jauh dari jangkauan lampu patroli. Di pinggangnya, pemberat batu sudah terikat kuat. Di mulutnya, ia menggigit tabung pernapasan bambu yang telah diuji berkali-kali.

Sena meluncur ke dalam air. Tidak ada kecipak besar, hanya riak kecil yang segera hilang ditelan gelapnya laut. Ia menyusuri kolong dermaga, perahu kecil yang mereka sembuyikan dan terikat di tiang masih bergoyang tenang disana.

Sena melepas tali pengikat dan menyambungnya dengan tali panjang yang tergelung rapi di pinggangnya, tali dari ijuk yang disiapkan Jagu dan Monti di persembuyian mereka. Setelah yakin terikat kuat, Sena menyelam.

Di bawah air, dunia menjadi sunyi. Dengan bantuan pemberat batu, Sena menyelam sedalam setengah meter, batu pemberat membantunya untuk tetap didalam air, kakinya bergerak mantap menuju lambung raksasa kapal.

Ia bernapas melalui tabung bambu dengan ritme yang sangat teratur, teknik pernapasan yang ia pelajari di Iga untuk menenangkan jantung di bawah tekanan maksimal.

Akhirnya Sena mencapai tali jangkar yang tebal dan berlumut. Dengan gerakan yang sangat halus, ia melepaskan tali pemberatnya. Tubuhnya kini menjadi seringan kapas.

Ia mulai memanjat, dan menggantung tali yang mengikat perahu kecil di kolong dermaga. Lalu kembali memanjat, tangan demi tangan, kaki demi kaki, merayap naik menyusuri tali tersebut seperti seekor laba-laba.

Saat mencapai jendela kamar Puti Kirai. Dengan satu cungkilan halus, jendela itu terbuka.

Di dalam, Puti Kirai sedang terduduk di tepi tempat tidur, wajahnya pucat pasi menatap kegelapan. Ia hampir berteriak saat melihat sesosok bayangan dengan tubuh bayah kuyup masuk lewat jendela, namun Sena dengan cepat membekap mulutnya.

"Jangan bersuara. Arai," bisik Sena tajam.

Sang putri tersentak. Belati kecil di belakang tangannya yang awalnya hendak ia hujamkan tiba-tiba mengendur. Kirai tertegun saat Sena mengangkat tangan kirinya, menunjukkan sebuah pena bulu angsa dengan ukiran kasar yang sudah sangat ia kenal.

"Aku utusan Datuk Lagang," lanjut Sena, matanya menatap tajam namun tenang ke arah mata Kirai.

Awal sebelum keberangkatan, Sena sempat bertanya yang membuatnya ragu, bagaimana jika Puti Kirai berteriak saat dirinya hendak menyelamatkannya?

Datuk Lagang menceritakan panggilan yang sering ia gunakan dulu pada Puti Kirai, hanya dia yang memanggilnya Arai, dan Datuk Lagang juga memberikan pena bulu angsa pada Sena, sebagai bukti bahwa Sena adalah utusaannya.

Pena bulu angsa itu sejatinya dibuat sendiri oleh Puti Kirai saat Lagang pergi dari istana Dharmapuri untuk menikmati masa tuanya dan dia diberi wilayah sebagai tuan tanah di Desa Harau.

Datuk Lagang dulunya adalah guru sastra Puti Kirai kecil yang mengajarinya baca tulis, karena itu juga Lagang bisa membaca tulisan Jawa dari gulungan surat yang di curi Sena di Pos Harau.

Kirai gemetar, “Guru” bisiknya lirih meraih pena itu. Kirai menatap Sena dan mengangguk, “Aku percaya padamu,”

Tanpa membuang waktu, Sena merapatkan tubuh Kirai ke punggungnya, mengikatkan kain panjang dengan simpul mati yang kuat. Ia bisa merasakan jantung Kirai yang berdetak kencang di punggungnya—detak jantung yang penuh ketakutan sekaligus harapan. Ia membebat telapak tangannya dengan kain untuk mengurangi gesekan pada tali.

"Kendalikan napasmu, Arai. Percayalah pada kakiku," bisik Sena. Kirai hanya mengangguk.

Sena melompat keluar jendela buritan. Kedua pergelangan kakinya menjepit tali tambat dengan presisi, melingkarkannya di punggung kaki untuk menciptakan rem alami.

Ia meluncur perlahan, seinci demi seinci, menghindari suara gesekan kayu. Sebelum kaki mereka menyentuh air yang dingin, Sena berbisik “Tarik tali itu”.

