NovelToon NovelToon
Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Takhta Sang Raja

Kehidupan itu ibarat roda, bagi Setya, roda itu seolah copot dari porosnya dan menghantamnya hingga ke dasar jurang. Setelah surat peringatan pertama itu datang, semuanya seolah menjadi efek domino yang tak terbendung. Fokusnya di kantor pelabuhan hancur total.

Bayang-bayang sumpah Arumi, kabar kematian Tante Ratna, dan hancurnya rumah tangga Sarah terus menghantuinya setiap kali ia menutup mata.

​Setya yang dulu dipuja karena jabatannya, kini sering ditegur atasan karena salah menginput data manifes kapal. Tetapi, penderitaan terbesarnya justru ada di rumah kontrakannya bersama Raya.

​"Mas, kok uang belanjanya cuma segini? Kamu tahu kan bedakku habis? Belum lagi cicilan tasku!" Raya membanting dompet Setya ke atas meja makan yang reyot.

​Setya menatap Raya dengan mata lelah. Gadis yang dulu ia anggap bidadari itu kini tampak sangat berbeda di matanya. Tanpa perawatan salon mahal dan tanpa filter kamera, wajah Raya terlihat biasa saja. Bahkan, entah karena stres atau gaya hidup yang hanya makan dan tidur, tubuh Raya yang dulu ia banggakan mulai berubah. Raya menjadi lebih berisi, bukan berisi yang sehat, melainkan terlihat bengkak dan tidak terawat. Daster yang ia kenakan kini terlihat sempit, dan perangainya jauh lebih kasar daripada Arumi.

​"Tabunganku sudah menipis, Raya! Kamu pikir cari uang itu gampang? Apalagi setelah Tante Ratna meninggal, keluarga kamu terus-menerus minta bantuan biaya pengobatan adik Mbak Sarah!" bentak Setya.

​"Ya itu kan kewajiban kamu! Kamu kan sudah jadi bagian keluarga kami!" balas Raya tak mau kalah.

​Setya memijat pelipisnya. Ia merindukan rumah ibunya. Ia merindukan keheningan dan aroma masakan Arumi yang selalu tersedia tanpa ia harus mendengar keluhan. Di rumah ini, yang ada hanyalah tuntutan dan bau keringat Raya yang mulai membuatnya muak.

​Puncaknya terjadi seminggu kemudian. Setya dipanggil ke ruangan personalia. Karena kesalahan fatal yang mengakibatkan kerugian besar pada perusahaan, Setya resmi diberhentikan secara tidak hormat.

​Dunia Setya gelap seketika. Ia keluar dari gedung pelabuhan dengan kaki lemas, membawa sekotak kardus berisi barang-barangnya. Ia kehilangan segalanya. Jabatan, harga diri, dan sumber uang yang selama ini dipuja-puja keluarga Raya.

​Sementara itu, di sudut kota yang lain, matahari seolah bersinar hanya untuk Arumi.

​Arumi berdiri di depan sebuah ruko yang baru saja ia sewa dengan bantuan modal dan koneksi dari relasi kateringnya. Di atas ruko itu, sebuah papan nama sederhana namun gagah terpasang: "Gudang Berkah Arumi: Rempah & Sembako".

​Arumi tidak lagi hanya berjualan nasi. Ia menemukan formula bumbu instan rahasia yang ia beri nama "Bumbu Ibu Aminah". Bumbu itu meledak di pasar karena rasanya yang autentik dan praktis. Dalam waktu singkat, banyak warung makan dan ibu rumah tangga yang mengantre untuk menjadi reseller. Arumi kini bukan lagi wanita dasteran yang hanya duduk di depan kompor. Ia mulai belajar mengelola stok, mengatur pengiriman, dan memimpin beberapa karyawan.

​"Bu, stok bawang putih dari pengepul sudah masuk 50 karung. Mau ditaruh di gudang belakang atau langsung diproses?" tanya seorang karyawannya.

​Arumi melihat catatan di buku besarnya. "Taruh di gudang belakang dulu. Pastikan suhunya terjaga. Besok kita ada pesanan besar untuk pengiriman ke luar kota."

​Arumi mengenakan kemeja rapi dan kerudung yang serasi. Wajahnya memang masih asli tanpa operasi plastik, tapi ada binar kepercayaan diri yang membuatnya terlihat jauh lebih cantik dan berkarisma daripada sebelumnya. Kedamaian batin karena tidak lagi menghadapi pengkhianatan membuat kulitnya tampak lebih bersih dan bercahaya.

​Ibu Aminah dan Kak Nia sering datang ke gudang itu untuk membantu. Bu Aminah menangis haru melihat menantunya kini menjadi sosok yang mandiri.

​"Ibu bangga sekali sama kamu, Rum. Seandainya Setya tidak buta..." bisik Bu Aminah sambil menggenggam tangan Arumi.

​Arumi hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi mengandung kesedihan. "Mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan Arumi, Bu. Kalau Mas Setya tidak pergi, Arumi mungkin masih akan terus jadi bayang-bayang di dapur, tidak pernah tahu kalau Arumi mampu berdiri sendiri."

​Ketenangan itu terusik, sore harinya. Setya datang ke gudang itu. Bukan sebagai suami yang gagah, tapi sebagai pria pecundang yang pakaiannya tampak kusut dan wajahnya dipenuhi beban. Ia berdiri di pintu gudang, melihat Arumi yang sedang mengarahkan para pekerja mengangkut karung-karung beras.

