Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri dalam daging
Perjalanan pulang terasa begitu sunyi bagi Elfesya. Duduk di kursi belakang mobil mewah milik keluarga Arshaka membuatnya merasa asing. Di rumah petak yang sederhana, ia disambut oleh adiknya, Elric, yang tertidur di atas meja belajar dengan buku matematika sebagai bantalnya.
Elfesya mengelus rambut adiknya pelan. "Maaf ya, Kakak pulangnya malam terus," bisiknya. Ia harus bertahan. Demi Elric, ia harus menelan semua hinaan Ravion bulat-bulat.
Sementara itu, di kediaman megah Arshaka, suasananya jauh dari kata tenang. Ruang tamu luas dengan pilar-pilar tinggi itu terasa mencekam. Pak Arshaka berdiri di depan perapian yang tidak menyala, membelakangi Ravion yang duduk santai di sofa kulit sambil memainkan korek api gasnya.
"Sampai kapan kamu mau bersikap seperti anak remaja yang memberontak, Ravion?" suara Pak Arshaka bergetar karena menahan amarah.
"Aku tidak memberontak, Pa. Aku hanya menikmati hidup," jawab Ravion malas. "Bukankah Papa yang mengajariku bahwa uang bisa membeli segalanya? Termasuk teman kencan."
Plak!
Pak Arshaka menggebrak meja kopi di depan Ravion. "Papa mengajarimu cara memimpin bisnis, bukan cara menjadi pria tak bermoral! Kamu mengganti wanita seperti mengganti kaus kaki. Kamu pikir itu keren? Itu memalukan!"
Nenek Lastri duduk di kursi goyangnya, menatap cucunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ravion, apa kamu melakukan ini karena ingin menghukum Papa? Atau karena kamu masih tidak bisa memaafkan masa lalu?"
Rahang Ravion mengeras. "Jangan bawa-bawa masa lalu, Nek."
"Nenek bawa karena itu kenyataannya!" Nenek Lastri berdiri dengan tumpuan tongkatnya. "Sejak ibumu meninggal di sore itu, kamu menutup diri. Kamu membenci senja, dan kamu membenci setiap wanita yang mencoba mendekat dengan tulus. Maka dari itu kamu memilih wanita-wanita yang hanya peduli pada uangmu, karena kamu tahu mereka tidak akan pernah menyentuh hatimu!"
Ravion berdiri, matanya berkilat tajam. "Cukup, Nek."
"Tidak! Nenek tetap pada pendirian Nenek," tegas sang nenek. "Elfesya adalah gadis yang berbeda. Dia punya sinar yang tidak kamu miliki. Dia akan tetap jadi sekretarismu, dan Nenek akan memastikan dia jadi cucu menantu di rumah ini. Dia satu-satunya yang menjawab 'iya' saat Nenek memintanya, tanpa tahu siapa kita sebenarnya."
"Dia berbohong, Nek! Dia tahu siapa kita!" bentak Ravion. "Semua orang tahu siapa Arshaka. Dia hanya berakting polos agar Nenek jatuh hati!"
"Papa setuju dengan Nenekmu," potong Pak Arshaka tiba-tiba.
Ravion menoleh ke arah ayahnya, terkejut. "Apa? Papa bahkan tidak mengenalnya!"
"Aku mengenalnya dari cara dia menatapmu tadi di kantor," ucap Pak Arshaka dingin. "Dia tidak takut padamu. Dia tidak memuja-mujamu seperti wanita-wanita murahanmu itu. Dia menatapmu seolah kamu hanyalah masalah yang harus dia selesaikan. Kita butuh orang seperti itu di keluarga ini untuk menjagamu tetap membumi."
Ravion tertawa sumbang. Tawa yang terdengar menyakitkan. "Bagus. Jadi sekarang kalian berdua bersekutu untuk menjualku pada gadis miskin itu?"
"Kami tidak menjualmu, Ravion. Kami mencoba menyelamatkanmu," ucap Nenek Lastri lembut.
Ravion tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah berdebam. Di dalam kamar, ia tidak menyalakan lampu. Ia berdiri di balkon, menatap kegelapan malam.
Pikirannya melayang pada Elfesya yang tadi duduk tekun di bawah cahaya lampu meja, bekerja keras saat ia bersenang-senang. Ada sesuatu dari gadis itu yang membuatnya sangat terusik—sebuah keberanian yang belum pernah ia temui.
"Kita lihat saja seberapa kuat kamu bertahan, Elfesya," desis Ravion ke arah kegelapan. "Besok, aku akan pastikan kamu menyesal telah mengatakan 'iya' pada Nenekku."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...