Kirai segera menarik tali penarik yang melintang. Dari kegelapan kolong dermaga, sebuah perahu kecil meluncur mendekat seperti bayangan hantu.

Mereka mendarat tanpa suara. Sena segera mengambil dayung, mendorong rakit itu menuju arus bawah yang mengalir ke arah hutan bakau.

Pandangan Sena fokus mencari tebing dimana rekannya berada. 'Itu dia' batinnya.

Ia mengeluarkan korek api bambu, menutup dan membuka dengan tangan, dengan ritme konstan, stabil dan berulang-ulang.

Di kejauhan, di atas tebing yang gelap, mata Idan menyipit. Tiba-tiba, sebuah titik api kecil berkedip di permukaan laut. Satu... dua... satu... Sebuah kode cahaya yang telah mereka tetapkan.

Idan juga menyalakan korek api bambu dan melakukan hal yang sama dengan Sena, Ia segera berlari ke tempat Balun dan Danta bersiaga menarik tali kapan saja.

"Rencana satu berhasil! Jalur air berhasil!" seru Idan dengan nada tertahan namun penuh semangat.

Mendengar itu, Balun dan Danta bereaksi, dengan satu tarikan kuat, simpul ijuk yang sudah dimodifikasi Sena terlepas.

KRAAK!

Jembatan itu roboh, menghantam air dan memutus akses utama jalur darat bagi pasukan berkuda Singasari yang mungkin mengejar.

Balun, Danta dan Idan tertawa senang dan segera pergi ke titik pertemuan. Sementara ditempat Sena dan Kirai, perahu kecil mereka terjebak dalam arus pusaran yang sudah dihitung Sena sebelumnya.

Tanpa perlu tenaga besar, arus itu menyeret mereka dengan cepat menuju rimbunnya hutan bakau.

"Rencana satu berhasil," gumam Sena sambil melirik ke arah kapal Jung di kejauhan. Setelah melalui labirin akar bakau, perahu kecil itu akhirnya menyentuh tepian tanah yang lebih padat di sisi selatan hutan.

Di balik rimbunnya pohon nipah, sebuah siluet kereta barang sederhana sudah menunggu. Jagu dan Monti berdiri di sana dengan wajah cemas, memegang tali kekang kuda yang mulutnya sudah dibalut kain agar tidak meringkik.

"Sena! Syukurlah!" Monti segera membantu Puti Kirai turun dari rakit. Sang putri tampak pucat, pakaian suteranya kotor terkena lumpur bakau, namun ia tetap diam, ia terlalu terkejut untuk bicara.

“Hahaha..Sekarang kita jadi Siampa Lembah Harau yang legendaris” Teriak Balun bangga, ia datang bersama Idan dan Danta.

Sena hanya menggelengkan kepala, "Segera naik," perintahnya tegas. "Jagu, pacu kuda ini tapi jangan terlalu keras. Kita harus mencapai jalan setapak berbatu agar jejak roda tidak terlalu dalam tertinggal di tanah."

Sementara itu, di lorong kabin yang remang-remang, suara derap langkah kaki yang teratur memecah kesunyian. Seorang Bintara Bhayangkara berjalan dengan punggung tegak, memimpin dua prajurit pengganti di belakangnya.

Di depan pintu kabin Puti Kirai, dua penjaga sebelumnya memberikan penghormatan militer yang sempurna.

"Lapor! Situasi aman terkendali. Tidak ada pergerakan apa pun di sepanjang lorong sedari tadi. Pintu tidak pernah terbuka," ucap salah satu penjaga dengan suara rendah namun tegas.

Bintara itu mengangguk puas. "Laporan diterima. Kembali ke barak dan istirahatlah."

Kedua penjaga lama itu pergi dengan perasaan tenang, merasa telah menunaikan tugas dengan sempurna. Kini, dua penjaga baru berdiri di posisi mereka. Mereka berdiri kaku bagaikan patung batu, tangan menggenggam hulu keris, mata mereka bergerak tajam menyapu setiap inci lorong, tidak membiarkan bahkan seekor nyamuk pun lewat tanpa pengawasan.

Mereka merasa sangat aman. Mereka yakin, selama mereka berdiri di sana, para upeti khusus putri kerajaan berada dalam perlindungan paling ketat di seantero Nusantara. Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik pintu kayu yang tebal itu, satu upeti telah hilang dibawah pengawasan pasukan elit kerajaan.

1
anggita
👍2iklan☝☝
anggita
Hattori.. kya nama film kartun jadul ninja Hattori🙏 🤭
Zamo: Iya 😅, soalnya yang kepikiran kenangan masa kecil
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!