​Setya terpaku. Ia melihat Arumi yang sekarang. Sangat jauh berbeda dengan Arumi yang ia tinggalkan beberapa bulan lalu. Arumi terlihat ... mahal.

​"Arumi..." panggil Setya lirih.

​Arumi menoleh. Ia tidak terkejut. Ia sudah tahu saatnya akan tiba. Ia meletakkan papan jalannya dan berjalan perlahan menuju pintu, berhenti sekitar dua meter dari Setya.

​"Ada apa lagi, Setya? Surat cerai kita sedang diproses pengacara, kan?" tanya Arumi datar.

​"Rum ... aku ... aku kehilangan pekerjaanku," suara Setya bergetar. Ia menunduk, tidak berani menatap mata istrinya yang kini begitu mengintimidasi. "Raya juga ... kami sudah tidak punya uang lagi. Dia sekarang jualan di pasar tradisional, tapi hasilnya tidak seberapa. Dia jadi sangat emosional dan ... berubah, Rum. Dia tidak seperti dulu."

​Arumi mendengarkan dengan seksama. Ada kepuasan dingin yang mengalir di nadinya saat mendengar Raya kini harus berjualan di pasar tradisional—tempat yang dulu Raya hina sebagai tempat orang-orang kasta rendah seperti Arumi.

​"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Arumi.

​"Aku butuh pekerjaan, Rum. Apa saja. Aku dengar gudangmu sedang butuh tenaga angkut. Tolonglah ... demi anak-anak kita," Setya mencoba menggunakan kartu terakhirnya: anak-anak.

​Arumi tertawa kecil. Tawa yang membuat bulu kuduk Setya berdiri. "Demi anak-anak? Ke mana alasan itu saat kamu menghabiskan uangmu untuk pernikahan siri dan membelikan Raya perhiasan sementara anakmu butuh biaya sekolah?"

​Setya diam mematung.

​Arumi menatap karung-karung beras seberat 50 kilogram yang sedang diangkut para pegawainya. Ia kemudian kembali menatap Setya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

​"Kebetulan sekali, Setya. Salah satu kuli panggulku baru saja berhenti karena sakit. Pekerjaannya berat, kotor, dan gajinya harian. Kamu harus datang jam lima pagi untuk bongkar muat dan baru boleh pulang setelah gudang bersih," Arumi menjeda kalimatnya, menikmati perubahan ekspresi di wajah Setya. "Kalau kamu mau, silakan mulai besok. Tapi ingat satu hal, di sini aku bukan istrimu. Aku adalah bosmu. Jika kamu malas, aku akan memecatmu tanpa pesangon seperti kantormu memecatmu kemarin."

​Setya menelan ludah. Harga dirinya serasa diinjak-injak hingga hancur. Ia, pria yang dulu memegang jabatan di pelabuhan, kini harus menjadi kuli panggul di gudang milik wanita yang dulu ia buang?

​"Bagaimana? Mau ambil atau mau lanjut mengemis di tempat lain?" tantang Arumi.

​Setya menutup matanya rapat-rapat. Ia tidak punya pilihan. Raya terus menagih uang di kontrakan, dan ia sudah tidak punya muka untuk meminjam lagi. "Baik, Rum. Aku ambil."

​"Bagus. Ambil seragam kuli di kantor depan. Dan ingat ... panggil aku 'Nyonya Arumi', bukan nama."

​Arumi berbalik, meninggalkan Setya yang berdiri mematung di ambang pintu gudang. Arumi berjalan menuju ruangannya yang ber-AC, duduk di kursi kerjanya, dan menarik napas panjang. Ia mengambil amplop cokelat di atas mejanya—amplop berisi gaji pertama untuk kuli baru yang akan ia berikan besok.

​Ini baru permulaan. Ia ingin Setya merasakan setiap tetes keringat yang dulu ia abaikan. Ia ingin Setya melihat setiap hari betapa suksesnya Arumi tanpa dirinya. Dan yang paling penting, ia ingin Setya melihat bagaimana "berlian" yang ia buang kini telah menjadi pemilik tambangnya sendiri.

1
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
msh ajaa mau fitnah arumi
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
kampret raya malahan setuju😭
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
jangan ulangi kesalahan yang udah raya lakuin
lebih baik diam nikmati waktumu
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
untuk nyonya ratih tdak terpengaruh smaa omongan setya
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
ibunya udah diambang kecewa berat
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
nia pukul aja setya ngapain harus kasian
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
skrng nyesel ,tdi kamu pas kamu maksa ibumu pikiranmu dimana
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
keadilan untuk istri yang terzholimi iya itu arumi
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
biarkan biar dia bisa berubah
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
karena laper apapun bisa jadi
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
gila, demi raya kamu bikin ibumu celaka😭
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
udah resmi cerai kan , ga ada hak apapun lagi
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
salah kamu sndri kamu tega ninggalin keluargamu smpai anakmu pun tak mengakui kamu sebagai ayah nya
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
dulu dihina sekarang dia jauh lebh berkelas dari kamu
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
salah mau sndri itu
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
raya itu belum seberapa
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
ibu mana yang tega liat anaknya menderita😔
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
setya ga sadar dtabgnya rezeki juga karena ada istri yang selalu mendoakan
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
udah jatoh ketimpa tangga pula, itu lah nasib apes setya
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
raya ga akan jera kalau ga dksh pelajaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!